Ash adalah pria dari dunia lain yang datang tanpa misi heroik. Ia bercanda, bertarung, dan bertahan hidup dengan cara yang terasa terlalu santai untuk dunia yang penuh perang dan kebohongan. Namun di balik tawanya, ada sesuatu yang tersegel di dalam dirinya kekuatan purba yang mulai bangkit setiap kali ia kehilangan. Saat konflik antar kerajaan, malaikat, Naga, dan iblis memanas, Ash terjebak di pusat siklus kehancuran yang jauh lebih tua dari peradaban mana pun. Semakin kuat ia menjadi, semakin tipis batas antara manusia dan monster. Pada akhirnya, dunia tidak hanya bertanya apakah Ash bisa menyelamatkan mereka, tetapi apakah ia masih Ash yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 15 - AMARAH YANG MEMBAKAR
Ash melompat dari kasur begitu pintu tertutup.
"EVELINE!" teriaknya sambil berlari ke pintu.
Razen langsung menghadangnya, kedua tangan memegang bahu Ash dengan kuat. "Jangan! Kau akan jadi beban!"
"LEPASKAN AKU!" Ash meronta dengan kuat, mencoba melepaskan diri. "Dia pergi sendirian! Mereka akan membunuhnya!"
"Dan kalau kau ikut, kalian berdua akan mati!" Razen menahan Ash dengan sekuat tenaga. "Eveline sudah buat keputusan. Kau harus hormati itu!"
"HORMAT APA?! Dia bunuh diri!" Mata Ash mulai berkaca kaca. "Aku tidak mau kehilangan dia! Aku tidak mau!"
"Ash, dengarkan aku—"
"TIDAK!" Ash mendorong Razen dengan kekuatan yang mengejutkan keduanya. Razen terpental ke belakang, nyaris menabrak meja.
Untuk sesaat, mereka berdua terdiam, terkejut.
Ash menatap tangannya yang masih gemetar. Dia tidak pernah sekuat itu sebelumnya. Itu bukan kekuatan normal.
"Ash," panggil Razen pelan, suaranya berubah waspada. "Matamu..."
Ash berbalik dan melihat pantulannya di kaca jendela.
Matanya bersinar samar. Emas.
Tidak terang seperti saat segel pecah. Tapi ada cahaya di sana. Seperti bara yang mulai menyala.
"Aku..." Ash menyentuh wajahnya sendiri. "Aku tidak..."
Dari luar, terdengar suara teriakan. Denting logam. Ledakan kecil.
Pertempuran sudah dimulai.
Ash tidak berpikir lagi. Dia berlari ke pintu, membukanya paksa, dan berlari ke tangga.
"ASH! TUNGGU!" Razen berlari mengejarnya sambil mengutuk. "Bocah sialan! Kenapa harus sekarang dia jadi nekat!"
---
Di halaman depan penginapan, Eveline berdiri dengan dua belati di tangan, menghadapi tiga orang berjubah hitam dengan simbol Nightshade di lengan mereka.
Yang di tengah melepas kerudungnya, menampakkan wajah wanita paruh baya dengan bekas luka di pipi kiri dan mata dingin seperti reptil.
"Eveline Nightshade," ucap wanita itu dengan suara serak. "Anak buangan. Target kita akhirnya muncul."
"Aku bukan lagi Nightshade," jawab Eveline dingin. "Dan aku tidak akan ikut kalian."
"Kau pikir kau punya pilihan?" Wanita itu tertawa pendek. "Ayahmu memberi dua pilihan: pulang dan dihukum, atau mati di sini. Aku lebih suka pilihan kedua."
"Tentu saja. Kau selalu suka membunuh, Vera."
Vera tersenyum lebar. "Kau masih ingat namaku. Aku tersentuh."
"Sulit lupa nama orang yang menyiksaku saat latihan."
"Itu bukan penyiksaan. Itu pendidikan." Vera mengangkat tangannya, dan dua orang di sampingnya langsung menyebar, mengepung Eveline dari tiga arah. "Dan sekarang, pendidikan terakhirmu akan dimulai."
Mereka menyerang bersamaan.
Eveline bergerak dengan insting murni yang sudah dilatih sejak kecil. Dia menghindar serangan dari kanan, membalas dengan belatinya yang menggores lengan penyerang. Berputar, menangkis serangan dari kiri dengan belati kedua, lalu mundur untuk menghindari Vera yang menyerang dari tengah dengan dua pisau pendek yang bergerak seperti ular.
"Bagus!" puji Vera sambil menyerang lagi. "Kau tidak berkarat! Tapi sayangnya, kau sendirian!"
Eveline tahu itu benar. Satu lawan tiga, dan ketiganya adalah Nightshade terlatih. Dia bisa bertahan beberapa menit, tapi tidak lama.
Dia butuh keajaiban.
Atau bantuan.
---
Ash berlari keluar dari penginapan dan langsung melihat pemandangan yang membuat dadanya sesak.
Eveline berdarah di lengan kiri. Salah satu penyerang tergeletak tidak bergerak, tapi dua lainnya masih berdiri. Dan yang wanita, yang bernama Vera, sedang mendekati Eveline dengan senyum sadis.
"EVELINE!" teriak Ash tanpa berpikir.
Semua orang menoleh ke arahnya.
Vera menyipitkan mata. "Siapa bocah ini?"
"Pergi, Ash! PERGI!" teriak Eveline, suaranya penuh dengan kepanikan yang jarang dia tunjukkan.
Tapi Ash tidak bergerak. Kakinya seperti menempel di tanah. Matanya terkunci pada Eveline yang terluka.
Vera menatap Ash lebih lama. Matanya turun ke rambut perak Ash. Lalu melebar.
"Rambut perak," bisiknya. "Target sekunder. Hadiah bonus."
Dia memberi isyarat ke anak buahnya yang tersisa. Pria bertubuh besar dengan pisau panjang langsung bergerak ke arah Ash.
"LARI, ASH!" teriak Eveline lagi.
Tapi Ash masih tidak bergerak. Bukan karena dia berani. Tapi karena kakinya gemetar, tubuhnya kaku karena takut.
Pria itu semakin dekat. Pisaunya terangkat.
Dan tiba tiba, Razen muncul di antara mereka.
CLANG!
Pedangnya menangkis pisau dengan dentingan keras. Api merah menyala di mata pedang.
"Kau pilih target yang salah," desis Razen sambil mendorong pria itu mundur dengan kekuatan yang membuat tanah di bawah kakinya retak.
Pria itu terpental, tapi langsung bangkit. "LightOrder?" Dia meludah. "Desertir. Bahkan lebih rendah dari sampah."
"Mungkin," balas Razen sambil mengambil posisi bertarung. "Tapi sampah ini masih bisa membunuhmu."
Mereka bentrok lagi. Pedang versus pisau. Api versus bayangan.
Sementara itu, Vera memanfaatkan gangguan untuk menyerang Eveline dengan serangkaian serangan cepat yang nyaris tidak bisa dihindari.
Eveline terluka lagi. Kali ini di paha kanan. Dia terjatuh, berlutut, napas tersengal.
"Akhirnya," ucap Vera sambil berjalan perlahan mendekat. "Anak jenius keluarga Nightshade. Tapi ternyata cuma anak lemah yang lari karena tidak kuat dengan tekanan."
"Aku... tidak lari karena lemah," desis Eveline sambil menatap Vera dengan mata penuh kebencian. "Aku lari karena aku tidak mau jadi monster seperti kalian."
"Monster?" Vera tertawa. "Kau pikir dunia ini punya tempat untuk yang lembut? Kau naif, Eveline. Dan kenaifan itu akan membunuhmu."
Dia mengangkat pisaunya untuk serangan terakhir.
Dan tiba tiba, sesuatu menyambarnya dari samping.
Ash.
Dia menabrak Vera dengan seluruh tubuhnya, seperti linebacker rugby yang putus asa. Keduanya jatuh berguling di tanah.
"ASH!" teriak Eveline.
Ash bangkit lebih dulu, tapi Vera jauh lebih cepat. Dia sudah berdiri dengan pisau teracung.
"Bocah bodoh," desis Vera. "Kau baru saja bunuh diri."
Dia menyerang.
Ash mencoba menghindar, tapi terlalu lambat. Pisau menusuk perutnya, dalam, menembus hingga ke belakang.
Rasa sakit.
Rasa sakit yang luar biasa meledak di seluruh tubuhnya.
Ash terjatuh, darah mengalir deras dari luka tusukan.
"ASH! TIDAK!" Eveline mencoba berdiri, tapi lututnya tidak kuat. Dia merangkak ke arah Ash dengan air mata mengalir.
Razen yang melihat itu kehilangan fokus sebentar. Cukup untuk lawan nya menyerang. Pisau menggores dadanya, dalam.
Razen terjatuh dengan darah membasahi bajunya.
"RAZEN!" teriak Ash dengan suara lemah.
Semuanya hancur.
Dalam hitungan detik, mereka semua terluka parah.
Vera berdiri di tengah dengan senyum kemenangan. "Kalian pikir kalian bisa lawan Nightshade? Kalian pikir persahabatan dan keberanian bodoh bisa mengalahkan pengalaman bertahun-tahun?" Dia tertawa. "Kau salah."
Ash terbaring di tanah, darahnya membentuk genangan di bawahnya. Matanya mulai kabur. Tubuhnya dingin.
Dia sekarat.
Dan di saat seperti itu, sesuatu di dalam dirinya terbangun.
Bukan dengan lembut. Bukan dengan pelan.
Tapi dengan AMARAH.
---
Titik panas di dadanya yang sudah lama tidak terasa tiba-tiba MELEDAK.
Panas yang membakar, menyebar ke seluruh tubuhnya seperti lava yang mengalir di pembuluh darahnya.
Luka tusukan di perutnya mulai menutup. Tidak pelan. CEPAT. Daging menyatu, darah berhenti mengalir, dan dalam hitungan detik, luka itu sudah tertutup sempurna.
Ash berdiri.
Tidak. Dia tidak berdiri dengan gerakan normal. Dia melompat berdiri dengan kekuatan yang membuat tanah di bawahnya retak.
Matanya menyala. Emas terang. Bukan samar lagi.
Aura emas mulai menari di sekitar tubuhnya, tidak terkendali, liar, berbahaya.
Dan ekspresinya...
Kosong.
Dingin.
Bukan lagi Ash yang cerewet dan konyol.
Ini sesuatu yang lain.
Vera melangkah mundur, untuk pertama kalinya terlihat takut. "Apa... apa ini?"
Ash, atau apapun yang sekarang mengontrol tubuhnya, menatap Vera dengan tatapan yang membuat udara terasa berat.
"Kau," suaranya bergema, tidak seperti suara Ash yang biasa. Lebih dalam. Lebih tua. "Kau MENYAKITI MEREKA."
Vera mencoba menyerang, pisaunya melesat ke arah leher Ash.
Ash menangkapnya. Dengan tangan kosong. Pisau itu berhenti tepat sebelum menyentuh kulitnya.
Lalu dengan gerakan pelan yang mengerikan, Ash MEMATAHKAN pisau itu seperti mematahkan ranting kering.
"Tidak mungkin," bisik Vera.
Ash melesat.
Cepat. Terlalu cepat untuk mata biasa.
Tangannya mencengkeram leher Vera dan mengangkatnya dari tanah dengan satu tangan seperti mengangkat boneka.
"Kau. Buat. Mereka. Berdarah," desis Ash. "Sekarang AKU yang akan membuat KAU berdarah."
Dia melempar Vera ke dinding penginapan.
BRAAAK!
Vera menghantam dinding dengan kekuatan yang membuat batu retak. Dia jatuh, batuk darah, tulang rusuknya patah.
Pria yang bertarung dengan Razen melihat itu dan mencoba kabur.
Ash menoleh ke arahnya.
Dan dalam sekejap, Ash sudah ada di depannya. Tangannya mencengkeram wajah pria itu.
"Jangan." ucap Ash dingin. "Mencoba. lari."
Dia membanting kepala pria itu ke tanah.
KRAK!
Pria itu tidak bergerak lagi.
Hening.
Hanya suara napas Ash yang berat dan aura emas yang berdenyut di sekelilingnya.
Eveline menatap Ash dengan mata lebar, campuran antara takjub, takut, dan... sedih.
"Ash," panggilnya pelan. "Ash, kembalilah."
Ash menoleh ke arahnya. Mata emas itu menatapnya tanpa ekspresi.
"Ash," ulang Eveline, air mata mengalir. "Tolong. Kembalilah. Ini bukan kau. Kau bukan monster."
Ash melangkah ke arahnya. Perlahan.
Eveline tidak mundur. Meski tubuhnya gemetar, dia tetap di tempat.
"Kau adalah Ash," bisiknya. "Orang yang mengeluh tentang roti keras. Yang cerewet dan konyol. Yang peduli pada kami meski baru kenal. Kau adalah temanku. Keluargaku."
Ash berhenti tepat di depannya.
Tangannya terangkat, dan Eveline memejamkan mata, bersiap untuk apapun yang akan terjadi.
Tapi yang dia rasakan adalah...
Kehangatan.
Ash menyentuh kepalanya. Lembut. Seperti dulu dia usap kepala Eveline dengan gaya konyol.
"Ma... af," suara Ash bergetar, berganti antara suara dingin dan suara normalnya. "A... ku... tidak... bisa... tahan... lagi..."
Mata emasnya berkedip. Cahayanya mulai redup.
Dan tiba tiba, Ash terjatuh.
Eveline menangkapnya sebelum jatuh. "Ash! Ash!"
Mata Ash sudah tertutup. Aura emasnya padam. Napasnya lemah tapi stabil.
Dia pingsan.
Razen, yang masih terluka parah, merangkak mendekat. "Dia... dia baik baik saja?"
"Aku tidak tahu," jawab Eveline dengan suara gemetar. "Tapi dia masih bernapas."
Razen melihat sekeliling. Vera masih hidup, tapi sekarat. Pria yang melawannya sudah mati. Dan yang satu lagi, yang pertama Eveline bunuh, juga tidak bergerak.
"Kita harus pergi," ucap Razen sambil mencoba berdiri walau tubuhnya tidak kuat. "Sebelum penjaga datang. Atau Nightshade yang lain."
"Tapi kau terluka parah. Aku juga..."
"Aku... masih bisa bertahan." Razen menekan luka di dadanya. "Ambil kuda. Kita kabur sekarang."
Eveline mengangguk. Dengan susah payah, dia menggendong Ash di punggungnya, lalu membantu Razen berjalan ke tempat kuda mereka diparkir.
Mereka naik dengan susah payah. Eveline mengendalikan kuda dengan Ash tidak sadarkan diri di pelukannya. Razen naik kudanya sendiri, meski nyaris jatuh beberapa kali.
Mereka melesat keluar dari kota, meninggalkan kekacauan di belakang.
---
Beberapa jam kemudian, saat fajar mulai menyingsing, mereka berhenti di sebuah gua kecil di pinggir hutan.
Razen langsung jatuh dari kudanya, tubuhnya tidak kuat lagi. Eveline turun dengan hati-hati, meletakkan Ash di tanah dengan lembut.
"Razen," panggil Eveline. "Bertahanlah. Aku akan cari air dan obat."
"Tidak... perlu," desis Razen sambil menekan dadanya yang masih berdarah. "Aku... punya sesuatu."
Dengan tangan gemetar, dia mengeluarkan sebuah botol kecil dari kantongnya. Cairan merah di dalamnya bersinar samar.
"Potion... penyembuhan darurat. Harganya... mahal. Tapi efektif." Dia meminumnya dalam satu tegukan.
Luka di dadanya mulai menutup, meski lambat. Dia masih pucat dan lemah, tapi setidaknya tidak sekarat lagi.
"Eveline," panggilnya. "Kau juga minum."
"Tapi Ash—"
"Ash punya regenerasi. Dia tidak butuh. Kau butuh." Razen menyerahkan botol kedua yang lebih kecil. "Minum."
Eveline meminumnya. Rasa pahit menyengat lidahnya, tapi kehangatan segera menyebar di tubuhnya. Luka di lengan dan pahanya mulai tertutup.
Mereka berdua duduk di sana, terlalu lelah untuk bicara.
Ash masih tidak sadarkan diri di antara mereka, napasnya stabil tapi wajahnya pucat.
"Dia... berubah," bisik Eveline akhirnya. "Jadi sesuatu yang menakutkan."
"Tapi dia kembali," balas Razen. "Karena kau memanggilnya. Karena dia peduli padamu."
"Kalau suatu hari dia tidak bisa kembali?"
Razen terdiam lama. "Maka kita akan tetap di sisinya. Dan kita akan ingatkan dia siapa dia sebenarnya. Sampai dia ingat lagi."
Eveline menatap wajah Ash yang damai dalam tidur. Wajah orang yang baru saja membunuh dengan brutal, tapi juga orang yang menyentuh kepalanya dengan lembut sebelum pingsan.
"Terima kasih," bisiknya ke Ash yang tidak sadar. "Terima kasih sudah menyelamatkan ku. Bodoh."
Matahari terbit perlahan, menerangi gua kecil mereka.
Hari baru dimulai.
Tapi semuanya sudah berubah.