Berlatarkan masa kejayaan Kerajaan Panjalu (Singhasari) di wilayah Pasuruan, sebuah prasasti kuno yang ditemukan oleh Gadis nelayan, Mira, mengungkap rahasia pelabuhan perdagangan rempah-rempah yang hilang selama berabad-abad. Bersama dengan Jaka, seorang budak kerajaan yang ahli membaca naskah kuno, keduanya harus mengurai misteri di balik prasasti tersebut sebelum kekayaan dan sejarah kerajaan jatuh ke tangan yang salah. Di tengah ombak laut dan rahasia yang terpendam, apakah mereka berhasil menyelamatkan warisan leluhur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kristinawati Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: PEMBUKAAN PINTU TERAKHIR DAN PILIHAN YANG MENENTANG SEMUA
Setelah lebih dari dua minggu penuh bekerja sama—di mana Rara harus bolak-balik antara dunia nyata dan dunia cerita nya melalui cara yang sudah dia kuasai bersama Pak Joko—kini mereka akhirnya sampai di tahap terakhir untuk menghentikan rencana jahat kelompok yang menyebut diri "Pasukan Bayangan" yang ingin menguasai semua dunia pararel dengan membuka pintu utama yang bisa menghubungkan seluruh alam semesta paralel sekaligus.
Di dunia nyata, Rara sedang berada di ruang bawah tanah rumah nenek nya yang baru saja mereka temukan setelah mencari selama berhari-hari. Ruangan ini penuh dengan benda-benda kuno yang semuanya memiliki simbol bintang delapan, termasuk sebuah papan batu besar yang menjadi pemicu utama untuk membuka atau menutup pintu terakhir. Di sisi lain, di dunia cerita nya, Dika telah mengumpulkan semua penerus kekuatan dari berbagai dunia pararel—ada Sari dari dunia yang penuh dengan ilmu sihir, Bima dari dunia masa depan yang canggih teknologi, dan Luna dari dunia yang hidup di dasar laut dan memiliki kekuatan mengendalikan air. Semua mereka berkumpul di depan istana kerajaan yang kini telah aktif kembali, dengan pintu utama yang bersinar dengan cahaya warna-warni di tengah halaman utama.
Hari itu di dunia nyata adalah hari HUT kemerdekaan Indonesia, tapi Rara tidak punya waktu untuk merayakannya—dia tahu bahwa jika mereka gagal pada hari ini, tidak akan ada lagi hari untuk dirinya atau siapapun. Pak Joko berdiri di sebelahnya, sedang memeriksa kembali semua ritual yang harus dilakukan agar proses penutupan pintu bisa berhasil. "Ingat Rara, kamu bukan hanya penulis yang mengendalikan cerita ini lagi. Sekarang kamu adalah bagian dari cerita itu sendiri. Setiap pilihan yang kamu buat akan mempengaruhi kedua dunia secara langsung," ujar Pak Joko dengan suara serius. Rara mengangguk dan menatap papan batu di depannya—di sana sudah tertera tulisan kuno yang harus dia baca dengan benar agar semuanya berjalan lancar.
Sementara itu, di dunia cerita nya, Dika dan kelompoknya sedang menghadapi serangan awal dari Pasukan Bayangan yang dipimpin oleh Lord Kael—seorang pria yang dulunya adalah penerus kekuatan tapi memilih jalan gelap karena ingin menjadi penguasa semua dunia. "Apa gunanya menjaga keseimbangan jika kita bisa menjadi yang paling kuat? Bersamaku, kita semua bisa menjadi dewa!" teriak Lord Kael sambil mengeluarkan kekuatan gelap yang membuat langit menjadi hitam pekat. Sari cepat mengeluarkan tongkat sihir nya dan membentuk pagar cahaya untuk melindungi teman-temannya. "Jangan dengarkan kata-katanya! Dia hanya ingin menggunakan kita untuk mencapai tujuannya sendiri!" teriak Sari sambil melontarkan bola api ke arah pasukan musuh.
Perang pun dimulai—makhluk-makhluk bayangan yang menyeramkan menghadang setiap langkah mereka, sementara Bima menggunakan teknologi canggih nya untuk membuat perisai dan senjata yang bisa melawan kekuatan gelap. Luna mengendalikan ombak besar dari sungai dekat istana untuk menyapu sebagian besar pasukan musuh, tapi Pasukan Bayangan tampaknya tidak pernah berkurang jumlah nya. Dika tahu bahwa mereka tidak bisa bertahan lama jika hanya bertempur—mereka harus cepat mencapai pintu utama sebelum Lord Kael melakukannya terlebih dahulu.
"Aku akan menarik perhatian mereka! Kalian cepat ke pintu utama!" teriak Dika sambil mengeluarkan kekuatan maksimal nya yang membuat tubuh nya bersinar terang seperti matahari. Dia bergerak dengan cepat ke arah Lord Kael, menyerang dengan serangkaian pukulan yang diperkuat dengan kekuatan antar dunia. Lord Kael hanya tersenyum sinis dan menghadang serangan nya dengan mudah. "Kamu masih terlalu muda untuk menghadapiku, Dika! Bahkan nenek buyutmu saja tidak bisa mengalahkan aku, apalagi kamu!" ujar Lord Kael sambil memberikan tendangan yang membuat Dika terjatuh ke tanah.
Di dunia nyata, Rara merasakan rasa sakit yang sama dengan Dika—tanda bahwa hubungan antara mereka semakin kuat dan apa yang terjadi pada salah satu akan berpengaruh pada yang lain. Pak Joko melihat wajah Rara yang mulai memerah dan segera memberikan ramuan khusus yang dibuat dari daun pohon beringin tua di halaman rumah nenek nya. "Kamu harus kuat Rara! Sekarang waktunya membaca doa penutupan pintu!" Pak Joko membantu Rara berdiri dan menghadap papan batu.
Rara mengambil napas dalam-dalam dan mulai membaca tulisan kuno dengan suara yang kuat dan jelas: "Dengan kekuatan cinta, keberanian, dan persatuan dari semua dunia, aku memohon agar pintu antar dunia segera tertutup dan keseimbangan alam semesta kembali terjaga. Biarkan tidak ada satu pun yang bisa mengganggu kedamaian yang telah kita bangun bersama!" Saat kata-kata terakhir keluar dari mulut nya, cahaya terang menyala dari papan batu dan menyebar ke seluruh ruangan. Di dunia cerita nya, pintu utama yang sedang mau terbuka mulai bergetar dan cahaya yang sama juga muncul dari sana.
Namun, sesuatu yang tidak mereka duga terjadi—Lord Kael berhasil menyusup ke dekat pintu utama dan menyentuhnya sebelum mereka bisa menghentikannya. "Jika aku tidak bisa membukanya, maka tidak ada yang bisa! Aku akan membuat semua dunia hancur bersamanya!" teriak nya sambil mengeluarkan seluruh kekuatan gelap nya. Pintu utama mulai menjadi tidak stabil, cahaya nya bergantian antara terang dan gelap, dan kedua dunia mulai bergoyang seperti akan roboh.
Rara merasakan bahwa dunia nyata mulai bergoyang—bangunan di sekitar rumah nenek nya mulai bergetar, dan ada suara gemuruh yang menyakitkan telinga. Dia tahu bahwa mereka punya pilihan terakhir yang sangat berbahaya: bukannya menutup pintu, mereka harus membukanya sepenuhnya sebentar untuk menyerap semua kekuatan gelap Lord Kael dan kemudian menutupinya dengan cepat sebelum seluruh dunia hancur. Tapi risikonya adalah salah satu dari mereka harus mengorbankan diri untuk menjadi penghalang terakhir.
"Aku akan melakukannya!" suara Dika terdengar di benak Rara. Dia tahu bahwa Dika telah memutuskan untuk menjadi orang yang mengorbankan diri nya. "Tidak bisa! Aku tidak akan membiarkanmu mati!" teriak Rara di dunia nyata, tapi dia tahu bahwa ini adalah satu-satunya cara. Di dunia cerita nya, Dika berdiri di depan pintu utama dan melihat wajah teman-temannya yang menangis. "Ini adalah pilihan ku. Kamu semua harus melanjutkan hidup dan menjaga dunia kita. Rara, tuliskan akhir yang benar untuk kita semua!" ujar Dika dengan senyum lembut sebelum berlari ke arah pintu utama yang sedang tidak stabil.
Saat Dika menyentuh pintu utama, seluruh kekuatan gelap Lord Kael tertarik ke arah nya, dan dia mulai menyerap semua kekuatan itu dengan tubuh nya sendiri. Rara menangis tapi tidak bisa berhenti—dia harus segera menutup pintu sebelum terlambat. Bersama Pak Joko dan kelompok teman Dika di dunia cerita nya, mereka semua bergandengan tangan dan mengeluarkan kekuatan maksimal nya. "SEKARANG RARA!" teriak Pak Joko.
Rara mengangkat tangan nya dan dengan suara yang penuh dengan haru dan keberanian berkata, "Aku menutup pintu ini dengan cinta dan kenangan yang tidak akan pernah hilang! Semoga damai selalu menyertai semua dunia!" Saat itu juga, pintu utama di kedua dunia tertutup dengan cepat, diikuti dengan ledakan cahaya terang yang membuat semua orang harus menutup mata mereka.
Ketika cahaya hilang dan segala sesuatu kembali tenang, di dunia cerita nya—tempat dimana Dika berdiri kini hanya ada sebuah batu besar dengan simbol bintang delapan yang terpahat di atas nya. Kelompok teman nya menangis sambil menyentuh batu itu, tahu bahwa Dika telah memberikan nyawanya untuk menyelamatkan semua dunia. Di dunia nyata, Rara jatuh ke tanah dan menangis penuh air mata—dia merasakan bahwa hubungan nya dengan Dika sudah tidak ada lagi, tapi dia tahu bahwa dia tidak akan pernah melupakan sosok anak laki-laki yang dulu menjadi teman bermain nya dan kini menjadi pahlawan semua dunia.
Beberapa hari kemudian, Rara kembali ke kafe Kopi Kenangan untuk menyelesaikan bab terakhir dari cerita nya. Dia menuliskan akhir yang penuh dengan harapan—bahwa meskipun Dika telah pergi, semangat nya tetap hidup dalam setiap orang yang berjuang untuk kebaikan. Saat dia mengetik kata terakhir "Akhir", ada suara yang dikenal nya terdengar dari belakang nya. "Kamu menulis akhir yang bagus untuk kita semua ya, Rara." Rara berbalik dengan cepat dan melihat sosok anak laki-laki yang sangat mirip dengan Dika berdiri di sana, dengan senyum yang sama hangat nya. "Siapa kamu?" tanya Rara dengan suara gemetar. "Aku adalah penerus kekuatan baru dari dunia lain. Dika mengirim aku untuk memberitahu kamu bahwa dia tidak benar-benar pergi—dia tinggal di setiap dunia yang dia selamatkan, dan suatu hari kita akan bertemu lagi," ujar anak laki-laki itu sebelum menghilang perlahan.
Rara tersenyum dan mengangkat laptop nya lagi. Meskipun cerita utama nya telah selesai, dia tahu bahwa ada banyak cerita lain yang harus dia tulis—cerita tentang persahabatan, keberanian, dan bagaimana setiap orang bisa menjadi pahlawan dalam caranya sendiri. Di mejanya, buku tua dengan simbol bintang delapan mulai bersinar lembut, seolah mengatakan bahwa petualangan baru akan segera dimulai...