Seorang gadis bernama bifolla queen zealia atau biasa dipanggil dengan zea, ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan cowok tampan dan populer di sekolahnya, saka zyzenio leonardo atau kerap dipanggil dengan leo. Meskipun leo adalah kakak kelasnya, zea tidak bisa menolak perasaannya. Namun, leo cuek dan tidak peduli dengan keberadaan zea. Zea pun memutuskan untuk mengejar leo dan mencoba mendapatkan perhatiannya. Tapi, apakah leo akan tetap cuek atau mulai menyadari perasaan zea?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marsanda Marsanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kata lagu
Keesokan harinya....
Zea berjalan bersama chacha dan angel menuju ruang guru atau kantor sekolah. Sesuai katanya semalam, ia akan meminta formulir pendaftaran klub basket yang diincarnya.
"Klub basket sering ikut lomba nggak sih?" tanya zea.
"Yang gue tau, klub basket sering ngadain pertandingan setiap bulan dan sering juga ngikutin lomba antar sekolah." jawab angel.
"Tau banget lo!" ujar chacha.
"Tau dari kak leo."
"Kak leo sering cerita sama lo?" tanya zea.
"Jarang sih! info itu hasil gue dapat dari nguping pembicaraan kakak gue sama dia."
"Terus-terus, kak leo sering cerita apa aja selain ngomongin basket?" tabya zea yang tampak penasaran.
"Gue kurang tau ze."
"Kak leo pernah pacaran?" tanya zea.
"Kayaknya nggak pernah deh, lagian mana ada cewek yang mau sama gunung es!" kata angel.
"Gue mau kok!"
"Ya kecuali lo! sekalipun ada mereka nggak akan tahan sama kepribadian kak leo."
"Tapi banyak tuh yang suka sama kak leo!" kata zea.
"Mereka cuman suka mukanya doang ze! bukan pribadinya."
"Gue bakal jadi matahari buat kak leo, biar nanti dia mencair dan nggak jadi batu es lagi." ujar zea sambil tersenyum cerah.
"Semangat ze!" kata angel.
"Makasih ngel, gue pasti bisa."
"Sekali pun lo jadi matahari paling panas di dunia! kak leo nggak bakalan mencair ze, karna kak leo itu kayak es krim yang udah keburu basi!" ujar chacha.
"Chacha!" zea menatap nyalang kearah chacha.
"Habis lo udah bodoh dibuat dia."
"Ya namanya cinta pertama cha! lo dulu juga gitu kok sama kak rendi."
"Itu kan dulu ze, lagian kak rendi juga suka balik sama gue."
"Nanti kak leo juga bakalan suka balik sama gue."
"Ngel, besok kita ruqyah nih anak, kayaknya ini bukan zea deh."
"Bodoh ah, gue cabut." zea berjalan pergi meninggalkan mereka berdua, ia sedikit menghentak-hantakkan sepatunya dengan kesal.
"Tuh kan ngambek! tanggung jawab lo cha, gue nggak mau ikut-ikutan ya."
"Nanti juga balik lagi kesetelan awal kok." jawab chacha sembari berjalan menyusul zea, angel juga dengan gesit berjalan mengikuti chacha dari samping.
Mereka bertiga tiba di ruang guru, dan zea langsung menuju meja resepsionis yang dijaga oleh guru piket disana, ia akan meminta formulir pendaftaran klub basket.
"Selamat pagi buk, saya zea dari kelas X-1, zea mau minta formulir pendaftaran klub." kata zea dengan sopan kepada guru piket tersebut.
"Oh iya, tunggu sebentar ya! ibuk ambilkan formulirnya dulu."
Guru piket itu mengambil formulir dari laci meja dan memberikannya kepada zea. "Isi formulirnya dengan benar dan lengkap ya! jangan lupa dikembalikan lagi ke meja ini."
"Iya buk, makasih."
Zea duduk di sofa tunggu diikuti chacha dan angel.
"Ze!" chacha menghentikan tangan zea yang akan mengisi formulir tersebut.
"Kenapa cha?"
"Lo yakin?" tanya chacha.
Zea menatap chacha, ia melihat kekhawatiran yang jelas terpancar dimata sahabatnya itu.
"Seratus persen gue yakin banget." jawab zea dengan lembut untuk meyakinkan chacha.
Chacha membuang nafasnya dengan kasar lalu melepaskan pergelangan tangan zea.
"Udah, lo nggak usah khawatir! gue bakalan baik-baik aja kok cha."
"Yaudah, terserah lo deh ze kalo gitu."
Zea melanjutkan mengisi formulir pendaftaran tersebut dengan serius. Ia menulis nama, kelas, dan informasi lainnya dengan rapi, lalu zea memastikan semua kolom terisi dengan benar agar tidak ada yang terlewatkan dan tidak ada kesalahan.
Zea berjalan kembali ke arah meja resepsionis untuk mengembalikan formulir tersebut yang sudah diisi dengan rapi ditangannya, guru piket yang sama masih duduk dibelakang meja.
"Ini buk, udah zea isi semua!" zea memberikan kertas tersebut.
"Baiklah, terima kasih ya."
"Iya buk."
Setelah menyerahkan formulirnya, mereka bertiga meninggalkan meja tersebut dan berlalu keluar dari ruang guru.
****
Dikoridor sekolah, zea mendapati seseorang yang sangat dirindukannya sejak kemarin. Ia menghentikan langkahnya sejenak, jantungnya berdegup kencang untuk sesaat, tanpa pikir panjang zea langsung berlari menghampirinya.
"Kak leo!" panggil zea dengan senyum terpancar diwajahnya.
Leo memalingkan wajahnya, ekspresi bosan dan kesal terlihat jelas dimatanya. Kenapa harus bertemu dengan cewek ini lagi, selalu saja ada di mana-mana, membuat dia benar-benar tidak bisa bernafas sebentar saja.
Zea melihat wajah leo dengan kepalanya yang sedikit menunduk.
"Kak leo zea disini!" ujar zea, karena sejak tadi leo memandangi luasnya lapangan sekolah tanpa melirik zea sedikitpun.
"Kak leo sorry ya, kemarin zea nggak sempat ketemu sama kak leo, soalnya kemarin zea sakit! jadi cuma bisa ngabisin waktu di UKS aja deh!" ujar zea kembali.
Leo beralih menatap zea dengan jengah.
"Minggir!!" ujar leo, tentunya dengan wajah datar, ia tidak menanggapi celotehan zea yang nggak penting menurutnya.
"Kak leo mau kemana?" tanya zea masih dengan senyumannya.
"Bukan urusan lo."
"Kak leo, zea tadi daftarin diri ke klub basket! kayaknya kita bakal sering ketemu deh."
Mata leo melebar sedikit, seolah ia terkejut tapi dengan cepat ia kembali ke ekspresi sebelumnya dingin tanpa emosi. Mana mungkin cewek pendek seperti yakult kurcaci bisa main basket, yang ada dia cuman bisa jadi beban saja dan bakalan selalu nempelin dia. Leo menghela nafas perlahan sambil menatap zea yang masih tersenyum tanpa keraguan.
"Kak leo tau nggak sama lagu, I like you so much, you'll know it. Yang artinya, (gue sangat suka sama lo, nggak mungkin lo nggak tau)!"
"Kata honey jemlan, i like your eyes, you look away when you pretend not to care. (Gue suka mata lo saat lo nggak perduli). So! gue nggak akan berhenti ngejar lo kak! karena ada sesuatu yang menarik dan misterius dibalik tatapan mata kak leo yang dingin ini." tambah zea dengan nada serius.
Leo mendengarkan setiap kata perkata yang zea ucapkan dengan nada serius, tidak seperti biasanya, manja dan menyebalkan. Leo kembali menampilkan ekspresinya seperti semula.
"Terserah lo! dan nggak usah banyak omong!" ujar leo dan berlalu pergi.
Zea hanya menatap kepergian leo tanpa mencegat cowok itu untuk berhenti.
"Okey, sorry kalo zea banyak omong." ujar zea dengan sedikit kesal, namun leo sudah jauh dari jangkauannya.
"Tuh kan, dia aja nggak respect sama lo ze! kayak kulkas berjalan, nggak ada ekspresi apapun." ujar chacha sambil menunjuk-nunjuk leo dengan geram.
"Sabar cha." angel mengelus punggung chacha sambil tertawa cekikikan.
"Kesel gue! sumpah!"
Zea hanya menghela nafas dengan gusar, ia tidak memperdulikan kedua sahabatnya yang sedang membicarakan leo dibelakang.
****
"Selamat pagi, anak-anak!" ibuk santi memasuki area kelas X-1 dengan senyum ramah terpancar diwajahnya.
"Pagi buk....."
"Okay emm...semuanya udah pada ngisi formulir pendaftaran klub kan?"
"Udah buk."
"Hari jum'at ini, kalian semua yang sudah mendaftar dan mengisi formulirnya, akan mulai mengikuti pertemuan pertama di setiap klub masing-masing. Jadi pastikan kalian semua tahu jadwal dan tempat pertemuan klub yang kalian pilih." jelas buk santi.
"Serius buk?" tanya sany, salah satu siswi cewek dikelas mereka.
"Iya, dan persiapkan diri kalian ya, ibuk harap kalian semua betah di klub yang sudah kalian pilih."
"Iya buk, makasih." jawab semua murid dengan kompak.
"Oh ya, kemarin sampai halaman berapa belajarnya?"
"Halaman 23 buk."
"Okay, topik hari ini adalah tentang puisi dan analisisnya. Kita akan membahas struktur puisi, makna simbolis, dan cara menganalisis puisi dengan efektif." jelas buk santi.
"Siapa yang udah membaca puisi karya taufik ismail?" tanya buk santi sambil memandang sekeliling kelas.
Beberapa murid dikelas yang sudah membaca karya-karya nya mengangguk.
"Nah, taufik ismail ini adalah seorang penyair indonesia yang terkenal dengan karya-karya nya yang indah dan penuh makna." jelas buk santi.
Wali kelas mereka mulai menjelaskan tentang puisi dan cara menulis puisi dengan benar.
Zea, chacha dan angel mencatat hal-hal penting yang disampaikan dengan wali kelas mereka.
****
Tringg
Bell istirahat berbunyi, menandakan akhir dari pelajaran sebelumnya dan awal dari waktu istirahat. Chacha meregangkan otat-ototnya, mengangkat tangan ke atas dan memutar badan untuk menghilangkan rasa kaku setelah duduk lama dikelas. Angel yang berada dibelakangnya juga melakukan hal yang sama, meregangkan otat-ototnya.
"Ah, akhirnya istirahat! gue perlu ini." ujar chacha sambil menghirup udara dengan tenang dan tersenyum.
"Gue laper banget." timbal angel.
Sedangkan zea masih berkutat dangan buku tulisnya, mencatat materi yang belum ia selesaikan.
"Ze nanti lanjutin lagi, kita ke kantin dulu yuk." ujar chacha.
"Bentar! hampir selesai." zea masih terus menulis dan tetap fokus dengan bukunya.
"Nanti aja ze, lagian pelajaran nya udah abis kok! emang lo nggak laper apa?" tanya angel.
"Tanggung! lagian gue belum laper, kalo lo berdua udah ngebet banget, duluan aja sana nanti gue nyusul."
"Kita tungguin lo." ujar angel.
"Nggak papa kok, bentar lagi juga kelar ini, kalian duluan aja."
"Bentar lagi kan?" tanya chacha.
Zea menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan pertanyaan chacha.
"Yaudah, kalo gitu kita tungguin."
"Thanks guys, gue cuman butuh berapa menit lagi."
Chacha dan angel setia menunggu zea menyelesaikan semua catatannya.
"Lo kayak mesin fotocopy ze! selalu nge-print tanpa henti!" ucap angel.
"Hahaha, emang bener sih! zea kalo udah fokus belajar nggak ada yang bisa ngehentiin dia." jawab chacha.
Chacha dan angel terus menunggu zea sembari mereka mengobrolkan hal-hal random.
Setelah beberapa menit, zea menutup buku catatannya dan tersenyum puas.
"Akhirnya selesai juga." ujar zea, meregangkan otat-ototnya.
"Gimana princess? udah kelar semua?" tanya chacha.
"Ah, lega juga gue." ujar zea sambil tersenyum simpul.
"Yaudah, cabut yuk." ajak angel.
"Buru! gue udah nggak sabar, sumpah laper banget!" sarkas chacha.
Zea dan angel mengacungkan jempol mereka.
Bersambung