SEASON 1 ; BAB ; 41 TAMAT
SINOPSIS SEASON 2
Tujuh tahun telah berlalu sejak perayaan ulang tahun ke-5 Yayasan Aulia & Hidayat. Kedamaian dan kesuksesan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Putri dan Rizky. PT Adinata Berkah Lestari kini menjadi raksasa bisnis yang dihormati secara global, dan yayasan mereka telah menumbuhkan ribuan anak menjadi generasi yang tangguh. Rara kini berusia 19 tahun dan sedang menempuh pendidikan tinggi di bidang kedokteran, sementara Arka (11 tahun) dan Bara (9 tahun) tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan penuh kasih.
Namun, kedamaian yang rapuh itu mulai retak ketika serangkaian insiden misterius terjadi. Mulai dari sabotase kecil di operasi perusahaan, ancaman anonim terhadap yayasan, hingga hilangnya beberapa dokumen penting hukum. Putri, dengan naluri hukum dan kehati-hatiannya, mulai menyadari bahwa ada kekuatan yang tidak terlihat sedang bergerak di balik layar—kekuatan yang tidak ingin melihat keluarga Adinata terus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hairil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: MALAM SEBELUM IKATAN DAN JANJI YANG TERTANAM
Hari-hari berlalu dengan kecepatan yang menakutkan bagi Putri. Sebentar lagi, hari yang dinanti-nantikan sekaligus ditakutinya akan tiba: hari pernikahannya dengan Rizky Adinata. Di satu sisi, itu adalah gerbang menuju akses yang lebih besar ke dalam inti kekuasaan keluarga Adinata—kesempatan emas untuk mengumpulkan lebih banyak bukti dan menuntut balas atas kematian orang tuanya. Namun di sisi lain, itu berarti dia secara resmi akan mengikatkan diri pada keluarga pembunuh itu, dan lebih dari itu, dia akan menjadi istri dari pria yang hatinya mulai dia cintai dengan tulus, meski penuh dengan kebohongan.
Malam ini adalah malam terakhir sebelum upacara pernikahan digelar besok pagi. Kediaman Adinata dipenuhi dengan persiapan yang sibuk, namun di kamar Putri, suasana terasa hening dan mencekam. Putri duduk di tepi kasur, memegang sebuah kotak kecil berwarna kayu cendana yang sudah tua. Di dalamnya tersimpan kaset rekaman bukti pembunuhan orang tuanya dan juga kartu memori cadangan berisi foto-foto serta video dari pelabuhan yang dia dapatkan beberapa waktu lalu.
"Besok aku akan masuk lebih dalam ke sarang ini, Ayah, Ibu," bisik Putri pelan, matanya berkaca-kaca menatap kotak itu. "Aku berjanji akan berhati-hati. Aku akan menemukan keadilan untuk kalian. Tapi tolong... tolong lindungi aku, dan lindungi Rara. Lindungi juga... Rizky."
Pintu kamar diketuk pelan, memecah lamunan Putri. Dia dengan cepat menutup kotak itu dan menyembunyikannya kembali di dalam laci meja rias yang memiliki kunci rahasia.
"Masuk," ucap Putri, berusaha menenangkan suaranya.
Pintu terbuka, dan Nina masuk dengan nampan berisi segelas susu hangat dan beberapa potong buah. Wajah Nina terlihat cemas namun penuh dukungan.
"Putri, kamu belum makan malam, kan?" tanya Nina lembut sambil meletakkan nampan di atas meja. "Aku bawakan sesuatu agar kamu punya tenaga besok. Hari yang panjang menantimu."
Putri tersenyum tipis, berdiri dan menghampiri Nina. "Terima kasih, Nina. Kamu selalu ada untukku. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan tanpamu."
Nina menghela napas, lalu duduk di tepi kasur dan menepati tempat di sampingnya untuk Putri. "Aku yang harusnya berterima kasih, Putri. Kamu mengajarkanku arti keberanian. Tapi... aku harus jujur, aku sangat cemas malam ini. Pak Darmawan terlihat sangat gelisah hari ini. Aku melihatnya berbicara dengan beberapa orang asing di sudut taman tadi. Sepertinya dia merencanakan sesuatu."
Putri mengerutkan kening, mengambil potong apel dan memakannya pelan, pikirannya bekerja cepat. "Dia memang selalu merencanakan sesuatu, Nina. Terutama sekarang, saat posisi ayah Rizky mungkin sedang terancam. Dia tahu pernikahan ini akan membuat posisi Rizky semakin kuat, dan itu berarti pengaruh Pak Hidayat juga akan semakin kuat. Dia tidak suka itu."
"Dan dia juga curiga padamu," tambah Nina dengan suara rendah. "Kamu harus benar-benar waspada besok. Jangan biarkan dirimu sendirian dengan dia. Bahkan setelah menikah nanti."
"Aku tahu, Nina. Aku tidak akan bodoh," jawab Putri tegas. "Ilmu hukum yang pernah kupelajari mengajarkanku untuk selalu waspada dan mengantisipasi segala kemungkinan. Aku tahu risiko yang aku ambil."
Mereka berdua terdiam sejenak, menikmati keheningan malam yang hanya dipecah oleh suara jangkrik di luar jendela.
"Nin," panggil Putri pelan. "Menurutmu... apakah aku melakukan hal yang salah? Menikah dengan Rizky hanya untuk membalas dendam pada ayahnya? Terutama sekarang, saat aku tahu betapa baik dan tulusnya Rizky padaku?"
Nina menatap Putri dengan tatapan penuh empati, lalu menggenggam tangan gadis itu erat-erat. "Putri, aku tidak bisa menilai apakah itu salah atau benar. Tapi aku tahu satu hal: niat awalmu adalah untuk melindungi Rara dan menuntut keadilan yang sah untuk orang tuamu. Itu bukan kejahatan. Dan mengenai perasaanmu pada Rizky... perasaan itu tumbuh dengan tulus, bukan? Itu bukan bagian dari rencanamu, kan?"
Putri mengangguk pelan, air mata mulai menetes. "Benar. Aku tidak pernah berencana untuk mencintainya. Tapi dia... dia begitu baik. Dia bahkan tidak tahu apa-apa tentang kejahatan ayahnya, atau setidaknya dia memilih untuk tidak tahu demi kedamaian. Aku merasa seperti sedang mengkhianatinya setiap kali aku tersenyum padanya sambil menyimpan semua rahasia ini."
"Mungkin suatu hari nanti, dia akan mengerti," kata Nina lembut. "Rizky bukan orang yang bodoh atau sempit pikirannya. Jika dia benar-benar mencintaimu, dia akan bisa membedakan antara kejahatan ayahnya dan perjuanganmu untuk keadilan. Tapi untuk sekarang... fokuslah pada besok. Fokuslah pada keselamatanmu dan Rara. Itu yang paling penting."
Putri mengusap air matanya, lalu tersenyum pada Nina. "Terima kasih, Nina. Kamu benar. Aku harus kuat. Untuk Rara, untuk orang tuaku, dan... untuk Rizky juga, entah bagaimana nanti akhirnya."
Tak lama setelah Nina pergi, pintu kamar Putri kembali diketuk, kali ini lebih ragu-ragu.
"Masuk," kata Putri, kali ini dengan nada yang lebih lembut.
Pintu terbuka sedikit, dan kepala kecil Rara mengintip dari baliknya. Wajah adiknya terlihat mengantuk namun cemas.
"Rara? Kenapa belum tidur, sayang? Besok Kakak akan sibuk sekali, lho," tanya Putri sambil tersenyum dan merentangkan tangannya.
Rara berlari kecil mendekat dan langsung memeluk pinggang Putri, membenamkan wajahnya di dada kakaknya. "Kakak... apakah besok Kakak akan menjadi istri Kak Rizky selamanya?"
Putri mengelus rambut lembut adiknya, hatinya terasa hangat namun juga perih. "Iya, Ra. Kakak akan menjadi istri Kak Rizky."
"Apakah itu berarti kita akan tinggal di sini selamanya? Dan Kakak tidak akan pergi meninggalkan Rara?" tanya Rara dengan suara kecil, sedikit bergetar.
Putri berjongkok, menatap wajah polos adiknya. "Tentu saja tidak, Rara. Kita akan tinggal di sini bersama-sama, dan Kakak tidak akan pernah meninggalkanmu. Kakak janji. Dan Kak Rizky juga orang yang baik, dia akan menyayangi Rara juga."
Rara mengangguk pelan, lalu memeluk Putri lagi. "Aku suka Kak Rizky. Dia baik. Tapi aku takut... aku takut ada orang jahat yang mau menyakiti Kakak."
Putri tertegun sejenak, terkejut dengan kata-kata Rara yang seolah bisa merasakan ketegangan di sekitar mereka. Dia mencium kening adiknya dengan penuh kasih sayang. "Tidak ada orang jahat yang berani menyakiti Kakak, Rara. Tenang saja. Kakak kuat, dan ada Kak Rizky yang akan melindungi kita. Sekarang ayok tidur, ya. Besok kita akan punya hari yang indah."
Putri mengantar Rara kembali ke kamarnya, memastikan adiknya terlelap sebelum kembali ke kamarnya sendiri. Malam semakin larut, namun Putri masih belum bisa memejamkan mata. Dia berdiri di depan jendela, menatap langit malam yang bertabur bintang. Pikirannya melayang pada Rizky.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar pelan di atas meja rias. Putri menoleh dan mengambilnya. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tidak dikenal, namun dia bisa menebak siapa pengirimnya.
[Hati-hati, Putri. Besok bukan hanya hari pernikahanmu. Ini juga awal dari permainan yang nyata. Jangan berharap semuanya akan berjalan mulus. - Seseorang yang tahu]
Jantung Putri berdegup kencang. Itu pasti Pak Darmawan. Atau mungkin orang suruhannya. Peringatan yang jelas. Putri membalas pesan itu dengan dingin.
[Saya tidak takut. Saya siap menghadapi apa pun.]
Dia segera menghapus pesan itu dan nomor pengirimnya, lalu meletakkan ponselnya kembali. Napasnya teratur kembali. Dia tidak boleh menunjukkan ketakutan. Dia adalah Putri Aulia, mantan mahasiswa hukum yang bertekad menuntut keadilan. Dia tidak akan gentar hanya karena ancaman semacam itu.
Keesokan paginya, matahari bersinar terang, seolah merayakan acara besar yang akan berlangsung di kediaman Adinata. Rumah megah itu dihias dengan indah, penuh dengan bunga-bunga segar dan ornamen mewah. Tamu-tamu mulai berdatangan, sebagian besar adalah orang-orang penting, pejabat, mitra bisnis, dan tentu saja, orang-orang yang memiliki hubungan dengan dunia bawah tanah yang dipimpin Pak Hidayat.
Putri berdiri di depan cermin besar di kamar riasnya. Dia mengenakan gaun pengantin tradisional yang indah, berwarna putih dan emas, dengan sulaman yang rumit dan indah. Rambutnya ditata rapi, dan riasan wajahnya menonjolkan kecantikan alaminya, namun juga menyembunyikan gejolak di dalam hatinya.
"Kamu sangat cantik, Putri," bisik Nina yang berdiri di belakangnya, matanya berkaca-kaca melihat sahabatnya yang begitu anggun namun rapuh. "Rizky pasti akan terpana melihatmu."
Putri menatap bayangannya di cermin. Dia melihat seorang wanita yang tampak tenang, tapi dia tahu di balik itu, ada hati yang sedang berperang. "Terima kasih, Nina. Apakah... apakah dia sudah ada di bawah?"
"Sudah. Dia sudah menunggu di aula utama. Wajahnya terlihat begitu bahagia, Putri. Seperti pria paling beruntung di dunia," kata Nina lembut.
Putri menelan ludah. Rasa bersalah itu kembali menghantamnya. Rizky begitu bahagia, begitu penuh harapan, sementara dia datang ke altar pernikahan ini dengan membawa rahasia berbahaya dan niat balas dendam.
"Ayo, Putri. Waktunya sudah tiba," ajak Nina pelan.
Putri mengangguk pelan. Dia mengambil napas panjang, mengumpulkan seluruh keberaniannya. Dia melangkah keluar dari kamar, diikuti oleh Nina.
Sepanjang perjalanan menuju aula utama, banyak pasang mata yang menatapnya dengan kagum, namun Putri hanya fokus pada satu tujuan di depannya. Saat pintu aula terbuka, musik pengantin mulai terdengar. Semua mata tertuju padanya. Dan di ujung lorong, di depan altar, berdiri Rizky.
Rizky mengenakan setelan jas yang serasi dengan gaun Putri, terlihat sangat tampan dan gagah. Namun yang membuat Putri terhenti sejenak adalah tatapan Rizky padanya. Tatapan itu penuh cinta, kekaguman, dan kelembutan yang begitu tulus. Seolah-olah di dunia ini hanya ada Putri seorang.
Rizky tersenyum lebar saat melihat Putri berjalan mendekat. Dia mengulurkan tangannya, menunggu Putri sampai di sisinya.
Putri melangkah maju, satu langkah demi satu langkah. Setiap langkah terasa berat, namun juga terasa seperti takdir yang tidak bisa dia hindari. Akhirnya, dia sampai di depan Rizky. Rizky dengan lembut menggenggam tangannya. Sentuhan itu hangat, dan sejenak, Putri bisa melupakan segalanya.
"Kau cantik sekali, Putri," bisik Rizky, suaranya bergetar karena haru. "Aku tidak percaya kau benar-benar akan menjadi milikku."
Putri menatap mata Rizky, dan untuk sesaat, dia lupa cara bernapas. "Rizky..."
Upacara pernikahan pun dimulai. Pak Hidayat terlihat bangga berdiri di samping mereka, menyaksikan putranya menikah dengan gadis yang dia pilih. Di sudut ruangan, Putri bisa melihat Pak Darmawan yang berdiri dengan senyum tipis, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara rasa puas dan ancaman. Putri menahan tatapan itu tanpa berkedip. Dia tidak akan mundur.
Saat tiba waktunya untuk mengucapkan janji suci, pendeta atau pemimpin upacara bertanya pada Rizky terlebih dahulu.
"Rizky Adinata, apakah kamu menerima Putri Aulia menjadi istrimu, untuk mencintainya, menghormatinya, melindunginya, dalam suka dan duka, sampai memisahkan kalian?"
Rizky menatap mata Putri dalam-dalam, suaranya tegas dan penuh keyakinan. "Saya terima."
Kemudian giliran Putri. Pertanyaan yang sama diajukan padanya. Suasana menjadi hening seketika. Putri bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang berdebar kencang. Dia menatap Rizky, lalu matanya sekilas melirik ke arah Pak Hidayat, dan kemudian teringat pada orang tuanya dan Rara.
Ini adalah keputusan yang akan mengubah segalanya.
"Putri Aulia, apakah kamu menerima Rizky Adinata menjadi suamimu, untuk mencintainya, menghormatinya, setia padanya, dalam suka dan duka, sampai memisahkan kalian?"
Putri mengambil napas dalam-dalam. Dia menggenggam tangan Rizky lebih erat. Dia tahu apa yang harus dia katakan. Bukan hanya untuk balas dendam, tapi juga karena di sudut hatinya yang paling dalam, dia juga mulai mencintai pria ini.
"Saya terima," ucap Putri, suaranya jelas dan tegas, meski ada getaran halus di dalamnya.
Sorak-sorai dan tepuk tangan menggema di seluruh aula. Rizky tersenyum lebar, lalu dengan lembut menarik Putri ke dalam pelukan ringan dan mencium keningnya.
"Mulai hari ini, kita adalah satu, Putri," bisiknya di telinga gadis itu. "Aku akan selalu menjagamu. Aku berjanji."
Putri membalas pelukan itu, matanya terasa panas. Maafkan aku, Rizky, batinnya berteriak. Aku juga berjanji akan menjagamu, meski caranya mungkin berbeda dari yang kau kira. Dan suatu hari nanti, aku harap kau bisa memaafkan kebohongan ini.
Saat upacara selesai dan mereka berjalan keluar sebagai pasangan suami istri, Putri menyadari bahwa Bagian 1 dari hidupnya telah berakhir, dan Bagian 2 yang jauh lebih berbahaya dan rumit baru saja dimulai. Dia kini resmi adalah Nyonya Rizky Adinata. Dia ada di dalam sarang harimau, dan permainan bayangan baru saja dimulai.
[PERTANYAAN UNTUK PEMBACA]: Putri dan Rizky resmi menikah! Namun Putri masih menyimpan rahasia besar dan ancaman Pak Darmawan terus membayang. Menurutmu, apa langkah pertama yang harus Putri lakukan sebagai istri Rizky untuk melanjutkan rencananya tanpa membahayakan dirinya dan Rizky? Apakah dia harus mulai mencari informasi lebih dalam atau menunggu kesempatan yang tepat?