Kirana Yudhoyono, aktris kelas bawah yang hampir kehilangan segalanya, tak sengaja menyelamatkan seorang anak trauma bernama Kael dari insiden berbahaya di sebuah gudang bar. Tindakannya menarik perhatian ayah Kael—Bryan Santoso, CEO SantoPrime yang dingin dan berkuasa. Terpesona oleh kedekatan Kirana dengan putranya, Bryan menawarkan balas budi yang tak masuk akal: pernikahan kontrak.
"Aku menyelamatkan putramu bukan untuk menikahimu, Tuan Bryan!"
"Tapi Kael membutuhkanmu, dan aku... hanya menerima hubungan dengan pernikahan sebagai syaratnya."
*saya baru mencoba untuk menulis genre seperti ini, semoga anda sekalian menyukainya ☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demene156, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Jebakan Aruna
Di tengah hutan pinus yang menjulang tinggi, kabut tipis menyelimuti tanah berumput basah oleh embun pagi. Sinar matahari menembus rimbunan daun, menciptakan pilar cahaya magis yang menambah kesan dramatis set kolosal itu.
Dua wanita berdiri saling berhadapan di jalan setapak lebar, siluet mereka tampak jelas saat bias cahaya menembus celah pepohonan.
Yenara Lestari mengenakan kebaya putih tulang, selembar songket melingkar rapi di pinggangnya, rambut tersanggul dengan perhiasan perak dingin. Matanya memancarkan kekhawatiran yang tulus.
"Laura Pitaloka, aku bisa mengerti pembalasanmu atas kematian saudaramu, tapi membunuh Putri Maheswari saja tidak cukup bagimu?" tanya Yenara, nadanya bergetar. "Apakah kau ingin seluruh kerajaan hancur karena amarahmu?"
Laura Pitaloka, dengan kebaya merah tua berornamen emas, melangkah maju. Kebaya panjangnya berkibar tertiup angin seolah nyala api menari. Pandangannya tajam, sedingin es.
"Keluarga Pitaloka-lah yang meletakkan fondasi kerajaan ini. Jadi… apa salahnya jika aku meruntuhkannya sekarang?" jawab Laura, suara rendah dan mengancam.
"Wah… kau terlalu sempit pikirannya! Kau seorang jenderal, pelindung negeri! Apakah kau rela melihat rakyat menderita karena dendammu sendiri?" seru Yenara, wajah memerah oleh amarah.
Laura menundukkan kepala, rambut hitam panjangnya berayun lembut. Jari-jari tangannya menelusuri hiasan kuku emas dengan perlahan.
"Setelah aku tiada, bencana besar akan menyapu kerajaan ini…" bisiknya, ramalan gelap yang membuat bulu kuduk berdiri.
Dari balik kerumunan kru, Sutradara Galang menatap layar monitor, matanya berbinar penuh kegembiraan.
"Sempurna…" gumamnya pelan, takut memecah suasana magis.
Penulis Larasati, yang sengaja hadir di lokasi, menghela napas lega.
"Sebenarnya, peran yang paling saya curahkan bukan Yenara, tapi Laura Pitaloka," ujarnya kepada tim produksi.
"Laura bukan penjahat murni. Penonton bebas menafsirkan. Semua tergantung bagaimana aktris memerankan karakternya. Kalau aktingnya gagal, dia cuma penjahat yang dibenci. Tapi kalau tepat… kedalamannya luar biasa!"
Kirana—pemeran Laura—jelas masuk kategori terakhir. Ia berhasil memberi jiwa pada karakter itu.
Galang tersenyum lebar.
"Aku punya firasat kuat bahwa Kirana akan menang penghargaan untuk peran ini!"
Produser Argo Surya mengangguk, menambahkan,
"Dia benar-benar prospek besar. Starlight mungkin kehilangan Qiana Putri, tapi Kirana muncul sebagai keuntungan luar biasa!"
Proses syuting berlanjut. Kru menyiapkan peralatan adegan fisik, kamera diposisikan ulang untuk menangkap setiap gerakan kedua pemeran utama.
"Selesai! Bagus sekali! Istirahat sejenak, nanti kita lanjut ke adegan berikutnya!" seru Galang melalui pengeras suara.
Sekali lagi, adegan sulit itu berhasil hanya dalam satu pengambilan. Galang, yang sebelumnya sedih karena kepergian mendadak aktor utama Yono Barsa, kini merasa suasana hatinya jauh lebih baik setelah melihat performa Kirana.
Setelah kembali ke tenda persiapan khusus—yang beberapa waktu lalu dipakai untuk kemesraan panas antara Aruna dan Aditya—gadis itu langsung duduk di kursi rias dan memanggil asistennya. Wajahnya tegang, tak ada senyum ramah yang biasanya ia tunjukkan di depan kamera.
"Apa yang sebenarnya sedang dibicarakan oleh sutradara dan orang-orang itu di luar sana?" tanya Aruna, nadanya tajam.
Asistennya tampak ragu-ragu, hendak menjawab tapi terhenti sejenak.
"Apakah mereka… memuji Kirana lagi?" Aruna menambahkan, nada cemburu terasa pekat.
Asisten itu hanya bisa mengangguk pelan.
"Sutradara Galang bilang akting Kirana sempurna. Penulis Larasati juga memuji, katanya aktingnya membuat karakter Laura Pitaloka berintegritas," jelas asisten itu, suaranya pelan karena takut menyinggung majikannya.
"Lalu, Produser Argo juga ikut memuji Kirana. Beliau secara khusus mengatakan bahwa perkembangan karier Kirana di masa depan pasti akan jauh lebih baik daripada Qiana Putri. Dan bahkan Sutradara Galang sempat mengatakan sesuatu yang lebih jauh lagi…" lanjut si asisten.
"Apa lagi yang dia katakan?" tanya Aruna dengan nada memaksa, matanya berkilat penuh dengan api kecemburuan.
"… dia bahkan bilang kemungkinan besar Kirana bisa memenangkan penghargaan melalui peran ini…" jawab asistennya, suaranya makin lemah.
Aruna langsung menggedor sandaran kursinya dengan kepalan tangan.
"Omong kosong! Untuk bisa menang penghargaan sekarang, harus ada kekuasaan besar di belakangmu! Apakah dia pikir aktingnya saja cukup?" serunya, ejekan menggelora di suaranya.
Ia terdiam sejenak, mengatur napas yang mulai memburu.
"Jadi kalaupun dia menang, itu kan cuma kategori aktris pendukung. Keberadaannya di situ juga cuma mendukungku sebagai pemeran utama!" cibir Aruna, mencoba menenangkan diri dengan logika yang dibuat-buat.
Asistennya buru-buru menyetujui.
"Apa yang Mbak Aruna bilang benar! Dia memerankan wanita licik. Bagaimana bisa dibandingkan dengan Mbak yang baik? Penonton pasti bisa menilai!"
Wajah Aruna sedikit melunak, tapi awan gelap di alisnya belum hilang. Posisi dan reputasinya terasa terancam. Ia menurunkan suaranya, memastikan tak ada telinga asing yang mendengar.
"Mengenai masalah yang kita sepakati sebelumnya… sekarang apakah sudah bisa kita laksanakan?" tanyanya dengan sorot mata dingin.
Asisten itu terkejut, menutup mulut dengan tangan.
"Ap… apakah kita benar-benar akan melakukannya sekarang? Tapi ini terlalu berbahaya! Jika Mbak sampai…"
"Jangan banyak bicara omong kosong! Pergi dan lakukan apa yang sudah aku perintahkan!" potong Aruna, tak sabar lagi.
"Baik, Mbak… aku akan segera memberi tahu orang itu…" asisten itu buru-buru melangkah keluar dari tenda.
Saat itu, suara berat Aditya terdengar dari belakang.
"Ada apa, Aruna? Kau terlihat tidak sehat hari ini," tanya Aditya, khawatir.
Melihatnya, ekspresi Aruna langsung berubah—malu-malu dan manja, seolah kemarahan tadi tak pernah ada.
"Ini semua salahmu… Bang Adit, kau benar-benar membuatku lelah!" ujarnya, membahas kejadian mesra sebelumnya di tenda.
"Hei, bukankah kau sendiri yang terus memancingku tadi?" kata Aditya, nada tak berdaya tapi tersenyum bangga.
Ia merasa puas karena stamina kuatnya mampu memuaskan pasangannya.
Aditya mengangkat kantong plastik yang ia pegang sejak tadi.
"Aku sengaja beli bubur ayam agar kau cepat pulih, karena kau terus mengeluh lelah setelah kita…" ujarnya, nada manis penuh perhatian.
"Ih, jangan goda terus!" Aruna tersipu, menerima bubur itu. Ia menatap Aditya dengan tatapan nakal dan menggoda.
"Bang Adit… tidak berniat melakukan itu lagi setelah aku makan bubur ini, kan?" tanyanya dengan suara manja.
…
Beberapa jam kemudian, adegan kedua dimulai. Ini kelanjutan langsung dari adegan sebelumnya, berupa koreografi perkelahian fisik di tengah hutan pinus yang sunyi.
Setelah pengarahan teknis lebih dari dua jam, Kirana dan Aruna dinyatakan siap.
Awalnya, Sutradara Galang berencana menggunakan pemeran pengganti untuk adegan berbahaya ini.
"Tapi Kirana sudah ahli dalam seni bela diri. Dia tidak butuh pengganti," gumam Galang pada dirinya sendiri.
Aruna menatapnya, tegas.
"Aku ingin melakukannya sendiri, tanpa pemeran pengganti. Demi profesionalitas."
Galang tersenyum dan mengangguk.
"Baiklah. Kalau begitu, lakukan sendiri."
Seorang konsultan stunt membantu mereka mengenakan wire rigging dan harness pengaman. Ia memeriksa setiap tali dan pengait berulang kali, memastikan tidak ada risiko kecelakaan.
Setelah aman, pengambilan gambar dimulai.
Yenara Lestari memejamkan mata sejenak.
"Laura benar-benar berubah… sekarang dia seperti siluman yang haus darah."
Ia menarik napas dalam, memantapkan diri.
"Kalau aku tidak menghentikannya sekarang, bencana yang lebih besar pasti akan terjadi."
Tatapannya berubah menjadi penuh amarah. Ia menghunus pedang panjang dan menyerang Laura Pitaloka.
Laura, tenang, mengantisipasi semua gerakan Yenara. Ketika pedang hampir menyentuh hidungnya, ia meluncur mundur dengan lincah, seperti burung.
Kedua tangannya terentang menjaga keseimbangan, jari-jari kakinya hanya menyentuh tanah dengan lembut.
Yenara mengedeng dingin, menyerang lagi.
Laura seolah sengaja bermain, bergerak seperti kucing yang menggoda tikus kecil.
Akhirnya, Laura membalas. Pedangnya yang terselip di ikat pinggang gaun merahnya muncul dengan gerakan elegan, menyerang balik secara agresif.
Setelah sepuluh gerakan intens, Yenara mulai terdesak. Beberapa kali hampir terjatuh dari dahan pohon karena dominasi Laura.
Meskipun Yenara hebat, di hadapan Laura—jenderal yang telah membunuh ribuan pasukan—ia hanyalah anak kecil yang belajar bertarung.
Yenara menyadari kesalahan, tapi sudah terlambat.
Laura tampak muak. Tatapannya dingin, kekuatannya seperti sepuluh ribu pasukan, ia menusukkan pedang ke dada Yenara.
Buih—suara pedang menusuk daging terdengar nyata.
Yenara mencengkeram dadanya, tubuhnya jatuh seperti layang-layang tanpa tali.
Sutradara Galang fokus pada close-up wajah Laura, tapi tiba-tiba terdengar teriakan Kirana,
"Aruna terluka! Segera selamatkan dia! Cepat!"
Para kru bingung beberapa detik, baru sadar itu bukan bagian naskah.
"Turunkan dia sekarang juga!" teriak Kirana lagi, masih tergantung di kawat pengaman.
Tim teknis menurunkan Aruna dan Kirana. Kirana langsung menekan luka Aruna dengan kedua tangannya, tak peduli kostum mahalnya.
"Ambulans! Cepat panggil ambulans!" seru Kirana.
Tiba-tiba Aditya mendorong Kirana ke samping, hampir jatuh, lalu memeluk Aruna.
"Aruna! Aruna sayang, kau baik-baik saja? Jawab aku!" suaranya bergetar.
"Bang Adit… sakit sekali…" rintih Aruna lemah.
"Jangan takut, aku di sini. Kau akan baik-baik saja! Aku janji…"
Kirana menatap dengan mata datar.
''Astaga, pria ini benar-benar bodoh sekali! Aku tadi sedang berusaha menekan lukanya agar darahnya tidak terus keluar, tapi kau tiba-tiba saja mendorongku menjauh!'
'Bukannya menghentikan darahnya tapi pria bodoh ini malah memasang wajah penuh kasih sayang yang dramatis dan membiarkannya kehabisan darah begitu saja!'
'Apa kau saat ini sedang merasa sedang berakting dalam sebuah sinetron?' batin Kirana yang merasa sangat jengkel dengan tingkah Aditya.
Jika saja saat ini bukan sedang ada situasi darurat, Kirana benar-benar memiliki keinginan yang sangat besar untuk memarahi memukul kepala Aditya di depan semua orang, agar otaknya kembali bekerja dengan baik.
Sutradara Galang berlari, marah.
"Apa sebenarnya yang terjadi?!"
Kirana mencoba menjelaskan.
"Mata pedangnya… tidak memantul kembali seperti seharusnya," katanya.
Ternyata pedang itu properti mainan, seharusnya mata pedangnya otomatis memantul masuk ke gagang saat bertemu hambatan.
Galang mendengus, matanya menyala.
"Di mana orang yang bertanggung jawab atas properti?! Kemari sekarang juga!"
Penanggung jawab properti muncul, keringat dingin membasahi dahinya.
"Aku sudah memeriksa semuanya… seharusnya tidak ada masalah," jawabnya gemetar.
Galang melempar naskah ke arahnya, dentuman keras terdengar.
"Lalu bagaimana bisa ini terjadi?!"
Produser Argo Surya bertanya tenang.
"Siapa terakhir yang memegang pedang ini sebelum adegan dimulai?"
"Seharusnya Kirana… aku yang menyerahkan pedang padanya setelah diperiksa, lalu dia berlatih sampai syuting dimulai," jawab penanggung properti.
Mendengar pernyataan tersebut, pupil mata Kirana secara tiba-tiba menyempit.
'Jika aku masih tidak mengerti apa yang terjadi… berarti aku benar-benar membuang waktuku di industri penuh intrik ini.'
"Aku salah… seharusnya aku periksa sekali lagi sebelum syuting!" tambahnya, berulang kali meminta maaf.
Semua orang di lokasi bereaksi berbeda—ada yang curiga, ada yang iba.
Galang menatap penanggung properti, lalu memberi tatapan penuh arti pada Kirana sebelum menahan amarah.
"Kita bahas nanti! Sekarang, bawa dia ke rumah sakit! Dan jangan biarkan kabar ini bocor!"
…
Rumah Sakit Umum Cibinong.
Di salah satu bangsal, Aditya merawat Aruna dengan penuh perhatian. Tangannya menekan luka dengan lembut, wajahnya menampilkan kekhawatiran yang tulus.
Sementara itu, di koridor yang sepi, Kirana bersandar pada dinding dingin. Pikiran dan emosinya berkecamuk.
'Aruna benar-benar seperti gumpalan kapas… rapuh, tapi… licik dan manipulatifnya sekarang sudah mencapai level tersendiri,' batin Kirana dengan kesal.
Lukanya sebenarnya tidak terlalu parah, hanya cedera ringan. Namun konsekuensi insiden ini bagi kariernya bisa merepotkan.
'Sekarang yang paling penting… bagaimana cara membuktikan aku sama sekali tidak bersalah?' pikir Kirana.
Tiba-tiba terdengar langkah kaki cepat dari arah lorong. Kirana menengok, tapi belum sempat melihat…
Plak!
Tamparan keras menghantam pipinya. Panasnya terasa sampai ke tulang.
"Dasar kau anak kejam! Gila apa kau sampai berani melakukan ini pada Aruna?!" Suara Arini Utami pecah karena emosi. Tangannya seperti ingin menampar lagi.
"Kalau mau marah, marahlah kepadaku! Akulah yang dulu membuat dia bisa tinggal dengan keluarga Yudhoyono, akulah yang menyayangi dan memanjakannya! Dan ini balasannya? Apa salahnya kepadamu sampai tega seperti ini?!" lanjut Arini dengan nada mengguncang.
Matanya menatap Kirana seperti menatap musuh yang paling dibenci sepanjang hidupnya.
Kirana menarik napas panjang, mengusap noda darah di sudut bibirnya, lalu menatap mantan ibu kandungnya itu dengan mata dingin penuh ketetapan hati.
Tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Hanya ketegangan yang terasa sesak di lorong itu, seakan ruang di sekitar mereka ikut menahan napas.
Di belakang Arini, Hendrawan Yudhoyono berdiri dengan ekspresi marah serupa.
"Kalau sampai Aruna luka parah, aku tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja!" serunya, nada penuh ancaman.
Kirana menatap keduanya sinis. Mantan ibu yang memukulnya tanpa tanya, mantan ayah kandung yang mengancam tanpa tahu fakta.
Kirana bisa saja meledakkan kata-kata pedas, membuat mereka marah lebih besar. Tapi ia merasa kehabisan energi. Ia memilih diam, tatapan dingin dan datar tetap tertuju pada keduanya.
"Anak durhaka! Tatapan macam apa itu kau berikan kepadaku?!" teriak Hendrawan, frustrasi dengan diam Kirana.
Tepat ketika kemarahan Hendrawan memuncak… pintu bangsal perawatan tiba-tiba terbuka dari arah dalam.
Melihat pintu terbuka, Hendrawan dan Arini seketika melupakan keberadaan Kirana. Mereka buru-buru menghampiri kamar.
"Aditya, bagaimana kabar Aruna di dalam sana?" tanya Hendrawan dengan nada cemas.
"Untuk saat ini kondisinya baik-baik saja. Anda berdua bisa masuk sekarang untuk menjenguknya," jawab Aditya, tampak lelah.
Ia menatap Kirana yang berdiri di ambang pintu, pipinya memerah dan bengkak.
Arini melangkah cepat ke sisi tempat tidur Aruna, memeriksa tubuh putrinya dari kepala hingga kaki.
"Sayangku, bagaimana keadaanmu sekarang? Masih terasa sakit di mana?" tanya Arini, suaranya penuh kekhawatiran.
Aruna tersenyum lemah.
"Ibu… aku sudah baik-baik saja. Dokter bilang ini cuma luka ringan," ujarnya dengan suara dibuat-buat tegar.
Hati Arini mencelos. Ia mengelus rambut Aruna dengan lembut.
"Kau perempuan… bagaimana bisa bilang tidak apa-apa kalau sampai punya bekas luka besar seperti ini!"
"Kalau pedang itu menembus lebih dalam tadi… mungkin kau sudah… mati!" lanjut Arini, suaranya semakin meninggi.
"Gadis sialan itu… bagaimana bisa sejahat itu kepadamu? Padahal kau masih memanggilnya kakak di depan orang lain!"
"Tidak, Ibu… Kak Kirana itu sebenarnya…" Aruna ragu, wajahnya meredup, namun ia memaksa bicara. "Ayah, Ibu… tolong jangan salahkan Kak Kirana. Ini bukan salahnya… cuma masalah teknis properti saja!"
Hendrawan mendengus dingin.
"Anak bodoh… bagaimana bisa sesangat naif begitu? Alat peraga itu seharusnya aman! Bagaimana bisa tiba-tiba rusak kalau tak ada yang sengaja merusaknya?"
Ia berteriak keras ke arah Kirana yang masih berdiri diam.
"Dasar kau binatang tak tahu diri! Kenapa masih saja berdiri di sana? Masuk sekarang juga dan berlutut minta maaf kepada Aruna!"
Ekspresi wajah Kirana tetap dingin, acuh tak acuh, seperti topeng baja.
'Kalau aku disebut binatang, berarti kalian berdua juga sama… pura-pura suci, tapi penuh kemunafikan,' batin Kirana. 'Mengapa aku harus peduli lagi pada mantan orang tua yang dulu tega membuangku dan tidak peduli hidupku?'
Matanya menatap lurus ke Hendrawan dan Arini. Tidak ada rasa takut, tidak ada harapan untuk pengakuan.
Hanya ada ketetapan hati,
'Mereka berdua tidak memiliki tempat sedikit pun dalam hidupku lagi.'
"Aku tidak punya alasan untuk minta maaf. Kalau kau mau permintaan maafku, tunjukkan dulu bukti nyatanya. Bahkan nyawaku pun akan aku berikan kalau kau bisa membuktikannya," tegas Kirana lantang.
Hendrawan menunjuk wajah Kirana, jarinya gemetar karena marah.
"Kau tetap keras kepala, menolak bertobat di saat seperti ini. Satu-satunya alasan aku tidak langsung menelusuri masalah ini secara hukum adalah demi menjaga sisa harga dirimu!"
'Heh… bagi Hendrawan Yudhoyono, kata "harga diri" memang selalu lebih penting daripada segalanya,' batin Kirana dingin.
Kirana tertawa sinis menanggapi ancaman itu.
"Kalau aku memang berniat membalas dendam sejak awal, apa yang kau lihat di atas tempat tidur itu sekarang mungkin sudah mayatnya saja. Lalu kalau begitu, kapan lagi kalian bisa memainkan drama ayah-anak perempuan yang menyentuh hati ini?" katanya mengejek.
Hendrawan seketika menggebrak meja di samping tempat tidur dengan keras.
"Jangan berani-berani bicara omong kosong lagi! Sekarang aku tanya sekali lagi—kau mau minta maaf dengan baik atau tidak, Kirana?" tegas Hendrawan.
"Kalau kau bersedia mengakui segala kesalahanmu dengan benar dan berjanji pergi selamanya dari dunia hiburan ini, maka aku…" ucap Hendrawan, tapi langsung dipotong Kirana.
"Terima kasih atas tawarannya, tapi aku rasa aku akan lebih memilih berjalan di jalanku sendiri," jawab Kirana dingin.
"Kalian sekarang hanya mantan ayah dan mantan ibu kandung. Mumpung kita bertemu lagi, aku ingin mengucapkan terima kasih karena kalian dulu melahirkan aku ke dunia ini, itu saja yang paling berjasa dari kalian dalam hidupku," lanjutnya sambil tersenyum sinis.
Ia melambaikan tangan di udara, lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan tanpa menoleh ke belakang.
Wajah Arini Utami dipenuhi ketidakpercayaan.
"Lihat perilakunya itu! Aku hampir tidak bisa percaya kalau aku pernah melahirkan makhluk berhati sejahat itu!" ujar Arini kecewa.
Hendrawan masih terus mondar-mandir di bangsal, marah memuncak.
"Dia benar-benar monster! Dia berhasil membuatku sangat marah hari ini!" seru Hendrawan.
Aruna mencoba menenangkan ayahnya.
"Ayah, sudahlah… jangan terlalu marah pada kakak perempuan. Itu tidak baik untuk kesehatan Ayah," katanya sambil berakting menjadi anak yang baik dan berbakti.
Di lubuk hatinya, Aruna justru tersenyum puas, menikmati konflik yang terjadi di ruangan itu.
"Aku pernah membiarkannya lolos terakhir kali kita bertemu, tapi sekarang dia melakukan hal yang lebih parah—berani menyakitimu dengan tangannya sendiri," kata Hendrawan penuh kebencian.
"Lain kali, dia mungkin akan mencoba membunuhmu. Aku tidak akan membiarkan masalah ini berlalu begitu saja!"
"Tapi Ayah…" Aruna mencoba menyela.
"Sudah, serahkan saja semuanya padaku. Jangan dipikirkan lagi, aku janji akan mengurus semuanya untukmu," tegas Hendrawan menenangkan.
"Benar sayang, biarkan ayahmu yang mengurus. Fokus saja pada pemulihanmu. Ayahmu pasti akan menyelesaikan semuanya dengan hasil memuaskan!" tambah Arini menimpali.
Mata Aruna memerah, seolah berusaha menahan air mata, wajahnya penuh rasa syukur.
"Terima kasih banyak, Ibu dan Ayah. Kalian sebenarnya tidak perlu repot-repot seperti ini. Aku sudah merasa baik-baik saja…" ujar Aruna manja.
Aditya, yang sejak tadi diam, melangkah maju dan menepuk bahu Aruna lembut.
"Aruna, kau terlalu baik hati pada orang lain. Tapi perbuatan Kirana kali ini benar-benar keterlaluan," katanya.
"Apa yang barusan dikatakan Paman Hendrawan benar—kita tidak bisa membiarkannya melakukan apa pun seenaknya mulai sekarang!"
Bersambung...
semangat 💪💪