Raka Adiyaksa adalah definisi nyata dari "Sobat Misqueen". Mahasiswa biasa yang rela makan mie instan diremas setiap akhir bulan demi menabung untuk gebetannya, Tiara. Namun, pengorbanannya dibalas dengan pengkhianatan. Di malam konser yang seharusnya menjadi momen pernyataan cintanya, Raka justru melihat Tiara turun dari mobil mewah milik Kevin, anak orang kaya yang sombong, sementara Raka ditinggalkan sendirian di trotoar GBK dengan dua tiket yang hangus.
Di titik terendah hidupnya, saat harga dirinya diinjak-injak, sebuah suara mekanis berbunyi di kepalanya.
[DING! Sistem Sultan Gacha Tanpa Batas Telah Diaktifkan!]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Lidah Sultan dan Skandal Salah Panggil
|Private Suite - Tom's by Tom Aikens\, The Langham Jakarta|
Pintu ganda dari kayu mahoni terbuka, menampilkan sebuah ruangan privat yang kemewahannya membuat siapa pun yang masuk merasa harus mengecek saldo rekening dulu sebelum bernapas.
Ini adalah Private Dining Room terbaik di The Langham.
Dindingnya didominasi oleh kaca floor-to-ceiling yang menyajikan panorama Jakarta secara telanjang. Dari ketinggian lantai 62, gedung-gedung pencakar langit di kawasan SCBD terlihat seperti miniatur yang disusun rapi. Di kejauhan, bundaran Stadion Gelora Bung Karno terlihat ikonik, sementara arus lalu lintas di Jalan Jenderal Sudirman bergerak lambat seperti aliran sungai cahaya.
"Silakan, Pak Raka," ucap Manajer Lobi dengan sangat hormat, menarik kursi utama di ujung meja bundar marmer itu.
Raka duduk dengan santai, seolah dia sudah makan di sini setiap hari sejak lahir.
Sementara itu, Randy dan teman-temannya yang tadi sempat sombong di lobi kini terlihat menciut. Mereka duduk dengan kaku, takut salah tingkah. Randy, yang biasanya berisik pamer jam tangan KW-nya, sekarang diam seribu bahasa. Matanya tak henti-hentinya melirik kartu hitam The Langham Infinite yang tergeletak santai di meja, tepat di samping iPhone 15 Pro Max Raka.
Kartu itu memancarkan aura dominasi yang membungkam segala kesombongan.
"Ayo, duduk. Jangan kaku gitu, kayak lagi sidang skripsi aja," canda Raka sambil membuka serbet kain linen.
Gilang, Sindy, Lia, dan Hani duduk mengelilingi meja. Mata Sindy berbinar-binar menatap pemandangan di luar jendela.
"Gila..." bisik Sindy pada Hani. "Ini view-nya mahal banget, Han. Kalau foto di sini terus di-upload, dikira gue simpenan pejabat kali ya?"
Hani menyikut lengan Sindy. "Hush! Jangan malu-maluin. Jaga image."
Pelayan datang membawakan menu. Raka tidak membukanya.
"Mas," panggil Raka pada pelayan. "Keluarin aja Signature Dishes dari Chef Tom buat kita semua. Appetizer-nya Foie Gras, Main Course-nya Wagyu Tenderloin MB9+, terus Dessert-nya yang ada emas-emasnya itu. Minumnya Equil sama Mocktail buah yang paling seger."
"Siap, Pak Raka," pelayan itu mencatat dengan sigap tanpa bertanya harga.
Randy menelan ludah. Wagyu MB9+? Itu satu porsinya bisa sejuta lebih. Di sini ada 8 orang (termasuk rombongan Randy yang diajak Raka karena "kasihan"). Totalnya bisa puluhan juta.
"Eh, Raka..." Randy mencoba buka suara, nadanya sudah tidak searogan tadi. "Ini... lo beneran yang bayar? Kita nggak perlu patungan kan? Soalnya gue nggak bawa cash banyak."
Raka menatap Randy sambil tersenyum tipis. "Santai, Bro. Gue yang ngajak, gue yang bayar. Simpen aja duit lo buat bayar parkir."
Jleb. Kalimat itu halus tapi menohok.
Tak lama kemudian, parade makanan dimulai. Piring-piring cantik berisi mahakarya kuliner mulai memenuhi meja. Aroma truffle dan daging panggang premium memenuhi ruangan, membuat perut semua orang berkeruyuk.
"Makan, Guys. Jangan sungkan," Raka mempersilakan.
Mereka pun mulai makan. Suasana yang tadinya kaku perlahan mencair karena kenikmatan makanan.
Sindy memotong daging steak-nya yang empuk seperti mentega. Begitu masuk mulut, matanya langsung merem melek.
"Enak banget..." desahnya pelan. "Dagingnya lumer..."
Sementara para cowok (Gilang dan teman-teman Randy) mulai sibuk mengobrol soal bola dan game untuk menutupi kecanggungan, para cewek mulai berbisik-bisik.
Hani menyenggol bahu Sindy lagi. "Sin, lo liat nggak sih?"
"Liat apaan?" tanya Sindy sambil mengunyah truffle fries.
"Itu loh, Kak Raka," bisik Hani sambil melirik Raka yang sedang ngobrol santai dengan Gilang. "Dari tadi dia sering banget ngelirik ke arah lo. Tatapannya beda."
"Masa sih?" Sindy menoleh sedikit.
Tepat saat itu, Raka sedang melihat ke arahnya. Mata mereka bertemu. Raka tersenyum tipis, lalu mengangkat gelasnya sedikit seolah bersulang untuk Sindy.
Deg!
Jantung Sindy berdetak kencang. Wajahnya memerah. Dia buru-buru memalingkan wajah, pura-pura minum.
"Tuh kan!" Hani memekik tertahan. "Dia naksir lo, Sin! Sumpah!"
"Apaan sih, Han. Jangan geer deh," elak Sindy, padahal dalam hati dia juga merasakan hal yang sama. "Dia kan emang ramah sama semua orang."
"Ramah gundulmu," cibir Hani. "Lo liat dia ke si Randy tadi? Dingin banget. Tapi ke lo? Manis banget. Lagian pikir deh, dia punya Black Card hotel ini, mobilnya McLaren (kata Gilang tadi), ganteng, muda. Ini tuh definisi Prince Charming di dunia nyata, Sin!"
Sindy terdiam. Memang benar. Raka adalah paket lengkap.
"Tapi..." Sindy menggigit bibir bawahnya, teringat sesuatu. "Gue... gue lagi deket sama seseorang, Han."
Hani melongo. "Hah? Siapa? Perasaan lo jomblo karatan bareng gue."
Sindy mendekatkan bibirnya ke telinga Hani, berbisik dengan nada bangga sekaligus rahasia.
"Ada... Gue baru dapet 'Papi' online."
"Hah?! Papi?! Sugar Daddy?!" Hani nyaris tersedak air minumnya. "Lo... lo jual diri, Sin?!"
"Sembarangan lo!" Sindy mencubit Hani. "Bukan gitu! Ini di aplikasi live streaming gue. Kemarin malem ada Sultan gabut, namanya akun 'Sultan Raka'. Dia nyawer gue gila-gilaan, Han. Puluhan juta dalam semalem! Cuma buat gue panggil 'Papi'."
Hani menatap Sindy dengan tatapan tidak percaya. "Puluhan juta? Serius?"
"Serius! Gue sampe bisa bayar kost lunas plus beli skincare mahal bulan depan," Sindy terkekeh bangga, membusungkan dadanya yang 36C itu. "Makanya gue lagi semangat banget nih. Rasanya hidup gue cerah kembali."
Hani menatap temannya dengan prihatin campur penasaran. "Terus? Si 'Papi' itu minta macem-macem nggak? Ati-ati loh, biasanya yang royal gitu minta jatah."
"Nggak kok," Sindy menggeleng polos. "Dia cool banget. Nggak minta video aneh-aneh, nggak minta ketemuan yang menjurus. Cuma minta dipanggil Papi doang. Aneh kan?"
"Aneh banget," Hani menyipitkan mata. "Lo punya chat-nya nggak? Liat dong. Gue mau mastiin lo nggak lagi dijerumuskin ke sindikat perdagangan manusia."
"Ih, jangan!" Sindy langsung mendekap tasnya posesif. "Privasi, Han! Nanti kalau ketauan gue manja-manja di chat, hancur reputasi gue sebagai mahasiswi cool."
"Halah, cool apaan. Makan kue sus belepotan aja cool," ledek Hani.
Sementara itu, di seberang meja, Raka yang memiliki pendengaran tajam bisa mendengar samar-samar percakapan mereka.
"Papi online... Sultan Raka..."
Raka menahan tawa mati-matian. Dia memotong daging steak-nya dengan senyum geli. Dasar bocah. Dia nggak sadar 'Papi'-nya lagi duduk di depan dia sambil makan daging sapi.
Satu jam kemudian, sesi makan siang mewah itu berakhir. Piring-piring sudah bersih. Perut mereka kenyang dengan makanan kualitas bintang lima.
"Bill, Mas," panggil Raka.
Pelayan datang membawa map kulit berisi tagihan. Randy memanjangkan lehernya, penasaran dengan total harganya.
Raka membuka map itu.
Total: Rp 18.500.000,-
Delapan belas juta lima ratus ribu rupiah. Hanya untuk makan siang.
Randy menelan ludah kasar. Itu seharga motor matic baru. Gilang matanya mau keluar. "Ka... lo... lo yakin?"
Raka mengeluarkan kartu debitnya.
"Gesek."
Beep. Transaksi Berhasil.
Detik berikutnya, panel sistem muncul di hadapan Raka, hanya dia yang bisa melihatnya.
|DING!| |Skill Pasif Terpicu: CRITICAL CASHBACK!| |Kondisi: Mentraktir orang yang meremehkan Tuan Rumah (Face Slapping) + Makan bersama Calon "Anak".| |Reward Multiplier: 10X (Sepuluh Kali Lipat)!|
|Pengeluaran: Rp 18.500.000| |Cashback Masuk: Rp 185.000.000|
Ponsel Raka bergetar di saku. [BCA: Transfer masuk Rp 185.000.000]
Raka menyeringai lebar. Makan gratis, kenyang, dapet hormat, eh malah dapet duit 160 juta lebih. Bug sistem ini benar-benar ilegal saking enaknya.
"Oke, Guys. Udah kenyang kan?" tanya Raka sambil berdiri.
"Kenyang banget, Bro. Thanks ya," kata teman Randy dengan tulus, memuja Raka).
Randy berdiri dengan canggung. Harga dirinya sudah rata dengan tanah. "Thanks, Ka. Kapan-kapan... gue yang traktir deh. Di... ya di tempat biasa aja."
"Siap. Kabarin aja," jawab Raka santai.
Randy dan rombongan borjuis KW-nya pun pamit undur diri. Mereka berjalan cepat keluar restoran, tidak betah berlama-lama di dekat aura dominan Raka.
Gilang juga berdiri, menggandeng Lia. Dia memberikan kedipan mata nakal ke arah Raka, lalu melirik ke arah Sindy dan Hani.
"Ka, gue sama Lia mau nonton bioskop dulu nih di lantai bawah. Quality time pacaran," kata Gilang dengan kode keras. "Lo... bisa tolong temenin Sindy sama Hani nggak? Kasian mereka kalau pulang sendiri, takut diculik om-om."
Cakep lo, Lang. Pengertian banget, batin Raka.
"Boleh. Santai aja," jawab Raka.
Gilang dan Lia pun pergi, meninggalkan Raka bersama dua gadis cantik itu.
Sindy dan Hani berdiri di hadapan Raka. Ada kecanggungan yang manis.
"Ka Raka..." Sindy memulai pembicaraan, matanya menatap Raka dengan binar kekaguman. "Makasih banget ya makanannya. Sumpah, ini steak paling enak yang pernah aku makan seumur hidup. Aku jadi ngerasa kayak... putri raja."
"Sama-sama, Sindy. Seneng liat kamu makannya lahap," kata Raka lembut.
"Iya... eh..."
Tiba-tiba, otak Sindy mengalami korsleting. Kombinasi antara rasa kenyang, kekaguman pada sosok Raka, dan chatting* semalam dengan 'Papi Raka', membuat lidahnya terpeleset fatal.
Dia berniat bilang: "Makasih Kak Raka." Tapi yang ada di otaknya adalah: "Makasih Papi."
Hasilnya?
"Makasih ya, Pap... eh! Maksudnya Kak! Kak Raka!"
HENING.
Hani melotot horor ke arah Sindy. Anjir, keceplosan! Sindy langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Wajahnya merah padam, lebih merah dari saus tomat. Panasnya menjalar sampai ke telinga.
Mampus gue! Mampus! Kenapa gue panggil dia Papi?! jerit batin Sindy.
Raka? Raka harus menggigit bagian dalam pipinya agar tidak tertawa terbahak-bahak. Ekspresi panik Sindy itu... priceless. Sangat menggemaskan.
Raka memutuskan untuk menggoda sedikit. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekatkan wajahnya ke wajah Sindy yang sedang panic attack.
"Pap?" Raka menaikkan satu alis. "Kamu mau panggil saya apa tadi? Papa?"
"Bukan! Bukan!" Sindy mengibaskan tangannya panik. "Itu... salah ngomong! Lidah aku keseleo! Maksudnya... Pak! Eh, Kak! Aduuh..." Sindy ingin menghilang ditelan bumi rasanya.
"Hmm..." Raka tersenyum miring, tatapannya jahil. "Nggak apa-apa kok kalau mau panggil Papi. Cocok juga."
DUAR! Otak Sindy meledak. Kakinya lemas. Dia... dia malah ngebolehin?
Hani di sebelahnya cuma bisa geleng-geleng kepala. Fix, temen gue udah gila dan cowok ini menikmati kegilaannya.
"Udah, jangan merah gitu mukanya. Lucu tau," kata Raka, menegakkan tubuhnya kembali. "Sekarang kalian mau kemana? Mau pulang, atau?"
Sindy berusaha menormalkan detak jantungnya. "Ki-kita nggak ada kelas sih sore ini. Rencananya mau liat-liat baju di bawah, sekalian cuci mata. Kak Raka gimana?"
"Kalau gitu bareng aja. Gue juga kebetulan mau cari baju," ajak Raka santai.
"Boleh."
"Beneran, Kak?"
Kedua gadis itu langsung menyahut berbarengan, wajah mereka penuh dengan kejutan dan kegembiraan.