NovelToon NovelToon
DETERMINED

DETERMINED

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dikelilingi wanita cantik / Playboy / Anak Genius / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Murid Genius
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: amuntuyu

"Di antara dinginnya sebuah pelindung dan hangatnya sebuah tawa, ada hati yang bertekad untuk tidak lagi hancur." - Meira tidak pernah percaya bahwa tragedi yang merenggut nyawa Papanya hanyalah kecelakaan biasa. Didorong oleh rasa kehilangan yang amat dalam dan teka-teki hilangnya sang Mama tanpa jejak, Meira berangkat menuju Lampung dengan satu tekad bulat, menguak tabir gelap yang selama ini menutupi sejarah keluarganya. Namun, menginjakkan kaki di SMA Trisakti ternyata menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Jalannya tidak mudah. Meira harus berhadapan dengan tembok tinggi yang dibangun oleh rahasia yang terkubur dalam, hingga trauma yang nyaris membuatnya menyerah di setiap langkah. Setelah satu demi satu rahasia terbongkar, Meira pikir perjuangannya telah usai. Namun, kebenaran itu justru membawa badai baru. Ia kembali dihadapkan pada persoalan hati yang pelik. Antara rasa bersalah, janji masa lalu, dan jarak. Kini, Meira harus membuat keputusan tersulit dalam hidupnya. Bukan lagi tentang siapa yang bersalah atau siapa yang benar, melainkan tentang siapa yang berhak menjadi tempatnya bersandar selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua puluh Empat

Ayara berjalan menyusuri jalanan trotoar dengan Haris yang mendorong motornya. Ia sungguh kesal sekali saat ini. Pasalnya, sepulang sekolah, Haris menawarinya untuk mengantarnya ke rumah Abil dengan dalih ia juga akan ikut main. Namun, baru saja setengah jalan, ia malah harus direpotkan oleh motor cowok itu yang entah kenapa tiba-tiba saja mogok. Memang sangat sial.

"Ini masih jauh nggak, sih?!" tanya Ayara sebal. Sudah sekitar setengah jam lebih ia berjalan, Ayara sudah sangat kelelahan.

"Astaga, lo gak sabaran banget jadi cewek. Itu di depan ada tikungan, dikit lagi nyampe."

"Lagian motor lo kenapa pake mogok segala sih. Beban banget!" cecar Ayara. "Mana haus lagi."

Ayara mengibas-ngibaskan tangannya ke arah wajahnya. Keringat-keringat kecil mulai bercucuran di wajahnya akibat cuaca di hari itu yang memang sedang panas. Padahal hari sudah mulai sore, tapi terik matahari sama sekali tidak bersahabat saat ini.

"Ya udah tunggu bentar, gue beliin minum. Kering juga nih tenggorokan." Haris men-standarkan motornya kemudian berlari kecil menyeberang jalan yang kebetulan ada warung yang menjual minuman.

"Nah, gitu dong, peka jadi cowok." ujar Ayara yang mungkin tidak akan terdengar oleh Haris.

Ayara menyenderkan punggungnya pada pembatas jembatan trotoar seraya menunggu Haris. Ia mengeluarkan selembar tissue dari saku bajunya untuk mengelap keringat di keningnya.

"Kamu nggak apapa, kan?"

Ayara menoleh ke sumber suara yang sepertinya sangat ia kenal. Suara itu berasal dari trotoar dekat halte yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Ayara menyipitkan matanya berusaha menajamkan penglihatannya. Matanya langsung membulat ketika tahu siapa orang pemilik suara itu.

"Itu kan, Abil..." Ayara menggantung ucapannya. "Meira?" ia terkejut saat mengetahui kalau cewek yang bersama Abil adalah Meira.

Keterkejutannya bertambah ketika matanya mulai meneliti kembali keduanya, lalu pandangannya beralih pada tangan Meira dan Abil yang saling menggenggam. Dadanya terasa bergemuruh tanpa dapat dicegah.

"Mereka..."

"Widih, udah jalan berdua aja ya mereka. Kapan jadiannya?"

Ayara menolehkan kepalanya cepat dan langsung mendapati Haris yang sudah berada di sampingnya sambil menenteng dua botol air mineral dingin. Perhatian cowok itu ikut mengarah pada Abil dan Meira, sama seperti pandangan Ayara sebelumnya.

Pandangan Haris beralih pada Ayara. Wajah cewek itu terlihat sudah semerah tomat, seperti menahan amarah. Sedetik kemudian, kekehan mulai keluar dari mulut Haris.

"Kenapa lo? Cemburu?" ledeknya. Kekehannya lama-kelamaan berubah menjadi tawa ejekan.

"Apaan sih, lo!" kekesalan Ayara semakin memuncak karena ditertawakan oleh Haris.

"Yaelah, ngaku aja. Lo pasti cembukur kan?" Haris menggelengkan kepalanya. "Eh, cemburu maksud gue." ralatnya, kemudian kembali tertawa.

"Berisik, lo!" Ayara menghentakkan kakinya marah. Ia berjalan dengan langkah kaki lebar-lebar meninggalkan Haris yang masih tertawa mengejeknya.

"Yah, malah pergi."

Sementara itu, Haris berjalan mendekati Abil dan Meira yang berada di seberang halte. "Ck, ck. Lo bela-belain bolos cuma buat jalan sama Meira, Bil?" ujarnya saat sudah sampai di hadapan keduanya. "Sambil pegangan tangan segala lagi."

Abil dan Meira tersadar, kemudian mengikuti arah pandang Haris kompak. Dengan salah tingkah, Meira segera membebaskan tangannya yang sejak tadi digenggam oleh Abil erat sekali. Sedangkan, Haris tampak sangat santai menyaksikan kegugupan Meira dan Abil.

"Nggak, tadi kita kebetulan aja ketemu di Panti Abil." jawab Meira sekenanya sambil berusaha tersenyum alami.

"Harus banget sambil gandengan ya?" tanya Haris seraya tersenyum tengil.

"Itu..." Meira kesulitan mencari alasan yang tepat.

"Lo juga ngapain ada disini?" Abil menyela, mengalihkan pembicaraan.

"Gue kesini niatnya mau nganterin Ayara buat ketemu sama lo. Tapi motor gue malah mogok, tuh di depan." jari telunjuk Haris mengarah pada motornya yang terparkir di pinggir jembatan.

Meira mengerutkan keningnya, ia menatap sekilas ke arah motor yang di tunjuk Haris. "Ayara?"

"Iya. Gue bareng dia tadi."

"Terus sekarang Ayara nya dimana?" tanya Meira lagi.

"Udah pergi, cemburu liat kalian." jawab Haris santai.

Meira membulatkan matanya mendengar itu. Terbesit perasaan bersalah dalam hatinya. Ayara pasti salah paham dengan apa yang ia lihat. Tanpa pikir panjang, Meira berlari cepat meninggalkan Abil dan Haris tanpa berpamitan. Ia berharap masih sempat menyusul kepergian Ayara.

"Mau kemana, Mei?" teriak Haris.

Abil hanya bisa menatap kepergian Meira sambil menghela napas berat. "Bisa ribet nih urusannya." keluhnya.

...\~\~\~...

"Kamu salah paham, Ayara." Meira berlari melewati pintu rumah, berusaha meraih tangan Ayara dan memberhentikan langkah lebar cewek itu.

"Dengerin dulu aku ngomong!" tegas Meira yang telah berhasil menghadang langkah Ayara.

Ayara memutar bola matanya malas. "Apa? Lo mau ngomong apa lagi? Mau jelasin kalau selama ini lo sama Abil saling suka, terus kalian jalan berdua. Gitu?!" ia melipat kedua tangannya di depan dada. "Ternyata lo emang bener-bener mau nikung gue, Mei!"

Meira mengekor di belakang Ayara yang kembali berjalan hendak menuju kamar. "Nikung apa sih. Kamu bukan pacarnya Abil!" kata Meira jengah.

Ayara refleks menghentikan langkahnya. Tubuhnya memutar menghadap ke arah Meira dengan mata yang terlihat memerah akibat menahan amarah.

"Gue tahu! Gue juga gak pantes jadi pacar dia!" kepala Ayara mengangguk sekali. "Gue bukan lo yang pinter, cantik, multitalenta, yang disukai sama banyak orang."

Seringai muncul di wajah Ayara. "Gue juga bukan kayak lo yang manfaatin semua kelebihan buat dapetin cowok yang disukai sama sahabatnya sendiri!" sambungnya dengan nada penuh penekanan.

Ayara berlari memasuki kamar untuk mengambil koper, kemudian memasukkan baju miliknya dengan cepat.

"Kamu mau kemana, Ayara?!"

Ayara tak menggubris. Ia langsung mengambil langkah keluar setelah menutup resleting kopernya. Tangannya dengan lincah mengangkat telepon yang baru saja masuk ke ponsel miliknya.

"Ay, gue udah di depan, nih."

Suara dari seberang telepon terdengar jelas di telinga Meira.

"Oke."

"Ra, kamu mau pergi kemana?" Meira meraih lengan Ayara, yang langsung cewek itu tepis dengan kasar.

"Bukan urusan lo!" Ayara kembali berjalan, ia sengaja menabrakkan bahunya pada bahu Meira dengan sedikit kencang. Hingga membuat Meira terhuyung mundur beberapa langkah.

"Ayara!"

Meira masih tetap mengejar Ayara sampai ke depan gerbang, hingga menemukan Lana sudah berdiri di sana.

"Mei, lo ikut nginep juga, kan?" tanya Lana saat sudah bertatap muka dengan Meira.

Meira melirik Lana sekilas, tidak berniat menjawab pertanyaan yang diajukan dari cewek itu.

"Ayo, Lan." tarik Ayara pada Lana.

"Lho, Meira gak— Ay, pelan-pelan, dong." Lana berusaha menyeimbangkan tubuhnya. Tangan sebelah kanannya terus ditarik paksa oleh Ayara menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari rumah Ayara.

"Mei, lo gak ikut?" teriak Lana sebelum dirinya di dorong untuk masuk ke bangku kemudi, disusul Ayara yang segera duduk di bangku penumpang setelah menyimpan koper di bagasi.

"Ayo, cepet jalan, Lan!" perintah Ayara.

"Iya, iya, sabar."

Lana menyalakan mesin mobil dan mulai menjalankannya. "Mei, kita pergi ya. Sampai ketemu besok di sekolah." pamitnya.

Meira hanya bisa mengangguk pasrah. Dibuangnya napas kasar seraya melihat mobil Lana yang melaju semakin menjauh dari pandangannya.

...\~\~\~...

1
Zanahhan226
ups, penuh misteri sekali ini..
listia_putu
ceritanya bagus kok, udah melewati 10 bab yg aku baca. tp kenapa pembacanya sedikit??? heran....
Zanahhan226
menarik dan misterius..
Zanahhan226
halo, aku mampir, Kak..
semangat, ya..
kita saling dukung ya..
🥰🥰
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
anggita
mampir ng👍like aja☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!