NovelToon NovelToon
Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:52.6k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.

"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.

"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."

Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.

"Ning, ayo nikah sama Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 27

Langit siang itu pucat, seperti sengaja menahan warna. Ning melangkah pelan di trotoar sempit, kruknya menjejak aspal dengan bunyi teratur,

tok,

tok.

Ritme yang sudah dua tahun ini menemaninya berjalan. Jilbab krem menutup rambutnya rapi, gamis panjang biru muda membuatnya terlihat teduh, hampir rapuh.

Ia tak menyangka pertemuan itu akan terjadi.

“Maaf... Mbak?”

Suara itu membuat langkah Ning tersentak. Ia berhenti, lalu berbalik perlahan. Seorang pria berdiri dua langkah di belakangnya. Tinggi, rapi, wajahnya bersih dengan sorot mata yang… asing tapi anehnya terasa dekat.

“Iya?” Ning menjawab singkat, suaranya otomatis dijaga.

Pria itu tersenyum kecil, seperti ragu. “Saya… sepertinya kenal Mbak.”

Jantung Ning berdetak lebih cepat. Tidak. Tidak boleh.

“Maaf, Mas salah orang,” ucapnya cepat. Tangannya mengencang di kruk.

“Enggak,” sanggah pria itu lembut. “Saya yakin. Atau… setidaknya, wajah Mbak mirip seseorang di foto saya.”

Ning menelan ludah. Dunia seolah menyempit. Foto?

Ya, lelaki itu adalah Ridho. Setelah hilang ingatan, ini pertama kalinya dia melihat Ning. Tidak dalam wujud gambar foto yang ia temukan di laci kantor.

Dadanya sesak.

“Maaf..,” katanya lebih tegas, “saya enggak kenal Mas. Saya buru-buru.”

Ia berbalik, melangkah lebih cepat meski kakinya tak mendukung. Tok—tok—langkahnya jadi timpang. Pria itu reflek mengikuti satu langkah.

“Tunggu—saya Ridho,” katanya. “Saya cuma mau tanya—”

Ning tidak menjawab. Ketakutan menuntunnya. Dewi. Bu Sumi. Semua nama itu berkelebat seperti bayangan panjang di siang hari. Ia tidak boleh terlihat bersama Ridho. Tidak boleh ada yang tahu.

Di ujung jalan, sebuah motor berhenti mendadak.

“Ning?” suara itu memanggil kaget.

Ning mengangkat wajah, nyaris lega. “Mas Yuda.”

Yuda turun cepat, matanya langsung menangkap cara Ning berjalan tergesa, napasnya yang tak beraturan. Lalu ia melihat Ridho—pria asing yang berdiri beberapa langkah di belakang.

“Kamu kenapa?” tanya Yuda pelan tapi waspada.

“Enggak apa-apa,” jawab Ning cepat. “Ayo… kita harus pulang.”

Ridho melangkah setengah maju. ingin menahan, tapi kata itu hanya tertahan di ujung lidahnya.

Yuda menoleh, sorot matanya dingin.

"Ayo, Mas. Cepat!" bisik Ning setengah memohon.

Ning sudah naik ke motor. Yuda menyalakan mesin. Dalam hitungan detik, mereka melaju meninggalkan jalan itu.

Ridho berdiri sendiri. Dadanya terasa kosong, seperti baru saja kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat ia pahami.

"Kenapa rasanya sakit sekali? Siapa gadis itu? Kenapa dia mirip dengan wanita di foto yang aku temukan? Dan siapa lelaki itu? Kenapa bersamanya?"

****

Di perjalanan, angin menerpa jilbab Ning. Tangannya gemetar di sisi jok.

“Itu siapa?” tanya Yuda, suaranya santai, seolah tak ingin menekan.

Ning menatap jalan. “Orang salah sangka. Nanya jalan.”

“Oh.” Yuda mengangguk. “Kukira kenalan.”

Ning menggeleng. “Bukan.”

Yuda tidak bertanya lagi. Ia menerima, seperti biasa.

Hari berikutnya, Ning berjalan keluar dari sebuah toko aksesories dengan senyum yang jarang ia pakai selebar itu. Ia baru saja membeli alat kosmetik untuk menunjang pekerjaan tata riasnya.

Di depan sana, ia melihat sosok yang sangat dia kenal. Tiba-tiba rasa rindu itu datang. Ia mempercepat langkah meski harus menggunakan kruknya.

“Ayah!”

Pria paruh baya itu menoleh, lalu wajahnya langsung berbinar. “Ning?”

Mereka saling mendekat. Pak Hasto menatap putrinya dari ujung jilbab sampai ujung sepatu. “Kamu… kelihatan sehat.”

Ning tersenyum, matanya berkaca-kaca. “Ayah juga.”

Pak Hasto tertawa kecil. “Baju kamu bagus. Cocok.”

Ning tersipu. “Ini... Dibeliin Mas Yuda, Yah.”

Kata itu keluar pelan, tapi jujur.

“Alhamdulillah,” Pak Hasto menghela napas lega. “Ayah senang dengarnya. Dia pasti memperlakukan mu dengan baik.”

"Iya, Yah. Alhamdulillah. Ayah... Bagaimana?"

"Ayah bahagia melihat kamu bahagia begini."

Ning tersipu. "Beberapa waktu yang lalu, Ning ketemu ibuk sama Mbak Dewi di pasar."

Pak Hasto tertawa. "Hahaha, baru sekarang ini mereka ke pasar. Baru mau masak," katanya sambil menggeleng. "Di rumah jadi kacau Ning, setelah kamu enggak ada."

"Iyakah, yah?"

"Iya. Tapi kamu jangan kembali. Sudah bagus sama yuda aja."

"Ning tinggal di kontrakan sama Mas Yuda, Yah."

"Ya bagus Ning. Alhamdulillah kan?"

“Yah,” Ning ragu sejenak, lalu memberanikan diri. “Main ke rumah, ya. Ning ingin ayah lihat.”

Pak Hasto menyesal. “Hari ini belum bisa. Masih kerja. Tapi nanti, ayah janji.”

Ning mengangguk. “Ning tunggu. Oh iya. Yah. Ning udah punya hp. Simpan nomor Ning ya.”

"Wah, hebat kamu udah punya hp."

Ning tersipu lagi. "Ini... cuma dapat door price kok."

"Waaah, Ning kamu jadi beruntung habis keluar dari rumah."

Ning hanya tersenyum malu-malu.

Mereka berpisah setelah saling menyimpan nomor.

Beberapa hari kemudian, di sebuah rumah yang ramai suara pagi, Pak Hasto merapikan tasnya.

“Ning, Ayah ke kontrakan ya?” katanya melalui sambungan telepon.

Ridho yang sedang meneguk kopi terdiam.

“Ning?” ulangnya bergumam pelan.

Ridho menoleh pelan, bermaksud menguping. Ia memang masih di rumah Pak Hasto.

"Coba kamu share lokasi."

Sesuatu bergetar di kepalanya. Wajah berjilbab. Kruk. Senyum yang ditahan. Foto di laci.

Tak lama setelah Pak Hasto pergi, Ridho menyusul. Mobilnya menjaga jarak. Ia tidak tahu apa yang ia cari—jawaban, atau sekadar kepastian bahwa perasaan aneh itu bukan halusinasi.

Saat Pak Hasto berhenti di sebuah rumah sederhana tapi rapi, Ridho ikut memperlambat laju. Dari balik pagar, ia melihat Ning keluar.

Dengan jilbab lembut. Dengan kruk di tangan.

Dengan wajah yang sama seperti di foto.

"Aaakkkhh!"

Ridho mengerang, kepala berdenyut sakit...

1
Sunaryati
Lalaki sekaligus suami yang bertanggungjawab, Nak Yuda, jangan luntur tapi tambah sampai end nanti. 💪💪👍👍🙏
Sunaryati
Alhamdulillah orang tua Mas Yuda baik semua, mau menerima Ning.
Sunaryati
Syukur ternyata Bu Anggun tidak marah, Nak Yuda menikahi Ning.
Sunaryati
Pinter kamu Mas Yuda, sebaiknya bawa Ning ke dokter tulang, untuk operasi tulang kaki, sekarang banyak dokter ahli dibidangnya pasti sembuh seperti sedia kala. Emak baru mampir langsung suka
Ma Em
Yuda akhirnya kebohonganmu terbongkar juga kan ,makanya dari dulu Yuda lbh baik berterus terang pada Ning .
Ariany Sudjana
Ning kamu jangan marah sama Yudha, kalau kamu marah, kesempatan buat Dewi merebut Yudha, apalagi tahu Yudha itu orang kaya, mau kamu seperti itu?
Sri Rahayu
maafkanlah Yuda Ning....emang dia berbohong...awal nya dia bohong utk Dewi tp keterusan sampe kini 😇😇😇 lanjut Thorr 😘😘😘
elief
lanjut thor, penasaran gimana reaksinya Ning🙏
Ma Em
Yuda pasti akan ketahuan sama Ning , apakah Ning akan marah sama Yuda karena sdh dibohongi .
Ariany Sudjana
jangan marah Ning, kalau kamu marah, yang ada Yudha akan disambar sama Dewi
Sri Rahayu
hahaha akhirnya ketahuan siapa sebenarnya Yuda...paling Ning marah bentar yp tdk sampe membenci Yuda...Ning kan baik hati, Yuda bkn jahat jahat hanya menyamar jd tkng ojek 🙃🙃🙃....lanjut Thorr😘😘😘
elief
kalo ketahuan, semoga ning mau ya memaafkan mas yuda yg sudah berbohong. dewi aja di maafkan hehehe
Ariany Sudjana
Ning itu terlalu polos, kamu pikir dengan maaf semua selesai, tidak seperti itu Ning. apa kamu tidak tahu kalau Dewi itu licik? dia akan menggunakan segala cara untuk menyingkirkan kamu
Ma Em
Ning orangnya terlalu baik , tapi orang seperti Dewi dan Bu Sumi tdk akan ada kapoknya pasti akan berbuat jahat lagi pada Ning , tapi benar kata Ning biar Allah yg balas perbuatan Dewi dan Bu Sumi pada Dewi akan dpt karmanya .
Sri Rahayu
bukan marah Ning...tp kesel gemes.. Ning baik hati bener, uda disakiti terus menerus tetap baik sama Dewi dan bu Sumi...lanjut Thorr 😘😘😘
Rahmawati
sudah salah tapi merasa paling menderita, hadeh
Ariany Sudjana
kamu berdalih terus kamu korban, kata siapa kamu korban Dewi? justru kamu pelakunya, gara-gara keserakahan dan kedengkian kamu , kamu tega menabrak Ning
Sri Rahayu
keras kepala luar biasa Dewi dan bu Sumi...uda salah ga mau minta maaf...se akan2 Dewi korban 😠😠😠..lanjut Thorr
Arin
Sudah salah aja susah minta maaf.... Susah memang hidup dengan orang seperti ini. Anggap dirinya paling bener, si paling menderita..... 😁😁😁
Ina Yulfiana
kan jujurnya cih Yuda nich p gk tku nantinya Ningsih mlh kecewa berat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!