Di sebuah fasilitas penelitian bawah tanah yang terisolasi dari peradaban, seorang peneliti jenius bernama Esmeralda Aramoa terjebak dalam dilema moral dan ancaman nyawa. Demi bayaran besar untuk kelangsungan hidupnya, ia setuju memimpin Proyek Enigma, sebuah eksperimen ilegal untuk menyatukan gen serigala purba ke dalam tubuh seorang pria bernama AL. Selama satu bulan, Esme menyaksikan transformasi mengerikan sekaligus memikat pada diri AL, yang kini bukan lagi manusia biasa, melainkan predator puncak dengan insting Enigma yang jauh lebih buas dari Alpha mana pun. Hubungan antara pencipta dan subjek ini menjadi permainan kucing dan tikus yang berbahaya, di mana batas antara benci, obsesi, dan insting liar mulai memudar saat AL mulai menunjukkan tanda-tanda perlawanan terhadap kurungan kacanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Pesona Sang Kepala Keluarga
Kabar mengenai keberanian dan kerja keras Aleksander De Januer menyebar lebih cepat daripada spora jamur di musim hujan. Hanya dalam hitungan hari, identitasnya sebagai suami Esmeralda Aramoa yang baru bangun dari koma telah menjadi legenda romantis di seantero desa. Para penduduk, terutama kaum ibu dan gadis-gadis, seolah mengabaikan fakta bahwa Al memiliki tinggi badan yang tidak masuk akal. Bagi mereka, Al adalah sosok pahlawan kesiangan yang sangat tampan dan berbakti.
Pagi itu, Esme memutuskan untuk membawa Al ke pasar desa. Selain karena stok bahan makanan yang menipis akibat porsi makan Al yang luar biasa, Esme juga ingin menguji sejauh mana Al bisa menahan diri di tengah keramaian.
"Ingat, Aleksander," bisik Esme sambil merapikan kerah kaos baru Al yang berwarna biru dongker—warna yang membuat mata kuningnya terlihat semakin eksotis. "Pasar itu berisik. Banyak bau yang bercampur. Kau harus tetap di sampingku. Jangan lepaskan tanganku, mengerti? Dan jika ada yang bicara padamu, tersenyumlah saja."
Al mengangguk patuh, tangannya menggenggam jemari Esme dengan sangat protektif. "Aku mengerti, Moa. Aku akan menjadi dinding bagimu. Siapa pun yang mencoba menyenggolmu, akan berurusan dengan kepalan tanganku."
"Tidak! Tidak ada kepalan tangan! Cukup tersenyum!" koreksi Esme cepat, merasa ngeri membayangkan Al meninju tukang sayur hanya karena tidak sengaja menyenggol bahu Esme.
----
Begitu mereka menginjakkan kaki di pasar, suasana seketika menjadi hening sejenak sebelum kemudian pecah oleh bisik-bisik kagum. Al berjalan dengan dada membusung, matanya sesekali melirik uang di saku celananya dengan bangga.
"Aduh, Esme! Akhirnya kau bawa juga suamimu ini ke bawah!" seru Mak Inah, penjual daging langganan Esme. "Aleks, kemari Nak! Kau mau daging bagian apa untuk istrimu yang cantik ini?"
Al mendekat ke meja daging, hidungnya kembang kempis mencium aroma darah segar. Insting liarnya sempat berdenyut, namun dia segera menatap Esme. Mengingat janji menjadi "anak baik", Al memaksakan sebuah senyum lebar hingga lesung pipitnya terlihat.
"Berikan aku yang paling banyak nutrisinya, Mak. Istriku habis sakit, aku ingin dia jadi kuat lagi agar bisa memelukku lebih lama," jawab Al dengan kepolosan yang mematikan.
Mak Inah hampir saja menjatuhkan pisaunya. "Ya ampun! Kau dengar itu? Dia ingin dipeluk lebih lama! Esme, kau benar-benar memenangkan lotre kehidupan!"
Para ibu-ibu di sekitar lapang daging langsung berkumpul, mengerumuni Al seperti semut mengerumuni gula. Mereka memberikan bonus sayuran, buah-buahan, bahkan ada yang memberikan kupon diskon pandai besi. Al menerima semuanya dengan ucapan "terima kasih" yang kaku namun terdengar sangat tulus di telinga mereka.
Namun, di tengah suasana hangat itu, Jaka muncul bersama gerombolannya. Dia masih merasa dendam karena dipermalukan di kebun kemarin. Dia berdiri di tengah jalan pasar, mencoba memancing perhatian orang-orang.
"Woi, warga desa! Jangan tertipu sama wajahnya!" teriak Jaka dengan suara lantang. "Kalian tahu tidak? Kemarin di kebun, aku melihat dia berubah! Matanya menyala seperti setan, dan dia mengeluarkan suara geraman seperti harimau lapar! Dia itu bukan manusia, dia itu monster yang menyamar jadi suaminya Esme!"
Suasana pasar mendadak sunyi. Beberapa orang mulai saling pandang dengan ragu. Esme menegang, tangannya dingin karena ketakutan. Jika penduduk mulai curiga dan melakukan penggeledahan atau melaporkan ke pihak berwajib, habislah mereka.
Namun, reaksi penduduk justru di luar dugaan Esme.
"Halah, Jaka! Kau itu iri saja karena kalah saing!" celetuk Bibi Sarah yang sedang menawar cabai di dekat sana. "Aku melihat Aleks bekerja seharian. Dia itu sopan, rajin, dan sangat menyayangi istrinya. Mana ada monster yang mau mengupas apel untuk istrinya?"
"Benar! Aku juga lihat!" timpal penjual kue. "Kau pasti cuma halusinasi karena kepanasan di kebun, Jaka. Atau mungkin kau ketakutan karena badanmu kalah gede sama suami Esme!"
"Tapi dia beneran menggeram! Kuku-kukunya juga panjang!" Jaka bersikeras, wajahnya merah padam karena tidak dipercayai.
Al melepaskan tangan Esme sebentar dan berjalan mendekati Jaka. Tubuhnya yang menjulang tinggi membuat Jaka harus mendongak hingga lehernya pegal. Al menatap Jaka dengan tatapan bingung yang sangat polos.
"Paman Jaka... kenapa kau bilang aku monster?" tanya Al dengan suara rendah yang terdengar sedih. "Moa bilang, monster itu yang suka menyakiti orang. Aku tidak menyakiti siapa pun. Aku hanya ingin bekerja untuk beli obat istriku. Apakah mencari e-ko-no-mi itu perbuatan monster?"
Pertanyaan Al yang sangat polos dan "ngena" itu membuat para ibu-ibu serempak berseru "Oooohhh..." dengan nada prihatin.
"Tega sekali kau, Jaka! Dia ini orang sakit yang baru bangun dari koma, ingatannya saja belum pulih, kau malah menuduhnya macam-macam!" teriak Mak Inah sambil melemparkan seikat bayam ke arah Jaka. "Pergi kau dari sini! Jangan ganggu pengantin baru ini!"
Jaka yang kini justru menjadi musuh masyarakat di pasar itu akhirnya terpaksa pergi dengan perasaan malu yang luar biasa. Dia tidak menyangka bahwa pesona "suami lugu" milik Al jauh lebih kuat daripada peringatan logisnya.
Esme menarik napas lega, ia menghampiri Al yang masih tampak bingung. "Sudahlah, Aleksander. Jangan didengarkan. Ayo kita beli keperluan lain."
"Moa, apakah aku terlihat seperti monster?" bisik Al saat mereka berjalan menjauh.
Esme berhenti, ia menatap wajah Al yang terlihat sangat tulus. "Di mataku, kau adalah Aleksander. Dan selama kau menuruti kata-kataku, kau akan selalu menjadi manusia terbaik di bukit ini."
Al tersenyum puas, dia kembali menggandeng tangan Esme. "Kalau begitu, aku ingin beli kain bunga-bunga untukmu. Aku lihat tadi ada kain yang warnanya sama seperti matamu saat kau sedang marah. Cantik sekali."
Esme tertawa, wajahnya bersemu merah. "Mataku tidak berwarna bunga kalau sedang marah, bodoh! Tapi... baiklah, ayo kita cari kain itu."
Sepanjang jalan pulang, Al membawa semua belanjaan yang berat di pundaknya sementara tangannya yang bebas tetap menggenggam tangan Esme. Penduduk desa yang melihat mereka hanya bisa menghela napas baper. Esme, sang dokter tumbuhan yang kaku dan independen, kini terlihat sangat mungil dan dilindungi oleh raksasa tampan yang begitu memujanya.
Esme ngebatin sambil tersenyum-senyum sendiri melihat punggung Al, "Yah, meskipun ini semua bohong, tapi punya suami raksasa yang bisa diandalkan seperti ini... ternyata tidak buruk juga. Maaf ya Jaka, pesona predator lugu ini memang tidak ada tandingannya."
Tanpa Esme sadari, Al sesekali menoleh ke belakang, memastikan tidak ada yang mengikuti mereka. Di dalam kepalanya, instingnya mulai merekam jalanan pasar, bangunan desa, dan wajah-wajah orang. Dia sedang belajar mengenali wilayah kekuasaannya, tempat di mana dia akan melindungi "Moa"-nya dari siapa pun yang berani mengusik ketenangan mereka.
Kehidupan baru mereka di lereng bukit pun semakin terasa seperti dongeng yang nyata, meski dibangun di atas tumpukan rahasia yang setiap saat bisa meledak jika ingatan masa lalu AL mulai mengetuk pintu kesadarannya lebih keras lagi.