Di dunia ini, semua gedung tinggi secara hukum tidak boleh memiliki lantai 13 atau 4. Namun, seorang pemuda bernama Genta , seorang tukang servis lift yang punya insting tajam, menemukan bahwa lantai-lantai yang "hilang" itu sebenarnya ada secara fisik, tapi hanya bisa diakses dengan kode lift tertentu.
Lantai-lantai tersembunyi ini (Lantai 4.1, 4.2, dst.) adalah kantor pusat "Konsorsium Semesta "organisasi yang mengatur segala hal "kebetulan" di dunia. Mulai dari kenapa sandal jepit selalu hilang sebelah, sampai kenapa harga cabai naik tiba-tiba. Genta tidak sengaja terjebak di Lantai 4.5 dan membawa kabur sebuah "Remote Pengatur Sial".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Demokrasi
Jakarta tidak pernah terlihat seberisik ini. Tiga minggu setelah Genta melakukan "Update Root" pada realitas di Menara Seky Tree, ibu kota Indonesia berubah menjadi laboratorium sosial yang liar. Di pasar Tanah Abang, suasananya bukan lagi sekadar tawar-menawar harga kain, tapi tawar-menawar probabilitas. Genta berdiri di pinggir trotoar, mengenakan kemeja flanel tua dan topi teknisinya, menyaksikan seorang pedagang bakso yang entah bagaimana berhasil membuat gerobaknya melayang sepuluh sentimeter di atas genangan air hujan hanya dengan kekuatan "fokus keberuntungan".
"Genta, lihat itu," Sarah menyenggol lengan Genta sambil menunjuk ke arah seorang ibu-ibu yang sedang marah pada petugas parkir. "Setiap kali ibu itu berteriak, lampu lalu lintas di belakangnya berubah warna jadi ungu. Frekuensi emosinya bocor ke infrastruktur kota."
"Itulah masalahnya kalau semua orang jadi admin," keluh Genta sambil menyeruput es teh plastikan. "Dulu kita punya satu diktator nasib yang jahat tapi rapi. Sekarang kita punya sepuluh juta orang yang masing-masing pengen jadi karakter utama. Jakarta jadi kayak server gim yang kebanyakan mod tapi nggak ada moderatornya."
Aki, yang duduk di atas pembatas jalan sambil asyik mengunyah kerak telor, mengangguk setuju. "Istilah teknisnya adalah 'Resonansi Kehendak'. Karena setiap orang punya akses [ROOT] sekarang, keinginan mereka yang kuat bisa membengkokkan hukum fisika lokal. Masalahnya, keinginan manusia itu sering kali bentrok. Si A pengen hujan supaya tanaman subur, si B pengen panas supaya jemuran kering. Hasilnya? Hujan es di tengah cuaca panas yang bikin semua orang masuk angin."
Tiba-tiba, dari arah blok B Tanah Abang, terdengar ledakan energi yang cukup besar. Bukan ledakan bom, tapi ledakan warna-warni yang membuat semua spanduk di area itu berubah menjadi putih polos. Genta merasakan getaran di telapak tangannya—status [USER: ROOT] miliknya memberikan peringatan dini.
"Ada yang mencoba melakukan 'Mass Over ride' di area ini," ujar Genta, matanya menegang. "Ini bukan orang biasa yang lagi iseng. Ini terorganisir."
Mereka segera berlari menuju sumber getaran. Di tengah kerumunan yang panik, mereka melihat sekelompok orang mengenakan jubah putih bersih dengan logo lingkaran hitam di punggung mereka. Mereka membawa perangkat yang tampak seperti pemindai barcode supermarket, tapi ukurannya jauh lebih besar.
"Itu faksi 'The Order'," bisik Sarah sambil membuka tabletnya dengan cepat. "Mereka adalah mantan karyawan menengah Konsorsium yang kehilangan pekerjaan. Mereka menyebut diri mereka sebagai 'Penjaga Keseimbangan'. Tugas mereka adalah memburu orang-orang yang dianggap menyalahgunakan kebebasan nasib dan menyita akses mereka secara paksa."
"Menyita? Gimana caranya?" tanya Genta.
"Mereka pakai alat bernama 'Vacuum Logic'. Alat itu menyedot partikel [ROOT] dari kesadaran seseorang, bikin orang itu balik lagi jadi warga biasa yang nggak punya pengaruh apa-apa ke realitas. Dan dugaanku, mereka mau ngumpulin semua partikel itu buat bikin server pusat yang baru," jelas Sarah.
Di depan mereka, anggota The Order sedang mengepung seorang pemuda yang tadi berhasil membuat gerobak baksonya melayang. Pemuda itu ketakutan, tangannya gemetar.
"Saudara Subjek 0982," salah satu anggota berjubah putih bicara dengan suara datar yang diperkuat speaker. "Penggunaan manipulasi gravitasi pada objek dagangan adalah pelanggaran terhadap Protokol Kestabilan Publik. Akses Anda akan dicabut untuk sementara... atau selamanya."
"Eh, jangan dong! Ini kan cuma biar dagangan saya nggak kena becek!" protes si pemuda.
Saat anggota The Order hendak menempelkan alat vakum itu ke dahi si pemuda, Genta melompat masuk ke tengah lingkaran. "Woi! Mau main sita-sita aja, emangnya kalian Satpol PP Takdir?!"
Anggota The Order menoleh serentak. Pemimpin mereka, seorang pria dengan kacamata retak dan wajah yang sangat lelah, menatap Genta dengan tajam. "Genta Pratama. Sang Pemberontak. Kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan? Dunia ini sedang menuju kiamat entr.opi karena ide 'kebebasan' konyolmu. Di Bekasi kemarin, ada orang yang saking senangnya menang lotre sampai bikin gravitasi di lingkungannya hilang dan satu komplek terbang ke atmosfer!"
"Ya itu namanya proses belajar, Pak!" balas Genta. "Daripada diatur-atur kayak robot, mendingan terbang ke langit tapi punya pilihan sendiri!"
"Pilihan tanpa tanggung jawab adalah kehancuran," pria itu mengangkat alat vakumnya ke arah Genta. "Berikan akses Root-mu, atau kami akan mengambilnya dengan cara yang menyakitkan."
Genta tidak punya lagi kunci inggris emas. Senjatanya sekarang adalah sesuatu yang lebih abstrak: pemahamannya tentang bagaimana sirkuit realitas bekerja. Dia memejamkan mata, merasakan aliran data di bawah aspal Tanah Abang.
"Sarah! Aki! Lakukan 'Noise Inter fence'!" teriak Genta.
Sarah segera menekan tombol di tabletnya, mengirimkan gelombang sinyal statis ke seluruh jaringan nirkabel di area itu. Sementara Aki, dengan gerakan veteran yang tak terduga, melempar segenggam koin logam ke udara.
Genta memfokuskan pikirannya. Dia tidak mencoba melawan alat vakum itu secara langsung. Dia justru melakukan 'Gor.und.ing' pada dirinya sendiri. Dia membayangkan dirinya adalah kabel Ar. der(massa) yang menyerap semua energi liar di sekitarnya dan membuangnya ke bumi.
"Akses Root: De Centra Lie!" gumam Genta.
Saat alat vakum *The Order* menyala, bukannya menyedot energi dari Genta, alat itu justru menyedot semua 'kesialan' yang sedang mengambang bebas di Tanah Abang mulai dari bau sampah, suara klakson yang bising, sampai perasaan stres para pembeli yang kejebak macet.
BOOM!
Alat vakum itu meledak karena tidak kuat menampung beban emosional negatif yang terlalu besar. Para anggota berjubah putih terpental ke belakang, tubuh mereka tertutup debu spanduk yang hancur.
"Ingat ini, Pak Penjaga Keseimbangan," Genta berjalan mendekati pemimpin mereka yang tergeletak lemas. "Dunia ini memang berantakan. Tapi jangan pernah coba-coba mau jadi tuhan lagi. Kalau kalian mau keteraturan, benerin tuh sistem drainase Jakarta, jangan benerin takdir orang."
Pemimpin The Order hanya bisa terbatuk-batuk. "Ini belum selesai, Genta. Tanpa kontrol, manusia akan saling menghancurkan nasib satu sama lain. Kamu akan lihat sendiri nanti."
Genta membantu pemuda tukang bakso itu berdiri. "Dagang yang bener, Mas. Jangan pakai sihir gravitasi kalau belum ahli, nanti baksonya melayang ke hidung orang."
Setelah kerumunan bubar dan situasi sedikit mereda, Genta, Sarah, dan Aki berjalan menuju stasiun kereta api. Matahari mulai terbenam, memberikan warna oranye yang campur aduk dengan distorsi neon akibat sisa-sisa energi di udara.
"Dia ada benernya juga, Genta," ujar Sarah pelan. "Orang-orang mulai takut satu sama lain. Di media sosial, sekarang trend-nya adalah 'Luck-Shaming'. Orang yang beruntung dituduh mencuri nasib orang lain."
"Ya, itu tugas kita sekarang," jawab Genta sambil menatap telapak tangannya. Tulisan [USER: ROOT] itu berkedip lembut. "Kita nggak bisa lagi cuma jadi perusak. Kita harus jadi 'System Administrator' yang nggak kelihatan. Kita harus ngajarin orang-orang cara pakai 'Remote' mereka tanpa bikin dunia meledak."
"Jadi, kita buka sekolah buat benerin nasib?" tanya Aki sambil terkekeh.
"Bukan sekolah, Ki. Kita buka bengkel," Genta tersenyum lebar. "Bengkel Takdir Pratama. Servis gratis buat yang nasibnya lagi glitch biaya tambahan buat yang mau curang pakai kode cheat."
Mereka bertiga masuk ke dalam gerbong kereta KRL yang penuh sesak. Di dalam kereta, Genta melihat seorang anak kecil yang sedang berusaha meraih pegangan tangan yang terlalu tinggi. Genta tidak membantunya secara fisik. Dia hanya membayangkan pegangan itu sedikit lebih rendah, menyesuaikan frekuensi keberuntungan si anak.
KLIK.
Pegangan itu sedikit berayun ke bawah karena guncangan kereta, tepat ke arah tangan si anak. Anak itu berhasil memegangnya dan tersenyum bangga pada ibunya.
Genta tersenyum sendiri. Ini bukan soal sihir, ini soal sinkronisasi. Dan bagi seorang teknisi lift, tidak ada yang lebih memuaskan daripada melihat sebuah sistem berjalan dengan lancar karena sentuhan yang tepat di tempat yang tepat.
"Rencana kita besok apa?" tanya Sarah sambil menyandarkan kepala di bahu Genta.
"Besok?" Genta menatap ke luar jendela kereta, melihat lampu-lampu Jakarta yang berkedip tak beraturan. "Besok kita benerin lift di Menara Sembako. Katanya di sana ada 'Bug' baru yang bikin orang yang masuk ke lift selalu keluar di tahun 1998. Kayaknya itu proyek seru buat dikerjain."
Aki tertawa keras, sementara Sarah hanya bisa menggelengkan kepala. Di tengah Jakarta yang kini menjadi taman bermain realitas, sang Teknisi Takdir baru saja memulai hari kerjanya yang abadi.