Dituduh Cinta karena kesalahan. Rama membuktikan kalau cintanya bukan kesalahan, murni rasa dari mata turun ke hati. Usaha mendapatkan cintanya seolah didukung oleh jagat raya meski berawal dari kesalahpahaman.
“Nggak masalah nikah karena digrebek, yang penting sah.”
“Siapa kamu, berani mencintai seorang Bimantara.”
“Di dunia ini, Rama jodohnya Gita.”
Kisah cinta Rama Purwangga dan Gita Putri Bimantara, jadilah saksi seberapa darurat cinta mereka.
Spin off Bosku Perawan Tua dan Diam-diam Cinta
=== Mohon dengan sangat agar tidak baca dengan melompat bab dan ikuti sampai akhir ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Rencana Gita
Bab 20
Tidak tanggung-tanggung, Rama malah tidur meninggalkan Ida dan ayahnya. Ibunya tidak akan mengikuti keinginan keluarga itu, pasti berpihak padanya menolak usulan ta’aruf. Terjaga siang hari mendekati jam keberangkatannya
“Baru mau ibu bangunin. Pagi-pagi malah tidur.”
“Ngantuk bu, malas nanggepin si Ida. Udah pulang mereka?”
“Udah. Kamu bener sudah punya pacar ‘kan? Ibu tadi bilang begitu, kamu sudah ada calon gak bisa terima permintaan cing Ihsan."
“Ada, bu. Sabar aja, pokoknya aku usahakan jadikan dia menantu ibu. Nggak akan bikin kecewa lah.”
Mira menggeser duduknya mendekat pada Rama, lalu memukul pelan pah4 putranya itu. “Ram, ibu setuju aja dengan pilihan kamu yang penting jangan salah jalan dan jangan bikin malu keluarga. Jaga pula nama baik almarhum bapak kamu.”
“Iya bu, aman.”
“Kamu nunjukin foto pacar kamu sama Ida?”
“Iya, biar dia ngaca nggak usah kepedean ngerengek pengen dinikah. Males aku bu, ngadepin yang kayak gitu. Pokoknya kalau ada lagi modelan Ida dan Cing Ihsan lainnya, nggak usah ditanggapi.”
“Nggak ditanggapi juga datang mulu, Pak RW kalau ketemu masih aja niat jodohin anaknya sama kamu. Ya udah kamu siap-siap dulu deh. Makan dulu sebelum jalan ya.”
“Siap, ibu suri.”
Rama masih terpaku ditempatnya fokus dengan ponsel, tersenyum mendapatkan kabar dari Gita. Foto selfienya dan keluhan kegiatan magang yang baru beberapa jam.
“Anak manja suruh kerja, ya begini jadinya.”
***
Gilang sedang berdiskusi dengan asistennya saat pintu ruangan diketuk dan masuklah Gita. Sempat melirik sekilas, Gita menuju sofa lalu bersandar sambil memeluk bantal.
“Siap, pak. Makan siang mau saya pesankan atau mau keluar pak?”
“Git, mau makan di mana?”
“Nggak lapar, kak. Aku capek.”
“Pesenin aja ya. kayak biasa sekalian buat si rese itu,” tunjuk Gilang pada adiknya.
“Baik, pak.”
“Kak, aku istirahat di sini ya. Ternyata kerja itu berat, nggak kebayang dulu mama jadi wanita karir.”
Gilang menggeleng meski fokusnya pada layar laptop mendengarkan keluhan dari adiknya.
“Baru magang dan hari pertama udah ngeluh aja. Gimana kalau magang di luar. Dulu Moza magang di Go TV, ujungnya nikah sama Dewa.”
“Harusnya aku magang di SM, biar bisa nikah juga sama Abang,” gumam Gita.
“Apa Git? Mau nikah juga kamu, emang udah ada pacar? Siapa pria ketiban si4l dapetin anak manjanya papa sama mama.”
“Sorry, aku nggak dengar,” seru Gita fokus dengan ponsel dan Gilang malah terkekeh.
...Pretty angel...
Sesil : Girl, besok malam ya. Gita, jangan sampai nggak datang
***
“Masih mau lanjut magang?” tanya Arya dan Sarah tersenyum mendapati Gita bergabung di meja makan sambi menguap. Tentu saja aktivitas magang putrinya itu sudah sampai ke telinga Sarah dan Arya. Terkapar di ruang kerja Gilang setelah makan siang dan tidak kembali ke mejanya.
Bahkan Edric sempat kelimpungan mencari keberadaan Gita yang tidak menjawab telpon, nyatanya sedang tidur.
“Iya, masihlah. Aku nggak mau ngulang lagi tahun depan. Mau cepet lulus.”
“Udah lulus mau apa sayang? Lanjut S2?” tanya Sarah dan Gita menggeleng.
“Mau belajar bisnis ah, tapi yang santai atau jadi ibu rumah tangga aja kayak mama, Kak Rindu, Kak Moza dan Kak Maira.” Gita terkekeh sendiri dengan mimpinya itu.
Arya menarik nafas. Sudah seserius itu ‘kah hubungan Gita dengan kekasihnya.
“Oh kamu mau nikah? Nanti Papa carikan laki-laki yang cocok buat kamu.”
“ih, ogah ya. Jaman apa ini pake dijodohkan segala, aku bisa cari sendiri,” tutur Gita menolak rencana Arya. “Oh iya, malam ini aku izin nginap di tempatnya Rani ya. Dia ultah mau adakan piyama party.”
“Harus nginap?” tanya Sarah khawatir.
“Rani itu siapa?”
“Temen kuliah aku pah.” Gita menyebutkan apartemen tempat tinggal Rani. “Cewek semua kok dan kita Cuma berlima aja. Boleh ya mah, pah, lagian besok weekend aku libur magang. Minta Pak Iwan tungguin di parkiran kalau nggak percaya. Besok pagi langsung pulang deh.”
“Sayang ….”
“Mah, please, boleh ya. Kapan sih aku diizinin bisa gaul sama temen. Sampai sekarang nggak ada tuh temen dekat, kalau pergi kemana-mana selalu sama kalian atau kak Moza dan Kak Mada.” Gita cemberut sambil menunduk.
Arya dan Sarah saling tatap seakan saling berbicara apa mereka terlalu mengekang putrinya itu.
“Sayang,” panggil Sarah mendapati Gita menyusut air mata. “Mas.”
“Aku berangkat ya.” Gita beranjak meninggalkan sarapannya yang belum selesai.
“Gita, duduk!”
“Udah siang, nanti kejebak macet.”
“Papa bilang duduk, dulu!”
Gita menghela nafas lalu kembali duduk. Masih enggan menatap orangtuanya dan menunduk.
“Papa dan Mama bukan tidak izinkan kamu bergaul, hanya membatasi saja. Tau sendiri pergaulan zaman sekarang seperti apa, kami tidak mau kamu salah jalan. Oke, papa izinkan. Dengan syarat Pak Iwan mengantar dan tunggu sampai besok pagi.”
“Serius?” Wajah yang murung langsung berubah antusias.
“Hm. Jaga diri kamu dan jangan khianati kepercayaan kami.”
“Makasih ya. Aku sayang kalian.” Gita menghampiri Sarah lalu memeluknya kemudian berpindah pada Arya melakukan hal yang sama.
***
“Mbak, kabari saya kalau ada apa-apa. Saya tunggu di mobil di basement,” ujar Iwan mengantar Gita sampai ke lobby.
“Iya, aku cuma di unit kok.”
Tidak lama Rani datang lalu mengajaknya ke atas. Tidak berani menoleh ke belakang karena orang kepercayaan sang papanya itu pasti masih berada di sana.
“Akhirnya boleh juga lo keluar malam.”
“Bukan boleh, aku izinnya nginap di tempat kamu. Kalau tahu kita mau keluar bisa diseret pulang kali.”
Rani terkekeh. “Segitunya ya orangtua lo.”
Sampai di apartemen Rani, sudah ada Bela dan Leni yang sedang memoles wajah mereka.
“Git, lo bisa pake baju gue aja. pilih sendiri.” Rani menunjuk lemarinya.
Gita saat ini menggunakan kaos dan jeans dilapisi hoodie, bahkan di tasnya malah berisi piyama sesuai izinnya dan hadiah yang dia beli bersama Rama. Sarah memastikan di tasnya ada obat dan inhaler, tidak mungkin ia menyisipkan pakaian lain.
Pilihannya jatuh pada dress tanpa lengan berbahan satin dengan aksen wrap tali pita di pinggang. Lengkap dengan heels dan memoles tipis wajahnya dengan make up.
“Wow, lo cantik banget Git. Si Arlan bisa ngiler ini mah,” cetus Bela lalu tergelak.
“Arlan diundang juga?”
“Ya iyalah. Ayo, jalan sekarang yuk,” ajak Rani. “Supir lo parkir di basement lobby ya? Tenang aja, dia nggak akan tahu kalau majikannya ini malah kabur.”
Jantung Gita berdebar tidak biasa. Ada khawatir dan takut menjadi satu, karena sudah berbohong pada orangtuanya demi bisa ngumpul dan gaul dengan teman-temannya. Ponselnya bergetar, ternyata ada pesan dari Rama
...Abang Rama❤️...
Sayang, udah tidur ya?
Kangen nih, pengen nelpon kamu tapi shift aku selesai jam 10
Gita membaca pesan itu dari jendela pop up, tidak berani membukanya apalagi menyampaikan kalau dia ada di luar sedang menuju ke klub malam.
\=\=\=\=\=\=\=
jadi deg2an 🤣🫣
nah itu gita plek keteplek duplikat🤭
cicak aja kalah bang
Gak taunya Gita udah jadi istri Rama
Semoga Rama ataupun Gita bisa terhindar dari niat jahat Arlan
dah tau pake nanya 🤭
orang tua kalian juga kalau tau kelakuan kalian begitu pasti kecewa 😔
denger arlan orang baik mah pasangannya sama orang baik, nah situ maniak cewe dapetnya juga tar yang sama kaya kamu 😏