Sebuah kepingan masalalu pahit dan manis tentang perjuangan hidup sebuah keluarga kecil sederhana di lereng gunung Prau. Luka yang tak bisa sembuh dan kenangan yang tak bisa di hapus, hingga pada akhirnya berdamai dengan luka dan keadaan adalah jalan terbaiknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonaniiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Segar Snow dan Sidia
Dunia di luar sana mungkin masih bising dengan cibiran. Suara-suara sumbang tentang "suami yang menumpang hidup" masih sering mampir ke telingaku, namun Ayah seolah telah membangun dinding pelindung yang luar biasa tebal di dalam hatinya. Ia terus melangkah, menjalani hari-harinya dengan ketabahan yang luar biasa, seolah-olah semua hinaan itu hanyalah bahan bakar agar ia tidak jatuh terpuruk.
"Biarkan saja, Nak. Yang penting dapur kita tetap mengepul," ucap Ayah suatu kali saat aku menatapnya dengan wajah sedih setelah mendengar omongan tetangga.
Kini, hari-hariku ditemani oleh Pipit dan Rabbit, boneka kelinci putih pemberian ibuku. Mereka menjadi saksi bisu pertumbuhanku. Aku sering membawa mereka keluar, membuntuti Kakak yang bermain di bawah terik matahari pegunungan yang menyengat. Kami berlari di antara debu jalanan dan ladang, membuat kulitku yang dulu bersih perlahan berubah menjadi dekil, kusam, dan berbau matahari yang khas.
Wajahku mulai terasa kasar, kering, bahkan sedikit bersisik karena sering terpapar panas tanpa perlindungan. Jika orang melihatku, mungkin mereka akan mengira aku tidak diurus. Tapi kenyataannya justru sebaliknya. Setiap sore, setelah matahari tergelincir, Ayah akan menyambutku di depan pintu.
"Ya ampun, Nonok... dekil sekali kamu. Sini, mandi!" seru Ayah sambil tertawa melihat penampilanku yang sudah mirip bocah petualang.
Ayah memandikanku dengan sangat telaten. Setelah badanku bersih dan segar, ritual "kecantikan" yang legendaris pun dimulai. Ayah akan mengambil wadah plastik kecil dengan tutup bewarna kuning yang berisi krim Segar Snow. Dengan ujung jarinya yang kasar, ia mengoleskan krim putih dingin itu ke wajahku yang bersisik. Aroma melatinya yang khas seketika memenuhi hidungku.
"Biar wajahmu tidak kasar lagi. Biar cantik seperti Ibu," bisik Ayah sambil meratakan krim itu.
Tak berhenti di situ, ia juga mengoleskan lotion Sidia ke tangan dan kakiku. Bau wangi lotion legendaris itu seolah menghapus aroma debu dan peluh sepanjang hari. Ayah merawatku dengan kelembutan yang luar biasa, seolah ingin memastikan bahwa meski Ibu tidak ada, aku tidak akan kehilangan kasih sayang seorang pengasuh.
Namun, pemandangan berbeda akan terlihat jika itu menyangkut Kakak. Ayah tampak lebih "bodo amat" kepada Kakak. Jika Kakak pulang dengan badan kotor, Ayah hanya akan berkata, "Cuci sendiri badanmu, sudah besar."
Dulu aku sempat berpikir apakah Ayah tidak sayang pada Kakak? Tapi semakin aku memperhatikan, aku mulai mengerti. Ayah sedang menularkan kekuatannya pada Kakak. Ia mendidik Kakak dengan cara yang keras, melatihnya untuk mandiri, dan menanamkan mental baja agar Kakak bisa berdiri tegak di atas kakinya sendiri. Kakak dipersiapkan untuk menjadi pelindung, menjadi pengganti Ayah jika suatu saat ia tidak ada.
"Kakakmu itu laki-laki, Nok. Dia tidak boleh lembek. Dunia ini keras, dia harus lebih keras dari dunia supaya tidak hancur," ujar Ayah padaku saat aku bertanya mengapa Kakak tidak diolesi Segar Snow juga.
Di balik didikan keras itu, aku tahu Ayah sangat mencintai Kakak. Kasih sayangnya bukan berupa krim wajah atau lotion wangi, melainkan berupa ketegasan yang akan membuat Kakak menjadi orang hebat di masa depan. Malam itu, di bawah cahaya lampu yang temaram, aku melihat keluarga kecil kami yang unik. Ada aku yang dimanja dengan aroma Sidia, Kakak yang ditempa seperti besi, dan Ayah yang menjadi nakhoda hebat di tengah badai ekonomi yang belum juga reda.
Aku tahu berat sekali bagi Ayah mengambil peran sebesar itu, apalagi Ibu yang rela pergi jauh dari anak-anaknya dimana mereka masih membutuhkan kasih sayangnya. Orang lain tidak tahu apapun karena mereka tidak berada di posisi kami.
Pada akhirnya, aku mengerti bahwa Ayah sedang membagi dirinya menjadi dua. Ia menjadi "tangan yang lembut" untukku, memastikan bahwa dunia tidak akan pernah benar-benar melukaiku atau membuatku merasa kehilangan sentuhan keibuan. Sementara untuk Kakak, Ayah menjadi "batu karang" yang kokoh, menempanya agar tak retak meski dihantam badai cibiran dari luar sana.
Setiap malam, saat aroma melati dari krim Segar Snow masih tertinggal di bantal dan bau lotion Sidia menenangkan jiwaku, aku selalu menoleh ke arah Ayah yang tertidur lelap dengan napas yang berat. Wajahnya yang kelelahan adalah bukti dari perjuangan yang tak pernah ia keluhkan.
Biarlah orang-orang di luar sana terus bersuara. Biarlah mereka menganggap kami tidak sempurna. Sebab, di atas bukit ini, di bawah atap yang tenang ini, kami punya cara sendiri untuk saling menjaga. Kami tidak butuh validasi dari mulut tetangga untuk merasa bahagia.
Kini, setiap kali aku mencium aroma bunga melati atau melihat debu yang beterbangan di bawah sinar matahari, aku selalu teringat pada masa-masa itu. Masa di mana aku belajar bahwa harga diri tidak ditentukan oleh seberapa banyak harta yang kita punya, melainkan dari seberapa berani kita bertahan demi orang-orang yang kita cintai. Aku adalah anak dari seorang laki-laki yang mungkin dianggap remeh oleh dunia, tapi bagiku, ia adalah pahlawan yang telah berhasil menjaga cahaya di mata anak-anaknya tetap menyala.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰