Punya rumah tangga bahagia adalah dambaan setiap orang. Apalagi bagi seorang wanita. Suami dan mertua yang baik adalah anugerah yang tak ternilai harganya.
Seperti itulah harapan Kyara Nawasena. Menikah dengan lelaki yang ia cintai dan mencintainya ternyata tidak menjamin rumah tangganya berjalan mulus.
"Mas, tidakkah kau punya sedikit pun rasa iba kepadaku? Aku ini istrimu, bukan seorang babu!"
"Kalau kau sudah tak mau menuruti semua perintahku, lebih baik kau keluar dari rumah ini! Aku capek dan muak setiap pulang kerja harus mendengar ocehanmu! Kau itu adalah istri yang menyusahkan dan pembangkang!" Doni menghardik Kyara seraya melemparkan bantal ke wajah istrinya.
Kyara tersenyum getir, "Jika aku istri pembangkang, berarti kau adalah suami yang tidak bertanggung jawab!"
"Kyaraaa!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
"Akh!" Kyara merintih di lantai. Ia berusaha bangkit lagi untuk melawan Doni. Tapi lelaki itu keburu menghardiknya dengan suara menggelegar sambil mengacungkan telunjuk.
"Berani kau melawanku lagi ... maka aku tidak akan segan-segan menceraikanmu dan mengusirmu dari rumah ini!" Setelah berkata demikian, Doni berbalik dan masuk ke kamar mandi.
Bunyi bantingan pintu kamar mandi menggema di kamar bernuansa putih itu.
Kyara terdiam. Air mata makin deras berjatuhan. Bibirnya bergetar hebat. "Astagfirullah ... astagfirullah ..." Ia menekan dadanya. Seolah tak ada oksigen yang bisa ia hirup. "Ya Allah ... kuadukan semua rasa sakit hatiku kepadamu. Aku sungguh sudah tidak sanggup. Jika memang rumah tanggaku dan Doni harus berakhir ... maka akhiri lah. Aku ikhlas." Ia lalu berdiri, mengusap air matanya dengan punggung tangan.
Matanya menatap ke arah pintu kamar mandi, sebelum akhirnya ia membuka lemari. Mengambil mukena serta sajadah. "Lebih baik aku salat magrib di kamar dekat dapur." Kakinya yang kurus melangkah gontai meninggalkan kamar.
Sementara itu di dalam kamar mandi, Doni terus memukul-mukul air di dalam bathtub tempatnya berendam. Bibirnya mengeluarkan makian pada sang istri. "Dasar istri tidak tahu diri! Setan! Kurang ajar! Berani sekali dia melawanku, membentak dan menjelek-jelekanku serta keluargaku." Tinjunya melayang lagi, membuat air hangat di dalam bathtub itu memuncrat ke lantai.
"Aku menyesal telah menikahimu wanita sialan!" Lagi, air itu meluber ke lantai. "Awas kau Kyara. Akan kubalas perlakuan burukmu malam ini dengan derita tiada akhir. Biar kau gila sekalian!" Mata Doni menyala oleh amarah, namun saat ponselnya berdenting, matanya langsung berubah penuh binar bahagia. Bahkan bibirnya melengkung, membentuk senyuman manis.
Jemarinya dengan cekatan membalas pesan yang baru masuk tersebut. Senyuman manisnya setia menghiasi bibir.
Kyara baru selesai melaksanakan salat magrib ketika teriakan Hesti menggema memekakkan telinganya. Kali ini, ia tak langsung menyahuti. Malah membiarkan teriakan mertuanya berkumandang lagi. "Bu, seandainya Ibu masih ada ... mungkin aku tak akan berpikir terlalu lama untuk meninggalkan rumah ini. Aku sebenarnya sudah muak tinggal di rumah ini. Tapi jika aku pergi sekarang ... aku tidak punya uang sedikit pun. Aku juga bingung harus pergi ke mana? Menyusul Bapak ke Padang ..." Kyara menggeleng cepat. "Mama Rosma tidak mungkin mau menerimaku. Bapak juga. Selama ini, dia kan sudah tak peduli padaku."
"Kyaraa!" Suara Hesti berkumandang untuk ketiga kalinya.
"Huh!" Akhirnya Kyara bangkit. Melipat sajadah dan mukena, lalu keluar dari kamar yang dulu dikhususkan untuk pembantu. Tapi setelah dirinya hadir, pembantu itu diberhentikan. Dan dirinyalah yang kini menjadi babu di rumah mertuanya sendiri.
"Ada apa, Ma?"
Hesti yang sedang berkacak pinggang sambil membelakangi tubuhnya seketika menoleh. Wajah ketus penuh amarahnya langsung menyambut penglihatan Kyara. "Dari mana saja kamu, Kyara?! Dari tadi aku panggil-panggil ... kamu nggak menyahuti. Tenggorokkanku sampai sakit nih!" Matanya melotot pada Kyara.
"Aku tadi lagi salat, Ma."
"Salat?" Kening Hesti mengkerut. "Tapi kenapa kamu muncul di belakangku? Seharusnya kalau kamu habis salat ... kamu tuh muncul dari pintu itu!" tunjuknya pada pintu pembatas antara dapur dan ruang keluarga.
"Aku salatnya di kamar bekas Bi Sarimi." Kyara menjawab santai. Kali ini, tak membungkuk sopan, dan tak berkata dengan nada canggung dan penuh ketakutan.
"Kenapa kamu salat di sana?" Mata Hesti makin melotot, seolah tak suka.
"Kar-"
"Karena dia habis bertengkar denganku," potong Doni dengan cepat.
Seketika, alarm bahaya di kepala Kyara langsung meraung. "Ini tidak baik. Aku pasti akan kena amuk dan dicaci maki keroyokan lagi oleh Mama Hesti, Doni dan pastinya Dini," pikirnya.
"Bertengkar karena apa, Nak?" Hesti melangkah dan mengusap pundak Doni.
"Mas Don-"
"Diam!" sentak Hesti menyela ucapan Kyara. "Aku bertanya ke anak kesayanganku. Bukan ke kamu!" lanjutnya murka.
Doni tersenyum sinis, lalu mulai menceritakan tentang pertengkarannya tadi bersama Kyara. Dan tentu saja, semuanya diputarbalikkan.
"Kurang ajar ya kamu!" Amarah Hesti meledak. Ia beranjak, lalu menjambak rambut panjang Kyara. "Dasar menantu tak tahu diri! Berani sekali kamu mengomentari tentang uang yang selama ini diberikan Doni kepadaku!" Ditariknya rambut Kyara, lalu dilepaskan dengan kasar. Sehingga kepala Kyara otomatis terlempar ke belakang. "Kamu itu tidak punya hak untuk mempertanyakan tentang uang itu! Kamu hanya wanita luar yang kebetulan dinikahi anakku. Sedangkan aku dan Dini, adalah keluarga Doni. Jadi kami sangat berhak menikmati gajinya Doni. Karena anak lelaki, sampai kapan pun adalah milik ibunya. Sampai kapan pun meski sudah beristri ... harus tetap berbakti pada ibunya. Jadi kamu nggak usah iri apalagi sok ngatur-ngatur. Paham kamu?!" hardik Hesti sambil menoyor kepala Kyara.
Doni tersenyum puas melihat Kyara dimarahi habis-habisan oleh ibunya. Bahkan ia bersorak dalam hati. "Rasain! Mampus kamu Kyara! Makanya, jadi istri tuh jangan suka melawan. Hahaha ..."
Hesti kembali membentak Kyara. "Karena perbuatan kurang ajarmu malam ini ... maka kamu tidak boleh ikut makan malam bersama kami! Masuk kamar sana!"
Kyara mengangkat wajahnya, tak ada setitik pun air mata yang jatuh. Ia mengayun langkah, melewati suami dan mertuanya tanpa protes apalagi membela diri. Sebab ia tahu, sedetail apa pun ia menjelaskan semuanya ... mertuanya tak akan pernah peduli.
Tepat di anak tangga kedua, ia berpapasan dengan Dini yang baru turun. Gadis itu berucap. "Dimarahin lagi ya, sama Mama?" Nadanya terdengar penuh ejekan. Kyara mebiarkan. Lalu Dini bersuara lagi. "Makanya ... jadi istri tuh nggak usah banyak gaya. Pake segala sok-sok'an membangkang ke suami. Sengsara kan akhirnya. Hihihi ..."
Kyara tak menanggapi. Ia tetap berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Tepatnya kamar suaminya.
Sesampainya di kamar, ia duduk di tepi ranjang, menyentuh dadanya, merasakan jantungnya yang berdetak tak beraturan. Hatinya sakit, dan itu tida bisa dipungkiri. Tapi anehnya, saat ini ... ia tak ingin menangis sedikit pun. Malah bibirnya menyunggingkan senyum pahit. "Aku menikah dengan lelaki yang kucintai sepenuh hati. Tapi bukan bahagia yang kudapat, malah sakit hati yang tak berujung. Sungguh takdir-Mu tak bisa ditebak ya Allah." Kyara melirih. "Mungkin ini waktunya aku berontak. Inilah waktunya aku mencari kebahagiaanku sendiri. Aku ... tak akan lagi patuh pada perintah mereka bertiga. Dan aku ... harus bisa cari uang sendiri. Jadi babu pun nggak apa-apa." Kyara memanjangkan tangan, mengambil ponselnya yang ia simpan di laci nakas. Lalu menekan nomor Erna, wanita seumuran dirinya, sekaligus tetangga yang paling dekat dengannya. Tetangga yang tahu kisah hidupnya.
Tak perlu menunggu waktu lama, panggilan itu langsung diangkat oleh Erna. "Halo, Kya. Tumben kamu nelepon aku? Ada apa?"
Kyara menarik napas panjang, membuangnya secara perlahan sebelum menjawab pertanyaan Erna. "Er, aku mau tanya soal lowongan pekerjaan yang kamu tawarkan seminggu yang lalu, apakah lowongan pekerjaan itu masih ada?"
Hening.
Hanya embusan napas Erna yang terdengar di seberang sana.