Bagi orang lain, ia adalah definisi kemandirian yang sempurna. Namun, di balik punggungnya yang tegap, tersimpan luka yang tak pernah dipeluk siapa pun.
Ia tumbuh dalam rumah yang penuh, tetapi merasa seperti yatim piatu di tengah hiruk-pikuknya. Sejak kecil, ia dipaksa menelan rindu pada orang tua yang merantau, hanya untuk kembali dan mendapati dirinya sebagai orang asing yang selalu salah. Tanpa pembelaan, tanpa kasih sayang, ia belajar satu hal: satu-satunya orang yang bisa ia andalkan adalah dirinya sendiri.
Namun, sampai kapan seseorang bisa terus menjadi "langit" yang kokoh tanpa pernah runtuh? Ketika semua keinginan harus dipenuhi sendiri dan setiap air mata harus disembunyikan, ia mulai kehilangan jejak akan perasaannya sendiri.
Di rumah yang seharusnya menjadi pelabuhan, ia justru tenggelam dalam kesepian yang paling sunyi. Mampukah ia menemukan jalan pulang ke dirinya sendiri, ataukah ia akan terus menopang langit itu sampai hancur berkeping-keping?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Vila itu berdiri sunyi di lereng bukit yang dikelilingi pohon-pohon pinus. Kabut tipis mulai turun, membungkus bangunan kayu minimalis itu dalam keheningan yang absolut. Alana menemukan kunci di dalam kotak pos sesuai instruksi Pradipta. Tangannya yang dingin gemetar saat memutar kunci pintu utama.
Begitu pintu terbuka, bau kayu kering dan aroma lavender samar menyambutnya. Tidak ada suara televisi yang menggelegar, tidak ada suara Rian yang mengeluh, dan tidak ada tuntutan Ibu yang menggema. Hanya kesunyian.
Alana meletakkan tasnya di lantai ruang tamu yang beralas karpet bulu. Ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap langsung ke lembah. Di sana, di bawah langit yang mulai menggelap, ia melihat lampu-lampu kota Jakarta di kejauhan—titik-titik cahaya kecil yang mewakili beban yang baru saja ia tinggalkan.
Ia duduk memeluk lututnya di atas sofa kayu di tepi jendela. Awalnya, hanya hening. Namun, kesunyian itu justru menjadi cermin yang paling jujur. Tanpa gangguan orang lain, suara-suara di dalam kepalanya mulai berteriak.
"Kamu anak durhaka karena meninggalkan Ibu."
"Kamu mesin uang mereka, tanpa kamu mereka tidak bisa apa-apa."
"Kamu harus kuat, Alana. Kamu batu karang."
"Aku bukan batu karang..." bisiknya parau. Suaranya pecah di tengah ruangan yang kosong itu.
Tiba-tiba, dadanya terasa sangat panas, seperti ada sesuatu yang mendesak ingin keluar dari ulu hatinya. Alana mencoba menarik napas panjang, namun napasnya tersangkut di tenggorokan. Ia teringat wajah Ayah yang hanya diam, wajah Ibu yang selalu menghitung materi, dan wajahnya sendiri di cermin setiap pagi yang harus selalu tampak sempurna.
Lalu, setetes air mata jatuh.
Hanya satu tetes, namun itu seperti kunci yang membuka gerbang bendungan yang sudah retak selama dua puluh tahun.
Isakan pertama lolos dari bibirnya. Alana menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya berguncang hebat. Tangisan itu bukan lagi sekadar air mata; itu adalah raungan yang tertahan, sebuah ledakan dari rasa lelah yang telah berkarat di dalam jiwanya.
Ia menangis untuk anak sepuluh tahun yang jatuh dari pohon dan tidak ada yang memeluknya.
Ia menangis untuk masa mudanya yang habis untuk membayar cicilan yang bukan miliknya.
Ia menangis untuk setiap "iya" yang ia ucapkan saat hatinya menjerit "tidak".
"Sakit..." rintihnya di sela tangis yang semakin histeris. "Ibu, ini sakit sekali..."
Alana merosot dari sofa ke lantai, meringkuk seperti janin. Ia menangis hingga paru-parunya terasa perih, hingga matanya bengkak dan wajahnya memerah. Semua topeng "wanita karier yang sukses", "kakak yang bisa diandalkan", dan "anak yang berbakti" hancur berkeping-keping di atas lantai vila itu.
Di dalam kesendirian itu, Alana akhirnya mengakui kenyataan paling pahit dalam hidupnya: bahwa selama ini ia tidak sedang membangun masa depan, ia hanya sedang berusaha membeli kasih sayang yang seharusnya ia dapatkan secara cuma-cuma.
Lama ia terisak di sana, sampai energinya habis dan hanya menyisakan napas yang sesenggukan. Keheningan vila itu kini terasa lebih bersahabat, seolah dinding-dinding kayunya bersedia menampung beban kesedihan yang baru saja ia tumpahkan.
Cahaya ponselnya berkedip di atas meja. Sebuah pesan baru masuk. Alana tidak segera meraihnya, ia membiarkan dirinya tergeletak di lantai untuk beberapa menit lagi, menikmati perasaan "kosong" yang anehnya jauh lebih ringan daripada perasaan "penuh" yang selama ini ia pikul.
Saat ia akhirnya meraih ponsel dengan mata yang masih basah, ia melihat pesan dari Pradipta. Bukan instruksi kerja, bukan pula nasihat bijak.
Pradipta: Jangan dihapus air matanya. Biarkan saja. Lantai vila itu cukup kuat untuk menampung semuanya.
Alana memejamkan mata, memeluk ponselnya di dada. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar "pulang", meski ia tidak sedang berada di rumahnya.