melda, seorang wanita muda yang di hantui kematian tragis kakak nya bernama wulan. dan bertekad membalas dendam kepada agung perdana Kusuma putra konglomerat dan pewaris Kusuma grup yang telah menghamili dan menolak bertanggung jawab hingga membuat wulan depresi dan mengakhiri hidupnya. namun ditengah rencana balas dendam yang matang. melda justru terjebak dalam pusaran perasaan yang menguji batas antara cinta dan dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ches$¥, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perlahan melupakan
Angin malam itu tidak membawa jawaban. Hanya membawa dingin yang makin menebal.
Beberapa minggu setelah pesan tentang kemenangan lomba kuliner itu, Agung berubah,bukan menjadi lebih hangat, tetapi justru sebaliknya. Jika sebelumnya ia masih menyimpan retakan di dalam hatinya, kini ia memilih membekukannya sepenuhnya.
Ia berhenti berjalan ke gang kecil tempat warung Wulan berdiri. Ia berhenti membuka buku catatan yang berisi namanya.dan Ia menghapus foto Wulan dari ponsel, bukan karena sudah lupa, tetapi karena terlalu ingat.
Dan sejak hari itu, Agung memutuskan satu hal, "jika dunia hanya menghargai uang dan status, maka ia akan menjadi orang yang paling kuat dalam dunia itu". ucap nya dalam hati.
Ruang rapat perusahaan keluarga kini menjadi tempat yang paling sering ia datangi. Ia duduk di ujung meja panjang, jas hitamnya selalu rapi, sorot matanya dingin dan terukur. Tidak ada lagi Agung yang ragu. Tidak ada lagi Agung yang mempertanyakan keputusan orang tuanya.
“Investasi itu tidak menguntungkan. Tutup saja,” katanya suatu pagi dengan suara datar.
Direktur lama yang dulu dekat dengannya terdiam. “Tapi, Tuan Agung?!… ada ratusan pekerja?!”
“Perusahaan bukan panti asuhan!!!,” potongnya. “Kita bicara angka, bukan perasaan!.” ketua agung
Kalimat itu terdengar seperti gema dari masa lalu. Persis seperti kalimat ayahnya dulu.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa bersalah mengucapkannya.
Orang tuanya mulai tersenyum bangga. Mereka melihat Agung yang kini tegas, rasional, dan tidak lagi membicarakan “cinta” atau “kebahagiaan sederhana”. Ia hadir di pesta-pesta elite, berdiri di antara pebisnis besar, tertawa seperlunya, berbicara seperlunya.
Wanita-wanita dari keluarga terpandang mulai diperkenalkan padanya.
Anak pengusaha properti,
Putri politikus terkenal,
Model yang sering tampil di majalah bisnis.
Agung menyambut mereka dengan sopan, dengan senyum yang presisi. Ia tidak lagi mencari kehangatan. Ia menilai seperti ayahnya menilai proposal investasi.
Cantik,
Latar belakang bagus,
Keluarga kuat,
Aset jelas.
Hatinya? Tidak relevan.
Suatu malam di pesta besar hotel berbintang, seorang wanita bertanya dengan lembut, “Apa yang membuat Anda bahagia, Agung?”
Ia terdiam sepersekian detik.
Lalu menjawab, “Stabilitas.”
Jawaban itu terdengar sempurna.
Dan kosong.
Sementara itu, kabar tentang Wulan sesekali masih sampai ke telinganya dari obrolan tak sengaja, dari berita kecil di media lokal tentang usaha kuliner yang berkembang, dari orang-orang yang mengenalnya dulu.
Wulan dan Melda membuka kedai baru.
Wulan mendapat penghargaan wirausaha muda.
Kedai mereka ramai setiap malam.
Agung membaca berita itu sekal,
Lalu menutupnya.
“Bagus,” gumamnya tanpa ekspresi.
Namun malamnya, ia tidak tidur.
Ia berdiri di depan jendela kamar besar itu, menatap kota yang gemerlap. Lampu-lampu tampak seperti lautan emas. Dulu ia menganggap pemandangan itu indah. Sekarang ia melihatnya sebagai angka.
Berapa nilai gedung itu,
Berapa harga tanah itu,
Berapa keuntungan proyek di sana.
Ia mulai mengukur dunia dalam rupiah.
Dalam saham.
Dalam persentase.
Dan anehnya, semakin besar angka yang ia kumpulkan, semakin kecil sesuatu di dalam dirinya terasa.
Suatu hari, ayahnya berkata dengan bangga, “Kamu sudah jauh berubah, Agung. Kamu tidak lagi lemah oleh perasaan.”
Agung tersenyum tipis. “Perasaan tidak menghasilkan apapun, Yah.”
Kalimat itu membuat ayahnya tertawa puas.
Tapi saat Agung sendirian di kamarnya malam itu, ia duduk di tepi ranjang dan menyadari sesuatu yang mengganggunya, ia sudah tidak bisa lagi mengingat dengan jelas bagaimana rasanya tertawa tanpa beban.
Kenangan di apartemen, didapur, Dan di ranjang saat bersama dengan wulan,
Suara Wulan memanggil namanya dengan nada sangat lembut.
Semua terasa seperti mimpi lama yang kabur.
Ia mencoba mengingat wajah Wulan tanpa bantuan foto.
Senyumnya mulai samar,
dan Suaranya mulai memudar.
Dan untuk sesaat, ada kepanikan kecil yang muncul.
Apakah ia benar-benar akan kehilangan itu semua?
Dengan cepat ia berdiri, membuka laptop, dan kembali menenggelamkan diri dalam laporan keuangan. Grafik naik turun lebih mudah dipahami daripada rasa kehilangan.
bulan berganti.
Agung semakin dikenal sebagai pewaris muda yang brilian dan kejam dalam bisnis. Media menyebutnya visioner. Investor memujinya. Orang tuanya semakin yakin bahwa keputusan memisahkannya dari Wulan adalah langkah yang benar.
Tapi ada satu hal yang tak pernah mereka lihat.
Setiap kali Agung melihat pasangan tertawa di restoran sederhana, ada jeda sepersekian detik dalam langkahnya.
Setiap kali ia mencium aroma gorengan di pinggir jalan saat mobilnya berhenti di lampu merah, dadanya terasa sesak.
Namun ia selalu memalingkan wajah.
“Tidak penting,” bisiknya pada diri sendiri.
Ia mengajarkan dirinya untuk percaya bahwa cinta hanyalah distraksi.
Bahwa kasta menentukan arah hidup.
Bahwa dunia memang dibangun atas dasar uang.
Dan jika ia tidak bisa memiliki kehangatan, maka ia akan memiliki kekuasaan.
Suatu malam yang sangat sunyi, setelah menandatangani kesepakatan bisnis terbesar dalam hidupnya, Agung berdiri lagi di balkon rumah mewah itu.
Angin tetap dingin.
Lampu kota tetap gemerlap.
Rumah tetap megah.
Ia telah mendapatkan semuanya.
Tapi saat ia mencoba merasakan kemenangan itu, tidak ada yang bergerak di dalam dadanya.
Tidak ada bangga.
Tidak ada bahagia.
Tidak ada apa-apa.
Hanya ruang kosong yang lebih luas dari sebelumnya.
Ia menatap ke bawah, ke jalanan kota yang jauh. Di antara ribuan cahaya, ada satu apartemen kecil yang tak terlihat dari ketinggian, tempat ia pernah merasa hidup.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, sebuah pertanyaan muncul lagi, lebih tajam dari sebelumnya:
Jika semua ini sudah kumiliki…
mengapa aku tetap merasa kalah?
Namun kali ini, Agung tidak langsung menepis pertanyaan itu.
Ia berdiri lebih lama.
Membiarkan dingin menyentuh kulitnya.
Membiarkan sunyi berbicara.
Dunia telah mengajarinya menilai segalanya dengan uang.
Tapi jauh di dalam hatinya yang membeku, ada retakan kecil yang belum tertutup sepenuhnya.
Dan retakan itu… mulai terasa.
Retakan itu tidak langsung memecahkan es di hatinya. Ia hanya bergetar pelan, seperti suara kecil yang tak ingin diakui. Agung kembali ke rutinitasnya, rapat, kontrak, ekspansi cabang baru, Ia membeli perusahaan kecil tanpa ragu, menutup usaha yang tak menguntungkan tanpa menoleh ke belakang. Dunia baginya hanyalah grafik dan angka.
Namun setiap kali mendengar kata kuliner, ada sesuatu yang mengusik.
Suatu pagi, sekretarisnya menyerahkan proposal kerja sama sponsor untuk festival makanan kota. Logo perusahaan keluarga Agung diminta menjadi pendukung utama. Ia membaca daftar peserta dengan wajah datar hingga matanya berhenti pada satu nama.
Wulan & Melda Kitchen!!
Tangannya menegang, tapi ekspresinya tetap tak berubah. “Setujui,” ucapnya singkat.
Hari festival tiba. Agung datang bukan sebagai mantan kekasih, melainkan sebagai investor utama. Jasnya rapi, langkahnya pasti. Ia berjalan melewati stan-stan kecil dengan tatapan profesional, menilai presentasi, potensi pasar, kemungkinan ekspansi.
Lalu ia melihatnya.
Wulan berdiri di balik meja kayu sederhana, mengenakan celemek cokelat, tertawa bersama pelanggan. Tidak ada kemewahan di sana, hanya kehangatan yang dulu pernah ia miliki. Aroma gorengan tempe dan sambal terasi memenuhi udara, menampar kenangan yang selama ini ia tekan.
Wulan menoleh.
Pandangan mereka bertemu.
Tidak ada senyum dramatis. Tidak ada tangis. Hanya keheningan panjang yang penuh sejarah.
Agung melangkah mendekat, membawa proposal kerja sama bernilai miliaran. “Bisnis kalian bisa berkembang lebih cepat,” katanya tenang. “Dengan sistem yang tepat.”
Wulan menatapnya lama. “Dan dengan harga apa?”
Pertanyaan itu menggantung.
Di tengah keramaian festival, di antara sorak pengunjung dan kilatan kamera, Agung merasakan sesuatu mencair atau mungkin justru pecah.
Ia bisa memilih angka.
Atau memilih sesuatu yang tak bisa dihitung.
Tangannya masih memegang proposal itu.
Dan untuk pertama kalinya, ia ragu apakah uang benar-benar bisa membeli jawaban.
Suka aku sama kaliamat nya kk kaya puisi apalagi kalo bacanya pake Nada.