Aku menikah dengannya karena cinta.
Kupikir itu cukup.
Nyatanya, setelah akad terucap, aku baru tahu—
cinta itu bukan hanya milikku.
Saat hati dipaksa berbagi dan kebenaran menyakitkan terungkap, aku harus memilih:
mempertahankan pernikahan yang dibangun atas cinta,
atau pergi demi harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Sesampainya di kantor, aku langsung melangkah menuju ruangan suamiku.
Langkahku terasa ringan. Senyum tak henti menghiasi wajahku. Di tanganku tergenggam rangkaian bunga yang kupilih sendiri dengan penuh cinta. Bahkan sejak di mobil tadi aku terus mencium harumnya, membayangkan ekspresi bahagia yang akan dia tunjukkan saat melihatku datang tanpa pemberitahuan.
Hari ini aku ingin membuat kejutan kecil untuknya.
Karena itu aku sengaja tidak mengetok pintu. Ingin melihat wajah terkejutnya. Ingin menjadi satu–satunya hal indah yang dia lihat siang ini.
Tanganku memutar gagang pintu.
Klik.
Pintu itu terbuka perlahan.
Langkahku terhenti tepat di ambang pintu.
Tawa kecil terdengar dari dalam ruangan. Bukan suara yang asing… tapi juga bukan hanya miliknya. Ada suara lain. Lembut. Perempuan.
Jantungku berdegup tidak beraturan.
Aroma parfum wanita tercium samar, bercampur dengan wangi kopi yang biasa suamiku minum. Tanganku yang menggenggam bunga mulai bergetar.
Dan di sanalah aku melihatnya.
Suamiku duduk di kursi kebesarannya.
Namun seorang wanita berdiri sangat dekat di sampingnya. Terlalu dekat. Tubuhnya sedikit membungkuk ke arah meja, jemarinya bertumpu di sana, rambutnya terurai indah. Senyumnya tipis, manis… menusuk.
Dan suamiku tidak menjauh.
Dunia seolah berhenti berputar.
Senyum yang sejak tadi mengembang di wajahku perlahan menghilang. Bunga di tanganku terasa begitu berat, seakan berubah menjadi beban yang tak sanggup lagi kugenggam.
Pintu yang terbuka membuat mereka menoleh.
Mata kami bertemu.
Wajah suamiku berubah dalam sekejap. Terkejut. Gugup. Ada kilatan yang tak mampu dia sembunyikan.
"Ra–Rania…"
Suaranya terdengar tertahan.
Wanita itu ikut menoleh padaku, menatap dari atas hingga bawah dengan tatapan yang sulit kuartikan. Lalu dia berdiri tegak, menjaga jarak yang tadi tak ada.
Namun semuanya sudah terlambat.
Aku melihatnya.
Aku merasakannya.
Hati kecilku berbisik pelan… bahwa kejutan yang kubawa hari ini mungkin bukan lagi tentang kebahagiaan.
Tanganku terlepas.
Rangkaian bunga itu jatuh ke lantai.
Perempuan itu… Monika.
Istri pertamanya.
Perempuan yang beberapa bulan lalu dengan lantang mengatakan ingin bercerai. Perempuan yang membuat rumah tangga kami berguncang. Perempuan yang katanya sudah memilih untuk mengakhiri semuanya.
Tapi nyatanya… sampai hari ini belum ada surat cerai yang turun.
Dan kini dia berdiri di sana.
Di ruang kerja suamiku.
Terlalu dekat.
Dadaku terasa sesak. Pandanganku kabur, entah karena marah atau karena air mata yang mulai menggenang.
Monika menatapku dengan tatapan datar. Lalu sudut bibirnya terangkat tipis, senyum yang tidak pernah benar-benar ramah untukku.
“Loh… Rania?” ucapnya seolah terkejut, padahal sorot matanya tidak demikian.
Aku tidak menjawab.
Tatapanku beralih pada suamiku.
“Kau bilang… semuanya sudah selesai,” suaraku lirih, namun cukup terdengar di ruangan itu.
Suamiku bangkit dari kursinya. “Rania, dengar dulu—”
“Apa yang harus aku dengar?” potongku.
Tanganku menunjuk ke arah Monika yang kini berdiri tegak, seolah dia pemilik ruangan ini.
“Bukankah dia yang ingin pergi? Bukankah dia yang meminta cerai?” tanyaku, suaraku mulai bergetar. “Kenapa sampai sekarang belum ada keputusan? Kenapa dia masih bebas keluar masuk ruangan suamiku tanpa izin?”
Monika terkekeh pelan.
“Aku masih istri sahnya,” ucapnya santai.
Kalimat itu menghantamku lebih keras dari tamparan.
Istri sah.
Ya.
Secara hukum… mungkin aku yang hanya datang setelahnya. Aku yang disebut perusak. Aku yang selalu dipandang sebagai wanita yang merebut.
Padahal aku mencintainya dengan tulus.
“Monika, jangan memperkeruh keadaan,” suamiku menegur dengan nada rendah.
“Oh? Aku yang memperkeruh?” Monika menaikkan alisnya. “Atau kau yang tak pernah tegas sejak awal?”
Sunyi.
Ruangan itu mendadak terasa sempit.
Aku memejamkan mata sesaat, mencoba menahan air mata agar tidak jatuh di hadapan perempuan itu.
“Jawab aku,” bisikku pada suamiku. “Kenapa surat cerainya belum turun?”
Dia terdiam.
Dan diamnya… lebih menyakitkan dari seribu jawaban.
Air mata akhirnya jatuh juga.
Jadi selama ini… aku berdiri di rumah tangga yang bahkan belum benar-benar selesai.
Aku memutar tubuhku perlahan. Tidak ada lagi kejutan. Tidak ada lagi bunga. Tidak ada lagi senyum.
Yang ada hanya kenyataan pahit…
Bahwa di antara aku dan Monika, statuslah yang berbicara.
Dan sampai saat ini…
Dia masih istri pertama yang belum benar-benar pergi.
Ruangan itu terasa semakin pengap.
Aku berdiri membelakanginya. Tidak ingin melihat wajahnya, tapi juga terlalu takut untuk benar-benar pergi.
“Rania… kita bicara,” suara Bram terdengar lebih berat dari biasanya.
Monika terdiam. Entah menikmati situasi ini atau memang sengaja memberi ruang agar aku mendengar semuanya langsung dari mulut suamiku.
Aku berbalik perlahan.
“Apa lagi yang perlu dijelaskan?” tanyaku pelan. Suaraku terdengar rapuh bahkan di telingaku sendiri.
Bram mengusap wajahnya kasar. Untuk pertama kalinya aku melihat kebingungan yang nyata di matanya.
“Surat cerai itu… belum turun bukan karena prosesnya lama.”
Dadaku langsung terasa sesak.
“Lalu karena apa?” bisikku.
Ia menatap Monika sekilas. Tatapan yang tidak asing. Tatapan yang masih menyimpan sesuatu.
Karena mereka belum benar-benar selesai.
Karena mereka belum benar-benar ingin selesai.
Bram menarik napas panjang. Seakan kalimat berikutnya akan menghancurkan semuanya.
“Kami… tidak jadi berpisah.”
Dunia seperti berhenti.
Aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan, kalimatnya… atau cara ia mengatakannya.
“Kami masih saling mencintai.”
Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh begitu saja. Tidak bisa lagi kubendung.
Monika memalingkan wajah, tapi aku bisa melihat kelegaan samar di sorot matanya.
“Lalu aku ini apa, Bram?” tanyaku lirih. “Apa posisiku di antara kalian?”
Bram mendekat satu langkah. “Rania, dengarkan aku.”
“Jawab saja!” suaraku meninggi, untuk pertama kalinya di hadapannya.
Dia terdiam sejenak, lalu mengatakan hal yang membuat kakiku hampir tak mampu menopang tubuhku.
“Aku tidak mau kehilangan kamu.”
Aku tertawa kecil. Tertawa yang terdengar lebih seperti tangisan.
“Karena cinta?” tanyaku.
Ia menggeleng pelan.
“Karena… kamu sedang mengandung anak yang selama ini aku inginkan.”
Hening.
Kalimat itu menggema di kepalaku.
Jadi… aku dipertahankan bukan karena aku dicintai sepenuhnya.
Tapi karena anak ini.
Karena warisan.
Karena keturunan.
Tanganku refleks menyentuh perutku. Tempat di mana kehidupan kecil itu tumbuh dengan polos, tanpa tahu bahwa keberadaannya kini menjadi alasan seseorang memilih untuk tidak kehilangan ibunya.
“Kau masih mencintainya,” kataku pelan.
Bram tidak menjawab.
Dan diamnya kali ini adalah pengakuan.
Aku mengangguk perlahan, mencoba terlihat tegar meskipun hatiku sudah hancur berkeping.
“Jadi kau ingin tetap bersamanya… dan tetap mempertahankan aku?” tanyaku lagi.
Bram menatapku dalam. “Aku bisa bertanggung jawab pada kalian berdua.”
Aku tersenyum pahit.
Bertanggung jawab.
Seolah perasaan bisa dibagi rata. Seolah hati bisa memiliki dua rumah tanpa menghancurkan salah satunya.
“Tidak, Bram,” suaraku kali ini tenang. Terlalu tenang. “Aku tidak mau menjadi pilihan kedua yang dipertahankan karena rahimku.”
Monika akhirnya bersuara. “Sejak awal memang tidak pernah ada tempat untukmu.”
Kalimat itu menghunjam tepat ke dadaku.
Aku menatap mereka berdua.
Dua orang yang masih saling mencintai… dan aku berdiri di tengah-tengahnya membawa seorang anak yang kini menjadi alasan.
Aku menghapus air mataku.
“Anak ini bukan alat untuk menahanmu tetap di sisiku,” ucapku pelan namun tegas. “Dan aku tidak akan memohon untuk dicintai.”
Aku membungkuk mengambil bunga yang tadi jatuh di lantai. Beberapa kelopaknya sudah rusak.
Seperti hatiku.
Tanpa berkata apa-apa lagi, aku melangkah keluar dari ruangan itu.
Setiap langkah terasa berat.
Tapi lebih berat lagi jika harus tinggal di antara cinta yang bukan milikku sepenuhnya.
Dan hari itu aku sadar…
Kadang yang paling menyakitkan bukanlah pengkhianatan.
Melainkan menjadi orang yang dipertahankan… bukan karena cinta, tapi karena kebutuhan.
****