Di dunia di mana sihir adalah segalanya, kekuatan bukanlah anugerah—melainkan hasil dari latihan dan pengorbanan.
Ia hanyalah seorang siswi Akademi Sihir Arcanova. Tenang. Cerdas. Tak tersentuh. Hingga sebuah simbol tersembunyi muncul di tubuhnya—tanda kutukan dari iblis yang bahkan hanya hidup dalam legenda.
Tak hanya dirinya.
Dua siswa dari sekolah berbeda—termasuk seorang pewaris Akademi Crimson Crest—ternyata memikul kutukan yang sama… namun berasal dari iblis yang berbeda.
Kekuatan mereka luar biasa. Tak terbatas.
Namun setiap kali digunakan, ada harga yang harus dibayar.
Di tengah persaingan dua akademi, pelatihan mematikan di Hutan Abyss, dan rumor tentang iblis berwujud manusia yang belum pernah terlihat…
Pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling kuat.
Tapi siapa yang akan bertahan ketika kutukan itu mulai mengambil alih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalur yang Berbeda
Fajar telah sepenuhnya pecah di atas langit Arcanova, akademi sihir yang lebih mengutamakan eksplorasi elemen dan kebebasan intelektual dibandingkan kekakuan militeristik Crimson Crest. Jika di akademi Lucien setiap langkah diatur oleh dentang lonceng yang tegas, di Arcanova, pagi hari dimulai dengan harmoni aliran mana yang memenuhi udara, menciptakan pendaran warna-warni di atas kubah-kubah kristal sekolah.
Namun, bagi Vivienne dan Daefiel, pagi ini tidaklah seindah pendaran cahaya itu. Setelah pertemuan rahasia dengan Lucien di Hutan Noxara, pikiran mereka dipenuhi oleh bayang-bayang kelam tentang transformasi iblis. Rasa dingin dari informasi "Tahap Keempat" masih membekas di kulit mereka, bahkan saat mereka harus berpisah menuju kelas elemen masing-masing. Di Arcanova, spesialisasi adalah segalanya; penyihir air tidak akan duduk di bangku yang sama dengan penyihir api, karena sirkulasi mana mereka bisa saling bertabrakan.
Kelas Manipulasi Arus: Vivienne
Vivienne melangkah masuk ke dalam Aula Aquamarine, sebuah ruangan yang lantainya ditutupi oleh lapisan air setinggi mata kaki yang tidak membasahi pakaian, namun berfungsi sebagai konduktor mana. Di tengah ruangan, Master Elara—seorang wanita dengan rambut biru panjang yang melayang seolah berada di dalam air—sudah menunggu.
"Hari ini, kita akan melatih Resonansi Molekul," suara Master Elara menggema tenang. "Kalian harus mampu mengubah wujud air dari cair menjadi gas, lalu kembali menjadi es dalam hitungan detik. Kehilangan fokus satu milidetik saja akan membuat mantra kalian meledak."
Vivienne mengambil posisi di sudut ruangan. Ia memejamkan mata, mencoba memanggil aliran mana murninya. Namun, saat ia mulai menggerakkan tangannya, ia merasakan sensasi ganjil di lehernya. Simbol Bulan Hitam itu terasa seperti kepingan es yang sangat dingin, kontras dengan air hangat di sekelilingnya.
Ia teringat kata-kata Lucien: fokus adalah kunci.
Vivienne mulai merapalkan mantra. Gelembung-gelembung air mulai naik dari lantai, berputar di sekelilingnya. Ia berhasil mengubahnya menjadi kabut tipis, lalu dengan satu sentakan jari, kabut itu membeku menjadi kristal-kristal es yang tajam. Namun, di tengah proses itu, ia merasakan dorongan gelap. Bayangan dari Tangan Raksasa yang ia gunakan di Abyss seolah ingin ikut campur. Air di sekelilingnya yang semula biru jernih, sempat berkilat dengan warna ungu gelap selama sepersekian detik.
"Vivienne! Kendalikan alirannya!" tegur Master Elara.
Vivienne tersentak. Ia segera menarik kembali mananya, membuat kristal es itu jatuh berdentang ke lantai. Napasnya memburu. Ia menyadari bahwa kekuatannya sebagai penyihir air kini terinfeksi oleh kutukan tersebut. Jika ia terlalu fokus pada kekuatan murni, kutukan itu akan mencoba menyelinap masuk. Ia harus belajar menyeimbangkan keduanya tanpa membiarkan satu pun mendominasi.
Aku tidak boleh berubah menjadi monster di sini, batinnya sembari mengusap lehernya yang tertutup kerah tinggi. Ia kembali berkonsentrasi, kali ini dengan tekad yang lebih keras untuk mengunci kegelapan itu di dalam ruang terdalam jiwanya.
Kelas Pembakaran Inti: Daefiel
Di sisi lain kompleks akademi, di dalam Menara Volkano yang panas dan berdebu, Daefiel sedang berjuang dengan cara yang berbeda. Kelas sihir api Arcanova adalah tempat yang gaduh dan penuh ledakan. Master Ignis, seorang pria bertubuh besar dengan janggut yang terus mengeluarkan percikan api, sedang mengawasi para siswa yang mencoba menciptakan api yang stabil di telapak tangan mereka tanpa membakar diri sendiri.
"Api adalah emosi!" seru Master Ignis. "Jika kau ragu, apimu akan padam. Jika kau terlalu marah, apimu akan memakanmu!"
Daefiel menyeringai, mencoba menutupi kegelisahannya dengan kesombongan biasanya. Ia mengangkat tangannya, dan seketika Api Oranye yang terang berkobar di telapak tangannya. Itu adalah api murninya, api yang ia banggakan. Namun, ia bisa merasakan Api Hitam di pergelangan tangannya sedang berdenyut, seolah-olah api terkutuk itu merasa tersinggung karena tidak digunakan.
"Bagus, Daefiel! Sekarang, buatlah api itu menari sesuai detak jantungmu!" perintah Master Ignis.
Daefiel mencoba mengikuti instruksi tersebut. Namun, setiap kali detak jantungnya meningkat karena teringat akan "Tahap Ketiga" (tentang tanduk dan sayap), api di tangannya berubah warna. Warna oranye itu mulai terdistorsi, bercampur dengan lidah api hitam yang menjilat-jilat liar.
Panasnya berbeda. Api oranye terasa hangat dan menghidupkan, tapi api hitam yang mulai merembes itu terasa dingin dan menghancurkan.
"Hei, Daefiel! Ada apa dengan warnamu?" tanya seorang teman sekelas di sampingnya. "Kenapa apimu terlihat... kotor?"
Daefiel segera mengepalkan tangannya, memadamkan api itu seketika sebelum api hitam itu benar-benar terlihat oleh Master Ignis. Keringat mengucur deras di dahinya. Bukan karena panas ruangan, tapi karena rasa takut. Ia baru menyadari bahwa emosinya—ketakutan dan ambisinya—adalah pintu gerbang bagi kutukan itu untuk muncul.
"Maaf, Master! Sepertinya aku kurang tidur!" teriak Daefiel sambil tertawa canggung, meskipun matanya memancarkan kecemasan yang mendalam.
Pertemuan di Perpustakaan Tengah
Setelah kelas berakhir, Vivienne dan Daefiel bertemu di taman tengah Arcanova. Mereka duduk di bawah pohon Ginkgo emas, jauh dari jangkauan telinga siswa lain. Keduanya tampak kelelahan, bukan karena latihan fisik, tapi karena peperangan mental yang mereka jalani selama kelas berlangsung.
"Bagaimana kelasmu?" tanya Vivienne pelan, ia masih terus merapikan kerahnya yang sebenarnya sudah rapi.
"Buruk," jawab Daefiel pendek, ia tidak lagi tertawa. "Api hitam itu... ia ingin keluar, Vivienne. Ia bereaksi terhadap api murniku. Rasanya seperti mencoba menjinakkan dua serigala yang saling membenci di dalam satu kandang. Kau sendiri?"
"Airku hampir berubah warna menjadi ungu di depan Master Elara," bisik Vivienne. "Lucien benar. Fokus saja tidak cukup. Kita harus belajar untuk tidak membiarkan emosi kita menyentuh inti mana kita saat kita sedang menggunakan sihir akademi. Jika kita menggunakan sihir biasa, kutukan itu menganggapnya sebagai kelemahan dan mencoba mengambil alih."
Mereka terdiam, menatap bayangan mereka sendiri di tanah. Mereka menyadari bahwa hidup mereka di akademi telah berubah menjadi sandiwara yang berbahaya. Setiap hari adalah latihan untuk bersembunyi. Setiap kelas adalah ujian untuk tetap menjadi manusia.
"Tahap kedua... perubahan mata," Daefiel bergumam sembari menatap pantulan dirinya di sebuah kolam kecil. "Lucien bilang itu terjadi karena emosi yang tinggi. Kita harus belajar tetap tenang, bahkan jika dunia ini kiamat sekalipun. Karena jika salah satu dari kita berubah di tengah kelas..."
"Kita akan berakhir menjadi abu, Daefiel. Sama seperti monster-monster itu," potong Vivienne dengan suara yang bergetar.
Di kejauhan, lonceng Arcanova berdentang merdu, sangat kontras dengan badai yang sedang berkecamuk di dalam diri dua remaja tersebut. Mereka berdiri, kembali mengenakan topeng sebagai siswa teladan, sementara di balik kulit mereka, kegelapan terus berbisik, menunggu saat yang tepat ketika pertahanan mereka runtuh untuk menunjukkan sayap dan tanduk yang tersembunyi.
Perjuangan mereka baru saja dimulai. Di Crimson Crest, Lucien mungkin sedang bertarung dengan monster fisik dan peringkat, namun di Arcanova, Vivienne dan Daefiel sedang bertarung dengan identitas mereka sendiri. Satu hal yang pasti: mereka tidak boleh goyah, atau rahasia yang membakar ini akan melahap mereka dan seluruh akademi ini bersama mereka.