Menikah tanpa kehadiran suami bukanlah impian Sheena. Ia terpaksa menandatangani dokumen pernikahan di catatan sipil hanya didampingi oleh ibu mertuanya, sementara Matthias—sang suami—lebih memilih merayakan kelulusan S2-nya di The Spire Of Wisdom tanpa sedikit pun memberi kabar.
Tiga bulan penuh pengabaian membuat hati Sheena mendingin. Saat Matthias pulang dengan aura black flag yang kaku dan dingin, Sheena dipaksa pindah ke mansion pribadi pria itu. Matthias bersikap seolah Sheena hanyalah orang asing yang menumpang hidup, karena hatinya masih tertahan pada sosok gadis kecil di halte bus bertahun-tahun lalu—satu-satunya orang yang membolehkannya menangis.
Matthias tidak sadar, sapu tangan yang ia simpan bagai nyawa adalah milik wanita yang kini ia abaikan di rumahnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, apakah Sheena masih mau menunggu pria yang sudah membuang waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Tamparan
Atmosfer di dalam mansion terasa seberat timah. Matthias berdiri mematung di tengah ruangan, namun napasnya memburu kasar. Matanya merah, menatap kosong ke arah lantai seolah jiwanya baru saja direnggut paksa dari raga. Kehilangan sapu tangan itu bukan sekadar kehilangan kain, tapi kehilangan satu-satunya bukti bahwa ia pernah diselamatkan dari kegelapan.
"Matthias? Ada apa?" Tanya Sheena pelan, mencoba mendekat meski instingnya meneriakkan bahaya.
Matthias menoleh perlahan. Suaranya terdengar hampa, seperti orang yang kehilangan akal sehat. "Hilang, Sheena... Sesuatu yang paling berharga bagiku hilang. Ada yang menculiknya dari kamarku."
Sheena mengerutkan kening. Ia merogoh tasnya, lalu mengeluarkan kain biru yang sudah terbelah dua itu dengan wajah tanpa dosa. Ia belum paham seberapa keramat benda itu bagi suaminya.
"Maksudmu ini? Aku yang mengambilnya tadi," ucap Sheena enteng.
Mata Matthias melebar. Waktu seolah berhenti saat ia melihat kain biru itu berada di tangan Sheena dalam keadaan sobek parah.
"Kau..." Suara Matthias bergetar, namun kali ini karena amarah yang meluap ke ubun-ubun.
"Iya, tadi aku tidak sengaja merobeknya karena tersangkut, tapi tenang saja, ini kan punyaku—"
PLAK!
Suara tamparan keras menggema, memutus kalimat Sheena. Kepala Sheena terlempar ke samping, sudut bibirnya seketika terasa perih dan berdarah. Ia tersentak, tubuhnya bergetar hebat. Selama ini Matthias memang dingin dan kasar secara verbal, tapi tidak pernah sekalipun pria itu menggunakan kekerasan fisik padanya.
Matthias maju satu langkah, mencengkeram bahu Sheena dengan kekuatan yang seolah ingin meremukkan tulangnya. Wajahnya gelap, urat-urat di lehernya menonjol.
"BERANINYA KAU!" Raung Matthias tepat di depan wajah Sheena. "Memangnya ini punyamu?! Hah?! Atas dasar apa kau merasa berhak menyentuh benda ini, apalagi merusaknya?!"
"Matthias, dengarkan aku dulu—"
"KATAKAN! SIAPA YANG MENYURUHMU?!" Matthias tidak mau mendengar. Ia seolah tuli oleh amarahnya sendiri. "Apa kau mata-mata? Apa kau ingin menghancurkan satu-satunya hal yang membuatku tetap hidup? KAU MERUSAKNYA, SHEENA! KAU MERUSAKNYA!"
Sheena menatap Matthias dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia terkejut bukan main. Ia ingin berteriak bahwa itu adalah sapu tangannya sendiri. Tapi setiap kali ia ingin membuka mulut, Matthias membentaknya lebih keras.
"Aku tidak butuh penjelasan dari pencuri sepertimu!" Desis Matthias dengan tatapan penuh kebencian yang sangat dalam. Ia menyambar robekan sapu tangan itu dari tangan Sheena dengan kasar. "Mulai detik ini, jangan berani menunjukkan wajahmu di depanku. Keluar dari pandanganku sebelum aku melakukan hal yang lebih buruk padamu!"
Matthias berbalik, membawa kain sobek itu masuk ke ruang kerjanya dan membanting pintu dengan kekuatan yang mengguncang seluruh rumah.
Sheena berdiri mematung di ruang tengah yang kini sunyi. Air matanya jatuh membasahi pipinya yang membiru bekas tamparan. Rasa sakit di bibirnya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. Pria yang baru saja memeluknya dengan penuh kasih sayang pagi tadi, kini berubah menjadi monster yang menghinanya hanya karena sepotong kain miliknya sendiri.
"Itu milikku, Matthias..." Bisik Sheena lirih di tengah isaknya yang pecah. "Sapu tangan itu... milikku."
Kepala pelayan, seorang wanita paruh baya yang sudah mengabdi lama, perlahan mendekat dengan tangan gemetar. Ia membantu Sheena berdiri, sementara pelayan lainnya masih tertunduk kaku, tak berani bernapas setelah melihat murka sang tuan besar.
"Bibi..." Suara Sheena pecah, ia memegangi pipinya yang terasa panas dan berdenyut. "Itu sapu tanganku. Kenapa dia begitu marah sampai menyakitiku?"
Bibi pelayan itu menuntun Sheena duduk di sofa, matanya berkaca-kaca melihat sudut bibir nyonyanya yang berdarah. "Sabar, Nyonya... Sabar. Tuan Matthias memang sangat terobsesi dengan benda itu sejak bertahun-tahun lalu. Saya pernah mendengar dari asisten lamanya, bahwa Tuan menyimpan sapu tangan itu karena ia jatuh cinta pada seorang gadis kecil yang menolongnya di sebuah halte bus saat ia sedang berada di titik terendahnya."
Mendengar kata "halte bus", tangis Sheena mendadak terhenti. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Kepingan memori yang selama ini terkubur jauh di sudut ingatannya mendadak melesat masuk seperti proyektor yang diputar paksa.
Hujan deras... halte bus yang dingin...
Sheena teringat sekarang. Bertahun-tahun lalu, ia melihat seorang anak laki-laki remaja yang duduk sendirian di bangku halte. Anak itu tampak sangat hancur, bahunya bergetar, dan pipinya memerah—bukan karena malu, tapi karena bekas tamparan atau mungkin karena hawa dingin yang menusuk. Sheena kecil yang tidak tega, mendekat dan memberikan satu-satunya sapu tangan biru miliknya untuk menghapus air mata anak itu.
Namun, sebelum ia sempat menanyakan nama atau berbicara lebih lama, bus tujuannya sudah datang. Ia terburu-buru naik dan meninggalkan anak laki-laki itu tanpa pernah tahu siapa dia.
"Jadi... anak laki-laki yang menangis itu... adalah Matthias?" Bisik Sheena lirih.
Rasa sakit di pipinya kini kalah dengan rasa sesak yang menghimpit dadanya. Matthias menyimpan sapu tangan itu selama bertahun-tahun karena ia mencintai gadis kecil di halte itu. Matthias terobsesi karena gadis itu adalah cahaya baginya.
Tapi ironisnya, sekarang pria yang sama justru menampar wajah gadis yang dicarinya itu. Matthias telah menyakiti "penyelamatnya" sendiri tanpa ia sadari.
"Dia mencariku selama ini..." Sheena tertawa getir di tengah isaknya. "Dia mencintaiku lewat sepotong kain itu, tapi dia membenciku saat aku berdiri tepat di depannya."
Bibi pelayan hanya bisa memeluk bahu Sheena yang terguncang. Sementara itu, dari balik pintu ruang kerja yang tertutup rapat, terdengar suara barang-barang pecah. Matthias sedang menghancurkan apa pun yang ada di sana, meratapi robeknya sapu tangan itu, tanpa tahu bahwa di luar sana, pemilik aslinya sedang menangis karena luka yang ia buat sendiri.