Andini (23) menganggap pernikahannya dengan Hilman (43) adalah sebuah penghinaan. Baginya, Hilman hanyalah "pelayan gratis" yang membiayainya bergaya hidup mewah. Selama tujuh tahun, Andini buta akan pengorbanan Hilman yang bekerja serabutan demi masa depan ia dan anak nya. Namun, saat kecelakaan merenggut nyawa Hilman, Andini baru menyadari bahwa kemewahan yang ia pamerkan berasal dari keringat pria yang selalu ia hina. Sebuah peninggalan suaminya dan surat cinta terakhir menjadi pukulan telak yang membuat Andini harus hidup dalam bayang-bayang penyesalan seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka yang Terpendam
Senja di Jakarta selalu membawa hawa gerah yang lengket, namun bagi Andini, suasana di dalam rumahnya jauh lebih menyesakkan daripada polusi di luar sana. Ia baru saja selesai mandi, tubuhnya berbalut jubah mandi sutra berwarna merah hati yang dibelinya dengan kartu kredit—yang tagihannya lagi-lagi akan ia lemparkan ke meja kerja Hilman. Di depan cermin, ia memulas krim malam mahal, memastikan setiap inci wajahnya tetap kencang dan bercahaya.
"Cantik begini, tapi nasibku cuma berakhir di rumah petak," keluhnya pada bayangan di cermin.
Suara deru motor tua yang batuk-batuk terdengar dari depan rumah. Itu adalah suara yang paling dibenci Andini. Suara yang menandakan bahwa "beban hidupnya" telah pulang. Tak lama kemudian, pintu depan terbuka dengan bunyi derit engsel yang kering.
Hilman melangkah masuk dengan bahu yang merosot. Seragam buruh pabriknya yang berwarna abu-abu kini berubah menjadi warna tanah karena keringat dan debu jalanan. Wajahnya legam, kelopak matanya menghitam karena kurang tidur. Di tangannya, ia menjinjing sebuah kantong plastik berisi dua bungkus martabak telur—makanan favorit Andini yang tadi siang sempat ia keluhkan.
"Assalamu’alaikum," suara Hilman terdengar parau, hampir hilang ditelan kelelahan.
Andini yang sedang asyik memoles kuku di ruang tengah bahkan tidak menoleh. Ia hanya menutup hidungnya dengan punggung tangan, menunjukkan ekspresi muak yang sangat kentara.
"Wa’alaikumussalam. Mas, bisa tidak kalau pulang itu lewat pintu belakang langsung ke kamar mandi? Bau badanmu itu sampai ke sini, merusak aroma terapi yang baru aku pasang!" semprot Andini tanpa basa-basi.
Hilman menghentikan langkahnya di perbatasan ruang tamu dan dapur. Ia menunduk, mencoba mencium bau tubuhnya sendiri. Memang benar, bau peluh yang menguap setelah seharian bekerja di gudang tanpa pendingin ruangan sangat menyengat. Ditambah lagi, ia harus menempuh perjalanan satu jam membelah kemacetan dengan motor tuanya.
"Maaf, Dek. Mas tadi mampir beli martabak dulu buat kamu. Ini, mumpung masih hangat. Ayo kita makan malam bareng, Syifa juga sudah lapar katanya," ajak Hilman dengan suara selembut mungkin, mencoba mengabaikan hinaan istrinya.
Andini berdiri, melirik kantong plastik itu dengan pandangan merendah. "Martabak pinggir jalan lagi? Kamu nggak lihat tadi siang aku sudah menderita gara-gara nasi goreng kampung itu? Dan sekarang kamu mau aku duduk semeja dengan pria yang baunya kayak sampah basah begini?"
"Mas cuma mau kita kumpul sebentar, Dek. Seharian Mas nggak lihat kamu dan Syifa," sahut Hilman pelan. Ia meletakkan martabak itu di atas meja makan kayu yang catnya sudah mengelupas.
Syifa keluar dari kamarnya, wajahnya ceria melihat sang ayah. "Ayah! Ayah sudah pulang!" Gadis kecil itu hendak berlari memeluk ayahnya, namun Andini segera menyambar lengan Syifa dengan kasar.
"Jangan peluk Ayah dulu, Syifa! Lihat, baju Ayah kotor begitu. Banyak kuman. Nanti kamu sakit, Mama lagi yang repot," larang Andini dengan nada ketus.
Syifa terdiam, langkahnya terhenti. Binar di matanya meredup seketika. Ia menatap ayahnya yang kini hanya bisa berdiri mematung dengan tangan yang menggantung di udara, batal menyambut pelukan putrinya.
"Mas, sana mandi! Pakai sabun yang banyak. Dan bajumu itu, langsung rendam, jangan ditaruh di keranjang, baunya bisa menular ke baju-bajuku yang mahal!" perintah Andini lagi.
Hilman mengangguk lemah. "Iya, Dek. Mas mandi dulu. Kamu dan Syifa makan duluan saja ya."
Hilman melangkah menuju kamar mandi di bagian belakang. Di dalam ruangan sempit berukuran 1x2 meter itu, ia bersandar pada pintu plastik yang rapuh. Ia menyalakan keran, membiarkan bunyi air menyamarkan helaan napas beratnya. Ia menatap tangannya yang hitam karena oli dan debu pabrik. Perih di sendi-sendinya terasa menusuk, namun luka di hatinya jauh lebih menganga. Ia mencuci wajahnya berkali-kali, mencoba menghapus rasa lelah yang seolah telah mengerak di kulitnya.
Setelah mandi dan berganti kaos oblong bersih, Hilman kembali ke meja makan. Di sana, Syifa sedang menyuap nasi dengan potongan martabak, sementara Andini hanya duduk sambil bermain ponsel, membolak-balik laman belanja online tanpa menyentuh makanan sedikit pun.
Hilman menarik kursi, mencoba duduk di samping Andini. Namun, baru saja pantatnya menyentuh kursi, Andini langsung berdiri dengan gerakan dramatis.
"Aduh, Mas! Kamu pakai sabun apa sih? Kok baunya masih nempel? Masih bau keringat, bau matahari! Aku nggak tahan," Andini mengibaskan tangannya di depan hidung seolah-olah ada gas beracun di sekitarnya.
"Mas sudah mandi bersih, Dek. Sudah pakai sabun dua kali," jawab Hilman, suaranya mulai bergetar karena menahan emosi yang berusaha ia pendam dalam-dalam.
"Mungkin baunya sudah mendarah daging kali ya? Bau orang susah memang nggak bisa hilang meskipun pakai sabun satu batang," sindir Andini pedas. "Syifa, ayo bawa piringmu ke kamar. Kita makan di dalam saja sambil nonton kartun. Mama nggak selera makan di sini, udaranya pengap."
"Tapi Ma, Ayah baru mau makan..." bisik Syifa.
"Nurut sama Mama atau Mama sita tablet kamu?" ancam Andini.
Syifa tertunduk lesu. Ia mengambil piringnya dan mengikuti ibunya masuk ke dalam kamar. Brak! Pintu kamar dibanting dengan keras, meninggalkan Hilman sendirian di ruang makan yang remang-remang.
Hilman menatap kursi kosong di depannya. Di atas meja, martabak yang ia beli dengan uang lembur terakhirnya mulai mendingin. Minyaknya mulai membeku, persis seperti suasana hatinya. Ia mengambil sepotong martabak itu, memasukkannya ke mulut, namun rasanya hambar. Kerongkongannya terasa sempit, sulit untuk menelan makanan itu.
Ia teringat perjuangannya hari ini. Ia rela tidak makan siang agar uangnya cukup untuk membeli martabak ini, karena ia ingat Andini mengeluh ingin makan sesuatu yang gurih. Ia rela berdiri di depan wajan panas sang penjual martabak selama lima belas menit di bawah kepulan asap, hanya agar ia bisa membawa pulang sedikit kebahagiaan untuk istrinya.
Namun ternyata, kehadirannya sendiri adalah sebuah polusi bagi wanita yang ia cintai.
Hilman bangkit, ia tidak sanggup menghabiskan makanannya. Ia merapikan sisa makanan itu, membungkusnya kembali dengan rapi, lalu meletakkannya di dalam tudung saji. Ia kemudian berjalan ke dapur, mengambil sebuah panci kecil yang berisi kerak nasi sisa tadi pagi.
Sambil duduk di lantai dapur—tempat yang menurut Andini "pantas" untuknya—Hilman mengorek kerak nasi itu dengan sendok. Ia mengunyahnya pelan, ditemani suara tawa Andini dari dalam kamar yang sedang asyik menelepon entah siapa, mungkin teman-teman sosialitanya, menceritakan betapa malangnya nasibnya memiliki suami seperti Hilman.
"Iya jeng, ampun deh. Bau badannya itu lho, bikin pusing tujuh keliling. Kayaknya aku harus beli parfum mobil buat ditaruh di lehernya dia," suara tawa Andini terdengar melengking, menembus dinding papan rumah mereka.
Hilman memejamkan mata. Setetes air mata jatuh ke atas kerak nasi di tangannya. Ia bukan menangis karena dihina, tapi ia menangis karena merasa gagal menjadi laki-laki yang bisa dibanggakan oleh istrinya. Ia merasa bersalah karena hanya bisa memberikan kemiskinan ini pada wanita semuda dan secantik Andini.
Di dalam kamar, Andini tidak tahu bahwa di balik dinding itu, Hilman sedang memijat kakinya yang bengkak karena berdiri terlalu lama di pabrik. Andini juga tidak tahu bahwa besok pagi, Hilman harus berangkat lebih awal lagi untuk mengambil double shift demi menabung uang deposito rahasia yang ia persiapkan untuk masa depan Andini jika suatu saat ia sudah tidak ada lagi.
Malam itu, Andini tidur dengan nyenyak di bawah embusan AC yang tagihannya dibayar dengan darah dan keringat Hilman. Sementara Hilman, ia meringkuk di atas kursi kayu panjang di ruang tamu, berselimutkan sarung tipis, menahan dinginnya malam dan perihnya penghinaan yang terus terngiang di telinganya.
"Maafkan aku, Andini... kalau bau keringatku mengganggumu. Tapi hanya keringat inilah yang bisa aku berikan untuk menjagamu tetap cantik," bisik Hilman lirih sebelum matanya terpejam karena kelelahan yang luar biasa.
Ia tidak sadar, bahwa bau yang Andini benci itu adalah aroma perjuangan paling tulus yang pernah ada di dunia ini. Aroma yang kelak, akan menjadi bau yang paling dirindukan Andini hingga ia bersedia menukar seluruh sisa hidupnya hanya untuk menghirup aroma itu sekali saja.