Ketika gadis SMA memilih kerja sampingan sebagai seorang sugar baby.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penghianatan
Pukul sebelas lebih dua puluh menit.
Lantai empat puluh dua Menara Gunawan masih menyala terang di tengah lautan gedung Jakarta yang mulai mengantuk. Di balik kaca tembus pandang yang membentang dari lantai hingga plafon, Sebastian Gunawan duduk dengan jas yang telah dilipat rapi di sandaran kursi, lengan kemeja putihnya digulung sebatas siku, dasi longgar menggantung di leher seperti tali yang hampir putus.
Di hadapannya, tiga layar monitor menampilkan angka-angka yang terus bergerak. Laporan kuartal. Proyeksi ekspansi ke Surabaya. Draft kontrak akuisisi yang belum ia tandatangani sejak tiga hari lalu.
Tangannya bergerak dengan presisi di atas keyboard, matanya tajam menyusuri baris demi baris data. Sebastian Gunawan bukan tipe orang yang pulang sebelum pekerjaannya selesai. Itu bukan kesombongan, itu disiplin yang ditanamkan ayahnya sejak ia masih cukup kecil untuk duduk di bangku sekolah dasar sambil menghafal neraca keuangan.
"Bisnis tidak tidur, Bastian. Kalau kamu tidur lebih dulu, kamu kalah."
Kalimat itu menggema di kepalanya seperti kaset tua yang diputar ulang.
Ia meneguk kopi yang sudah dingin dari cangkir di sisinya, mengernyit sebentar, lalu meletakkannya kembali. Tangannya bergerak lagi ke dokumen berikutnya, hingga ponselnya bergetar.
Satu notifikasi.
Dari nomor yang ia simpan hanya dengan inisial: R.D.
Bastian mengerutkan kening. Rian Dermawan. Orang yang ia bayar mahal bukan untuk melaporkan hal-hal yang tidak penting di tengah malam.
Ia membuka pesan itu.
"Bos. Saya di Hotel Aryana. Kamar 817. Nona Calista ada di sini. Tidak sendirian. Sudah saya foto. Mau saya kirim?"
Bastian membaca kalimat itu dua kali.
Tiga kali.
Jarinya tidak bergerak. Paru-parunya berhenti memproses udara selama dua detik penuh. Lalu ia mengetik satu kata pendek:
"Kirim."
Foto itu masuk hampir seketika. Kualitasnya cukup baik, diambil dari sudut celah pintu yang sedikit terbuka, cukup untuk menangkap bayangan dua siluet di dalam kamar yang remang. Calista Amara, tunangan yang tiga bulan lagi akan ia nikahi dalam acara yang undangannya sudah naik cetak, duduk di tepi ranjang dengan rambut terurai, dan seorang pria yang mengenakan kemeja biru terbuka setengah berdiri di depannya.
Hotel Aryana.
Hotel miliknya.
Sesuatu di dalam dada Sebastian Gunawan bukan retak, ia tidak punya cukup kata untuk menjelaskan sensasi itu. Bukan sakit. Lebih tepat seperti sesuatu yang panas meleleh perlahan, mengalir ke bawah, dan mengendap menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap dari sekadar kesedihan.
Ia berdiri.
Meraih jas di sandaran kursi.
Keluar dari ruangan tanpa mematikan satu pun dari ketiga layar yang masih menyala itu.
---
Lift turun dengan kecepatan normal, tapi bagi Bastian rasanya terlalu lambat. Ia berdiri tegak di dalam kotak cermin itu, menatap refleksinya sendiri dengan rahang yang mengeras. Tidak ada air mata. Tidak ada gemetar di tangannya. Hanya keheningan yang memiliki beratnya sendiri.
Mobilnya meluncur membelah Jakarta tengah malam. Bastian menyetir sendiri, ia mengizinkan sopirnya pulang jam delapan tadi. Sekarang ia hampir berterima kasih atas keputusan itu. Ia tidak ingin ada saksi untuk wajahnya malam ini.
Hotel Aryana berdiri megah di kawasan Sudirman, dua belas lantai kaca dan baja yang namanya tercetak dalam portofolio Gunawan Group sejak lima tahun lalu. Bastian memarkir mobilnya sendiri, melewati pintu lobby dengan langkah yang begitu pasti hingga resepsionis yang hampir menyapanya memilih untuk hanya mengangguk diam.
Lantai delapan.
Lorong itu panjang dan sunyi. Karpet tebal meredam suara sepatunya, tapi tidak bisa meredam denyut di pelipisnya yang semakin keras.
Kamar 817.
Bastian mengetukknya tiga kali. Keras. Bukan ketukan tamu, ketukan seseorang yang tidak berniat meminta izin.
Suara kaget dari dalam. Bisik-bisik. Suara langkah kecil.
Pintu terbuka.
Calista Amara berdiri di sana dalam gaun malam yang kusut, rambutnya berantakan dengan cara yang tidak mungkin terjadi kalau ia hanya sedang menonton televisi. Matanya membelalak saat mengenali siapa yang berdiri di depannya... dan dalam sepersekian detik itu, Bastian melihat segalanya. Rasa terkejut yang terlalu tulus untuk dibuat-buat. Kepanikan yang langsung mewarnai wajah cantiknya.
Ia mendorong pintu lebih lebar dan masuk.
Pria itu, kemeja biru, rambut acak-acakan, wajah yang tidak Bastian kenal tapi langsung ia benci, masih berdiri di sisi ranjang dengan ekspresi campuran antara terkejut dan mencoba terlihat tidak bersalah.
"Bro, ini..." pria itu mengangkat tangan. "Kamu salah paham..."
Bastian tidak membiarkannya menyelesaikan kalimat.
Tinjunya mendarat tepat di tulang pipi kiri pria itu dengan bunyi yang memuaskan dan menyeramkan sekaligus. Pria itu terhuyung ke belakang, menabrak meja rias, menjatuhkan lampu kecil yang pecah di lantai.
"Bastian, stop..." Calista menjerit.
Tapi tangan Bastian sudah mencengkeram kerah kemeja biru itu, menariknya berdiri, dan memukul lagi. Kali ini di rahang. Pria itu merintih, lutut hampir menyentuh lantai. Bastian tidak peduli. Ada sesuatu yang sudah terbakar di dalam dirinya dan satu-satunya cara ia tahu untuk memadamkannya saat ini adalah dengan terus menggerakkan tinjunya.
"Sebastian!" Calista menarik lengannya dengan kedua tangan, menggantungkan seluruh beratnya di sana. "Hentikan! Tolong!"
Bastian berhenti.
Bukan karena ia kasihan. Bukan karena rasa sayang yang masih tersisa. Ia berhenti karena ia tiba-tiba merasa lelah... bukan lelah fisik, tapi kelelahan yang jauh lebih dalam dari itu. Ia melepaskan kerah kemeja itu dan membiarkan pria tersebut ambruk ke sisi ranjang sambil mendekap rahangnya.
Calista menjatuhkan diri ke lantai.
Berlutut.
"Bastian." Suaranya pecah. Air matanya jatuh deras dan Bastian menonton itu dengan ekspresi yang kosong dan jauh. "Aku minta maaf. Aku tahu aku salah. Aku tahu ini tidak bisa dimaafkan tapi tolong... tolong dengarkan aku dulu..."
Ia mengulurkan tangannya, jari-jarinya meraih ujung sepatunya.
"Kita bisa bicarakan ini. Kita bisa..."
Bastian menarik kakinya mundur.
Bukan pelan. Ia menggeser langkahnya dengan gerakan yang tegas, dingin, dan final, cukup untuk membuat Calista kehilangan pegangan dan hampir tersungkur. Ia tidak menamparnya. Ia tidak berteriak. Ia tidak melakukan apa pun yang akan memberinya kepuasan dramatik.
Ia hanya merogoh jaket jas-nya.
Mengeluarkan kotak kecil beludru hitam yang sudah ia bawa ke mana-mana selama dua bulan terakhir, cincin yang ia pilih sendiri, bukan warisan keluarga, bukan pilihan ibunya, tapi pilihannya... dan meletakkannya di lantai di depan Calista dengan bunyi yang terlalu halus untuk besarnya momen itu.
"Pertunangan kita selesai."
Calista menjerit. Sesuatu yang panjang dan remuk. "Tidak... Bastian, tidak... kita hampir menikah, kamu tidak bisa..."
"Selesai."
Ia berbalik.
Melangkah keluar dari kamar 817, menutup pintunya dengan perlahan... bukan dibanting, tidak... dan berjalan di lorong berkarpet tebal itu kembali menuju lift, sementara suara tangisan Calista semakin mengecil di belakangnya.
Di dalam lift, di cermin yang sama dengan yang ia tatap satu jam lalu, Sebastian Gunawan menatap wajahnya sendiri.
Masih tidak ada air mata.
Hanya rahang yang mengeras dan sepasang mata yang terlihat lebih tua dari yang seharusnya.
---
Bastian membutuhkan minuman keras.
Bar Obsidian buka hingga pukul dua dini hari dan lokasinya hanya sepuluh menit dari Hotel Aryana. Bastian duduk di pojok counter dengan segelas bourbon di depannya, jas terlipat di bangku sebelah, buku kancing kemeja dibiarkan terbuka dua tombol. Tangannya yang masih sedikit merah di knuckle-nya melingkari gelas itu tanpa benar-benar meminumnya.
"Sial! Beneran lo, Bas."
Bastian mengangkat kepala.
Joe Nathaniel, tinggi, rambut selalu sedikit berantakan dengan cara yang tampak disengaja, senyum yang terlalu santai untuk situasi apa pun, berdiri di sampingnya dengan gelas bir di tangan dan ekspresi antara heran dan prihatin.
"Tumben banget lo di sini," lanjut Joe, langsung menarik kursi dan duduk tanpa diundang. Itulah Joe. Tidak pernah menunggu undangan. "Biasanya jam segini lo masih ngurusin spreadsheet."
"Duduk diam dulu," kata Bastian datar.
Joe menatapnya sebentar. Satu detik. Dua detik. Matanya turun ke knuckle tangan Bastian yang kemerahan, lalu kembali ke wajahnya.
"Calista?"
Bastian tidak menjawab. Tapi ia akhirnya mengangkat gelas bourbonnya dan meneguk setengahnya dalam satu gerakan.
Joe menghela napas panjang. "Gue udah bilang dari dulu, Bas. Perjodohan itu..."
"Jo."
"Oke, oke." Joe mengangkat tangan. "Gue diem."
Mereka duduk berdampingan dalam keheningan yang hanya diisi denting gelas dan suara musik lounge yang mengalun rendah. Bastian meneguk sisa bourbonnya dan meminta yang kedua. Joe mengamatinya dengan ekspresi yang lebih serius dari biasanya.
Ia tahu Sebastian Gunawan tidak menangis. Bukan karena pria ini tidak punya perasaan, justru sebaliknya. Bastian punya terlalu banyak perasaan yang ia kemas terlalu rapat, terlalu dalam, hingga yang keluar ke permukaan hanya dua versi: tenang yang dingin, atau marah yang terkontrol. Malam ini jelas yang kedua.
"Lo mau gue cariin hiburan?" tanya Joe akhirnya, nadanya hati-hati.
"Bukan."
"Serius aja dulu deh." Joe memutar-mutar gelasnya. "Lo baru aja officially jomblo, Bas. Lo perlu... sesuatu yang bikin kepala lo berhenti mikir. Sesuatu yang simpel. Tanpa drama. Tanpa ekspektasi."
Bastian tidak menjawab. Tapi ia juga tidak pergi.
Joe membaca itu sebagai lampu hijau. Ia punya naluri yang bagus soal celah sempit antara tidak dan mungkin.
"Gue kenal seseorang," kata Joe sambil meraih ponselnya. "Hasya. Orangnya asyik, nggak ribet, ngerti situasi. Biasanya gue yang..." ia tersenyum sekilas, "...enfin, lo ngerti lah. Gue minta dia bawa temennya sekalian. Lo nggak harus ngobrol kalau nggak mau. Tapi setidaknya ada yang menemani lo malam ini selain bourbon murahan itu."
"Bourbon ini tidak murahan," koreksi Bastian datar.
"Nah, artinya lo masih bisa berdebat. Berarti lo butuh teman ngobrol." Joe sudah mengetik di ponselnya, jempolnya bergerak cepat. "Santai. Gue handle semuanya."
Bastian menatap gelasnya yang ketiga yang baru saja tiba.
Di luar jendela bar, Jakarta masih berdenyut dengan kehidupannya yang tidak pernah benar-benar tidur. Di suatu lantai di Hotel Aryana, mungkin Calista masih menangis. Mungkin tidak. Bastian menemukan bahwa ia tidak terlalu peduli untuk mencari tahu.
Yang ia tahu hanya satu hal dengan sangat jelas malam ini.
Ia mulai mencintai wanita itu diam-diam, pelan-pelan, seperti orang bodoh yang percaya bahwa perjodohan bisa berakhir bahagia. Dan ternyata... untuk pertama dan terakhir kalinya... ia yang lebih dulu kalah.
Tidak akan ada yang kedua.
Joe menepuk bahunya sekali, singkat.
"Mereka lagi di jalan, Bas."
Bastian hanya mengangguk kecil, menatap sisa bourbon di gelasnya dengan mata yang sudah tidak kosong lagi, tapi bukan karena lebih baik. Lebih karena sesuatu di dalam dirinya sudah memutuskan, dengan tenang dan dingin seperti kontrak yang baru saja ditandatangani:
Malam ini adalah yang terakhir ia membiarkan dirinya merasa seperti ini.
duh2 gimana ya kalo Bastian mau Nina ninu kan yuna lagi di rumah mama nya