Perjalanan 50 KM, Tabungan Sebulan, Berakhir di Centang Biru.
Rafi, siswa SMA dengan uang saku pas-pasan, rela makan nasi garam selama sebulan demi satu proyek besar: mengajak Nisa berkencan ke Irian Kisaran. Menempuh 50 KM demi bioskop 5D dan makan di McD, semuanya tampak sempurna hingga mereka berpisah di terminal.
Di dalam bus pulang yang sunyi menuju Tanjung Balai, Rafi mengirimkan pesan terindahnya. Ia menunggu dalam cemas hingga bus tiba di tujuan, namun harapannya hancur saat layar HP hanya menunjukkan status paling menyakitkan: "Dibaca."
Apakah pengorbanan keringat dan harga diri Rafi hanya dianggap hiburan satu hari bagi Nisa? Di dunia di mana perasaan diukur dari kecepatan membalas chat, Rafi harus belajar bahwa investasi hati tak selamanya berbalas janji.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Antre Tiket 5D
Bab 27: Antre Tiket 5D
Lantai dua Irian Kisaran adalah pusat dari segala kebisingan yang terorganisir. Di sini, udara dingin dari AC sentral yang tadi terasa menyejukkan di lantai dasar, kini mulai beradu dengan aroma margarin dari kedai popcorn dan hawa panas dari ratusan tubuh manusia yang hilir mudik. Namun, bagi Rafi, pusat dari segala gravitasi di lantai ini adalah papan neon bertuliskan "5D CINEMA" yang cahayanya berkedip-kedip seolah mengejek isi dompetnya.
Rafi melangkah mendekat, dan jantungnya berdegup satu ritme lebih cepat. Di depan loket kayu berukuran kecil itu, sebuah antrean telah mengular. Bukan hanya remaja sebaya mereka, tapi juga keluarga dengan anak-anak kecil yang rewel dan beberapa pasangan dewasa yang tampak tidak sabar.
Secara analitis, Rafi segera menghitung jumlah kepala di depannya.
Satu, dua, tiga... sepuluh... tiga belas.
Antrean ini panjang. Sangat panjang untuk ukuran
wahana yang hanya berdurasi sekitar sepuluh sampai lima belas menit.
"Wah, ramai banget ya, Fi," gumam Nisa. Ia berdiri sedikit lebih rapat di belakang Rafi, mencoba menghindari bahu seorang pria bertato yang baru saja melewatinya dengan terburu-buru.
"Sabar ya, Nis. Kan hari libur, jadi wajar kalau ramai," sahut Rafi. Ia berusaha terdengar tenang, padahal tangannya secara refleks masuk ke saku belakang celana jinsnya.
Di sana, dompetnya masih ada. Tapi rasa cemas
mulai merayap. Irian Kisaran pada hari Sabtu bukan hanya tempat kencan; ini adalah ekosistem yang padat. Dalam kerumunan seperti ini, satu gesekan yang salah atau satu kelengahan kecil bisa berarti bencana. Bagi Rafi, kehilangan uang 295 ribu rupiah yang tersisa (Bab 25) sama saja dengan kehilangan harga dirinya di hadapan Nisa. Ia tidak akan punya ongkos pulang, apalagi uang makan.
Ia menggenggam dompetnya dari luar kain celana. Ia memposisikan tas ranselnya di depan dada—sebuah gestur klasik orang daerah yang sedang waspada di tempat keramaian.
"Nis, tas kamu pegang yang benar ya. Ke depanin aja," bisik Rafi dengan nada protektif.
Nisa menatapnya sebentar, lalu tersenyum tipis dan mengangguk. "Iya, Fi. Aman kok."
Antrean bergerak merayap. Setiap lima menit, hanya dua atau tiga orang yang maju. Hawa di area antrean ini mulai terasa pengap. Rafi bisa merasakan butiran keringat mulai muncul di pelipisnya, meski AC mall masih menderu di atas kepala mereka. Ini bukan keringat karena panas matahari, melainkan keringat kewaspadaan.
Matanya terus bergerak secara skeptis, mengamati orang-orang di sekitarnya. Ada dua remaja laki-laki di belakang mereka yang tertawa terlalu keras, sesekali menyenggol bahu orang lain. Rafi mengerutkan kening. Secara sosiologis, ia tahu bahwa di tempat seperti ini, keributan kecil sering kali menjadi pengalih perhatian bagi aksi copet yang profesional.
Tenang, Rafi. Jangan kelihatan kayak orang susah yang ketakutan kehilangan duit, batinnya mencoba menenangkan diri.
Ia mencoba mengalihkan perhatian dengan menatap papan harga di atas loket.
TIKET 5D: Rp40.000 / Orang.
Rafi menghela napas. Angkanya pas dengan simulasinya di Bab 5. Delapan puluh ribu untuk dua orang. Tapi, secara logis, angka itu terasa sangat mahal untuk hiburan singkat. Delapan puluh ribu rupiah setara dengan delapan hari makan siang nasi garam di sekolah. Delapan hari penderitaan ditukar dengan sepuluh menit duduk di kursi bergoyang.
Apakah ini logis? Sisi kritisnya bertanya.
Ini bukan soal logis, ini soal Nisa, sisi emosionalnya menjawab dengan telak.
Ia melirik ke arah Nisa. Gadis itu sedang melihat poster film yang akan diputar—sebuah film horor pendek tentang rumah hantu. Wajah Nisa menunjukkan campuran antara rasa takut dan penasaran. Bagi Rafi, ekspresi itu adalah konfirmasi bahwa "investasi" delapan puluh ribunya akan memberikan imbal hasil berupa kenangan yang tak terlupakan.
"Kamu berani nonton yang horor, Nis?" tanya Rafi, mencoba mencairkan ketegangan dalam dirinya sendiri.
"Berani dong! Emangnya kamu yang takut?" goda Nisa sambil menyipitkan mata.
"Mana ada. Aku cuma takut kursinya patah pas bagian seramnya," canda Rafi, yang dibalas dengan tawa kecil dari Nisa.
Tawa itu sejenak membuat kerumunan di sekitar mereka terasa lebih jauh. Namun, tepat saat itu, seseorang dari belakang mendorong antrean dengan kasar.
"Woy, maju dong! Lama kali pun!" teriak seorang pemuda berkaus singlet yang tampak emosi karena gerah.
Tubuh Nisa terdorong ke depan, hampir menabrak punggung Rafi. Dengan sigap, Rafi menapakkan kakinya dengan kuat ke lantai ubin, memberikan sandaran bagi Nisa agar tidak jatuh. Tangannya yang satu lagi dengan cepat memegang pinggiran loket untuk menahan beban.
"Hati-hati, Bang. Sabar, semua juga lagi antre," kata Rafi dengan nada tegas namun tidak menantang. Di Tanjungbalai, ia belajar bahwa berteriak balik hanya akan memperpanjang urusan. Tegas adalah kunci.
Pemuda itu hanya mendengus, namun dorongannya berhenti.
Rafi kembali menoleh ke Nisa. "Kamu nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa. Makasih ya, Fi," jawab Nisa, suaranya sedikit gemetar. Tangannya secara tidak sengaja memegang lengan kemeja Rafi selama beberapa detik sebelum dilepaskan kembali.
Sentuhan itu, meski singkat, memberikan suntikan keberanian baru bagi Rafi. Ia merasa seperti penjaga gerbang yang sedang melindungi harta paling berharga. Ia kembali mengecek dompetnya.
Masih aman. Terjepit erat di antara tubuhnya dan tas ranselnya yang dipeluk di depan.
Kini tinggal dua orang lagi di depan mereka. Rafi merogoh sakunya, mengeluarkan selembar uang seratus ribu rupiah yang masih licin—sengaja ia simpan paling rapi. Ia tidak ingin mengeluarkan recehan atau uang kumal di depan kasir loket yang cantik, apalagi di depan Nisa. Ia ingin menunjukkan kesan bahwa ia adalah pria yang "siap".
Saat giliran mereka tiba, Rafi melangkah maju.
"Dua tiket film rumah hantu, Mbak," ujar Rafi sambil menyodorkan uang seratus ribu itu dengan gerakan yang ia usahakan tetap santai.
"Dua orang ya? Delapan puluh ribu. Ini kembaliannya, dua puluh ribu," kata mbak kasir dengan nada monoton, menyerahkan dua carik kertas kecil dan selembar uang dua puluh ribu yang agak lecek.
Rafi menerima kembalian itu, melipatnya dengan cepat, dan memasukkannya ke dalam saku depan—bukan ke dalam dompet. Secara taktis, ia butuh akses cepat untuk uang kecil nanti tanpa harus memamerkan isi dompetnya yang semakin menipis.
"Yuk, Nis. Kita tunggu di sebelah sana," ajak Rafi.
Mereka bergeser ke area tunggu, tepat di depan pintu masuk studio kecil yang tertutup rapat. Dari dalam, terdengar suara teriakan orang dan bunyi mesin yang menderu, disusul dengan suara brak-bruk kursi yang menghantam lantai.
Rafi menarik napas panjang. Fase antrean yang menegangkan sudah lewat. Sekarang tinggal menunggu giliran untuk masuk ke dalam kegelapan studio. Ia menatap tiket di tangannya.
Kertas kecil ini adalah bukti fisiknya yang pertama bahwa rencana "Hari Spesial" ini benar-benar sedang berjalan.
Ia melirik Nisa yang tampak bersemangat, merapikan sedikit kerah bajunya. Rafi tersenyum tipis. Ia tahu, setelah ini, di dalam ruang 5D yang gelap itu, segalanya akan menjadi lebih seru—atau mungkin lebih canggung.
Pandangan Rafi yang tertuju pada pintu studio yang perlahan terbuka, mengeluarkan asap buatan yang tipis, sementara tangannya tetap terjaga di atas saku belakangnya, memastikan bahwa sisa "kekuasaannya" masih tetap aman bersamanya.