Ryn Moa memilih kampusnya demi satu alasan: Kim Taehyung, pria yang telah lama ia sukai. Namun upayanya mendekati Taehyung justru membawanya pada ketertarikan lain-J-Hope, sahabat Taehyung yang ceria.
Di tengah perasaan yang berubah-ubah itu, hadir Kim Namjoon, teman mereka yang tidak setampan dua pria sebelumnya, tetapi memiliki ketenangan, kecerdasan, dan senyum manis yang perlahan merebut hati Ryn Moa.
Tanpa disadari, pencariannya akan cinta membawanya menemukan sosok yang paling tepat, justru dari arah yang tak pernah ia duga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.27
Perpustakaan kampus sore itu tidak terlalu ramai, tapi juga tidak benar-benar sepi. Suara langkah kaki teredam oleh karpet, denting pelan keyboard laptop, dan desis pendingin ruangan yang konstan. Cahaya matahari masuk dari jendela besar di sisi barat, memantul lembut di permukaan meja kayu panjang yang kini dipenuhi buku-buku tebal. Sinar matahari sore membuat ruangan terasa lebih hangat dari biasanya, meski AC tetap bekerja dengan setia. Ada kesan waktu berjalan lebih lambat di jam-jam seperti ini—saat mahasiswa yang datang bukan lagi yang terburu-buru mengejar kelas, melainkan mereka yang memilih bertahan demi tugas, riset, atau sekadar menghindari pulang terlalu cepat.
Di perpustakaan, Ryn Moa sedang menulis catatan sambil ditemani tumpukan buku. Saking fokusnya, ia tidak sadar kalau seseorang berdiri di hadapannya. Jika ada lomba tingkat kampus tentang siapa yang paling mudah “menghilang dari dunia nyata saat belajar”, Ryn Moa mungkin sudah masuk nominasi sejak semester pertama. Ketika ia benar-benar tenggelam dalam catatan, dunia di sekitarnya hanya menjadi bayangan samar, suara menjadi jauh, gerakan orang lain terasa seperti film bisu. Ryn Moa duduk dengan posisi setengah membungkuk, rambutnya yang dikuncir setengah sedikit terurai, beberapa helai jatuh ke sisi wajahnya. Tangannya bergerak cepat menulis, sesekali berhenti untuk membuka buku, mengernyit, lalu menulis lagi. Alisnya berkerut, bibirnya menggumam pelan seolah sedang berdiskusi dengan dirinya sendiri.
“Ini maksudnya metafora… atau simbol?” gumamnya lirih, lalu mencoret satu baris dan menggantinya dengan panah yang mengarah ke catatan lain. “Atau dua-duanya… ah, kenapa dosen suka bikin hidup ribet sih.”
Jika seseorang mendengarnya dari kejauhan, gumaman itu mungkin terdengar seperti mantra aneh. Tapi bagi Ryn Moa, itu adalah cara terbaiknya berpikir, mengeluarkan suara agar pikirannya tidak saling bertabrakan. Di depannya, buku-buku terbuka membentuk semacam benteng kecil. Ada buku teori sastra, jurnal lama yang sampulnya sudah kusam, dan satu buku catatan penuh coretan warna-warni tanda khas Ryn Moa ketika sedang serius. Buku catatan itu adalah kombinasi antara catatan kuliah, sketsa kecil tak penting, dan simbol-simbol yang hanya ia sendiri yang paham. Ada bintang kecil di samping kalimat penting, ada tanda seru ganda untuk ide yang terasa “wah”, dan ada wajah kecil menyebalkan setiap kali ia tidak setuju dengan teori tertentu.
Namjoon.
Ia berdiri tepat di hadapan meja itu, memandangi pemandangan tersebut selama beberapa detik. Tidak lama, tapi cukup untuk memperhatikan detail kecil yang sering luput dari orang lain. Cara Ryn Moa memiringkan kepala saat membaca, cara jemarinya mengetuk pena ketika berpikir, dan cara matanya menyipit setiap kali menemukan kalimat yang menurutnya penting. Ia tidak berniat mengganggu. Awalnya, ia hanya lewat untuk mencari buku referensi, lalu tanpa sadar langkahnya melambat ketika melihat sosok yang familiar. Ada sesuatu yang menahan kakinya di tempat, bukan rasa penasaran yang berlebihan, lebih seperti ketertarikan sederhana yang datang tanpa alasan jelas.
Dengan senyum kecil di wajahnya, dan lesung pipi yang muncul halus setiap kali bibirnya naik. Namjoon menyesuaikan pegangan bukunya, lalu sedikit menunduk agar berada di garis pandang gadis itu.
“Apa aku boleh duduk di sini?” tanyanya pelan.
Suara itu rendah dan tenang, hampir menyatu dengan suasana perpustakaan. Namun tetap berhasil menembus dunia Ryn Moa yang penuh catatan dan tanda stabilo. Gadis itu mendongak, dan hampir terjatuh dari kursinya.
“Oh! Namjoon… I, iya, duduk saja.”
Reaksinya terlalu cepat. Kepalanya terangkat mendadak, matanya membesar, dan tubuhnya refleks bergeser ke belakang seolah kursinya akan tiba-tiba menghilang.
Kursinya berdecit pelan saat ia refleks berdiri setengah, lalu duduk kembali dengan gerakan kikuk. Wajahnya memanas, dan ia buru-buru merapikan buku-bukunya, menciptakan ruang kosong di hadapannya. Dalam proses merapikan itu, satu buku hampir jatuh. Ryn Moa menangkapnya dengan gerakan panik yang nyaris membuat pulpen di tangannya terlempar. Tenang, Ryn Moa. TENANG. Ini cuma Namjoon. Cuma… Namjoon. Batinnya bersuara.
“Terima kasih.” Namjoon tersenyum kecil.
Ia menarik kursi dengan hati-hati, duduk dengan posisi santai tapi rapi. Tangannya membuka buku tebal yang sampulnya gelap, judulnya tercetak dengan huruf emas yang terlihat berat bahkan hanya dengan membacanya. Ryn Moa melirik judul buku itu dan langsung menelan ludah.
Filsafat Eksistensial Modern.
…Oke. Otaknya langsung merasa kalah. Suasana di antara mereka hening, tapi hangat. Tidak ada keheningan canggung. Justru seperti dua orang yang sama-sama nyaman berada dalam diam. Ryn Moa kembali menunduk, mencoba fokus, tapi perhatiannya terpecah. Ada kehadiran yang berbeda di sebelahnya, tenang, stabil, dan entah kenapa…selalu menenangkan.
Biasanya, Ryn Moa akan merasa gelisah jika ada orang duduk terlalu dekat saat ia belajar. Ia akan merasa diawasi, dinilai, atau sekadar terganggu. Tapi dengan Namjoon, rasa itu tidak muncul. Yang ada justru perasaan seperti… ditemani.
Namjoon membuka buku tebal filsafat yang judulnya membuat Ryn Moa ingin tidur. Ia membaca dengan ekspresi serius, tapi tidak kaku. Sesekali, ia menandai halaman dengan pembatas buku, atau mengernyit tipis ketika menemukan bagian yang menarik. Ryn melirik sekilas, lalu terkekeh pelan.
“Kau selalu kelihatan tenang kalau membaca,” ujar Ryn Moa lirih.
Nada suaranya hampir seperti berbicara pada diri sendiri, tapi Namjoon mendengarnya.
“Aku hanya terlihat tenang,” jawab Namjoon sambil tersenyum. “Di dalam, otakku tetap berisik.”
“Serius?”. Ryn Moa menoleh ke arahnya.
Ia tidak bermaksud meragukan, lebih seperti terkejut. Di kepalanya, Namjoon adalah tipe orang yang pikirannya selalu rapi. Terstruktur. Seperti rak buku perpustakaan yang tersusun sempurna. Ryn tertawa kecil.
“Aku nggak percaya. Kau kelihatan bijak banget.”
Namjoon menutup bukunya perlahan, tidak langsung menoleh.
“Aku bijak kalau sedang bersama orang yang membuatku nyaman,” Namjoon berkata tanpa melihatnya.
Kalimat itu keluar begitu saja. Tidak ada tekanan. Tidak ada penekanan berlebihan. Seolah itu hanya fakta sederhana. Namun bagi Ryn Moa, itu seperti seseorang menjatuhkan kelereng ke lantai, kecil, tapi suaranya bergema di kepala. Kata-kata itu membuat Ryn Moa berhenti menulis. Pena di tangannya menggantung di udara. Jantungnya, yang tadinya berdetak biasa, kini melompat satu ketukan lebih cepat. Tatapannya pelan-pelan mengarah ke wajah Namjoon. Laki-laki itu menunduk, mempelajari halaman buku… tapi ujung bibirnya terangkat sedikit. Lesung pipi itu muncul. Dan jantung Ryn Moa berdetak lebih cepat. “Oh. Oke. Santai. Ini cuma… kalimat biasa,” gumamnya dalam hati, meski tubuhnya jelas tidak setuju.
Ia buru-buru menunduk kembali, berpura-pura membaca, tapi huruf-huruf di halaman kini terasa kabur. Ada rasa hangat menjalar dari dadanya, bukan meledak, tapi menetap. Nyaman dan membingungkan. Ia mencoba menarik napas pelan. Menghembuskannya perlahan. Namun setiap kali ia sadar akan keberadaan Namjoon di sampingnya, fokusnya kembali buyar.
Di sisi lain, Namjoon menahan senyum kecil. Ia tidak bermaksud membuat Ryn gugup. Sungguh, kalimat itu keluar begitu saja, jujur, sederhana, tanpa rencana. Tapi melihat reaksi gadis itu yang kini terlalu fokus pada bukunya dengan wajah sedikit memerah, ada rasa puas kecil yang tidak bisa ia pungkiri. Ia kembali membuka bukunya, berpura-pura membaca. Namun sudut matanya sesekali melirik ke arah Ryn Moa, cara gadis itu menggigit ujung pena, cara bahunya menegang lalu mengendur, dan cara kakinya bergerak kecil di bawah meja, tanda klasik orang yang sedang gugup tapi berusaha terlihat normal.
Beberapa menit berlalu. Keheningan kembali hadir, tapi kini terasa berbeda. Ryn Moa tiba-tiba bersin kecil, tertahan, seperti tidak ingin mengganggu. Namjoon refleks menyodorkan tisu dari sakunya.
“Oh...makasih,” kata Ryn Moa pelan, menerima tisu itu dengan gerakan kikuk.
Tangannya sempat menyentuh jari Namjoon. Dan tentu saja, otak Ryn Moa langsung panik. KENAPA TANGAN ORANG HANGAT SEMUA SIH?!. Ia buru-buru menarik tangannya kembali, menunduk, dan pura-pura sibuk mengelap hidung padahal sebenarnya baik-baik saja. Namjoon berdehem kecil, mencoba menahan senyum.
Di antara rak buku tinggi dan udara dingin perpustakaan, Ryn Moa tidak menyadari satu hal, momen seperti ini seringkali menjadi awal dari sesuatu yang tidak direncanakan. Dan di kejauhan, di antara barisan rak, seorang pustakawan memperhatikan mereka dengan ekspresi datar, siap menegur jika suara tawa muncul sedikit lebih keras dari seharusnya. Untungnya, yang muncul hanyalah senyum kecil, detak jantung yang terlalu keras di dada masing-masing, dan keheningan yang semakin terasa… manis.
...⭐⭐⭐...
Bersambung....