Ketika Adrian Richard memutuskan untuk melamar di atap gedung yang romantis, ia mengira semuanya sudah terencana sempurna.
Namun saat ia berlutut, wanita yang berbalik bukanlah kekasihnya, melainkan orang asing bernama Briana Edmond.
Apa yang dimulai sebagai tawa bersama atas kesalahan konyol berubah menjadi bencana saat kekasih Adrian datang dan menyaksikan apa yang tampak seperti pengkhianatan.
Kini, saat satu hubungan hancur, ikatan tak terduga mulai muncul di antara dua orang asing yang tidak seharusnya bertemu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Sinar matahari pagi New York yang dingin menyeruak masuk melalui celah automatic blinds di apartemen penthouse kawasan Chelsea. Ruangan itu didominasi warna abu-abu maskulin dan lantai beton ekspos yang memberikan kesan industrial dan dingin. Di atas ranjang king size yang berantakan, Azkara mengerang pelan.
Denyut di pelipisnya terasa seperti dihantam palu godam. Setiap kali ia mencoba membuka mata, cahaya lampu ruangan terasa seperti pisau yang menusuk retina.
"Sial..." umpatnya serak. Tenggorokannya terasa kering dan pahit, sisa dari botol-botol wiski yang ia tenggak habis untuk membunuh bayangan perut besar wanita dari masa lalunya itu.
"Frank!" teriaknya, namun suaranya hanya berakhir menjadi bisikan serak yang menyedihkan.
Pintu kamar terbuka dengan bunyi klik pelan. Frank melangkah masuk membawa segelas besar air putih dan dua butir tablet pereda nyeri. Ia menggeleng-gelengkan kepala melihat kondisi sahabatnya yang berantakan.
"Minum ini, sebelum kepalamu benar-benar meledak," ucap Frank sambil menyodorkan gelas itu.
Azkara bangkit perlahan, memegangi kepalanya yang terasa berputar. Setelah menelan obat itu, ia menyandarkan punggungnya pada headboard ranjang. "Bagaimana aku bisa sampai di sini? Terakhir yang kuingat, aku sedang duduk di trotoar depan klub."
Frank menarik kursi dan duduk di hadapan Azkara, wajahnya serius. "Bro, kuharap kau tidak lagi gila dengan minum sebanyak itu. Kau hampir saja tidur di aspal kalau bukan karena seorang wanita baik hati berhenti dan memberikan tumpangan dengan mobil limusinnya."
Azkara tertegun sejenak. "Wanita? Siapa?"
"Aku tidak tahu namanya, tapi dia mengenakan hijab. Sangat anggun. Dia bahkan mendengar semua racauanmu tentang tiga anak dan mantanmu yang hamil itu," Frank mendengus. "Kau benar-benar memalukan semalam, Az."
Mendengar kata hijab, ingatan Azkara yang samar mulai menyatukan potongan-potongan kejadian. Wajah wanita yang menyiramnya dengan kopi. Wajah yang sama yang menatapnya dengan iba di depan lobi semalam.
"Alana Richard..." gumam Azkara. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Rasa malu yang luar biasa kini bercampur dengan rasa sakit di kepalanya. Pria yang selalu ingin terlihat tangguh dan angkuh itu baru saja menunjukkan sisi paling rapuh dan menyedihkan di depan wanita yang paling ia benci.
"Sorry, Frank... aku merepotkan mu lagi," ucap Azkara dengan nada yang jauh lebih rendah dan tulus.
"Jangan minta maaf padaku. Minta maaflah pada dirimu sendiri. Kau punya kerajaan yang sedang kau bangun, Az. Jangan biarkan masa lalu menghancurkan apa yang sudah kau usahakan."
Azkara segera beranjak dari ranjang. Rasa peningnya memang belum hilang sepenuhnya, namun ia tidak punya waktu untuk mengasihani diri sendiri. Ia adalah pewaris tunggal dari dinasti otomotif raksasa, namun sejak tiga tahun lalu, ia menolak sepeser pun dana dari ayahnya.
Ia membangun Azkara Motors sebuah perusahaan riset teknologi mesin dan mobil balap, dengan keringatnya sendiri. Ia bekerja dari garasi kecil sebelum akhirnya memiliki gedung sendiri di New York. Tato di tubuhnya dan sikap urakannya adalah cara dia menunjukkan pemberontakan terhadap dunia sosialita yang palsu, namun di balik itu, otaknya adalah salah satu yang tercerdas di industri otomotif.
Setelah mandi air dingin untuk menyegarkan saraf-sarafnya, ia mengenakan kemeja hitam yang pas di tubuh, menyembunyikan tato di lengannya namun menyisakan sedikit yang mengintip di leher. Ia menyambar kunci Lamborghini-nya yang sudah diantarkan Frank pagi tadi.
Jalanan Manhattan di pagi hari adalah kekacauan yang terorganisir. Azkara mengemudikan mobilnya dengan lebih tenang pagi ini, meski pikirannya masih dipenuhi oleh kejadian semalam. Ia merasa terhina karena telah ditolong oleh Alana, namun ada bagian kecil dalam hatinya yang merasa aneh karena wanita itu tidak membalas hinaannya dengan kemarahan.
Saat mobilnya berhenti di lampu merah kawasan Times Square, Azkara menyandarkan punggungnya dan menatap ke luar jendela. Matanya tertuju pada sebuah papan reklame raksasa yang mendominasi persimpangan jalan paling sibuk di dunia itu.
Di sana, terpampang wajah yang kini menghantuinya.
Alana Richard.
Dalam foto itu, Alana mengenakan busana Muslimah modern berwarna putih mutiara. Pose-nya sangat tenang, tangannya terlipat di depan dada, dan tatapan matanya seolah menembus siapa saja yang melihatnya. Ada kekuatan di balik kelembutan wajahnya. Di bawah foto itu tertulis: The Future of Elegance - Alana Richard for Vogue.
Azkara menatap papan itu cukup lama. Sorot mata Alana di papan itu mengingatkannya pada tatapan wanita itu semalam saat berkata, "Tidak semua yang terlihat sama memiliki hati yang sama."
"Ternyata dia benar-benar model," gumam Azkara dalam hati.
Selama ini, Azkara menganggap wanita yang mengenakan hijab hanyalah orang-orang yang bersembunyi di balik aturan, atau lebih buruk lagi, seperti mantannya, orang yang menggunakan agama untuk menutupi ketidaksetiaan. Namun, melihat Alana di papan reklame sebesar itu, berdiri tegak di tengah sekularisme New York, Azkara merasakan sebuah kontradiksi yang menarik.
Lampu berubah hijau. Azkara menginjak gas, namun pandangannya tetap tertuju pada spion, melihat wajah Alana yang perlahan mengecil di kejauhan.
"Kau punya dunia yang sempurna, Alana Richard. Mari kita lihat seberapa kuat kau bertahan saat duniamu bersentuhan dengan duniaku yang kotor," bisik Azkara pada dirinya sendiri.
Sesampainya di kantor, Azkara mencoba fokus pada sketsa mesin terbaru yang sedang ia kembangkan. Namun, setiap kali ia melihat kertas putih, ia teringat pada kain putih yang melilit kepala Alana. Ia merasa terganggu. Ia membenci fakta bahwa wanita itu telah melihatnya menangis dan meracau.
"Tuan Azkara," sekretarisnya masuk membawa tumpukan dokumen. "Ada undangan untuk acara amal tahunan keluarga Richard minggu depan. Ayah Anda meminta Anda hadir mewakili perusahaan."
Azkara terdiam. Nama Richard lagi. Seolah semesta sedang berusaha menyatukan jalurnya dengan wanita itu.
Ia mengambil undangan berlogo emas itu dan membacanya. Acara itu akan dihadiri oleh para elit New York, termasuk Adrian Richard dan Briana Edmond. Dan tentu saja, Alana akan ada di sana sebagai bintang utama.
Azkara menyeringai kecil. Sebuah seringai yang bukan lagi penuh kebencian, melainkan tantangan. Ia akan datang ke sana. Ia akan menunjukkan pada Alana bahwa Azkara yang ia tolong di trotoar semalam telah kembali menjadi pria yang memegang kendali.
"Siapkan setelan jas terbaikku," ucap Azkara dingin. "Aku akan datang."
Pagi itu, New York menyaksikan seorang pria yang mulai bangkit dari kehancurannya, dan seorang wanita yang tanpa sadar telah menanamkan benih rasa ingin tahu di hati yang paling keras di Manhattan.
Permainan antara sang Model dan sang Pemberontak baru saja memasuki babak yang lebih formal, di mana rahasia masa lalu dan ego yang tinggi akan saling berbenturan di bawah lampu kristal aula pesta.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
tetep sehat
selalu semangat
karyamu jadi relaksasi tersendiri utk ku