Di dunia tempat kekuatan adalah hukum dan kelemahan adalah dosa, Qiu Liong hanyalah sampah sekte murid buangan dengan akar spiritual retak, bahan ejekan, dan simbol kegagalan.
Ia dihina, dipermalukan, bahkan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya.
Namun takdir berputar ketika ia menemukan Inti Kekosongan Tanpa Batas, warisan kuno dari dewa yang telah musnah. Kekuatan itu bukan sekadar energi… melainkan kemampuan untuk menembus hukum langit, menelan takdir, dan menciptakan ulang realitas.
Dari seorang pecundang yang diinjak-injak, Qiu Liong bangkit.
Ia akan merobek langit. Menghancurkan para dewa. Dan memahat namanya sebagai legenda yang tak akan pernah pudar.
Karena ketika dunia menertawakannya…
ia diam-diam sedang belajar menjadi tak terbatas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Senyum
Malam perjamuan telah usai, tetapi gema percakapan masih tertinggal di benak Qiu Liong.
Senyum-senyum itu.
Terlalu ringan.
Terlalu rapi.
Ia berjalan sendirian menyusuri koridor batu Aula Dalam. Lentera di dinding memancarkan cahaya kekuningan yang memanjang seperti bayangan tipis di lantai. Suasana sunyi, namun pikirannya tidak.
Senyum Liang Zhen.
Kata-katanya.
Dan jeda kecil sebelum ia menjawab pertanyaan tentang masa depan.
Itu bukan reaksi spontan.
Itu reaksi terukur.
Qiu Liong berhenti di tikungan koridor. Ia memejamkan mata dan menenangkan napas. Inti Kekosongan di dalam dirinya berputar pelan. Stabil. Namun lebih peka dari sebelumnya.
Ia mengingat kembali satu hal yang terasa ganjil.
Energi Liang Zhen.
Terlalu halus.
Terlalu… tertutup.
Seorang kultivator biasanya memancarkan karakter qi-nya, entah kuat, agresif, atau hangat. Namun energi Liang Zhen seperti danau yang tak beriak tenang bukan karena damai, tetapi karena menyembunyikan kedalaman.
Langkah pelan terdengar dari arah taman belakang aula.
Qiu Liong tidak bergerak. Ia hanya memfokuskan persepsi qi-nya.
Dua orang.
Berbicara pelan.
Ia melangkah lebih dekat, tetap menjaga napasnya ringan.
Di balik dinding batu yang ditumbuhi tanaman rambat, suara itu menjadi lebih jelas.
“…tetua mulai mencurigai pergerakan energi di lereng timur.”
Suara pertama terdengar gugup.
“Kau terlalu khawatir,” jawab suara kedua dengan tenang.
Suara itu
Liang Zhen.
Jantung Qiu Liong berdetak lebih keras, namun wajahnya tetap tanpa ekspresi.
“Aku sudah mengatur semuanya. Jejaknya tidak akan sampai padaku.”
“Tapi bagaimana dengan murid itu?”
Ada jeda.
“Qiu Liong?” Suara Liang Zhen terdengar ringan. “Ia hanya kebetulan berada di jalur yang sama.”
“Dan jika ia mengetahui sesuatu?”
Senyap.
Lalu tawa kecil.
“Orang yang terlalu cepat bersinar biasanya menarik petir.”
Kalimat itu sederhana.
Namun cukup untuk membuat darah Qiu Liong terasa lebih dingin.
Ia mundur perlahan, tidak ingin keberadaannya terdeteksi. Di dalam dirinya, Inti Kekosongan bergetar tipis, seolah merespons ancaman yang tidak kasatmata.
Jadi benar.
Ada sesuatu yang terjadi di lereng timur.
Tempat kabut.
Tempat ia berlatih.
Dan Liang Zhen tahu.
Bahkan mungkin… lebih dari itu.
Qiu Liong kembali ke kamarnya tanpa suara. Setiap langkahnya kini terasa lebih berat, bukan karena takut melainkan karena kesadaran.
Senyum itu bukan sekadar tirai.
Ia adalah jebakan.
Ia duduk bersila, mencoba menyusun potongan yang ia miliki.
Perhatian para tetua.
Energi aneh di lereng.
Ketenangan Liang Zhen yang terlalu sempurna.
Dan peringatan samar yang ia lontarkan di perjamuan.
“Kau terlalu berhati-hati.”
Bukan.
Ia justru belum cukup berhati-hati.
Ada permainan yang lebih besar sedang berjalan.
Dan ia mungkin sudah berdiri di tengah papan catur tanpa menyadarinya.
Untuk pertama kalinya sejak memperoleh kekuatan ini, Qiu Liong merasakan sesuatu yang berbeda dari haus atau kendali.
Kewaspadaan.
Ia menatap tangannya sendiri.
Kekuatan bisa membuatnya ditakuti.
Namun kecerdasanlah yang akan membuatnya bertahan.
Di luar, angin malam berdesir pelan.
Ia memejamkan mata dan membiarkan pusaran di dalam dirinya berputar lebih dalam.
Bukan untuk menyerap.
Bukan untuk menyerang.
Namun untuk merasakan.
Jika Liang Zhen bermain dalam bayangan
maka ia harus menjadi bayangan yang lebih sunyi.
Senyum bisa menyembunyikan niat.
Namun energi
selalu meninggalkan jejak bagi mereka yang cukup tenang untuk merasakannya.
Dan malam itu, Qiu Liong bersumpah dalam diam
ia tidak akan lagi menjadi bidak.
Jika senyum adalah topeng,
maka ia akan belajar membaca wajah di baliknya.
jangan bikin kecewa ya🙏💪