“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.
"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.
"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."
Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.
"Ning, ayo nikah sama Mas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27
Langit siang itu pucat, seperti sengaja menahan warna. Ning melangkah pelan di trotoar sempit, kruknya menjejak aspal dengan bunyi teratur,
tok,
tok.
Ritme yang sudah dua tahun ini menemaninya berjalan. Jilbab krem menutup rambutnya rapi, gamis panjang biru muda membuatnya terlihat teduh, hampir rapuh.
Ia tak menyangka pertemuan itu akan terjadi.
“Maaf... Mbak?”
Suara itu membuat langkah Ning tersentak. Ia berhenti, lalu berbalik perlahan. Seorang pria berdiri dua langkah di belakangnya. Tinggi, rapi, wajahnya bersih dengan sorot mata yang… asing tapi anehnya terasa dekat.
“Iya?” Ning menjawab singkat, suaranya otomatis dijaga.
Pria itu tersenyum kecil, seperti ragu. “Saya… sepertinya kenal Mbak.”
Jantung Ning berdetak lebih cepat. Tidak. Tidak boleh.
“Maaf, Mas salah orang,” ucapnya cepat. Tangannya mengencang di kruk.
“Enggak,” sanggah pria itu lembut. “Saya yakin. Atau… setidaknya, wajah Mbak mirip seseorang di foto saya.”
Ning menelan ludah. Dunia seolah menyempit. Foto?
Ya, lelaki itu adalah Ridho. Setelah hilang ingatan, ini pertama kalinya dia melihat Ning. Tidak dalam wujud gambar foto yang ia temukan di laci kantor.
Dadanya sesak.
“Maaf..,” katanya lebih tegas, “saya enggak kenal Mas. Saya buru-buru.”
Ia berbalik, melangkah lebih cepat meski kakinya tak mendukung. Tok—tok—langkahnya jadi timpang. Pria itu reflek mengikuti satu langkah.
“Tunggu—saya Ridho,” katanya. “Saya cuma mau tanya—”
Ning tidak menjawab. Ketakutan menuntunnya. Dewi. Bu Sumi. Semua nama itu berkelebat seperti bayangan panjang di siang hari. Ia tidak boleh terlihat bersama Ridho. Tidak boleh ada yang tahu.
Di ujung jalan, sebuah motor berhenti mendadak.
“Ning?” suara itu memanggil kaget.
Ning mengangkat wajah, nyaris lega. “Mas Yuda.”
Yuda turun cepat, matanya langsung menangkap cara Ning berjalan tergesa, napasnya yang tak beraturan. Lalu ia melihat Ridho—pria asing yang berdiri beberapa langkah di belakang.
“Kamu kenapa?” tanya Yuda pelan tapi waspada.
“Enggak apa-apa,” jawab Ning cepat. “Ayo… kita harus pulang.”
Ridho melangkah setengah maju. ingin menahan, tapi kata itu hanya tertahan di ujung lidahnya.
Yuda menoleh, sorot matanya dingin.
"Ayo, Mas. Cepat!" bisik Ning setengah memohon.
Ning sudah naik ke motor. Yuda menyalakan mesin. Dalam hitungan detik, mereka melaju meninggalkan jalan itu.
Ridho berdiri sendiri. Dadanya terasa kosong, seperti baru saja kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat ia pahami.
"Kenapa rasanya sakit sekali? Siapa gadis itu? Kenapa dia mirip dengan wanita di foto yang aku temukan? Dan siapa lelaki itu? Kenapa bersamanya?"
****
Di perjalanan, angin menerpa jilbab Ning. Tangannya gemetar di sisi jok.
“Itu siapa?” tanya Yuda, suaranya santai, seolah tak ingin menekan.
Ning menatap jalan. “Orang salah sangka. Nanya jalan.”
“Oh.” Yuda mengangguk. “Kukira kenalan.”
Ning menggeleng. “Bukan.”
Yuda tidak bertanya lagi. Ia menerima, seperti biasa.
Hari berikutnya, Ning berjalan keluar dari sebuah toko aksesories dengan senyum yang jarang ia pakai selebar itu. Ia baru saja membeli alat kosmetik untuk menunjang pekerjaan tata riasnya.
Di depan sana, ia melihat sosok yang sangat dia kenal. Tiba-tiba rasa rindu itu datang. Ia mempercepat langkah meski harus menggunakan kruknya.
“Ayah!”
Pria paruh baya itu menoleh, lalu wajahnya langsung berbinar. “Ning?”
Mereka saling mendekat. Pak Hasto menatap putrinya dari ujung jilbab sampai ujung sepatu. “Kamu… kelihatan sehat.”
Ning tersenyum, matanya berkaca-kaca. “Ayah juga.”
Pak Hasto tertawa kecil. “Baju kamu bagus. Cocok.”
Ning tersipu. “Ini... Dibeliin Mas Yuda, Yah.”
Kata itu keluar pelan, tapi jujur.
“Alhamdulillah,” Pak Hasto menghela napas lega. “Ayah senang dengarnya. Dia pasti memperlakukan mu dengan baik.”
"Iya, Yah. Alhamdulillah. Ayah... Bagaimana?"
"Ayah bahagia melihat kamu bahagia begini."
Ning tersipu. "Beberapa waktu yang lalu, Ning ketemu ibuk sama Mbak Dewi di pasar."
Pak Hasto tertawa. "Hahaha, baru sekarang ini mereka ke pasar. Baru mau masak," katanya sambil menggeleng. "Di rumah jadi kacau Ning, setelah kamu enggak ada."
"Iyakah, yah?"
"Iya. Tapi kamu jangan kembali. Sudah bagus sama yuda aja."
"Ning tinggal di kontrakan sama Mas Yuda, Yah."
"Ya bagus Ning. Alhamdulillah kan?"
“Yah,” Ning ragu sejenak, lalu memberanikan diri. “Main ke rumah, ya. Ning ingin ayah lihat.”
Pak Hasto menyesal. “Hari ini belum bisa. Masih kerja. Tapi nanti, ayah janji.”
Ning mengangguk. “Ning tunggu. Oh iya. Yah. Ning udah punya hp. Simpan nomor Ning ya.”
"Wah, hebat kamu udah punya hp."
Ning tersipu lagi. "Ini... cuma dapat door price kok."
"Waaah, Ning kamu jadi beruntung habis keluar dari rumah."
Ning hanya tersenyum malu-malu.
Mereka berpisah setelah saling menyimpan nomor.
Beberapa hari kemudian, di sebuah rumah yang ramai suara pagi, Pak Hasto merapikan tasnya.
“Ning, Ayah ke kontrakan ya?” katanya melalui sambungan telepon.
Ridho yang sedang meneguk kopi terdiam.
“Ning?” ulangnya bergumam pelan.
Ridho menoleh pelan, bermaksud menguping. Ia memang masih di rumah Pak Hasto.
"Coba kamu share lokasi."
Sesuatu bergetar di kepalanya. Wajah berjilbab. Kruk. Senyum yang ditahan. Foto di laci.
Tak lama setelah Pak Hasto pergi, Ridho menyusul. Mobilnya menjaga jarak. Ia tidak tahu apa yang ia cari—jawaban, atau sekadar kepastian bahwa perasaan aneh itu bukan halusinasi.
Saat Pak Hasto berhenti di sebuah rumah sederhana tapi rapi, Ridho ikut memperlambat laju. Dari balik pagar, ia melihat Ning keluar.
Dengan jilbab lembut. Dengan kruk di tangan.
Dengan wajah yang sama seperti di foto.
"Aaakkkhh!"
Ridho mengerang, kepala berdenyut sakit...