NovelToon NovelToon
Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romansa pedesaan / Perjodohan / Pernikahan Kilat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:59.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kiara Valeska Pratama, desainer muda berbakat lulusan terbaik Jakarta tak pernah menyangka hidup glamornya akan runtuh hanya karena satu kata, perjodohan. Dijodohkan dengan anak Pak Kades dari desa pelosok, Kiara memilih kabur ke Bali dan mengabaikan hari pernikahannya sendiri.

Baginya, menikah dengan pria kampungan yang hidup di desa kumuh adalah mimpi buruk terbesar. Namun, Kiara tak tahu satu hal. Pria desa yang ia remehkan itu adalah Alvar Pramesa, dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri yang meninggalkan karier gemilang demi kembali ke desa, merawat orang tuanya dan mengabdi pada tanah kelahirannya. Pernikahan tanpa kehadiran pengantin wanita menjadi awal dari konflik, gengsi, dan benturan dua dunia yang bertolak belakang. Gadis kota yang keras kepala dan pria desa yang tenang namun tegas, dipaksa hidup dalam satu atap.


Akankah cinta tumbuh dari perjodohan yang penuh luka dan salah paham?
Atau justru ego Kiara akan menghancurkan ikatan yang terlanjur terjalin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Kiara Valeska Pratama tidak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir atau justru dimulai dengan cara sekejam ini.

Di saat gaun putih seharusnya melekat di tubuhnya, Kiara justru tertawa lepas di atas pasir putih Bali. Kacamata hitam bertengger manja di wajah cantiknya, minuman dingin di tangan kanan, dan suara musik pantai berdentum tanpa peduli pada satu fakta penting, hari ini ia seharusnya menikah.

“Cheers! Liburan terakhir sebelum jadi istri pria kampung,” ucap Kiara sambil mengangkat gelas, disambut tawa sahabat-sahabatnya.

Tak satu pun dari mereka tahu atau peduli bahwa di sebuah desa pelosok, jauh dari gemerlap Jakarta dan Bali, seorang pria tengah duduk kaku di depan penghulu, menahan rasa terhina yang tak pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Alvar Pramesa menggenggam kedua tangannya erat di pangkuan. Wajahnya keras, tatapannya kosong menembus lantai rumah sederhana yang hari itu dipenuhi tamu. Dia tidak pernah membayangkan pernikahannya akan berlangsung tanpa mempelai wanita.

“Var…” suara Pak Yono, ayahnya, terdengar pelan namun penuh tekanan. Pria tua itu duduk di kursi roda, tubuhnya belum sepenuhnya pulih sejak kecelakaan mobil saat rapat antar-kades beberapa bulan lalu.

Alvar menoleh. “Aku tidak mau, Pak,” ucapnya tegas.

“Pernikahan itu sakral. Kalau dia tidak datang, berarti dia tidak menghargai ini semua.”

Di hadapannya, Tuan Rahmat Pratama dan Nyonya Melati Valeska duduk dengan wajah penuh rasa bersalah. Mereka datang dari Jakarta, berpakaian rapi dan elegan, bahkan terlalu mencolok di tengah rumah desa yang sederhana.

Melati menunduk. “Kami mohon maaf sebesar-besarnya, Alvar,” ucapnya lirih. “Kiara … sudah membuat janji liburan jauh hari dengan sahabatnya. Dia manja sejak kecil. Kami yang salah mendidiknya.”

Alvar mendengus pelan, dalam hati ia menilai gadis itu bahkan belum ia temui, namun sudah berani meremehkan sebuah ikatan suci.

“Kalau begitu,” ucap Alvar dingin, “kenapa harus dipaksakan?”

Pak Yono mengetukkan tongkatnya ke lantai. “Karena Ayah percaya pada sahabat Ayah,” katanya tegas.

“Dan Ayah percaya pada kamu, Var. Kamu pria yang bertanggung jawab.”

Sulastri, ibu Alvar, menggenggam tangan anaknya dengan mata berkaca-kaca.

“Ibu tahu ini berat. Tapi pernikahan bukan soal hari ini saja. Ini soal masa depan.”

Alvar menutup mata, dalam hidupnya, ia telah menolak banyak hal dan karier gemilang sebagai dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri, tawaran rumah sakit besar, kehidupan mewah kota dan itu semua demi kembali ke desa, mengurus sawah dan ternak orang tuanya. Namun, kali ini harga yang harus ia bayar terasa terlalu mahal.

Akhirnya, ia mengangguk. Ijab kabul pun berlangsung dengan wali nikah adalah ayah Kiara sendiri. Satu tarikan napas, satu kalimat sakral, dan satu ketukan palu penghulu Alvar Pramesa resmi menjadi suami Kiara Valeska Pratama.

Seorang istri yang bahkan belum pernah ia lihat wajahnya.

Selesai acara, Tuan Rahmat menyerahkan selembar kertas kecil berisi nomor ponsel.

“Ini nomor Kiara,” katanya. “Besok siang dia akan berangkat ke desa.”

Pak Yono tersenyum lega. “Ayah titipkan Kiara padamu, Var. Ayah yakin dia akan betah di sini.”

Alvar menatap nomor itu lama. Jika gadis kota itu menganggap pernikahan ini main-main, maka hidup di desa akan mengajarinya arti tanggung jawab yang sebenarnya.

Malam turun perlahan di Pantai Bali, membawa angin asin dan cahaya rembulan yang menggantung pucat di langit. Kiara duduk di atas pasir, lututnya didekap, gaun tipisnya berkibar pelan diterpa angin laut.

Di sampingnya, Yoga menatap Kiara tanpa berkedip, tatapan yang sudah terlalu ia kenal. Tatapan seorang pria yang merasa memiliki.

“Aku tetap akan menikah, mungkin sekarang memang udah sah jadi istrinya.” ucap Kiara akhirnya, suaranya datar seolah membicarakan hal yang sama sekali tak penting.

“Dengan pria desa itu.”

Yoga terdiam sesaat, lalu tersenyum tipis. “Tapi kamu tetap milikku,” katanya pelan, nyaris seperti bisikan yang menyatu dengan debur ombak.

Kiara menoleh. “Aku mencintaimu, Yoga. Pernikahan itu bukan pilihanku. Itu urusan orang tuaku.”

Nada suaranya yakin bahkan keras kepala. Seolah perasaan bisa berdiri sendiri tanpa konsekuensi.

Yoga mendekat, jarak di antara mereka menghilang perlahan. Pria itu mengangkat tangan, mengecup kening Kiara dengan lembut, lalu pipinya. Kiara tak menepis dan matanya terpejam, membiarkan dirinya larut dalam kehangatan yang familiar.

Bibir mereka bertemu dan awal yang manis, singkat, dan penuh rasa rindu. Namun, ketika Yoga mencoba melangkah lebih jauh, tubuh Kiara menegang dan dia mendorong dada Yoga pelan tapi tegas.

“Jangan,” katanya.

 “Aku belum siap.”

Yoga mundur, jelas terkejut. “Aku minta maaf,” ucapnya, meski sorot matanya menyimpan sesuatu yang tak sepenuhnya bisa disembunyikan dan kekecewaan, mungkin juga ego yang terluka.

Gerimis turun tiba-tiba, tipis dan dingin.

“Kiara! Masuk! Hujan!” teriak Delia dari arah hotel.

Lala ikut melambai. “Ayo, nanti kamu sakit!”

Kiara berdiri. “Aku masuk dulu,” katanya pada Yoga. Mereka berpisah di bawah cahaya rembulan yang kini tertutup awan. Delia merangkul bahu Kiara, menyeretnya masuk ke arah kamar.

“Kamu dingin,” gumamnya.

Namun, di tengah jalan, Lala berhenti. “Aku ke lobi sebentar ya, pesan makanan.”

“Titip cokelat panas,” kata Delia tanpa curiga. Kiara pun tak menoleh lagi.

Pantai kembali sepi, hanya sisa-sisa hujan dan bayangan pohon kelapa yang bergoyang.

Yoga masih di sana.

“Kasihan ya,” suara Lala terdengar manja saat ia mendekat.

“Besok lusa dia istri orang.”

Yoga menoleh. “Apa maksudmu?”

Lala tersenyum miring, mendekat tanpa ragu. “Kiara nggak akan pernah bisa jadi apa yang kamu mau. Tapi aku…” ia berhenti tepat di hadapan Yoga, “aku bisa.”

Senyum Yoga mengembang pelan dan ia tak mundur. Di bawah pohon kelapa, dua bayangan menyatu. Ciuman mereka berbeda, hangat, tajam, dan tanpa ragu.

Dan di saat itulah Kiara kembali, dia turun tergesa, menyadari ponselnya tertinggal di meja pantai. Tangannya meraih benda itu lalu tubuhnya membeku.

Di kejauhan, di bawah cahaya lampu taman yang redup, Kiara melihatnya. Dada Kiara terasa sesak. Napasnya tertahan, dunia seakan runtuh dalam satu detik.

“Yoga!” teriaknya, suaranya pecah.

Pria itu menoleh, mata mereka bertemu sekilas saja. Namun, Kiara tak menunggu penjelasan. Ia berbalik dan berlari, meninggalkan pantai, meninggalkan malam, dan meninggalkan cinta yang ia pikir masih ia genggam.

Di belakangnya, ombak terus bergulung seolah menertawakan kebohongan yang baru saja terungkap.

“Kiara, jangan sekarang,” Delia memegangi lengan Kiara yang sibuk memasukkan pakaian ke dalam koper. “Tolong … pulang besok pagi saja. Kamu masih emosi.”

“Lepasin, Del,” sahut Kiara dingin. Tangannya tak berhenti. Setiap helai pakaian yang dilemparkan ke dalam koper seolah membawa serta sisa perasaannya yang hancur.

“Kita bisa bicara baik-baik. Yoga pasti—”

“Cukup.” Kiara menutup koper dengan keras. “Aku nggak mau dengar nama itu lagi. Pesan tiket sekarang!”

Dia menyeret koper keluar kamar, tak peduli Delia yang terus memohon di belakangnya. Langkah Kiara mantap, wajahnya dingin, namun matanya memerah menahan luka yang belum sempat kering.

Begitu sampai di lobi hotel, langkah Kiara terhenti, Yoga berdiri di sana.

Yoga langsung mendekat. “Kiara, dengar dulu penjelasanku—”

“Penjelasan apa?” potong Kiara tajam. “Aku melihatnya sendiri.”

Lala berdiri kaku, namun Kiara menatapnya dengan pandangan yang membuat dada Lala sesak dan dingin, terluka, dan penuh kekecewaan.

“Untuk kamu,” ucap Kiara pada Yoga, “hubungan kita selesai.”

Ia mengalihkan tatapan pada Lala. “Dan untuk kamu … persahabatan kita juga berakhir.”

Lala membuka mulut, namun tak satu kata pun keluar. Yoga meraih tangan Kiara, tapi Kiara langsung menepis.

“Jangan sentuh aku.”

Delia maju ke depan, menahan napas. “Kiara, Aku nyusul besok setelah urus penginapan.”

Kiara tak menjawab. Dia masuk ke dalam taksi, menutup pintu tanpa menoleh lagi. Mobil melaju menuju bandara, meninggalkan Bali bersama luka, pengkhianatan, dan sisa-sisa cinta yang runtuh dalam satu malam.

Dua jam kemudian, Jakarta menyambut Kiara dengan sunyi yang menusuk. Dia turun dari taksi yang berbeda, menyeret kopernya masuk ke rumah besar yang selama ini selalu terasa dingin meski megah. Baru beberapa langkah, lampu ruang tamu menyala.

Orang tuanya ada di sana.

“Papa?” suara Kiara tercekat.

Tuan Rahmat berdiri. Wajahnya keras, matanya menyala oleh amarah yang ditahan terlalu lama.

Plak!

Tamparan itu mendarat telak di pipi Kiara.

“Kamu sudah mempermalukan Papa!” bentak Rahmat.

“Kabur ke Bali saat hari pernikahanmu sendiri!”

Kiara terhuyung, namun tetap berdiri. “Pa—”

“Untung suamimu mau melanjutkan pernikahan itu!” lanjut Rahmat. “Kalau tidak, nama keluarga kita sudah hancur!”

Kiara menoleh ke arah ibunya. “Mama … aku—”

Melati memalingkan wajah. Suaranya dingin, datar.

“Sudah cukup, Kiara. Kamu anak gadis. Jangan terus buat malu Papa dan Mama. Masalah yang kamu buat sudah terlalu banyak.”

Kata-kata itu lebih menyakitkan daripada tamparan tadi.

“Besok pagi,” Rahmat melanjutkan, “sopir akan mengantarmu ke desa, ke tempat suamimu tinggal.”

Kiara tertawa kecil dan getir. “Jadi … aku benar-benar dinikahkan?”

Akhirnya, Kiara mengangguk pelan. “Baik,” katanya lirih. “Aku berangkat besok.”

Kiara duduk di tepi ranjang, lampu kamar redup, menyisakan bayangan panjang di dinding. Di jemarinya, secarik kertas kecil terlipat rapi nomor ponsel yang diberikan papanya tadi malam.

Alvar Pramesa, nama itu tertera singkat, tanpa hiasan. Kiara menatap angka-angka itu lama, lalu terkekeh pelan.

“Kita lihat saja,” gumamnya lirih, suara bercampur lelah dan luka, “sampai kapan kamu bisa bertahan jadi suami dari seorang Kiara Valeska.”

Senyum smirk terukir di bibirnya, tipis, dingin, dan penuh tantangan.

1
hasatsk
setelah di simak,, seru juga ceritanya
Ni'mah azzahrah Zahrah
Kiara yg enak, aku yg tegang thor
Lilis Yuanita
aduh keringetan😄😄
Gadis misterius
Ini nanti darius yg jd duri liht dech krn klu setiap hr bertmu bklan ada rs nyaman
Eva Karmita
orang yang kalem ternyata bisa agresif juga ya 😅😅
biby
POV alvar : siapa sih.. ganggu aja, g tau apa org lg berusaha baikan
outhor nih selalu aja g suka liat alvar seneng
Aisyah Alfatih: sabar ya kak 🤭 kasih bonus deh nanti bab selanjutnya 🤭
total 1 replies
Nar Sih
ungkapan cinta juga cemburu ahir nya keluar dri hti alvar yg berahir dgn ciuman yg mungkin awal dri kebahagiaan kalian ,
Ika Wahyuni
wah itu pasti mamanya Kiara yg datang disaat tidak tepat 🤭
iza
up lgi thor
Naufal Affiq
dengar kan omongan orang tua mu kiara,jangan dengar cakap orang belum tentu benar
Nar Sih
hamil di luar nikah kok bangga ,🤣
Naufal Affiq
kau tau lala,pembantu lebuh tinggi lagi di banding kan kau,yang gak ada harga diri,yang hamil di luar nikah,bangga banget kamu,gaya manusia gak berpendidikan kalau ngomong
Teh Euis Tea
yeyyy nganggu aj deh yg ketuk pintu🤭
Ariany Sudjana
betul kata ibumu Kyara, kalau kamu bercerai dengan dokter Alvar, dimana lagi kamu akan menemukan suami seperti dokter Alvar? sudahlah lupakan semua masa lalu kalian, mulai dengan lembaran baru, dan jangan kasih celah buat Darius masuk Kyara, juga Hesty jufa jangan pak dokter Alvar
Wiwi Sukaesih
ahh ganggu aj sgla ad iklan ngetok pintu🤭
Resa05
up kayak gini terus yah min
dyah EkaPratiwi
maaf ya pak dr diganggu sebentar
iqha_24
Ternyata Alvar agresif juga, kira orangnya pendiam malu2 🤭
Lilis Yuanita
mmh...🤭🤭
Cindy
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!