NovelToon NovelToon
Ruang Rahasia Sang Pembantu: Aku Bukan Lagi Debu Di Kakimu

Ruang Rahasia Sang Pembantu: Aku Bukan Lagi Debu Di Kakimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Ruang Ajaib
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Lily Rosamaria bukan siapa-siapa di rumah itu. Anak kandung yang diperlakukan seperti pembantu, sejak ibu tiri dan Nindi datang mengambil alih segalanya.

Tapi Lily punya Dimas Arya, kekasihnya yang membuatnya bahagia. Sampai malam sebelum pernikahan mereka, Lily memergoki Dimas dan Nindi di kamar belakang.

"Kami saling mencintai, Lily. Kamu yang seharusnya pergi."

Bukan Dimas yang bicara, tapi Nindi dengan perut yang mulai membesar.

Lily tidak menangis, dia berlari masuk ke gudang tua belakang rumah ketika ayahnya justru menginginkannya terkurung di sana.

Di balik dinding yang pengap itu, Lily menemukan pintu kecil berkarat. Dan di balik pintu itu, sebuah ruang yang tidak masuk akal. Ruang yang mendengarnya. Ruang yang menjawab amarahnya.

"Kamu mau apa?" bisik sesuatu dari sana.

Lily mengepalkan tangan. Dadanya penuh amarah, malu, trauma dan satu bara kecil yang belum padam.

"Aku mau mereka merasakan apa yang aku rasakan."

Ruang itu bersinar.

Dan Lily Rosamaria mulai bangkit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35 - NINDI YANG BERUBAH

Selasa pagi, Nindi turun ke dapur untuk pertama kalinya sejak melahirkan.

Dua minggu lebih dia di lantai atas. Makan diantar ke kamar, keperluannya dipenuhi Tante Sari atau Lily bergantian, bayinya yang menangis sesekali terdengar sebagai suara latar di rumah ini yang sudah jadi kebiasaan. Tapi Selasa pagi itu Lily sedang menggoreng telur ketika terdengar langkah kaki yang lebih hati-hati dari biasanya di tangga, dan Nindi muncul di pintu dapur dengan daster biru dan rambut yang dikuncir asal.

Lily tidak berkomentar soal penampilannya.

"Duduk," kata Lily. "Sarapan hampir siap."

Nindi duduk di kursi yang biasanya jadi kursi Lily, kursi pojok yang paling tidak kelihatan dari pintu ruang keluarga. Dia duduk dengan cara yang berbeda dari cara dia biasanya duduk di meja makan. Lebih hati-hati. Lebih kecil.

Lily meletakkan piring telur, sepotong roti, dan segelas susu di depannya.

"Makasih," kata Nindi. Pelan.

Lily kembali ke kompor.

Beberapa menit berlalu dalam diam yang tidak tegang. Nindi makan, Lily menyiapkan sisa bahan sarapan untuk yang lain. Bunyi sendok di piring. Bunyi kompor. Di atas, sesekali terdengar tangisan bayi yang segera berhenti, Bibi Rah yang sedang menjaga.

"Lily."

"Iya."

"Kamu benci bayiku?"

Lily meletakkan spatula. Berbalik.

Nindi menatap piringnya, tidak ke Lily. Tapi ada di caranya menunggu jawaban. Bahu yang sedikit tegang, tangan yang memegang sendok lebih kuat dari perlu. Yang mengatakan ini bukan pertanyaan yang diajukan untuk menyerang.

"Tidak," kata Lily.

"Tapi kamu benci situasinya."

"Situasinya menyakitkan. Tapi bayinya tidak ada salahnya."

Nindi mengangguk sangat kecil. Seperti menerima sesuatu yang sudah dia tahu tapi butuh didengar dari orang lain.

"Aku beri nama dia Wulan," kata Nindi. "Bukan karena Mama suruh. Mama tidak tahu soal nama itu sampai setelah aku putuskan."

Lily tidak bergerak dari posisinya.

"Kenapa?" tanyanya akhirnya.

Nindi mengangkat matanya untuk pertama kalinya sejak duduk, matanya yang ada lingkaran di bawahnya dan tidak ada makeupnya dan terlihat lebih tua dari umurnya mengatakan hal-hal yang mungkin dia tidak bisa katakan dengan kata-kata.

"Karena aku tahu nama ibumu. Sudah lama. Mama pernah sebut satu kali waktu aku kecil, dan entah kenapa nama itu tidak pernah pergi dari kepalaku." Dia menunduk lagi. "Dan karena aku rasa, aku tidak bisa bilang ini masuk akal. Tapi aku rasa itu cara paling jujur yang bisa aku lakukan."

"Cara jujur untuk apa?"

"Untuk mengakui bahwa ada sesuatu yang salah. Yang tidak bisa aku ubah. Tapi yang setidaknya bisa aku akui."

Lily berdiri di depan kompor dan melihat saudara tirinya, perempuan yang tumbuh di bawah bayang-bayang ibunya yang punya agenda, yang pilihan-pilihannya mungkin lebih sedikit dari yang kelihatan dari luar, yang sekarang duduk di kursi pojok dapur dengan piring sarapan di depannya dan bayi yang namanya adalah nama ibumu di lantai atas.

"Aku tidak bisa mengampuni kamu sekarang, Nin," kata Lily akhirnya. Bukan keras, bukan dingin. Hanya jujur. "Mungkin tidak dalam waktu dekat. Tapi aku juga tidak akan menghabiskan energiku untuk membencimu."

Nindi mengangguk. "Itu cukup."

"Bukan untuk membuat kamu nyaman," kata Lily. "Untuk aku sendiri."

"Aku tahu."

Rabu pagi, Lily pergi ke PT Cakrawala Mandiri untuk pertama kalinya sebagai staf magang.

Alibinya sudah disiapkan, keperluan bank di area pusat kota yang memang ada banknya di jalan yang sama dengan kantor itu. Bukan alibi yang sempurna, tapi cukup untuk hari pertama ketika belum ada yang perlu dicurigai.

Lily keluar jam delapan lewat, naik angkutan, dan tiba di kantor jam sembilan kurang.

Resepsionis yang kemarin mengenalinya dan langsung mengantar ke divisi administrasi. Ruangan yang lebih besar dari yang Lily bayangkan, dengan enam meja yang tiga di antaranya terisi orang. Semuanya menatap Lily sebentar waktu dia masuk, lalu kembali ke layar masing-masing.

Raka ada di mejanya di sudut, kepalanya tidak terangkat waktu Lily masuk, matanya di layar. Tapi tangannya bergerak ke arah dokumen di sisi mejanya dan mengambil satu lembar yang dia letakkan di meja kosong di sebelahnya.

"Ini meja kamu," katanya tanpa melihat ke arah Lily. "Tugas hari ini ada di lembar itu. Kalau ada yang tidak jelas, kamu bisa tanya... jangan asumsikan sendiri."

"Baik."

"Satu hal." Sekarang dia mengangkat kepala. "Di sini tidak ada hierarki berdasarkan siapa yang paling lama. Ada hierarki berdasarkan siapa yang paling tahu apa yang dia kerjakan. Kalau kamu lebih tahu dari aku soal sesuatu, bilang langsung."

Lily menaruh tasnya di bawah meja. "Baik."

"Bagus. Mulai."

Tugas hari pertama tidak glamor: pengarsipan dokumen fisik yang sudah menumpuk selama tiga bulan karena, menurut catatan di lembar tugas, staf yang bertanggung jawab resign bulan lalu dan tidak ada yang sempat menggantikan.

Lily membaca instruksi pengarsipan sekali, lalu mulai.

Sistem yang digunakan bukan sistem yang paling efisien. Lily menyadari itu sekitar empat puluh menit ke dalam pekerjaan, ketika dia menemukan bahwa beberapa kategori yang ada tumpang tindih dan cara penomoran dokumennya tidak konsisten.

Dia mengerjakan sampai setengah sistem lama, lalu berhenti dan berjalan ke meja Raka.

"Sistem pengarsipannya ada masalah."

Raka mengangkat kepala.

"Kategori B dan D tumpang tindih, dokumen yang sama bisa masuk ke keduanya tergantung interpretasi. Dan penomoran dokumennya tidak konsisten sejak bulan ketujuh tahun lalu. Mau aku ikuti sistem yang ada atau benahi dulu?"

Raka menatapnya selama dua detik. "Berapa lama untuk benahi?"

"Setengah hari tambahan. Tapi kalau tidak dibenahi sekarang, masalahnya akan bertambah setiap bulan."

"Benahi."

Lily kembali ke mejanya.

Dari sudut matanya, dia melihat Raka menatap mejanya sebentar... bukan curiga, bukan mengevaluasi. Lebih seperti orang yang baru memperhatikan sesuatu yang tidak dia antisipasi.

Jam dua belas, ada istirahat makan siang singkat.

Sebagian staf keluar. Raka tetap di mejanya dengan nasi kotak yang kelihatannya sudah jadi kebiasaan. Lily duduk di mejanya dengan bekal yang dia bawa dari rumah, nasi dan lauk sederhana yang dia siapkan pagi itu.

"Kamu masak sendiri?" tanya Raka dari mejanya tanpa melihat ke arah Lily.

"Kebiasaan."

"Dari kapan?"

"Lama."

Dia tidak bertanya lebih lanjut. Tapi setelah beberapa menit makan dalam diam, dia bicara lagi:

"Sistem pengarsipan yang kamu temukan masalahnya, kamu bilang dari bulan ketujuh tahun lalu. Bagaimana kamu tahu itu bukan dari awal?"

"Karena dokumen sebelum bulan ketujuh tidak punya masalah yang sama. Pola berubah di satu titik waktu. Biasanya itu artinya ada perubahan orang atau perubahan instruksi di titik itu."

Raka berhenti makan sebentar.

"Ada staf yang resign bulan ketujuh tahun lalu," katanya. "Sehari setelah resign, dia minta HR hapus semua aksesnya segera. Tidak tunggu dua minggu notice period standar."

Lily menatapnya. "Kamu pikir dia sengaja mengacaukan sistem sebelum pergi?"

"Aku tidak tahu." Raka melanjutkan makannya. "Tapi kamu baru saja memberiku alasan untuk memeriksa itu."

Sore itu, jam empat lewat, Lily siap-siap pulang.

Di mejanya ada setumpuk dokumen yang sudah diarsip ulang dengan sistem yang baru. Lebih rapi, lebih konsisten, dengan catatan di halaman pertama yang menjelaskan logika penomoran untuk siapa pun yang bekerja dengan arsip ini ke depannya.

Raka berjalan ke mejanya waktu Lily sedang merapikan.

"Besok kamu tidak masuk, jadwalmu tiga hari seminggu, Rabu Kamis Jumat. Kamis besok kamu masuk lagi."

"Baik."

Dia berdiri sebentar di depan meja Lily, menatap tumpukan dokumen yang sudah rapi. "Kenapa kamu melamar ke sini?"

Lily mengangkat tasnya. "Karena posisinya terbuka dan lokasinya cocok."

"Jawaban yang sudah dipikir lagi."

"Semua jawaban yang bagus memang sudah dipikir."

Raka hampir tersenyum, ekspresi yang datang dan pergi terlalu cepat untuk dipastikan. "Sampai Kamis."

Lily berjalan keluar.

Di lift, sendirian, dia menghela napas panjang yang pertama sejak pagi.

Dua kehidupan. Satu hari pertama yang berjalan tanpa ada yang bocor ke yang lain.

Satu hari. Cukup untuk sekarang.

Ponselnya bergetar.

Dimas.

Pesan singkat. [File itu sudah aku pindahkan. Ada di tempat yang bisa kamu ambil. Tapi Lily, ada yang perlu kamu tahu dulu sebelum kamu buka filenya. Besok?]

Lily menatap pesan itu di dalam lift yang berhenti di lantai satu.

Pintu lift terbuka.

Lily melangkah keluar ke lobi... ke udara sore yang terasa berbeda dari pagi, lebih hangat, lebih padat dengan orang-orang yang pulang dari berbagai arah menuju berbagai tempat.

Dia mengetik balas ke Dimas. [Besok jam berapa?]

Dan bersiap untuk hari berikutnya yang akan membawa hal-hal yang belum bisa dia bayangkan hari ini.

Bersambung ke Bab 36...

1
sunaryati jarum
Ayah pengecut membiarkan putri kandung jadi pembantu untuk ibu tiri dan adik tiri di rumah peninggalan neneknya
sunaryati jarum
Semoga semua yang menjadi hakmu kembali
sunaryati jarum
Berarti ayahmu,Sari,Nindi dan Wulan tidak punya hak atas rumah peninggalan nenekmu.Benar- benar ayah tidak tahu diri
sunaryati jarum
Emak bingung terlambat dua puluh tahun, maksudnya
Erchapram: Maksudnya terlambat mengakui selama 20 tahun lamanya
total 1 replies
sunaryati jarum
Semoga tidak membayakan dirimu , Lyli
sunaryati jarum
Itu berita untuk membuat kamu goyah Lyli, teruslah maju
WeGe
kenapa ruang rahasia di gudang jadi nggak aman? semoga memindahkan dokumen ke kantor pak Syarif bukan sebuah jebakan. 😐
WeGe
ya karena ketahuan. coba kalau Lily diam sj, kan keenakan punya pembantu gratis. hukum juga sari ini lah Thor. enak aja lolos gitu doang/Smug/
WeGe
semoga
WeGe
aku masih nggak percaya padanya Lily. jangan lengah.
WeGe
pasti ada saja rencana jahat nya. hati" Lily.
asih
sudah masuk 40 bab .. mau ngejar baca tp waktunya g ada .. sudah sampai 70 bab sekarang ..Thor jangan ngebut updatenya
Erchapram: Gpp santai saja, baca kalo ada waktu. Aku kejar mau tamat sebelum lebaran. Terima kasih.
total 1 replies
sunaryati jarum
Sudah ada firasat bahwa gugatan Lyli akan berhasil
sunaryati jarum
Reynaldo selalu mengawasi Lyli,Lyli jadi semakin kuat dan tangguh serta selalu waspada
sunaryati jarum
Reynaldo mulai takut kalah ,semua nego untuk Lyli ditolak, orang tamak kini saatnya kau kalah dari generasi ketiga Nenek Suwarni
sunaryati jarum
Semakin menarik namun berat bagi emak
sunaryati jarum
Ayah pengecut tidak bisa melindungi istri dan putrinya pilih meyelamatkan diri, sekarang waktunya kau menebus Suharto walau kau masuk bui lakukan!!!
sunaryati jarum
Banyak dokumen resmi untuk mengambil hak Lyli yang diklaim orang lain, semoga bermanfaat,Lyli dan ada titik terang
sunaryati jarum
Ayah durhaka putri kandung dijadikan pembantu anak tiri dijadikan ratu, diakhir cerita ayah Lyli, Sari dan Nindi harus mendapatkan karma.Untuk Reynaldo dan kroninya harus dapat balasan setimpal
sunaryati jarum
Segera selesai dengan selamat, semua hak Lyli dapat dimilikinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!