Seorang pemuda yang sejak lahir telah ditakdirkan menderita. Bakatnya dicuri, keluarganya dihancurkan, ia dijual sebagai budak. Namun dari abu kehancuran itu, ia bangkit sebagai api yang membakar segalanya.
Xu Hao bukan pahlawan biasa. Ia adalah pemberontak sejati, seseorang yang menolak takdir, menentang kehendak Langit, dan menempuh jalannya sendiri: Dao Pemberontakan. Dengan kekuatan ini, ia mampu melampaui batas-batas kultivasi konvensional, menghancurkan hukum alam, dan bahkan melukai makhluk yang dianggap dewa.
Namun di balik keganasannya, tersimpan luka yang tak pernah sembuh. Cintanya pada Lianxue, gadis yang setia menanti ribuan tahun, menjadi satu-satunya cahaya dalam kegelapan. Dan saat cahaya itu padam, Xu Hao kehilangan segalanya. Enam ribu tahun ia terpuruk dalam kegilaan, hanya mampu menyebut satu nama: Xue'er.
"Ayah ibuku dibunuh. Cintaku mati di pelukanku. Takdir telah mempermainkanku! Kini giliranku mempermainkan takdir."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Di Rawa Kematian
Lima jam kemudian mereka sampai di Rawa Kematian. Udara di sini berbeda, berat dan lembab, bercampur dengan aroma busuk dari tumbuhan yang membusuk. Kabut tipis berwarna abu-abu menyelimuti area, membatasi jarak pandang. Di bawah, rawa luas terbentang dengan genangan air hitam pekat. Gelembung-gelembung gas muncul dan pecah di permukaan, melepaskan bau menyengat.
Xu Hao mendarat di tumpukan tanah keras di antara rawa. Tanah itu cukup luas, sekitar seratus meter persegi, menjadi satu-satunya tempat kering di tengah lautan lumpur beracun. Mei Mei, Jin Bao, dan Jin Yuji mendarat di belakangnya.
Xu Hao memperhatikan area sekitar. Matanya yang tajam menembus kabut, mencoba memahami medan. Telinganya menangkap suara-suara aneh dari dalam rawa. Sesekali, bayangan samar terlihat bergerak di bawah permukaan lumpur.
Ia berbicara pelan, "Menurut ingatan jiwa Dewa Langit yang kulihat, peta menunjukkan keberadaan Lumo ada disekitar sini."
Mei Mei mengamati sekeliling. Kabut membuat pandangan menjadi sulit. Ia mengerutkan kening.
"Lalu, kemana kita pergi, senior?"
Xu Hao diam. Matanya terus mengamati. Kemudian pandangannya tertuju pada sesuatu di kejauhan. Sebatang pohon mati berdiri di tengah rawa, sekitar lima ratus meter dari tempat mereka. Pohon itu kering, tanpa daun, ranting-rantingnya menjulur seperti tangan keriput.
Ia ingin mengerahkan kesadaran ilahinya, mencari keberadaan Lumo. Namun sebelum ia sempat melakukannya—
Dari atas langit, tanpa aba-aba, petir merah pekat menyambar.
Petir itu besar, seukuran pohon kelapa, dengan kilatan merah gelap di dalamnya. Ia melesat turun dengan kecepatan luar biasa, langsung mengarah ke tempat mereka berdiri.
Xu Hao bereaksi seketika. Tubuhnya bergeser cepat, meninggalkan bayangan di tempatnya. Mei Mei, Jin Bao, dan Jin Yuji juga bergerak dengan refleks yang sudah terlatih. Mereka berpencar ke empat arah, menghindari serangan itu.
BUMMM!!!
Petir merah menghantam tanah keras itu. Ledakan dahsyat terjadi. Tanah hancur, pecahan batu beterbangan. Rawa di sekitarnya bergolak, lumpur hitam muncrat ke mana-mana.
Saat debu mulai reda, Xu Hao menatap ke atas. Di langit, sesosok pria melayang. Rambutnya perak panjang, tergerai tertiup angin. Ia mengenakan pakaian hitam bercampur merah, dengan corak rumit di bagian dada dan lengan. Wajahnya dingin, matanya tajam seperti elang.
Raja Dewa bintang delapan.
Itulah Lumo. Namun kali ini ia tidak menggendong peti mati yang ada di lukisan Daftar Hitam.
Xu Hao menatapnya tajam. Dalam hati ia berkata, "Orang ini sangat kuat. Sulit untuk melihat kedalamannya."
Energi di tubuh Xu Hao mulai berkumpul. Kakinya menapak, siap melesat menyerang. Namun sebelum ia bergerak, Mei Mei melompat menghalangi jalannya.
"Tidak, senior! Dialah Senior Lumo!"
Xu Hao terkejut. Ia menatap Lumo lagi, kali ini dengan pandangan berbeda. Jadi ini Lumo, pria yang mereka cari. Namun tampilan nya sedikit berbeda dari lukisan daftar hitam.
Lumo menatap mereka dari atas. Matanya menyipit, mengamati satu per satu. Lalu ia turun perlahan, mendarat sekitar sepuluh meter dari mereka.
Suaranya dingin, "Siapa kalian, dan kenapa datang ke tempat ini?"
Mei Mei, Jin Bao, dan Jin Yuji segera menangkupkan kedua tangan, memberi hormat. Mereka membungkuk dalam.
Mei Mei berbicara dengan hormat, "Maafkan kami jika mengganggu, Senior. Kami datang atas perintah Nenek Yi."
Lumo mendengar nama itu. Wajahnya tetap dingin, tidak berubah. Tapi ada sedikit perubahan di matanya.
"Wanita tua itu," katanya pelan. "Apakah dia sudah mau mati? Sehingga menyuruh anggotanya datang menemuiku?"
Jin Bao menggeleng cepat, hampir kehilangan keseimbangan. "Tidak, Senior! Nenek Yi masih bernafas dan hidup seperti biasanya, namun dia sedang kesulitan saat ini. Jadi dia meminta kami datang."
Lumo mengangkat alis. "Oh? Wanita tua itu bisa juga kesulitan?"
Ia tertawa kecil. Tawa yang dingin, tanpa humor.
Lalu tatapannya berubah. Tekanan dari tubuhnya meningkat, membuat udara di sekitar terasa berat. Matanya yang tajam menatap mereka bergantian, seperti elang mengamati mangsa.
"Sekarang katakan, apa tujuan kedatangan kalian?"
Matanya berhenti pada Xu Hao. Ia menyipitkan mata, mengamati pemuda berjubah hitam itu dengan saksama.
Xu Hao tidak bergeming. Ia menatap balik dengan mata dingin yang sama.
Lumo bertanya, "Dan apakah dia bagian dari kalian?"
Jin Yuji membuka mulut ingin menjawab, tapi Jin Bao cepat menahan lengannya. Mereka tahu, berbicara sembarangan di hadapan Lumo bisa berakibat fatal.
Mei Mei maju selangkah. Ia menangkupkan tangan lagi, lebih dalam dari sebelumnya.
"Jika Senior tidak keberatan, bisakah kita bicara di tempat yang lebih nyaman?"
Ia lalu menoleh pada Xu Hao dengan hormat. "Dan ini Senior Xu Hao. Dia bukan bagian dari organisasi kami. Tapi dia adalah orang sesat, dan harga kepalanya sama seperti Senior, yang beredar di Daftar Hitam."
Lumo mendengar itu. Matanya beralih ke Xu Hao lagi, kali ini dengan rasa ingin tahu.
"Aku tidak pernah melihat Daftar Hitam yang beredar. Karena merasa itu tidak penting." Ia berhenti sejenak. "Tapi sekarang aku jadi penasaran. Tunjukkan padaku Daftar Hitam yang kau punya."
Mei Mei mengangguk. Ia mengeluarkan gulungan kertas hitam dari cincin penyimpanannya, lalu melayangkannya ke arah Lumo dengan hati-hati.
Lumo menangkapnya. Ia membuka gulungan itu, matanya menyusuri setiap detail.
Pertama ia melihat lukisan dirinya. Pria dengan peti mati di punggung, pakaian hitam-merah, wajah dingin. Ia tersenyum tipis.
"Oh. Menarik."
Matanya beralih ke lukisan di sampingnya. Shanmu. Juga dengan peti mati. Alisnya terangkat sedikit.
"Pembawa peti mati juga. Dua orang dengan peti mati. Kebetulan yang aneh."
Lalu matanya beralih ke Xu Hao. Ia membandingkan lukisan itu dengan pemuda di depannya. Beberapa kali matanya bergerak, dari lukisan ke wajah asli, dari wajah asli ke lukisan.
Akhirnya, dengan gerakan santai, ia menggulung kembali kertas itu dan mengembalikannya pada Mei Mei.
Mei Mei menyimpannya dengan cepat.
Lumo berbicara, "Baiklah. Ayo ikuti aku. Kita bicara di tempat yang lebih aman."
Mei Mei, Jin Bao, dan Jin Yuji mengangguk lega. Mei Mei menoleh pada Xu Hao.
"Ayo, Senior."
Xu Hao mengangguk. Mereka berempat mengikuti Lumo yang sudah melesat lebih dulu.
Sepuluh menit kemudian, mereka sampai di sebuah area yang lebih kering. Di tengah rawa, sebuah batu besar berdiri. Batu itu hitam, sebesar rumah, dengan permukaan kasar. Tidak ada yang istimewa.
Lumo berhenti di depan batu itu. "Ayo masuk saja."
Ia melangkah maju, dan tubuhnya menghilang menembus batu itu.
Xu Hao mengamati sebentar. Ada formasi tersembunyi di batu itu. Tempat persembunyian yang bagus.
Ia melangkah maju, diikuti Mei Mei, Jin Bao, dan Jin Yuji. Mereka juga menembus batu itu.
Di dalam, suasana berbeda. Sebuah ruangan luas terbentang, diterangi kristal-kristal bercahaya di dinding. Ada meja batu, kursi-kursi, bahkan ranjang sederhana di sudut. Udara di sini kering dan hangat, jauh berbeda dari luar.
Lumo sudah duduk di kursi utama. Ia menunjuk kursi-kursi di hadapannya.
"Duduk."
Mereka duduk. Xu Hao di kursi depan, tepat berhadapan dengan Lumo. Mei Mei, Jin Bao, dan Jin Yuji di kursi belakang, agak ke samping.
Lumo menatap Xu Hao. Matanya menyipit.
"Jadi kau Xu Hao. Dewa Langit bintang sembilan, tapi auranya seperti Raja Dewa Bintang Lima. Menarik."
Xu Hao tidak menjawab. Ia hanya menatap balik.
Lumo tersenyum tipis. "Kau tidak banyak bicara. Aku suka itu."
Ia beralih pada Mei Mei. "Sekarang ceritakan. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Nenek Yi?"
dan Tahta tertinggi untuk Cinta adalah Cinta kpd Tuhan
"...sepertinya pertarungan kita setahun yang lalu tidak memberikan efek jera padamu"