Jatmika adalah seorang genius di bidang mekanika dan kimia yang tewas dalam kecelakaan pesawat. Namun, maut bukan akhir baginya. Ia terbangun di tahun 1853, masa di mana Nusantara sedang dicekik oleh sistem Cultuurstelsel (Tanam Paksa) yang kejam. Hidup sebagai anak nelayan miskin di pesisir Kendal, Jatmika menyaksikan sendiri bagaimana rakyat mati kelaparan sementara gudang-gudang Belanda penuh dengan rempah dan emas. Berbekal ingatan masa depan, Jatmika memulai "perang" yang berbeda. Bukan dengan bambu runcing, melainkan dengan logistik dan ilmu pengetahuan.
Dapatkah Jatmika membawa Nusantara melompati satu abad perkembangan teknologi untuk merdeka lebih awal? Ataukah ilmu pengetahuan yang ia bawa justru menjadi kutukan yang memicu kehancuran lebih besar bagi rakyat yang ingin ia selamatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Hujan Dari Langit Kendal
Malam ketiga telah tiba. Alun-alun Kendal diterangi oleh ratusan obor yang dipasang di atas tiang-tiang kayu. Di tengah lapangan, puluhan warga desa nelayan—tua, muda, hingga anak-anak—duduk berhimpit dengan tangan terikat. Di sekeliling mereka, satu kompi pasukan Marsose bersiaga dengan senapan terisi, sementara empat pucuk meriam perunggu Belanda diarahkan ke empat penjuru jalan masuk.
Kapten Van De Berg berdiri di balkon pendopo kabupaten, menyesap tehnya dengan tenang. "Sepuluh menit lagi fajar menyingsing," gumamnya pada Letnan De Klerk. "Jika anak itu tidak muncul, mulai gantung yang pertama."
Namun, di perbukitan yang berjarak dua kilometer dari alun-alun, Jatmika tidak sedang bersiap untuk menyerah. Di balik rimbunnya pohon-pohon besar, ia telah menyusun enam buah Mortir Bambu Berlapis Baja—tabung bambu petung raksasa yang diperkuat dengan lilitan kawat besi dan pelat baja hasil jarahan benteng.
"Sudut elevasi 45 derajat. Periksa tekanan sumbu," perintah Jatmika. Suaranya tenang, namun ada ketegasan yang tak terbantahkan.
Ia menggunakan sistem Pemicu Simultan. Keenam mortir itu dihubungkan dengan satu jalur mesiu murni. Jatmika tidak menggunakan peluru padat yang menghancurkan, karena ia tidak ingin melukai sandera. Ia menggunakan proyektil buatannya sendiri: tabung tanah liat tipis berisi campuran belerang, cabai kering giling, dan serbuk besi panas—sebuah Gas Air Mata Primitif.
"Target terkunci. Alun-alun bagian utara dan selatan. Tembakkan!"
BOOM! BOOM! BOOM!
Suara dentuman mortir itu tidak sekeras meriam Belanda, namun efeknya jauh lebih mengejutkan. Enam benda berbentuk lonjong meluncur di langit subuh, meninggalkan jejak asap tipis.
Di alun-alun, Van De Berg mendongak. "Apa itu? Meteor?"
PRANK!
Tabung-tabung tanah liat itu pecah tepat di atas kepala para serdadu Belanda sebelum menyentuh tanah. Seketika, awan merah pekat menyebar ditiup angin. Serbuk cabai yang teraktivasi oleh panas ledakan kecil di dalam proyektil itu segera menyerang mata, hidung, dan tenggorokan siapa pun di sana.
"Mataku! Pedih! Aku tidak bisa melihat!" teriak para serdadu Marsose. Mereka jatuh berlutut, menjatuhkan senapan mereka untuk mengucek mata yang terasa terbakar. Kuda-kuda kavaleri Belanda meringkik panik, berontak dan menjatuhkan penunggangnya.
"Sekarang! Tim evakuasi, gerak!" Jatmika memberi komando melalui peluit bambu.
Suro dan lima puluh pemuda yang mengenakan kain basah untuk menutupi wajah mereka keluar dari gorong-gorong dan gang-gang sempit di sekitar alun-alun. Mereka bergerak dengan cepat di tengah kabut merah yang menyiksa. Dengan pisau tajam, mereka memutus tali ikatan para sandera.
"Lari ke arah sungai! Sampan-sampan sudah menunggu!" perintah Suro.
Van De Berg di balkon pendopo terbatuk-batuk hebat. Air matanya mengalir deras karena efek gas cabai tersebut. "Tembak! Tembak siapa saja yang bergerak!" teriaknya parau, tapi pasukannya terlalu sibuk mencoba bernapas untuk bisa membidik dengan benar.
Dalam kekacauan itu, Jatmika meluncurkan gelombang kedua proyektil. Kali ini berisi Serbuk Magnesium yang terbakar dengan cahaya putih yang sangat menyilaukan saat menyentuh tanah. Flashbang berskala besar.
BLAAAZZEE!
Seluruh alun-alun seolah diselimuti cahaya matahari yang meledak. Pandangan para serdadu yang sudah perih kini benar-benar menjadi putih buta.
Hanya dalam waktu lima belas menit, seluruh sandera telah berhasil ditarik keluar dari zona maut menuju jalur sungai yang sudah diamankan oleh Darman.
Jatmika berdiri di atas bukit, menurunkan teropong kuningan miliknya. Ia melihat Van De Berg yang murka, menembakkan pistolnya secara membabi buta ke arah langit. Jatmika tahu, meskipun misi ini sukses, ia baru saja mengubah perselisihan ini menjadi perang total.
"Raden, semua sandera selamat. Tidak ada satu pun dari kita yang tertembak," lapor Yusuf yang menyusul ke bukit.
Jatmika mengangguk. "Tapi Van De Berg tidak akan tinggal diam. Besok, dia akan meminta bala bantuan dari Batavia. Dia akan menyebut kita sebagai iblis yang menggunakan sihir langitan."
Jatmika berbalik, menatap ke arah lembah batu kapurnya. "Katakan pada rakyat, perjuangan yang sesungguhnya baru dimulai. Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan kejutan. Kita butuh Produksi Massal."
Malam itu, nama Jatmika bergaung di seluruh pelosok Kendal bukan lagi sebagai "Raden Sains", melainkan sebagai "Sang Pembawa Badai". Rakyat yang tadinya takut mulai melihat bahwa Belanda bukanlah dewa yang tak tersentuh. Mereka hanyalah manusia yang bisa dibutakan oleh segenggam cabai dan hukum fisika yang tepat.