NovelToon NovelToon
Idol Di Balik Pintu Kosan

Idol Di Balik Pintu Kosan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Amnesia / Idol / Komedi
Popularitas:431
Nilai: 5
Nama Author: PutriBia

Javi, center dari grup LUMINOUS, jatuh dari balkon kosan Aruna saat mencoba kabur dari kejaran fans. Bukannya kabur lagi, Javi malah bangun dengan ingatan yang kosong melompong kecuali satu hal yaitu dia merasa dirinya adalah orang penting yang harus dilayani.
Aruna yang panik dan tidak mau urusan dengan polisi, akhirnya berbohong. Ia mengatakan bahwa Javi adalah sepupunya dari desa yang sedang menumpang hidup untuk jadi asisten pribadinya. Amnesia bagi Javi mungkin membingungkan, tapi bagi Aruna, ini adalah kesempatan emas punya asisten gratis untuk mengerjakan tugas kuliahnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Roti Sobek

Malam di kampung halaman Aruna biasanya hanya diiringi suara jangkrik, tapi malam ini atmosfernya terasa seberat beban tugas Layouting semester akhir. Setelah perdebatan panjang mengenai Gayung Emas dan status Pacar Tersertifikasi, padahal Aruna masih belum menganggap Javier pacar, tapi Bapak Aruna akhirnya mengeluarkan titah final.

"Le Javier, karena Bapak masih curiga kamu ini sebenernya agen rahasia atau sales barang antik yang nyasar, kamu tidur di ruang tamu," ujar Bapak sambil menunjuk kursi rotan panjang yang alasnya sudah agak cekung.

"Jangan coba-coba sinkronisasi masuk ke kamar Aruna, atau Bapak sinkronisasikan kamu sama golok di dapur."

Javier berdiri tegak, masih dengan kemeja perak dan kacamata renang yang kini ia gantungkan di leher seperti jimat.

"Sistem saya menerima tantangan instalasi ruang tamu ini, Bapak. Kursi rotan ini akan saya anggap sebagai kursi first class dalam penerbangan menuju hati Aruna."

Aruna menyelinap keluar kamar saat orang tuanya sudah mendengkur. Dia mendapati Javier sedang duduk bersila di atas kursi rotan, mencoba membungkus dirinya dengan kain sarung kotak-kotak sampai ke kepala, persis seperti pocong yang sedang kedinginan.

"Javi... masih bangun?" bisik Aruna.

Kepala Javier muncul dari balik sarung. Mata indahnya tampak sedikit nanar di bawah lampu kuning 5 watt.

"Aruna... sistem saya mengalami kegagalan fungsi. Kursi ini memiliki tekstur yang sangat menantang tulang belakang saya. Dan ada unit-unit kecil bersayap yang mencoba menyuntikkan virus ke leher saya."

Aruna menahan tawa. Dia mendekat dan meletakkan obat nyamuk bakar di bawah kursi.

"Namanya nyamuk kebun, Javi. Sini, aku bawain bantal tambahan."

Saat Aruna membetulkan letak bantal yang agak keras itu, jemari dingin Javier tiba-tiba melingkar di pergelangan tangan Aruna. Gerakannya pelan, namun sanggup menghentikan aliran napas Aruna seketika. Suasana komedi yang sedari tadi mendominasi mendadak menguap ke udara malam, digantikan oleh ketegangan magnetis yang membuat ruang tamu itu terasa jauh lebih sempit.

​"Aruna," suara Javier merendah, berat dan serak, terdengar tulus tanpa satu pun istilah teknis konyol atau diksi kloningan yang biasanya ia gunakan.

"Terima kasih sudah membiarkan saya masuk ke duniamu yang berbau rendang dan lele ini. Di Menteng, semuanya terasa sangat... steril. Kosong. Di sini, meskipun punggung saya harus berduel dengan rotan kursi ini, saya merasa baterai saya benar-benar terisi penuh hanya dengan melihatmu."

​Aruna tertegun. Jantungnya berdegup tidak keruan, menatap wajah idola dunia itu dari jarak yang sangat dekat hingga ia bisa melihat pantulan dirinya di manik mata Javier yang jernih. Namun, sedetik kemudian, kenyataan pahit menghantam logikanya. Aruna perlahan menarik tangannya, meski Javier seolah enggan melepasnya.

​"Gombal," bisik Aruna, suaranya sedikit bergetar.

"Javi, sadar nggak sih apa yang kamu omongin? Kamu itu Javier LUMINOUS. Kamu punya dunia yang berkilau, sementara aku... aku cuma mahasiswi DKV yang bajunya sering kena cat dan sibuk mikirin cicilan kosan. Perbedaan kita itu bukan cuma soal status, tapi soal semesta yang nggak akan pernah bisa sinkron."

​Aruna menatap lantai, tak berani menatap Javier.

"Apa kamu yakin ini beneran perasaan? Atau cuma karena sistemmu lagi error karena bosan di Jakarta?"

​Javier tidak menjawab dengan kata-kata. Sebaliknya, ia menarik napas panjang, lalu bergerak mendekat hingga kening mereka bersentuhan. Aruna bisa merasakan deru napas Javier di kulit wajahnya hangat dan beraroma mint.

​"Aruna, dengar," ucap Javier, kali ini tangannya berpindah menyentuh pipi Aruna, jemarinya mengusap lembut helai rambut yang berantakan.

"Mungkin bagi dunia saya adalah produk yang harus sempurna. Tapi di depanmu, saya cuma pria yang merasa tenang karena dipukuli pakai penggaris besi. Status itu cuma label, tapi getaran di sini..."

Javier menuntun tangan Aruna dan meletakkannya tepat di dada kirinya, di mana jantungnya berdegup sangat kencang.

"...ini bukan kode program. Ini nyata."

​Javier memejamkan mata sejenak, menikmati keheningan di antara mereka sebelum akhirnya memberikan kecupan sangat singkat namun lembut di dahi Aruna. Kecupan yang terasa seperti janji, bukan sekadar akting di depan kamera.

​"Tidurlah, Majikan," bisik Javier kembali ke mode manjanya, mencoba mencairkan suasana yang terlalu dalam.

"Besok pagi saya butuh energi ekstra untuk mandi di sumur sebelum Bapakmu datang membawa golok."

​Aruna tersenyum kecil, meski hatinya masih diliputi tanya.

"Tidur sana. Kalau besok kamu teriak pas kena air dingin, aku nggak tanggung jawab ya."

Keesokan paginya, matahari baru saja mengintip. Aruna terbangun oleh suara ember yang beradu dengan dinding sumur.

KLANG! KLANG!

"Aduh, si Javi beneran mandi di sumur?!" gumam Aruna panik.

Dia segera berlari ke arah sumur di samping rumah, khawatir Javier tenggelam atau malah mencoba mengajak bicara jin penunggu sumur.

Namun, langkah Aruna terhenti mendadak di balik pohon mangga. Pandangannya langsung terkunci pada sebuah pemandangan yang tidak seharusnya ada di pedesaan yang asri itu.

Javier baru saja selesai mandi. Dia berdiri di samping sumur tua, hanya mengenakan celana kain hitam dan kacamata renang biru yang bertengger di keningnya. Dia bertelanjang dada.

Tetesan air sumur yang dingin mengalir di atas kulitnya yang seputih porselen, melintasi otot dada yang bidang dan perut six-pack atau yang sering disebut fansnya sebagai roti sobek premium yang berkilau terkena cahaya matahari pagi. Rambut peraknya yang basah berantakan, memberikan kesan liar yang sangat kontras dengan wajah kalemnya.

Aruna mematung. Visual idola papan atas bertemu dengan estetik sumur kampung.

"Aruna? Apakah Anda sedang melakukan prosedur inspeksi pagi?" tanya Javier datar, menyadari kehadiran Aruna.

Dia mengusap air di wajahnya dengan gerakan yang sangat pelan dan maskulin.

"J-javi! Pakai bajumu! Ini bukan lokasi syuting video klip!" teriak Aruna sambil menutupi matanya dengan tangan, tapi jarinya sengaja sedikit direnggangkan.

"Kenapa? Sistem saya butuh pengeringan alami. Radiasi matahari pagi sangat baik untuk menjaga elastisitas otot k—"

Tiba-tiba, suara batuk yang sangat keras terdengar dari arah pintu dapur. Bapak Aruna berdiri di sana, memegang gelas kopi, dengan mata membelalak melihat pemandangan internasional di samping sumurnya.

"ASTAGA! LE JAVIER! KAMU MAU PAMER OTOT SAMA SIAPA?!" teriak Bapak Aruna hingga kopinya nyaris tumpah.

"Ini sumur umum, Le! Kalau gadis-gadis tetangga atau Ibu-ibu pengajian lewat, bisa pingsan massal mereka liat kamu kayak begini!"

Javier langsung melakukan pose guard secara refleks, seolah-olah otot perutnya bisa melindunginya dari omelan Bapak.

"Maaf, Bapak! Saya pikir ini adalah zona privasi kloningan!"

"Privasi apa?! Cepat pakai sarungmu! Aruna, kamu juga! Kenapa malah melongo liatin roti sobek? Masuk! Goreng tempe sana!"

Aruna langsung kabur ke dapur dengan wajah merah padam, sementara Javier sibuk mencari-cari kemejanya sambil tetap memakai kacamata renang yang kini malah meluncur turun menutupi hidungnya.

Pagi itu, seluruh desa mungkin tidak tahu, tapi sumur tua di belakang rumah Aruna baru saja menjadi saksi bisu konser visual paling eksklusif yang pernah dilakukan oleh seorang Javier LUMINOUS.

1
Indhira Sinta
bagus
falea sezi
/Curse//Curse/ada aj
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!