NovelToon NovelToon
Istri Dadakan Tuan Arrafiy

Istri Dadakan Tuan Arrafiy

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta setelah menikah / Selingkuh / Pengkhianatan
Popularitas:15.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Arsy Raihana Syahira percaya hidupnya akan sempurna. Pernikahan yang tinggal menghitung hari mendadak batal, setelah ia memergoki calon suaminya sendiri berselingkuh dengan sahabat yang selama ini ia percayai dengan sepenuh hati.

Belum sempat Arsy bangkit dari keterpurukan, cobaan lain kembali menghantam. Ayahnya mengalami serangan jantung dan terbaring kritis setelah mengetahui pengkhianatan yang menimpa putri kesayangannya. Dalam satu waktu, Arsy kehilangan cinta, kepercayaan, dan hampir kehilangan orang yang paling ia cintai.

Di tengah kehancuran itu, datanglah Syakil Arrafiy—CEO sekaligus teman semasa sekolah, dan lelaki yang diam-diam telah mencintai Arsy sejak lama. Mendengar kabar tentang Arsy, Syakil datang ke rumah sakit tanpa ragu. Di hadapan ayah Arsy yang terbaring lemah, Syakil mengucapkan sebuah permohonan yang tak pernah Arsy bayangkan sebelumnya: melamar Arsy sebagai istrinya.

Maukah Arsy menerima lamaran pernikahan dari laki laki yang telah lama mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Syakil mengangkat tangannya perlahan, terlihat ragu, lalu mengusap pipi Arsy dengan ibu jarinya. Gerakan itu ia lakukan dengan lembut dan hampir tak terasa, seolah takut jika ia menyentuh terlalu keras, Arsy akan kembali runtuh.

“Apa yang dokter katakan?” ucap Syakil akhirnya. Suaranya lebih pelan dari sebelumnya dan penuh kehati-hatian. “Apa yang dia katakan padamu mengenai kondisi ayah kamu, Arsy?”

Arsy terdiam cukup lama. Matanya menatap lantai lorong rumah sakit yang dingin dan mengilap. Bayangan kata-kata dokter itu kembali muncul dengan begitu jelas dan kejam, membuat Arsy menghela napas panjang sebelum akhirnya menjawab pertanyaan syakil.

“Dokter bilang kalau serangan jantung yang ayah alami cukup parah,” katanya pelan. Setiap kata seperti harus ia tarik keluar dari dadanya dengan susah payah. “Ada penyumbatan berat. Mereka sudah melakukan yang terbaik untuk menstabilkan kondisinya.”

Syakil mengangguk pelan, meski rahangnya masih terlihat menegang.

“Dan…” Arsy terdiam lagi. Bibirnya bergetar. Ia menelan ludah berulang kali dan mencoba untuk menguatkan dirinya sendiri. “Dokter minta padaku untuk bersiap siap.”

Satu kalimat itu saja sudah cukup membuat Syakil merasa seperti ada sesuatu yang runtuh di dalam dadanya.

“Bersiap?” ulang Syakil pelan, meski ia sudah tahu arah pembicaraan ini dan membuat Arsy mengangguk kecil

“Bersiap dengan segala kemungkinan buruk,” ucap Arsy akhirnya. Suaranya pecah di kata terakhir. “Termasuk kemungkinan kalau ayah nggak bisa bertahan.”

Kalimat itu jatuh di antara mereka seperti palu godam. Membuat Syakil tanpa sadar meraih tangan Arsy untuk menggenggamnya dengan erat.

“Arsy, semua ini masih belum pasti.” kata Syakil dengan lembut. “Aku yakin kalau ayah kamu pasti bisa melewati semua ini dengan kuat. Dia tidak akan mungkin meninggalkan putri kesayangannya sendirian di dunia ini.”

Arsy mengangkat wajahnya. Matanya kembali berkaca-kaca, tapi kali ini ia tidak langsung menangis. Ada kelelahan, ketakutan, dan rasa pasrah yang bercampur jadi satu.

“Aku sudah berusaha kuat dan percaya,” katanya lirih. “Dari tadi malam. Dari saat Ayah dibawa ke IGD. Dari saat aku harus tanda tangan ini-itu sendirian. Tapi ketika dokter bilang aku harus siap kehilangan ayah,” Arsy merasakan napasnya tersendat. “Aku ngerasa putus asa dan takut kalau sampai itu terjadi.”

Syakil mendengarkan curahan hati Arsy tanpa menyela nya walau sebentar. Tangannya masih menggenggam tangan Arsy, seolah tidak ingin melepasnya sedikit pun. Ibu jarinya mengusap punggung tangan Arsy perlahan dan penuh ketenangan.

“Arsy.... Kau tidak boleh menyerah dengan keadaan. Ingat yang kau katakan padaku kalau kita tidak boleh menyerah sampai titik penghabisan, jadi lakukan itu juga untuk dirimu sendiri." Pinta Syakil yang mencoba untuk menyemangati Arsy.

“Aku merasa gagal, Syakil.” kata Arsy. “Aku merasa semua ini adalah salahku. Kalau saja aku bisa menjaga ayah dengan baik, ayah tidak akan mungkin dalam keadaan seperti sekarang.”

Syakil menggelengkan kepalanya lebih tegas.

“Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Arsy.” kata Syakil. “Penyakit jantung bukan sesuatu yang muncul karena satu kejadian. Dan Ayah kamu, beliau pasti nggak akan pernah menyalahkan kamu atas kondisi yang dialaminya sekarang.”

Arsy terdiam. Kata-kata itu menembus pertahanannya perlahan, meski belum sepenuhnya meredakan rasa bersalah yang menggerogoti dadanya.

“Pak Rahman adalah orang yang kuat,” lanjut Syakil. “Dan aku pun percaya kalau kamu juga adalah orang yang sangat kuat. Jadi tolong jangan menyerah secepat itu.” pinta Syakil dengan senyum di bibirnya sembari memegang bahu Arsy dengan kuat.

Tatapan Syakil masih tertuju padanya. Dalam dan hangat. Penuh keyakinan yang entah kenapa terasa menenangkan sekaligus menggetarkan perasaan Arsy. Arsy merasakannya dengan jelas. Ada sesuatu yang bergetar di dadanya. Bukan hanya karena kata-kata Syakil. Bukan hanya karena sentuhan tangan di bahunya yang terasa hangat dan menenangkan. Tapi karena cara laki-laki itu memandangnya. Seolah-olah ia benar-benar melihat Arsy bukan sebagai perempuan yang rapuh, melainkan sebagai seseorang yang tetap berusaha kuat meski sedang hancur.

Arsy menelan ludahnya dengan pelan. Perasaan itu datang tiba-tiba. Aneh dan membingungkan seperti gelombang kecil yang menghantam dadanya tanpa peringatan. Hangat, tapi juga menakutkan. Ia tidak siap merasakannya. Tidak sekarang. Tidak di tengah kekacauan hidupnya yang masih belum menemukan pijakan. Ia tidak boleh membiarkan dirinya larut ke dalam perasaan yang belum tentu akan menjadi yang terbaik untuknya.

Arsy menarik napas pelan, lalu mengalihkan pandangannya dari mata Syakil. Ia menunduk sedikit, berpura-pura merapikan tas kecil yang sejak tadi ia genggam, hanya untuk memberi jeda pada hatinya yang tiba-tiba berdetak terlalu cepat.

“Kamu…” ucap Arsy akhirnya, suaranya dibuat setenang mungkin. “Kamu ke mana saja selama ini, Syakil?”

Syakil terdiam sejenak. Pertanyaan itu sederhana, tapi sarat makna. Ia tahu Arsy sengaja mengalihkan pembicaraan. Ia bisa merasakannya. Namun Syakil tidak memaksanya untuk tetap berada di topik yang sama.

“Setelah kita lulus,” jawab Syakil pelan, “aku ikut orang tuaku pindah ke Kairo.”

Arsy mengangkat wajahnya kembali. Ada sedikit keterkejutan di sana, meski ia berusaha menyembunyikannya.

“Kairo?” ulang Arsy yang membuat Syakil mengangguk.

“Waktu itu kondisi bisnis keluarga kami sedang tidak baik. Ada beberapa masalah besar yang harus diselesaikan di sana. Ayahku memintaku untuk ikut dan aku nggak punya pilihan lain selain pergi.”

Nada suara Syakil terdengar tenang, tapi Arsy bisa menangkap ada sesuatu yang lebih dalam di baliknya. Sesuatu yang tertahan.

“Aku pikir kamu ada di Indonesia,” ujar Arsy lirih. “Aku kira kamu kuliah di luar kota.”

“Tidak, sejak kita lulus SMA sampai sekarang, aku masih tinggal di Kairo.” jawab Syakil lembut. “Tapi masalah keluarga ku waktu itu harus membawaku pergi dari Indonesia.”

Syakil terdiam sebentar, lalu melanjutkan perkataannya. “Kairo bukan tempat yang mudah untukku. Aku harus belajar banyak hal. Tentang bisnis. Tentang tanggung jawab. Tentang bagaimana caranya berdiri sendiri tanpa bergantung pada siapa pun.”

Arsy mendengarkan dalam diam. Entah kenapa, hatinya terasa sedikit sesak membayangkan Syakil yang harus meninggalkan segalanya termasuk Indonesia, termasuk dirinya dan memulai hidup baru di negeri asing.

“Dan sekarang…” Arsy ragu sejenak sebelum bertanya, “kamu baru datang?” tanya Arsy yang membuat Syakil kembali mengangguk.

“Aku baru tiba hari ini.”

“Hari ini?” ulang Arsy yang kali ini suaranya terdengar lebih pelan.

“Iya.” Syakil tersenyum kecil. “Aku langsung dari Kairo ke sini.”

Kata-kata itu menghantam Arsy lebih keras dari yang ia duga. Langsung dari Kairo. Perjalanan yang panjang dan membutuhkan waktu yang tidak singkat. Dan semua itu dilakukannya hanya untuk datang ke sini menemuinya dan menjenguk ayahnya? Mengetahui hal itu Arsy merasakan dadanya terasa semakin sesak.

“Kamu…” Arsy menghela napas pelan. “Kamu pasti capek setelah perjalanan panjang itu.”

1
Greta Ela🦋🌺
Ada ya laki2 gila kayak gini
Greta Ela🦋🌺
Itulah karma
Greta Ela🦋🌺
Dari pada kau udah buat bapak orang kena serangan jantung
Greta Ela🦋🌺
Si Radit stres
Greta Ela🦋🌺
Syukurlah sang ayah gak kenapa napa
Nonà_syaa.
Jdi ke inget nnek ku yg sdh ga ada ,
dpsng alat monitor jantung, aku yg bntu jaga di rs tiap mlm/Pray//Cry/
Greta Ela🦋🌺
Hayo looo minta maaf pun tak akan bisa menghapus rasa sakit itu
Greta Ela🦋🌺
Udahlah Radit terima lah kenyataan itu
Greta Ela🦋🌺
Karma kau ini Radit
Greta Ela🦋🌺
Nah Radittt mampusss loee
Greta Ela🦋🌺
Ada apakah ini?
Greta Ela🦋🌺
Iya wajar sih Arsy takut begini
Nabila Bilqis
lagi tegang²nya💪😍
Nabila Bilqis
lanjut thor
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: iya kak siap terima kasih udah mampir ya kak😍🙏
total 2 replies
Nonà_syaa.
Up lgi kk😍
vita
bagus
Greta Ela🦋🌺
Nah kan langsung direstuin
Greta Ela🦋🌺
Pak tolongggg jangan pergii
Lihat anakmu pak😭
Greta Ela🦋🌺
Kamu nyalahin diri sendiri mulu lah Arsy
Kami lah nyalahin si Radit
Greta Ela🦋🌺
Ayahnya kapan bangun sih😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!