NovelToon NovelToon
Hello Tenggara

Hello Tenggara

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Erna Lestari

Tentang Tenggara yang mencintai dalam diam
Tentang Khatulistiwa yang mencari sebuah perhatian

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

CERITA KALUNG YANG BERMAKNA

Hari Senin pagi, suasana kelas SMAN 3 Makassar kembali ramai dengan suara obrolan teman sebaya setelah jam pelajaran pertama selesai. Khatulistiwa duduk di mejanya sambil menata buku-bukunya, namun perhatian teman-temannya segera tertuju pada kalung perak dengan liontin berbentuk unik yang dikenakannya di leher.

"Khatu, kalung kamu cantik banget ya! Dari mana kamu dapatkan?" tanya Safira dengan mata yang bersinar sambil mendekat untuk melihatnya lebih jelas.

Rina juga segera datang mendekat, dengan ekspresi wajah yang sama kagumnya. "Wah benar sekali! Liontinnya itu bentuknya apa ya? Kayaknya pernah aku lihat di suatu tempat."

Khatulistiwa tersenyum sambil menyentuh kalungnya dengan lembut. "Kalung ini adalah hadiah dari Tenggara.

"Aduh, benar dong!" teriak Safira dengan suara penuh kegembiraan. "Jadi apa kabarnya dengan kamu berdua ya? Ceritain dong lengkapnya!"

Khatulistiwa kemudian mulai menceritakan tentang acara pameran budaya di Universitas Hasanuddin kemarin

"Saat acara hampir berakhir, Tenggara mengajak aku ke tempat yang lebih sepi," cerita Khatulistiwa dengan wajah yang sedikit memerah. "Dia bilang kalung ini adalah hadiah dari dia dan neneknya. Liontinnya berbentuk siger – lambang khas kerajaan Gowa yang melambangkan keberanian dan kebijaksanaan."

"Wah, ada makna yang dalam banget ya!" ucap Rina dengan penuh kagum. "Jadi ini bukan cuma hadiah sembarangan saja."

"Iya nih," tambah Khatulistiwa dengan bangga. "Neneknya yang membuat liontinnya dengan tangan sendiri lho. Dia bilang ingin aku selalu ingat untuk menjadi orang yang berani menghadapi segala tantangan dan selalu berpikir dengan bijak."

Beberapa teman lain yang dengar pembicaraan mereka juga mulai mendekat dan melihat kalungnya dengan rasa kagum. "Kalungnya benar-benar cantik dan unik, Khatu, ucap salah satu teman sekelasnya, Aisyah. "

Khatulistiwa mengangguk dengan senyum. "Aku memang sangat bersyukur bisa bertemu dengan Tenggara. Dia tidak hanya membantu aku dalam belajar, tapi juga memperkenalkanku pada banyak hal baru tentang budaya daerah kita. Aku bahkan sudah mendaftar untuk mengikuti kelas tenun songket yang akan dibuka oleh neneknya minggu depan."

"Itu bagus banget!" ucap Safira dengan antusias. "Kalau begitu, kamu bisa belajar membuat tenun dan mungkin bisa membuat kalung atau perhiasan sendiri nanti ya."

"Salah satunya juga," jawab Khatulistiwa dengan ceria. "Selain itu, aku juga ingin membantu memperkenalkan budaya kita kepada teman-teman lain di sekolah. Mungkin kita bisa mengajak pihak sekolah untuk mengadakan acara budaya kecil di sini juga, seperti yang ada di kampus kemarin."

Rina mengangguk dengan penuh dukungan. "Itu ide yang sangat bagus, Khatu. Banyak teman kita yang juga ingin lebih mengenal budaya daerah kita tapi tidak punya kesempatan. Kalau ada acara seperti itu di sekolah, pasti akan banyak yang ikut serta."

Saat itu, Jesika yang sedang duduk di bagian belakang kelas melihat mereka dengan ekspresi wajah yang sedikit malu. Setelah kejadian beberapa waktu yang lalu dan hukuman skors yang dia terima, dia sudah mulai berusaha untuk memperbaiki perilakunya. Dia mendengar cerita Khatulistiwa tentang kalung dan acara pameran, dan merasa ingin tahu tentang budaya daerah yang selama ini dia abaikan.

Akhirnya, Jesika mengambil keberanian untuk mendekat ke mereka. "khatu.. bolehkah aku melihat kalung kamu?" tanyanya dengan suara yang lembut.

Khatulistiwa melihatnya dengan senyum ramah dan mengangguk. "Tentu saja boleh, Jesika."

Jesika mendekat dan melihat kalungnya dengan hati-hati. "Kalungnya benar-benar cantik. Kamu bisa cerita tentang apa yang kamu lihat di pameran kemarin tidak?"

Khatulistiwa tersenyum lebar dan mulai menceritakan kembali tentang acara pameran, dengan senang hati menjawab setiap pertanyaan yang diajukan Jesika. Safira dan Rina juga ikut berbagi cerita tentang pengalaman mereka kemarin, dan perlahan-lahan suasana menjadi lebih hangat dan ramah.

"Kalau ada acara seperti itu lagi, bolehkah aku ikut bersama kalian?" tanya Jesika dengan sedikit ragu. "Aku juga ingin belajar lebih banyak tentang budaya kita sendiri."

"Tentu saja boleh!" jawab Khatulistiwa dengan senyum hangat. "Kita semua sangat menyambutmu untuk bergabung bersama kita."

Jesika tersenyum dengan rasa lega dan bersyukur. Dia merasa sangat senang bisa diterima kembali oleh teman-temannya dan memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.

Sebelum bel jam pelajaran kedua berbunyi, Safira mengangkat suaranya dengan semangat. "Teman-teman, bagaimana kalau kita membuat klub budaya di sekolah ya? Kita bisa belajar tentang sejarah, seni, dan makanan khas daerah bersama-sama!"

Ide tersebut langsung mendapatkan dukungan dari banyak teman sekelas. Mereka sepakat untuk mengajukan proposalnya kepada guru kelas dan pihak sekolah. Khatulistiwa merasa sangat bahagia melihat teman-temannya begitu antusias untuk belajar tentang budaya daerah mereka.

"Saya akan menceritakan ini kepada Tenggara dan neneknya nanti," ucap Khatulistiwa dengan senyum. "Mereka pasti akan sangat senang dan mungkin bisa membantu kita dalam membuat klub tersebut."

Ketika bel berbunyi dan mereka kembali ke tempat duduk masing-masing, Khatulistiwa menyentuh kalungnya sekali lagi. Dia merasa bahwa kalung ini bukan hanya sebuah hadiah biasa – namun juga sebagai lambang dari persahabatan yang indah, rasa cinta terhadap budaya daerah, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik di mana semua orang bisa hidup damai dan saling menghargai satu sama lain.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!