NovelToon NovelToon
Titik Penghubung

Titik Penghubung

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: prasetya_nv

sebuah kehancuran adalah sebuah derita bagiku, seperti kutukan akan kelakuan berat masa laluku. nyatanya itu hanyalah sebatas prasangka. _Ailavati Keysa Maharani.

wajah datar tampak acuh adalah penguat ku, aku terlalu takut untuk dikasihani sebagai alasan pertemanan ku. hidupku telah luluh lantah atas kehancuran.~Alga Mahensa Putra

Di sinilah kisahku dimulai.
Aku Aila Putri cantika yang memiliki trauma akan masalalu, yang di pertemukan dengannya Alga Mahensa Putra.

Pria yang memiliki parasa tampan dan berwajah datar.
Akankah Aku bisa bersamanya?
Apakah ego kita yang akan sama sama menyakiti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetya_nv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

traumaKu

Di bawah guyuran yang semakin deras aku menangis meraung raung dan berlari ke luar rumah mengejar langkah sang kakak yang tak pernah goyah. Aku terlihat pilu karena  kakak yang tak mendengarkanku. Di susul mama yang sedari tadi menahan tangis dan pura pura tegar untuk tidak luluh dengan anaknya yang sekarang lagi merajuk pergi dari rumah.

Berbagai upaya agar aku bisa mencegah kakaknya tidak pergi namun impian itu sirna. Karena sang kakak pun memilih pergi jika harus tertekan di dalam rumah  yang seperti penjarah.

Aku berpikir bahwa rumah yang dulu sangat nyaman dan aman kini menjadi sangat suram. Rumah yang dulu penuh tawa kini menjadi dingin. Aku berjuang sendirian dari kata sepi yang mendera.

Hari itu, hujan sangat lebat tapi tidak menyamarkan teriakan  mama dengan kak

"Mama terlalu egois. Mama terlalu memaksaku" Ucap Aksara dengan keras kepada mama. Aku meringkuk di sudut sofa ruang tamu dengan talut takut. Mataku tak henti hentinya menitihkan air mata.

" Kak, cita citamu itu hanyalah hal main main. Mama mempersiapkan kamu menjadi seorang pembisnis kak. Hanya kamu kak yang kelak gantikan papa. Bukan adek, adek terlalu lemah untuk semua itu. Kamu kak anak laki laki mama. Jangan anggap mama egois kak tapi ini demi kebaikan kita. " Jawab sang mama menjelaskan semuanya. Mencoba memberi pengertian pada anak sulungnya.

" Itu bukan mau mama tapi itu ambisi mama, perusahaan tampa aku akan baik baik saja ma. Aksa tidak tertarik untuk itu. Jelas itu bukan kemauan Aksa." Aksa marah dan berteriak kepada sang mama. Aku ingin bersuara tapi tertahan. Aku memandang Aksara dengan perasaan takut.

Teriakan mereka terdengar semakin memanas, sedangkan aku hanya bisa terduduk diam di sofa itu. Sambil menangis tersedu. Mama dan kakak adalah orang yang sama sama keras kepala. Aku takut dengan teriakan mereka. Setiap nada tinggi yang terlontar. Aku semakin terduduk meringkuk dengan ketakutanku.

Aku yang seorang putri raja yang di perlakukan dengan kelembutan harus bertarung dengan hentakan sang mama setiap hari. Kakakku yang dulu adalah orang penurut kini berubah menjadi orang yang selalu mewalawan kehendak sang mama.

Aksara yang mungkin capek dengan tuntutan sang mama memilih untuk pergi dengan membawa tas besar di punggungnya. Sebelum dia pergi dia menoleh padaku dan tersenyum untuk menenangkanku yang mungkin psikisnya akan terguncang. Tanpa kata dia terus melangkah tanpa menoleh walaupun di belakangnya aku berteriak meraung raung. Aku tidak ingin di tinggalkannya.

" Mama jahat, mama hanya ingin menang sendiri. Ila tidak bisa hidup tanpa kakak dan sekarang kakak pergi dari Ila. " Teriakku di tengah tangis piluku. Aku bergegas pergi dari halaman rumah  dan kembali masuk ke kamarku karena yang ku kejar telah hilang dari jangkauanku. Dia benar benar meninggalkanku. Kini aku sendirian.

Aksara pergi membawa dampak yang sangat besar untukku  yang kini semakin  malang. Mama yang setiap saat kerja tanpa mempedulikanku. Aksara lah yang mengurus semua keperluanku hingga kini tanpanya, aku merasa kosong.

Nafasku semakin menderu hebat ketika mimpi buruk itu kembali lagi. Aku yang semula mulai stabil harus merasakan dimana hari yang paling berat untuk kedua kalinya. Lagi lagi mimpi itu kembali Aksara yang malam itu meninggalkanku di bawah guyuran hujan lebat.  Mama yang sekarangku anggap kejam terus terlintas di pikiranku. Aku takut semakin memenci mama, apa yang di lakukan mama bagiku  itu sia sia. Karenanya lah kini aku harus berpisah dengan Aksara.

Dengan sempoyongan aku bangun dari ranjangku menuju kamar mandi cuci muka bercermin di sana. Air terasa dingin saat menyentuh permukaan wajahku Mukaku terlihat pucat dan kusut. Rasa gusar kini mendera tubuhku yang tidak terkontrol.

" Tidak jangan tinggalkan  aku Ayah. "

"Mama ayah kesakitan mama"

" Tolong ayah mama"

" Jangan pergi kak, Ila takut sendiri tanpa kakak"

"Mama jahat kakak pergi. "

Ucapan itu terus berputar putar bising di kepalaku  hingga membuatku semakin hilang kesadaranku. Kini aku jatuh terduduk. Tanganku bergetar hebat. Tubuhku meringkuk dan jantungku berdetak tak beraturan.

" Tidak, tidak"

"Jangan pergi, aku sendirian"

"Aku takut "

"Ayah gak boleh tinggalin Ila".

Kata kata itu berputar dalam pikiranku. Aku menutup mataku. Tapi itu semakin terlihat jelas. Nyata, bukan bayangan.

Itu jelas bayangan. Dia berhalusinasi.

Mamaku yang mendengar sayup sayup suara dari balkon kamarnya bergegas datang untuk memastikan apakah aku baik baik saja. Tapi yang di lihat kembali aku yang lemah dan aku yang kehilangan kendali atas diriku membuat dia panik. Pikirannya sekarang hanyalah bagaimana cara membawa ku ke rumah sakit dalam kondisi seperti itu tanpa orang lain.

" Ai sadar sayang mama di sini. Tarik nafas perlahan hembuskan. Ulangi sampai kamu tenang Ai. " Ucap mamanya dengan nada khawatir.

Meskipun dia keras padaku dia sangat tidak bisa melihatku yang hancur. Wajah mama memucat melihatku seperti ini. Dia mencoba membuatku tenang. Tapi dia terlalu lemah untuk itu.

" Aku baik baik saja" Dengan wajah pucat dan menepis tangan mama. Aku dengan tertatih bergegas menjauh dari mama. Aku berpura pura baik baik saja walaupun mama  mengetahui bahwa aku tidak baik baik saja.  Tubuhku bergetar hebat saat ini. Aku merangkak meninggalkan dinding lembab itu menuju kamarku. Aku harus bisa, mama tidak baik baik saja melihatku seperti ini. Dia ikut terguncang.

Setelah memastikanku tenang mama keluar dari kamar. Dia menoleh dari ambang pintu memastikan aku baik baik saja. Aku tersenyum tipis, meyakinkan nya. Aku butuh tenang, dia harus pergi.

Pintu kamar mulai tertutup saat mama mulai meninggalkanku. Aku mencoba bangun dari tempat tidurku dengan tertatih. Laci itu harus ku gapai.

" Dimana itu?" Aku bergumam sambil mengobrak abrik laci itu. Aku terus mencarinya. Tubuhku tidak tidak bisa menunggu lama.

Krriiiet... Pintu kamarku terbuka dengan tiba tiba. Mama berdiri di sana sambil membawa benda itu.

"Mama, aku membutuhkan itu." Aku berkata lirih memandangnya dengan tatapan memohon.

"Aku tahu." Mama melangkah dan mengambil satu butir isi dari botol itu untukku. Aku menelan rakus.

" Sudah waktunya, La. " Mama berbicara menatapku. Aku paham betul maksudnya. Aku mengangguk mengiyakan.

" Jam 5 sore besok." Katanya memberi tahuku. Aku ingin protes, tapi sepertinya memang harus segera. Aku belum siap.

"Mau sampai kapan?" Mama memberiku pertanyaan yang aku sendiri tidak tahu akan menjawab apa. Aku selalu tidak siap.

Aku kembali di titik lemah yang ku sembunyikan. Aku terlalu nyaman berbohong. Aku takut untuk jujur.

"Aku takut Ma, kalau ini tidak berakhir. " Aku menjawabnya dengan sendu. Air mataku menetes tanpa bisa ku cegah. Mama datang memelukku dan menenangkanku.

" Kamu pasti sembuh." Kata kata yang singkat. Entah aku akan percaya atau sebaliknya. Tapi aku sekarang tenang. Rasa itu hangat menjalar ke hatiku. Aku ingin waktu berhenti berdetak kali ini. Ini yang kurindukan.

"Maaf, mama belum jadi mama yang sempurna." Dia memelukku erat, kasih sayang mama ada. Ini bukan mimpi. Ini nyata.

                              ****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!