NovelToon NovelToon
DIJODOHKAN SAAT SMA!!!

DIJODOHKAN SAAT SMA!!!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tama Dias

Novel ini lahir dari rasa ingin mengeksplorasi kisah cinta remaja yang unik, tentang dua orang yang dijodohkan sejak SMA dan bagaimana mereka belajar mengenal satu sama lain. Penulis ingin menampilkan bahwa cinta sejati tidak selalu hadir dengan cara yang mudah atau instan, melainkan tumbuh melalui proses memahami, menerima, dan memilih satu sama lain setiap hari.
Melalui cerita ini, penulis ingin menggambarkan perjalanan emosi remaja yang realistis, mulai dari kebingungan, rasa penasaran, hingga perasaan hangat yang perlahan tumbuh menjadi cinta yang dewasa. Kisah ini juga menekankan bahwa di balik setiap tawa dan momen manis, ada nilai penting tentang keluarga, persahabatan, tanggung jawab, dan kesabaran yang membentuk karakter seseorang.
Cerita ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi remaja untuk menyadari bahwa hubungan yang baik tidak hanya tentang perasaan, tetapi juga tentang saling menghargai, membangun kepercayaan, dan berani membuat pilihan yang tepat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tama Dias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Musim yang tak pernah pergi seson 2

Pagi datang perlahan, membawa aroma tanah dan embun.

Sinar matahari menembus dedaunan flamboyan di halaman belakang rumah kami, memantulkan cahaya hangat di meja makan.

Raka sudah duduk di sana, menatap koran yang sudah separuh terbuka, sementara aku sibuk menyiapkan teh dan roti panggang.

Rutinitas ini sederhana — tapi justru di dalam kesederhanaan inilah aku merasa paling bahagia.

Tidak ada kejutan besar, tidak ada janji-janji manis seperti dulu.

Hanya kebersamaan kecil yang setiap hari terasa cukup untuk membuat hati penuh.

Raka menatapku sambil tersenyum. “Kamu sadar nggak, Ly? Kita udah lama banget nggak ke luar kota.”

Aku menatapnya dari dapur. “Kenapa tiba-tiba pengen pergi?”

Dia melipat koran, menatap ke arah jendela. “Entah, cuma pengen liat langit di tempat lain. Mungkin rasanya beda, ya?”

Aku tertawa kecil. “Langit tetap sama, Rak. Cuma kita yang kadang lupa ngeliatnya dari sudut lain.”

Dia berdiri, mendekat ke arahku, lalu mengambil secangkir teh yang baru kuseduh. “Kalau gitu, ayo kita liat langit dari sudut lain bareng-bareng.”

Aku menatapnya lama.

Dan tanpa rencana apa pun, hari itu kami memutuskan untuk pergi — bukan jauh, hanya ke pinggiran kota, tempat yang dulu sering kami kunjungi waktu masih pacaran di masa SMA.

Perjalanan itu terasa seperti nostalgia.

Mobil berjalan pelan di jalan desa yang diapit sawah hijau.

Angin masuk lewat jendela, membawa aroma padi dan suara jangkrik dari kejauhan.

Kami tak banyak bicara, tapi setiap diam di antara kami terasa penuh cerita.

“Lihat tuh,” kata Raka menunjuk ke luar jendela, “gunungnya kelihatan jelas banget hari ini.”

Aku mengangguk. “Iya, kayak nggak ada kabut sama sekali. Jarang-jarang.”

Dia tersenyum. “Mungkin karena langitnya lagi pengen kita liat.”

Aku menatap wajahnya, yang kini tampak lebih matang, garis lembut di sekitar matanya menandakan waktu yang berjalan, tapi juga kebahagiaan yang ia simpan.

Laki-laki ini, pikirku, bukan lagi sosok yang kucintai karena janji-janji manis.

Dia adalah rumah yang kucintai karena ketenangan.

Kami berhenti di tempat lama — taman kecil di pinggir danau, tempat kami dulu pertama kali berdebat soal masa depan, dan akhirnya berjanji untuk tumbuh bersama.

Taman itu masih ada.

Bangku kayunya sudah diganti baru, tapi pohon besar di tengahnya masih sama, dengan akar menjalar ke tanah, kokoh dan teduh.

“Aku nggak nyangka tempat ini masih sama,” ucapku pelan.

Raka berjalan ke pohon itu, menatap batangnya. “Kayaknya dia nggak pernah lupa sama kita.”

Kami duduk di bangku, diam beberapa saat, mendengar suara air dan burung-burung di sekitar.

Langit siang itu cerah, tapi awan-awan tipis bergerak perlahan — seperti waktu yang tidak terburu-buru.

Raka tiba-tiba berkata, “Kamu inget nggak, Ly, dulu aku pernah bilang mau bangun taman di rumah kita?”

Aku menoleh. “Dan kamu udah lakuin itu.”

Dia menggeleng pelan. “Bukan cuma taman bunga. Tapi taman buat hati kita juga. Tempat di mana kita bisa istirahat dari semua capek, tanpa takut kehilangan satu sama lain.”

Aku menggenggam tangannya. “Aku ngerasa kita udah sampai di situ, Rak.

Sekarang, setiap pagi aku bangun, aku ngerasa hati aku udah nggak nyari lagi — karena udah nemu.”

Dia menatapku dengan tatapan yang sama seperti dulu, tapi kali ini lebih tenang, lebih dalam.

“Dan aku cuma pengen satu hal,” katanya pelan. “Biar musim di antara kita nggak pernah pergi.”

Aku tersenyum. “Musim bisa berganti, tapi hatinya tetap sama.”

Sore itu, kami kembali ke rumah membawa aroma kenangan dan ketenangan.

Flamboyan di halaman bergoyang lembut diterpa angin sore.

Lavender mekar sempurna, dan kenanga di pojok taman sudah tumbuh setinggi pinggang.

Aku duduk di bangku kayu baru yang Raka buat seminggu lalu.

Raka datang membawa dua cangkir teh, duduk di sebelahku, lalu berkata,

“Kayaknya taman ini nggak cuma hidup, tapi juga punya napas.”

Aku menatap bunga-bunga yang bergoyang pelan. “Karena kita yang ngasih napasnya.”

Raka mengangguk. “Dan kalau suatu hari nanti kita nggak di sini lagi, aku pengen taman ini tetep tumbuh. Biar orang lain tahu, cinta itu bisa bertahan, bahkan setelah hujan.”

Aku terdiam sejenak, lalu menatap langit sore yang berubah oranye keemasan.

“Rak,” kataku pelan, “kamu sadar nggak, sekarang kita jarang banget ngomong tentang masa depan?”

Dia menatapku, tersenyum. “Mungkin karena kita lagi hidup di masa depan yang dulu kita impikan.”

Aku tersenyum juga. “Iya, mungkin.”

Malam datang perlahan.

Kami menyalakan lampu taman, seperti biasa.

Cahaya lembut menyinari setiap sudut, dan bayangan daun bergerak perlahan di tanah.

Di atas kepala kami, langit bertabur bintang.

Raka memandang ke atas, lalu berkata pelan,

“Musim datang dan pergi, Ly. Tapi aku ngerasa, cinta kita nggak ikut berganti.”

Aku menatapnya. “Kenapa bisa begitu?”

“Karena cinta kita bukan lagi soal musim, tapi soal akar. Dan akar itu… nggak pernah pergi.”

Aku memejamkan mata, menyandarkan kepala di bahunya.

Udara malam terasa lembut, seperti doa yang berbisik di antara dedaunan.

Dalam diam itu, aku menyadari sesuatu:

Cinta tidak selalu berapi-api.

Kadang cinta hanya duduk diam di sampingmu, menatap langit yang sama, dan tahu bahwa tak ada tempat lain yang lebih damai dari sini.

Beberapa minggu kemudian, aku dan Raka membuat kebiasaan baru.

Setiap pagi kami menulis satu kalimat syukur di papan kecil di taman — tentang apa pun, sekecil apa pun.

Hari ini aku menulis:

“Aku bersyukur karena masih bisa melihat matahari bersama kamu.”

Dan Raka menulis:

“Aku bersyukur karena akar flamboyan kita makin kuat.”

Setiap kali aku membaca tulisan-tulisan itu, hatiku hangat.

Tidak ada lagi kekhawatiran tentang masa depan, atau ketakutan tentang hujan yang mungkin datang lagi.

Karena kami tahu, setiap badai akan berakhir, dan setiap cinta yang disiram dengan sabar akan tumbuh kembali.

Suatu pagi, aku terbangun lebih awal.

Langit masih abu-abu, tapi di ufuk timur, cahaya lembut mulai muncul.

Aku membuka pintu belakang dan keluar ke taman.

Udara dingin menyambutku, tapi di hatiku hangat.

Raka menyusul beberapa menit kemudian.

Kami berdiri berdampingan, menatap matahari yang perlahan muncul di balik pepohonan.

“Cantik banget,” kataku pelan.

Raka tersenyum. “Kayak kamu waktu pertama kali aku lihat.”

Aku tertawa kecil. “Kamu masih suka gombal.”

Dia menatapku lembut. “Nggak gombal. Aku cuma jujur.”

Kami berdiri diam sampai matahari naik sepenuhnya.

Dan di bawah sinarnya, aku sadar — kami bukan lagi sepasang anak muda yang berjanji untuk mencintai selamanya.

Kami adalah dua jiwa yang memilih untuk tetap tumbuh, dalam segala musim.

Karena ada cinta yang tidak tergantung pada waktu, tidak berubah oleh badai, dan tidak hilang meski daun berguguran.

Cinta yang hidup dari akar yang sama, dan bernafas bersama setiap hari.

Sore itu, aku menulis di buku catatanku:

“Musim berganti. Daun jatuh, bunga layu, langit berubah warna.

Tapi cinta kami tetap tinggal — seperti akar flamboyan yang tak pernah pergi.

Kami bukan lagi dua orang yang berjuang untuk bersama.

Kami adalah satu rumah yang saling menjadi tempat pulang.”

Aku menutup buku itu perlahan, lalu memandang taman di depan.

Langit sore tampak hangat, dengan cahaya keemasan yang menembus daun-daun.

Aku tersenyum, lalu berbisik pelan,

“Terima kasih, langit. Karena kau tidak pernah benar-benar pergi.

Kau hanya berganti wajah — seperti cinta kami.”

Raka datang dari belakang, memelukku pelan.

“Lagi nulis puisi?” tanyanya.

Aku tersenyum tanpa menoleh. “Iya. Tentang musim yang tak pernah pergi.”

Dia menunduk, membisikkan sesuatu di telingaku.

“Kalau gitu, biar aku jadi langitnya, dan kamu jadi musimnya.

Biar kita nggak pernah berpisah, bahkan kalau dunia berubah warna.”

Aku menatapnya, lalu tertawa pelan.

“Janji?”

“Janji,” jawabnya dengan mata yang penuh cahaya.

Dan di bawah langit sore itu, taman kami berdiri kokoh, penuh warna dan kehidupan.

Musim boleh datang dan pergi, tapi kami tetap di sini — dua hati, satu akar, satu langit.

1
dias lobers
baguss
dias lobers
gimana
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!