"Kau pikir aku masih wanita lemah yang dulu?"
Dara Alvarino, dokter bedah kelompok mafia paling ditakuti mati ditikam dari belakang oleh sahabatnya sendiri. Saat membuka mata, ia terbangun dalam tubuh Kiara Adisaputra, istri lemah yang sedang hamil tiga bulan, dipukuli suaminya sendiri karena dituduh selingkuh.
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipinya. "Pelacur! Ngaku saja kalau anak itu bukan anakku!"
Arkan Adisaputra, suaminya berdiri dengan mata penuh kebencian. Di belakangnya, Lenna si adik angkat tersenyum tipis, pura-pura cemas. "Kak Arkan, jangan kasar... Kak Kiara kan sedang hamil..."
Dara yang sekarang Kiara menatap tajam. Tubuh ini lemah, tapi jiwanya adalah predator yang pernah membedah tubuh manusia tanpa berkedip.
"Kau mau bukti?" Kiara berdiri, mengusap darah di sudut bibirnya. "Aku akan tunjukkan siapa yang sebenarnya berbohong di rumah ini."
Pembalasan dimulai. Kali ini, ia tidak akan mati sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 - PENGETAHUAN YANG MENYELAMATKAN
Regan duduk di kursi samping ranjang, menatap Kiara dengan ekspresi serius yang sangat berbeda dari Arkan.
"Sebelum kita bicara, aku mau tanya. Kenapa kamu berubah, Kak?"
Dara atau Kiara menatapnya waspada. "Maksudmu?"
"Kakak Kiara yang aku kenal dua tahun lalu itu pendiam, penurut, takut sama bayangannya sendiri. Tapi sekarang..." Regan bersandar, mengamatinya. "Matamu berbeda, tajam seperti orang yang pernah lihat banyak hal gelap."
Dara terdiam, Regan lebih peka dari yang dia kira.
"Orang berubah kalau sudah hampir mati," jawabnya hati-hati.
"Itu benar, tapi perubahanmu terlalu drastis." Regan tersenyum tipis. "Tapi aku tidak peduli. Yang penting, sekarang kamu punya nyali untuk melawan. Itu yang aku suka."
"Kenapa kamu mau bantu aku? Aku bahkan tidak kenal kamu."
"Karena aku benci Lenna." Nada suaranya berubah dingin. "Dan aku tahu dia berbahaya sejak lama."
"Ceritakan."
Regan mengambil napas panjang. "Lima tahun lalu, aku punya kekasih. Namanya Della, baik, cantik, dari keluarga sederhana. Kami serius, aku mau nikah dengannya."
Dara mendengarkan dengan seksama.
"Tapi Lenna tidak suka. Dia bilang Della tidak setara dengan keluarga Adisaputra. Dia membisikkan racun ke telinga ibu, ke telinga Arkan. Perlahan, mereka semua benci Della."
"Terus?"
"Suatu hari, Della kecelakaan. Mobilnya masuk jurang." Regan mengepalkan tangannya. "Polisi bilang rem blong. Tapi aku tahu rem mobil Della baru aku servis seminggu sebelumnya, tidak mungkin blong."
Dara merasakan dingin menjalar di punggungnya.
"Kamu curiga Lenna?"
"Aku lebih dari curiga, aku yakin. Tapi tidak ada bukti, dan ketika aku mencoba menyelidiki, tiba-tiba aku dipindahkan ke kantor cabang di Surabaya atas 'permintaan' ibu dan Arkan. Mereka bilang aku perlu 'menenangkan diri'."
"Dan Lenna lolos begitu saja."
"Seperti biasa." Regan menatapnya. "Jadi ketika aku dengar Kakak hampir keguguran setelah minum sesuatu dari Lenna, aku langsung tahu polanya. Dia tidak berubah."
Dara mengangguk perlahan, pola yang sama. Menyingkirkan siapapun yang menghalangi.
"Aku butuh bantuanmu," kata Dara. "Aku punya bukti foto Lenna dengan pria lain, tapi itu tidak cukup."
"Pria lain?" Regan tertarik. "Siapa?"
"Namanya Rio. Dari foto-foto mereka, sepertinya mereka sudah lama berhubungan."
Regan mengeluarkan laptopnya. "Beri aku detailnya, aku akan cari tahu siapa Rio ini."
Tapi sebelum Dara bisa menjawab, perutnya kram lagi. Dia meringis, memegang perutnya.
"Kak, kamu baik-baik saja?"
"Tidak... kontraksi lagi..."
Regan langsung menekan tombol panggilan perawat. "Bertahan, Kak. Dokter akan datang."
Tapi Dara tahu dokter butuh waktu, dan rasa sakitnya semakin parah.
Tidak... Tidak sekarang, aku belum selesai.
Dengan napas tersengal, Dara mengingat pengetahuan medisnya. Kontraksi dini... Dia butuh relaksasi uterus, dia butuh...
"Regan, dengarkan aku," katanya cepat meski napasnya sesak. "Di tasku... ada botol kecil... obat... ambilkan..."
Regan langsung membongkar tas Kiara yang ada di lemari. "Yang mana?"
"Botol... cokelat... berlabel... magnesium..."
"Dapat!"
"Beri ke perawat... bilang aku butuh... injeksi magnesium sulfat... sekarang..."
Regan tidak bertanya, dia langsung berlari keluar.
Dara memejamkan mata, mencoba mengontrol napasnya. Magnesium sulfat adalah tocolytic, obat yang bisa menghentikan kontraksi prematur. Dia tahu ini karena dia pernah menangani kasus serupa di kehidupan lamanya.
Kumohon... kumohon berhasil...
Perawat masuk terburu-buru, diikuti Regan.
"Nyonya minta injeksi magnesium sulfat?" tanya perawat ragu.
"Ya... untuk... kontraksi..." Dara hampir tidak bisa bicara.
"Tapi ini harus dengan persetujuan dokter..."
"SEKARANG!" bentak Regan. "Atau aku akan laporkan rumah sakit ini karena malpraktik membiarkan pasien kesakitan!"
Perawat tersentak, lalu dengan tangan gemetar mulai menyiapkan injeksi.
Jarum menancap di lengan Dara, cairan dingin mengalir ke pembuluh darahnya.
Perlahan... sangat perlahan kontraksi mulai mereda.
Napasnya yang tersengal mulai teratur, rasa sakit berkurang.
"Berhasil..." bisiknya lega.
Perawat menatapnya dengan mata membulat. "Nyonya... Nyonya dokter?"
Dara tersadar, dia terlalu memperlihatkan pengetahuan medisnya.
"Tidak... aku cuma... baca-baca..." jawabnya lemah.
Tapi perawat masih menatapnya curiga sebelum akhirnya keluar.
Regan duduk kembali, menatap Kiara dengan tatapan baru, kagum bercampur curiga.
"Kak, kamu bukan orang biasa, kan?"
Dara terdiam, dia tidak bisa terus menyembunyikan ini.
"Regan, kalau aku bilang... aku punya rahasia besar... kamu akan percaya?"
"Tergantung rahasianya apa."
Dara mengambil napas, ini judi besar. Tapi dia butuh sekutu yang benar-benar dia bisa percaya atau setidaknya yang punya kepentingan sama dengannya.
"Aku... pernah jadi dokter di kehidupan lain."
Regan mengerutkan kening. "Kehidupan lain? Maksudnya?"
"Maksudku..." Dara memilih kata-kata dengan hati-hati. "Aku pernah punya pengetahuan medis, banyak... lebih dari orang biasa. Dan pengetahuan itu menyelamatkan nyawaku hari ini."
Tidak sepenuhnya bohong, tapi juga tidak sepenuhnya jujur.
Regan menatapnya lama, lalu mengangguk perlahan. "Aku tidak akan tanya lebih jauh, yang penting kamu bisa bertahan. Itu sudah cukup."
"Terima kasih."
"Tapi Kak..." Regan bersandar, menatapnya serius. "Kalau kamu punya pengetahuan sebanyak itu, kenapa kamu diam saja selama dua tahun? Kenapa baru sekarang melawan?"
Pertanyaan yang sulit dijawab tanpa membongkar identitas aslinya.
"Karena... aku baru sadar, kalau aku tidak melawan, aku akan mati. Dan aku sudah pernah... nyaris mati sekali, aku tidak mau mengalaminya lagi."
Sebagian besar itu benar.
Regan mengangguk. "Aku mengerti, orang yang pernah lihat kematian dari dekat akan berubah."
"Ya."
"Kalau begitu, kita bekerja sama. Aku akan bantu kamu menghancurkan Lenna. Sebagai balasan..." Regan menatapnya tajam, "...kamu harus berjanji, kalau kamu menang, kamu akan bantu aku cari kebenaran tentang kematian Della."
Dara mengulurkan tangannya. "Deal."
Mereka berjabat tangan.
Untuk pertama kalinya sejak terbangun di tubuh Kiara, Dara merasa tidak sendirian.
***
Sore harinya, Dr. Susan kembali untuk memeriksa kondisi Kiara.
"Nyonya beruntung, kontraksi sudah berhenti. Tapi Nyonya harus bed rest total, tidak boleh stres, tidak boleh kelelahan."
"Berapa lama?"
"Minimal dua minggu. Dan sebaiknya ada yang menemani Nyonya di rumah, untuk berjaga-jaga."
Dara mengangguk... Dua minggu waktu yang cukup untuk merencanakan langkah selanjutnya.
"Dokter, tentang sampel darah yang tadi..."
"Sudah kami simpan dan kami lakukan tes lengkap, hasilnya akan keluar besok. Kami juga sudah dokumentasikan semuanya untuk keperluan hukum kalau Nyonya memang mau menempuh jalur itu."
"Terima kasih, Dokter."
Setelah Dr. Susan pergi, Regan kembali dengan laptopnya.
"Kak, aku dapat info tentang Rio."
"Cepat sekali."
"Aku punya kenalan di kepolisian." Regan membuka laptop, menunjukkan profil seorang pria. "Rio Prasetya, dua puluh delapan tahun, bekerja sebagai marketing di perusahaan properti menengah. Gaji standar, tidak ada yang istimewa."
"Hubungannya dengan Lenna?"
"Mereka pacaran sejak SMA, tapi setelah Lenna diadopsi keluarga Adisaputra, dia mulai menjaga jarak. Setidaknya di permukaan."
"Tapi sebenarnya mereka masih berhubungan."
"Persis. Aku dapat info, mereka sering ketemu di apartemen Rio. Seminggu sekali, biasanya malam Jumat."
Dara tersenyum tipis. "Malam Jumat, malam di mana Lenna selalu bilang dia ada pengajian wanita."
"Pengajian." Regan mendengus. "Yang dia ajian cuma Rio."
"Kita butuh bukti lebih kuat, video atau foto mereka berdua di apartemen Rio."
"Aku bisa atur itu, aku kenal orang yang bisa pasang kamera tersembunyi."
"Lakukan. Kita butuh bukti yang tidak bisa dibantah."
Regan menutup laptopnya. "Kak, aku mau tanya satu hal lagi."
"Apa?"
"Kamu... kamu masih cinta sama Arkan?"
Dara terdiam, pertanyaan yang sulit.
Kiara yang asli mencintai Arkan, sangat mencintai. Meski tidak pernah dibalas.
Tapi Dara? Dara tidak pernah kenal Arkan sebelum terbangun di tubuh ini.
"Aku tidak tahu," jawabnya jujur. "Yang aku tahu, dia mengkhianatiku. Dia lebih percaya wanita lain daripada istrinya sendiri. Dan pengkhianatan..." Dara menatap tangannya yang gemetar mengingat Salma, "...adalah satu hal yang tidak bisa aku maafkan."
Regan mengangguk perlahan. "Aku mengerti. Kalau begitu, setelah kita menghancurkan Lenna apa rencana Kakak untuk Arkan?"
Dara tersenyum... senyum yang tidak sampai ke matanya.
"Aku belum tahu, tapi satu hal yang pasti dia akan menyesal. Seumur hidupnya."
lupita namanya siapa ya