Aluna adalah gadis yang nyaris sempurna, pintar, cantik, dan menjadi pusat perhatian di SMA Bina Cendekia . Namun, hatinya hanya terkunci pada satu nama: Bara. Sahabat masa kecilnya yang pendiam, misterius, tapi selalu ada untuknya.
Sayangnya, cinta Aluna tak pernah sampai. Bukan karena Bara tak memiliki rasa yang sama, melainkan karena kehadiran Brian. Brian, cowok populer yang ceria sekaligus sahabat karib Bara, jatuh cinta setengah mati pada Aluna.
Bagi Bara, persahabatan adalah segalanya. Saat Brian meminta bantuannya untuk mendekati Aluna, Bara memilih untuk membunuh perasaannya sendiri. Ia menjauh, bersikap dingin, bahkan menjadi "kurir cinta" demi kebahagiaan Brian. Ia rela menuliskan puisi paling puitis untuk Aluna, meski setiap kata yang ia goreskan adalah luka bagi hatinya sendiri.
Aluna hancur melihat Bara yang terus mendorongnya ke pelukan orang lain. Ia merasa seperti barang yang sedang dioper, tanpa Bara tahu bahwa hanya dialah alasan Aluna tetap bertahan di sekolah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17, Getar yang kau abaikan
Setelah pagar rumah Aluna tertutup, Brian kembali menginjak gas. Namun, suasana di dalam mobil tidak lantas mencair. Brian berkali-kali melirik spion tengah, merasa ada yang tidak beres dengan sahabat yang duduk di belakangnya itu.
"Bar, lo kenapa? Kok wajah lo pucat banget?" tanya Brian, nada suaranya berubah khawatir.
Bara tersentak, ia segera mengalihkan pandangan ke luar jendela, menghindari tatapan Brian yang terlalu jujur. "Ah, nggak apa-apa, Bri. Gue cuma capek aja," sahut Bara pelan. Ia menyandarkan punggungnya yang terasa kaku. "Gue pengen cepat-cepat pulang, lo ngebut ya."
"Oh, oke oke. Istirahat lo, jangan dipaksa," sahut Brian tanpa curiga. Ia menambah kecepatan, membelah jalanan yang mulai temaram.
Sesampainya di depan rumah Bara, mobil itu berhenti dengan suara mesin yang halus. Bara membuka pintu, berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenaganya yang rasanya sudah terkuras habis sejak di sekolah tadi.
"Brian, yuk masuk dulu ke rumah," tawar Bara, sekadar basa-basi untuk menutupi rasa canggungnya.
"Gak usah, gue mau langsung pulang aja," jawab Brian dari balik kemudi. "Lo langsung tidur ya, Bar. Muka lo beneran nggak enak dilihat."
"Oh, ya udah. Makasih ya, Bri."
Bara menunggu sampai lampu belakang mobil Brian menghilang di tikungan sebelum akhirnya masuk ke rumah. Ia tidak menyapa siapa pun, kakinya langsung melangkah menuju kamar. Begitu pintu terkunci, ia melemparkan tasnya ke sembarang arah dan duduk di tepi tempat tidur yang dingin.
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia merogoh ponsel di saku jaketnya. Nama Aluna muncul di daftar kontak teratas.
" Lun, nanti malam bisa ketemu gak?"
Di tempat lain, Aluna yang sedang duduk diam di meja belajarnya tersentak saat ponselnya bergetar. Begitu melihat nama pengirimnya, dadanya kembali terasa sesak. Ia membalas dengan gerakan jari yang lambat.
"Mau ngapain bar?"
Bara menatap balasan itu. Ia menarik napas panjang, lalu mengetikkan sesuatu yang sebenarnya ia tahu sangat tidak tepat untuk situasi saat ini.
" Gue mau ajak lo nonton bioskop, mau nggak?"
Membaca pesan itu, hati Aluna terasa nyeri. Ada rasa perih yang menjalar di dadanya. Setelah semua yang terjadi, setelah Bara membiarkannya diperlakukan manis oleh Brian tanpa sepatah kata pun—kini Bara mengajaknya pergi seolah semuanya baik-baik saja. Seolah perasaan Aluna bisa ia mainkan sesuka hatinya.
Aluna memejamkan mata sejenak, menahan emosi yang mulai meluap.
" Gue capek, bar. Maaf ya."
Pesan itu terkirim. Aluna meletakkan ponselnya dengan posisi layar menghadap ke bawah. Ia menangis dalam diam, membenamkan wajah di antara kedua tangannya.
Namun, di kamarnya, Bara justru tidak bisa menerima penolakan itu. Rasa bersalah yang bercampur dengan rasa takut kehilangan membuatnya kehilangan akal sehat. Ia bangkit dari kasur, menyambar jaketnya, dan keluar rumah tanpa mempedulikan luka di tangannya yang mulai berdenyut lagi.
Sepuluh menit kemudian, Bara sudah berdiri di depan rumah Aluna. Ia menatap jendela kamar Aluna yang masih menyala. Dengan napas yang memburu, ia mengirimkan pesan terakhir.
"Luna aku udah ada didepan rumah, kamu cepat keluar ya."
Aluna terkejut. Ia segera beranjak ke jendela dan membuka gorden. Di bawah lampu jalan yang remang-remang, ia melihat sosok Bara berdiri di sana, menatap lurus ke arah jendela kamarnya.
"Nekat banget sih kamu, Bar," bisik Aluna dengan air mata yang kembali menetes. Antara benci dan rindu, Aluna terpaksa melangkah turun untuk menemui Bara, walaupun ia tau, Bara hanya akan menyakiti hatinya lagi.
Langkah kaki Aluna terasa berat saat menuruni anak tangga satu per satu. Setiap langkahnya diiringi oleh rasa sesak yang kian menghimpit. Di balik pintu kayu rumahnya, ia sempat berhenti sejenak, mengatur napas agar suaranya tidak terdengar gemetar.
Namun, begitu pintu terbuka dan matanya menangkap sosok Bara yang berdiri di depan pagar dengan wajah kacau, pertahanannya runtuh menjadi amarah.
"Bara, lo ngapain sih harus ke rumah gue? Kan tadi gue dah bilang, kalau gue gak mau!"
Suara Aluna melengking di tengah kesunyian malam, tajam dan penuh luka. Bara tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru bergerak maju, meraih pergelangan tangan Aluna di sela-sela jeruji pagar. Genggamannya erat, seolah-olah jika ia melepasnya sedetik saja, Aluna akan hilang selamanya.
"Aluna, aku... aku mau kita..." suara Bara parau, tertahan di tenggorokan.
"Kita apa, Bara?!" tantang Aluna. Ia menyentak tangannya, mencoba melepaskan diri, tapi Bara tidak membiarkannya. "Mau ajak nonton lagi? Mau pura-pura jadi sahabat yang baik lagi? Atau mau menunggu Brian datang ke sini biar lo bisa kasih gue ke dia lagi?"
Bara menunduk, matanya berkaca-kaca menatap perban di tangannya "Aku mau kita jujur sama Brian tentang perasaan kita, Lun."
Dunia seolah berhenti berputar . Ia terdiam kaku, menatap wajah Bara dengan tatapan yang sangat tajam, menembus manik mata Bara, yang dipenuhi keraguan.
"Cukup ya, Bar, sandiwaranya, Lo kenapa sih pintar banget buat nyakitin hati aku? Hah? Kemarin kamu yang bilang sendiri di depan Brian kalau kita gak ada apa-apa. Kamu yang dorong aku ke dia! Dan sekarang... sekarang lo minta buat jujur lagi tentang perasaan kita? Lo memang benar-benar gila!"
"Lun, aku gak bisa kita seperti ini terus!" Bara akhirnya berteriak, suaranya pecah. "Aku gak bisa jauh dari kamu, apalagi melihat kamu mesra sama Brian tadi di mobil. Rasanya mau mati, Lun! Aku mau kita bilang ke Brian kalau kita itu saling cinta."
Aluna tertawa sinis, sebuah tawa yang penuh dengan kepahitan. Ia memalingkan wajahnya ke samping, merasa muak melihat wajah Bara yang selalu tampak memelas setelah melakukan kesalahan besar.
"Baru sekarang kamu bilang gitu? Setelah aku hancur? Setelah kamu kasih harapan ke Brian?" Aluna menoleh kembali, menatap Bara dengan tatapan benci. "Terserah. Gue capek lo permainkan terus-terusan, Bar. Perasaan gue bukan barang yang bisa lo kasih ke orang, terus lo ambil lagi kalau lo lagi butuh".
Aluna menyentak tangannya dengan kuat sampai terlepas. Ia berbalik tanpa menunggu jawaban lagi. Setiap langkahnya menuju rumah terasa seperti beban yang menghujam tubuhnya.
"Lun! Aluna, dengerin aku!" teriak Bara dari balik pagar.
Aluna tidak menoleh. Ia masuk ke dalam rumah dan menutup pintu depan dengan dentuman yang sangat keras.
Di luar, malam terasa semakin dingin. Bara jatuh terduduk di depan pagar, menyandarkan punggungnya pada besi yang beku. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, membiarkan tangisnya pecah tanpa suara. Bahunya berguncang hebat. Ia menyesali semuanya. Kebohongannya, kepengecutan nya, dan sikap plin-plan nya telah menghancurkan satu-satunya orang yang paling ia cintai.
Bersambung....
jangan lupa like dan rating lima nya kakak😌 terimakasih 🙏