NovelToon NovelToon
Gurial Tempest

Gurial Tempest

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Komedi
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: raffa zahran dio

Gurial Tempest

Di hari kelulusannya sebagai Knight Kerajaan Gurial Tempest, seorang wanita berusia 22 tahun akhirnya siap mengabdikan diri untuk melindungi tanah airnya.

Namun langit runtuh sebelum ia sempat memulai.

Sebuah meteor menghancurkan ibu kota. Dari balik kehancuran itu, pasukan misterius bernama Invader merebut kerajaan dalam sekejap. Di antara api dan puing-puing, sang Knight selamat—dan memikul satu tugas mustahil: menyelamatkan Little Princess serta Ratu Vexana.

Perjalanan yang seharusnya menjadi awal pengabdian berubah menjadi perjuangan mempertahankan harapan, mencari para Hero, dan menghadapi kebenaran tentang dunia yang tidak sesederhana hitam dan putih.

Dari kehancuran kerajaan, badai baru pun dimulai.

Inilah awal kisah Gurial Tempest.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raffa zahran dio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 : Barat wilayah gurun.

Siang itu, matahari menggantung tinggi di langit seperti koin emas raksasa yang malas bergerak. Udara perdesaan terasa kering dan hangat, membawa bau pasir, jerami, dan sedikit aroma besi dari gerbang desa besar di kejauhan.

Chika berjalan di sisi kanan, pedang besar Lumia terikat di punggungnya dan perisai Lumina menggantung di lengan. Selena berada di sisi kiri, masih setia di bawah payung merahnya—payung itu bukan sekadar gaya, melainkan tameng hidupnya dari sinar matahari. Marvin berjalan di tengah, tubuhnya tinggi besar seperti menara berjalan, langkahnya berat tapi teratur, duk… duk… membuat tanah sedikit bergetar.

Chika mendongak, lehernya harus agak ditarik ke belakang untuk menatap Marvin.

“Marvin… kita mau ke mana, sih?” tanyanya sambil mengipas wajah dengan tangan karena panas.

Marvin menggaruk pipinya yang kasar.

“Hm… katanya di sekitar sini akan ada parade. Parade Penguasa Gurun. Dua hari lagi.”

Selena melirik sekeliling dengan ekspresi curiga. Di sepanjang jalan, warga desa sibuk menempel poster bergambar pria bermahkota pasir dengan senyum kaku. Tangannya gemetar saat menempelkan lem.

“Kenapa mereka pasang poster jelek itu?” gumam Selena. “Dari wajahnya saja kelihatan mereka takut.”

Marvin menghela napas pendek.

“Karena paksaan. Kalau tidak pasang, mereka ditangkap. Dimasukkan penjara.”

Suasana mendadak terasa lebih berat.

Di depan mereka berdiri gerbang batu besar menuju desa utama. Prajurit gurun berjaga dengan tombak berujung sabit. Di depan gerbang, warga mengantre sambil menyerahkan kartu izin. Cekrek—cekrek, suara stempel izin terdengar berulang.

Chika menatap gerbang itu dengan mata penasaran.

“Marvin… memangnya di balik gerbang itu ada apa?”

“Parade sedang dipersiapkan,” jawab Marvin. “Tapi kita tidak punya kartu izin masuk. Kita harus mencarinya di wilayah barat.”

Selena menggerutu pelan sambil merapatkan payungnya.

“Aku tidak masalah sih… tapi kalau aku capek, kita berhenti, ya. Aku tidak suka tempat ini.”

Ia melirik ke samping dengan mata menyipit. “Dari tadi… para bandit itu lihat dadaku terus. Aku… geram.”

Marvin berhenti melangkah. Bahunya berputar pelan, suaranya menjadi datar.

“Nona Selena… tunjukkan siapa saja yang melakukannya.”

Selena menunjuk ke arah sebuah tenda kain besar tak jauh dari jalan. Di depannya, beberapa bandit bersandar sambil tertawa kasar.

“Yang di sana,” katanya singkat.

Marvin mengangguk.

“Baik.”

Chika berkedip.

“Marvin? Mau ke sana?”

“Iya. Sekalian menanyakan keberadaan Nayla.”

Marvin melangkah lebih dulu. Di belakangnya, Chika menoleh ke Selena. Selena hanya mengangguk, matanya berkilat seperti punya rencana sendiri.

Mereka tiba di depan tenda besar itu. Marvin mengulurkan tangan ke pintu kain.

WOOF.

Bukan dibuka—pintu itu hancur seperti pasir tersapu angin. Kainnya runtuh jadi debu tipis.

Chika terpaku.

“Eh… itu… pintu?”

Ia berbisik ke Selena, “Kalau Beatrix lihat ini… Marvin pasti dipanggil gorila.”

Selena menutup mulut menahan tawa.

“Kali ini… aku setuju.”

Mereka masuk.

Di dalam, beberapa bandit sudah tergeletak di lantai dengan pose aneh—ada yang miring seperti ikan kehabisan air, ada yang tengkurap memeluk karung gandum. Di tengah ruangan, Marvin mengangkat seorang bandit dari kerah bajunya, tubuhnya menggantung seperti boneka kain.

Chika menganga.

“Wah… baru beberapa detik. Marvin itu… monster ya.”

Selena tersenyum miring.

“Menarik juga… untuk tipe laki-lakiku.”

Marvin menatap bandit itu dengan sorot dingin.

“Kau yang melihat dada nona Selena?”

Bandit itu gemetar.

“A-aku… aku tidak sengaja! S-salahkan dia! Kenapa… kenapa dia pilih dada besar?!”

Selena membelalak.

“HINA NYA KAU!!”

Ia melangkah maju, sepatu botnya menghentak lantai.

“Marvin… boleh aku yang urus?”

Marvin melepaskan bandit itu, yang jatuh terduduk dengan buk.

“Baik, Nona Selena.”

Bandit itu belum sempat bangkit ketika benang darah tipis muncul dari ujung jari Selena, menusuk tanah di sampingnya dan melilit kakinya.

“Wah…” Selena mendekat sambil memiringkan kepala. “Mesum, ya? Sakit? Menyesal?”

Bandit itu panik.

“Nona! Ampun! Jangan darahku!”

“Baik,” kata Selena sambil mengangkat satu jari. “Ada satu syarat.”

“A-apa itu?! Lepaskan aku!”

Benang darah di jarinya menegang.

“Di mana gadis kecil bernama Nayla. Yang ditangkap pemimpinmu?”

Bandit itu menggertakkan gigi.

“Tidak akan kubilang! Lebih baik mati di tanganmu daripada di tangan dia!”

Selena tersenyum tipis.

“Oh? Berani juga.”

Benang darah itu berdenyut, membuat bandit itu menjerit dan kejang tanpa luka terlihat.

“Hm…” Selena menutup mata sebentar. “Darah elf berkulit gelap… rasanya aneh, tapi… lumayan.”

Bandit itu membelalak.

“Kau… vampir?!”

“Sekarang baru sadar?” Selena membuka mata. “Cepat jawab.”

“Ba-baiklah!! Dia di barat! Dijaga pemimpin bandit! Sekarang lepaskan aku!!”

Selena mendekat, menepuk pipinya dengan jari.

“Baiklah… tapi setelah aku ambil sedikit lagi.”

Tak lama kemudian, bandit itu terkulai lemas seperti karung kosong.

Selena menarik kembali benang darahnya dan berbalik ke Marvin.

“Marvin, gadis itu di sebelah barat. Cocok dengan tujuan kita mencari kartu izin.”

Chika mengepalkan tangan.

“Kalau begitu… ayo kita gas ke sana!”

Ia melangkah keluar tenda dengan semangat, lalu berhenti sejenak.

“…Eh, tapi panas.”

Selena memayungi Chika juga.

“Cepat sebelum aku gosong.”

Marvin mengangguk dan berjalan paling depan.

Langkah mereka kembali menyusuri pasir, menuju barat—ke arah bahaya, kartu izin, dan seorang gadis kecil bernama Nayla.

...----------------...

Angin gurun bertiup pelan, membawa butiran pasir yang berkilau seperti serpihan kaca di bawah matahari. Jalur barat tampak sepi, hanya hamparan pasir luas dengan beberapa batu hitam tersebar seperti tulang-belulang raksasa yang tertinggal.

Chika berjalan paling depan sambil bersenandung kecil, sesekali menendang pasir.

“Kalau terus lurus… kita sampai, kan?” katanya santai.

Selena berjalan di sampingnya sambil memegang payung merah, wajahnya sedikit masam.

“Tempat ini bikin kulitku gatal… dan banditnya bikin mataku gatal.”

Marvin di belakang mereka mengawasi sekitar dengan waspada, langkahnya berat namun stabil.

Tuk…

Tuk…

Tiba-tiba langkah Chika terasa… aneh.

“Hah?” Ia menurunkan pandangan. “Kenapa kakiku… kayak dipeluk pasir?”

Selena baru mau tertawa—

“Hehe, dasar cerob—”

GLUP.

Kaki Selena ikut tenggelam.

“E… EH?!” Selena menjerit, payungnya goyang. “Ini bukan pasir biasa!!”

Pasir di bawah mereka berputar perlahan seperti pusaran air mini, mengeluarkan suara aneh:

shhrrr… shhrrr…

Chika panik.

“MARVIN!! AKU DIMAKAN GURUN!!”

Selena meronta, gaunnya berkibar.

“Aku belum siap mati jadi patung pasir!!”

Pasir hisap itu menarik kaki mereka semakin dalam, sampai lutut.

Chika mulai berkaca-kaca.

“Kalau aku mati… bilang ke Beatrix… aku… aku tidak pernah mencuri roti terakhirnya…”

Selena memeluk payungnya seperti memeluk boneka.

“Kalau aku mati… tolong kubur aku di tempat teduh… dan… jangan bilang siapa pun ukuran asliku…”

Marvin menghela napas panjang, ekspresinya datar seperti sedang melihat anak kecil jatuh ke lumpur.

“…Kalian ini kenapa selalu menginjak hal berbahaya.”

Ia melangkah mendekat, pasir di bawah kakinya bahkan tidak sempat menghisap sebelum berat tubuhnya menekan dan mengeras.

Dengan satu tangan, Marvin mencengkeram bagian belakang zirah Chika.

Dengan tangan satunya… ia mengangkat gaun Selena di bagian kerah belakang (dengan jarak sopan).

“Eh—?!”

FWOSH.

Dalam satu tarikan, Chika dan Selena terangkat dari pasir seperti dua kucing basah.

Chika menendang-nendang udara.

“Turunin aku!! Aku masih bisa jalan!!”

Selena malah tersenyum, pipinya sedikit merah.

“Marvin… cara angkatmu… kasar tapi… aman.”

Marvin mengangkat alis.

“Diam. Kalian beratnya seperti dua karung gandum.”

Ia lalu membuka payung Selena lebih lebar dan memiringkannya, menutupi mereka bertiga dari matahari.

Sekarang pemandangannya absurd:

Marvin berjalan sambil menggendong dua wanita di kanan-kiri, payung merah menutupi kepala mereka seperti jamur raksasa.

Chika meronta kecil.

“Marvin, aku bisa jalan sendiri! Aku bukan anak kecil!”

Selena malah bersandar di bahu Marvin.

“Shhh… kalau kau turun, kau akan tenggelam lagi. Aku tidak mau mengulang drama ‘aku dimakan pasir’.”

Marvin menatap ke depan.

“Di sepanjang barat ini… banyak pasir hisap. Kalian tidak bisa membedakannya.”

Chika mendengus.

“Mana mungkin pasir bisa beda…”

TUK.

Marvin sengaja menjejak satu titik di depan.

GLUP.

Pasir itu langsung turun membentuk lubang kecil.

Chika membeku.

“…Oh.”

Selena menepuk bahu Chika.

“Lihat? Kau hampir jadi kue pasir lagi.”

Chika menghela napas panjang dan pasrah.

“…Baiklah. Angkat aku saja.”

Marvin berjalan mantap.

Duk… duk…

Setiap langkahnya membuat bayangan mereka bertiga bergerak di pasir seperti satu makhluk berkepala tiga di bawah payung merah.

Selena tersenyum sambil menatap langit.

“Kalau orang lihat kita sekarang… pasti mengira kita keluarga aneh.”

Chika meringis.

“Keluarga aneh yang hampir mati karena pasir.”

Marvin bergumam pelan.

“Keluarga yang tidak bisa melihat perangkap.”

Chika protes.

“Hei!”

Selena tertawa kecil, suara tawanya bercampur angin gurun.

“Baiklah… Tuan Pembawa Dua Wanita… antarkan kami ke barat dengan selamat.”

Marvin tidak menjawab, tapi langkahnya makin cepat.

Dan begitulah…

Di tengah jalur barat yang mematikan, tiga sosok berjalan di bawah satu payung merah:

satu raksasa tenang, satu ksatria cengeng, dan satu vampir yang terlalu menikmati situasi absurd ini.

...----------------...

Malam turun perlahan di gurun barat. Langit berubah ungu tua, lalu hitam pekat, dipenuhi bintang-bintang tajam seperti paku perak. Angin dingin menyapu pasir, membawa bau besi dan minyak mesin.

Di depan mereka…

jalan terputus.

Bukan tebing.

Bukan tembok batu.

Melainkan dinding pasir mengeras setinggi bangunan lima lantai, membentang seperti ombak raksasa yang membeku di tengah gerakan.

Chika menengadah sampai lehernya pegal.

“…Ini pasir atau kastil raksasa?”

Selena menggeser payung merahnya ke punggung—malam sudah cukup aman untuk kulit vampirnya.

“Kelihatannya seperti… pasir yang disiram lem dewa.”

Marvin melangkah ke depan, mengusap dagunya.

“Ini bukan jalur resmi. Tapi… aku bisa ambil jalan pintas lewat samping.”

Ia baru melangkah setengah langkah—

KRRRRRKKK.

Suara mesin meraung dari kegelapan.

Dari balik bukit pasir, bayangan muncul satu per satu.

Satu.

Dua.

Tiga…

hingga dua puluh bandit mengepung mereka dalam formasi setengah lingkaran.

Lampu merah menyala di senjata mereka—pedang energi merah, tombak mekanik, dan kapak bergigi.

Dan di belakang…

lima bandit menaiki motor gurun dengan roda berduri dan ujung tombak baja di depan kendaraan.

VROOOOMMMMM.

Chika refleks mengangkat perisainya.

“…Aku benci malam yang dimulai begini.”

Seorang bandit maju, helmnya berbentuk kepala serangga.

“Serahkan diri kalian. Wilayah ini milik Penguasa Gurun.”

Selena melangkah ke depan, matanya menyala merah samar.

“Maaf… kami alergi pada kata ‘serahkan diri’.”

Marvin mengepalkan tinjunya.

Sarung tangan baja raksasanya berbunyi:

KLANG… KLANG…

“…Kalau mau lewat, kalian harus lewat aku dulu.”

Bandit mengangkat tangan.

“SERANG!!”

⚔️ PERTARUNGAN DIMULAI

Motor gurun melesat lebih dulu.

VROOOOM—

Lima kendaraan meluncur seperti tombak hidup.

Chika menarik pedang besar Lumina.

Cahaya biru muda berkilat, petir mengalir di sepanjang bilahnya.

“Mode Petir: Lumina Drive!”

BZAAAAAAK!

Chika melompat tinggi, berputar di udara.

“TEBASAN PETIR — SKY BREAKER!!”

Pedangnya menghantam tanah di depan motor pertama.

BOOOOM!!

Gelombang listrik biru menyebar di pasir, membuat roda motor kejang.

Motor pertama terguling, pengendaranya terlempar seperti boneka kain.

Motor kedua dan ketiga mencoba menghindar.

Selena melangkah maju, jari-jarinya terangkat.

Darah tipis keluar dari pergelangan tangannya, melayang di udara seperti benang merah.

“Blood Art: Crimson Lance.”

Darah membentuk tombak panjang dengan ujung berputar seperti bor.

FWIPPP!

Selena melemparnya.

Tombak darah menembus pasir, lalu—

CRASH!

Motor keempat tertusuk dari samping dan terangkat ke udara sebelum jatuh dengan suara logam patah.

Bandit kelima meloncat dari motornya, mengayunkan kapak merah.

Marvin maju.

“Giliran aku.”

Ia menunduk sedikit, lalu…

BOOM.

Dengan satu langkah, tanah retak.

“Iron Fist: Desert Impact.”

Pukulan Marvin menghantam udara—

gelombang tekanannya menghantam bandit itu seperti tembok tak terlihat.

BLAM!!

Bandit itu terpelanting ke pasir dan tertanam setengah badan.

🔥 SERANGAN BALASAN

Bandit darat maju bersamaan.

Pedang merah menyala seperti bara.

Chika mengangkat perisainya.

“Lumina Guard!”

DANG! DANG! DANG!

Serangan menghantam perisainya bertubi-tubi, memercikkan cahaya emas-putih.

Chika meringis.

“Mereka rame banget!!”

Selena berputar anggun, gaunnya berkibar.

“Kalau ramai… kita buat sepi.”

Ia merentangkan kedua tangan.

“Blood Dominion: Spider Vein Field.”

Puluhan benang darah menyebar di pasir, tak terlihat.

Bandit yang melangkah—

SNAP!

Kaki mereka terjerat, jatuh satu per satu.

Selena menggerakkan jarinya.

“Crimson Pull.”

Bandit-bandit itu terseret dan bertabrakan satu sama lain seperti boneka kusut.

Marvin melompat ke tengah kerumunan.

“Titan Knuckle Barrage!”

BOOM! BOOM! BOOM!

Tinjunya bergerak cepat meski besar, menghantam bandit kiri-kanan.

Setiap pukulan membuat tubuh terangkat seperti diseret badai pasir.

⚡ KOMBINASI HERO

Chika berlari ke depan Selena.

“Selena! Pinjam darahmu sebentar!”

Selena tersenyum menyeringai.

“Jangan habiskan semua.”

Selena mengirim aliran darah ke pedang Chika.

Pedang Lumina bersinar biru-merah.

“Fusion Art: Thunder Blood Edge!”

Chika melompat, memutar pedangnya.

“TEBASAN HORIZON—!!”

ZRRRAAAKKK!!

Gelombang petir bercampur darah menghantam barisan bandit tersisa, menjatuhkan mereka seperti rumput diterjang badai.

Sisa bandit mundur.

“…Mundur!! Mereka monster!!”

🌙 SUNYI SETELAH BADAI

Angin malam kembali terdengar.

Pasir bergeser pelan.

Bandit-bandit tergeletak di sekitar mereka, ada yang pingsan, ada yang terkubur setengah badan.

Chika menurunkan pedangnya, terengah.

“…Aku capek… tapi itu keren.”

Selena meniup ujung jarinya, darah kembali ke tubuhnya.

“Nilai pertarungan malam ini… delapan dari sepuluh.”

Marvin mengendurkan tinjunya.

“…Sekarang kita bisa ambil jalan pintas.”

Chika menatap dinding pasir mengeras.

“…Dengan cara mukul?”

Marvin tersenyum tipis.

“Dengan cara mukul.”

BOOOOM.

Satu pukulan Marvin membuat retakan besar di dinding pasir.

Dan di baliknya…

gelap.

Terowongan.

Menuju barat.

Petualangan mereka… baru benar-benar dimulai.

...----------------...

Di balik dinding pasir yang dihancurkan Marvin, terowongan itu berubah menjadi gua alami. Langit-langitnya rendah dan bergerigi seperti rahang raksasa, dengan kristal pasir berkilau memantulkan cahaya obor kecil yang Chika nyalakan sebelum… ia langsung roboh.

Chika tidur telentang di atas pasir yang sudah dialasi mantel perisainya.

PLOK.

Ia mendengkur.

“Zzz… strike… home run… princes lempar bola…”

Tangannya mengayun-ayun seperti sedang memukul bola bisbol.

Selena meliriknya.

“…Dia mimpi main baseball sama princes.”

Marvin duduk bersandar pada dinding gua, membuka sarung tangan besinya sedikit agar tangannya bernapas.

“Dia tidur cepat sekali.”

Selena berjalan pelan mendekat Marvin. Gaun merahnya menyentuh pasir tanpa suara.

Ia berhenti di sampingnya, pura-pura menatap stalaktit.

“Marvin.”

“Hm?”

Selena menyilangkan tangan.

“Aku… penasaran. Kita berdua sama-sama Hero yang ditakdirkan Hero Sword. Bukankah aneh… kita bertemu di tempat seperti ini?”

Marvin menoleh.

Mata hitamnya memantulkan cahaya obor.

“…Mungkin.”

Selena duduk di batu kecil, jaraknya sengaja dekat.

“Ceritakan tentang Nayla.”

Marvin terdiam lama.

Suara angin gurun samar masuk lewat celah gua.

“…Beberapa tahun lalu, aku dikejar puluhan invader,” katanya pelan.

“Aku lari tanpa arah sampai masuk wilayah gurun ini. Luka di punggungku hampir membuatku mati.”

Ia mengepalkan tangan.

“Lalu… aku pingsan di dekat rumah kecil dari tanah liat.”

Selena mencondongkan tubuh, mendengarkan.

“Seorang gadis elf kecil membukakan pintu. Namanya Nayla. Dia tidak takut padaku. Dia membersihkan lukaku… dan memberiku acar kaktus.”

Selena berkedip.

“Acar… kaktus?”

Marvin mengangguk.

“Itu… anehnya enak. Asam, pedas, segar. Dia bilang itu resep keluarga.”

Nada suaranya menghangat.

“Aku tinggal di sana beberapa bulan. Membantu pasar, memperbaiki atap. Nayla selalu menungguku pulang dengan acar kaktus.”

Ia menunduk.

“Suatu hari aku pergi ke pasar beli makanan… Saat kembali… rumah itu kosong. Jejak kaki bandit di pasir.”

Selena mengepalkan payungnya.

“…Jadi itu sebabnya kau masuk penjara bandit.”

Marvin mengangguk.

“Ya. Aku mencarinya di semua sel. Tapi tidak ada.”

Selena berdiri.

“Kalau begitu… kita akan menemukannya.”

Marvin menatapnya, terkejut.

“Kenapa kau peduli?”

Selena memalingkan wajah.

“…Karena… Chika peduli. Dan… karena aku juga pernah kehilangan.”

Marvin ragu.

“Selena… kau vampir. Bukankah duniamu terpisah dari dunia ini?”

Selena tertawa kecil, pahit.

“Seharusnya begitu.”

Ia duduk lagi, memeluk lutut.

“Orang tuaku dibunuh oleh Dewa Bellial. Aku… kabur. Untuk hidup… aku harus minum darah manusia.”

Marvin menegang.

Selena melirik Chika yang tidur sambil mengayun tangan.

“…Aku bertemu dia di Hutan Gurial Tempest. Awalnya aku mau meminum darahnya.”

Marvin terkejut.

“Serius?”

Selena tersenyum miring.

“Tapi dia malah menolongku. Ngomong soal jenis darah, monster, elemen… Dia terlalu baik… dan terlalu bodoh.”

Chika menggumam,

“…home run… Selena wasit…”

Selena tersenyum lembut.

“Aku lupa meminum darahnya. Dan ternyata… aku bagian dari takdir Hero Sword.”

Marvin terdiam.

“…Jadi kau bertarung demi dendam?”

Selena menatap langit-langit gua.

“Awalnya. Sekarang… mungkin demi orang-orang yang berjalan bersamaku.”

Ia melirik Marvin.

“…Termasuk kau.”

Marvin menggaruk kepalanya.

“Oh… terima kasih.”

Selena mendekat sedikit lagi.

Wajahnya hanya beberapa jengkal dari Marvin.

“Marvin… kau kuat. Dan… baik.”

Marvin salah tingkah.

“A… aku hanya memukul.”

Selena tersenyum, mata merahnya berkilau.

“Kadang itu cukup.”

Chika tiba-tiba berguling.

“Selena… jangan gigit Marvin…”

Marvin dan Selena terkejut.

Selena cepat-cepat menjauh.

“DIAM KAU!”

Chika mendengkur lagi.

Marvin batuk kecil.

“…Dia sensitif.”

Selena tertawa.

“…Ya. Dan mungkin… dia alasan kita masih hidup.”

Gua itu kembali hening.

Obor berderak.

Di antara bayangan, dua Hero duduk berdampingan—

satu menatap masa lalu,

satu menyembunyikan perasaan yang baru tumbuh.

...----------------...

Matahari siang menggantung seperti bola api raksasa di langit barat gurun. Angin panas meniup pasir membentuk tirai tipis, memperlihatkan puluhan tenda bandit berjajar kasar seperti pasar penderitaan. Di tengahnya, warga desa berlutut—tangan terikat—dipaksa maju satu per satu ke meja kayu tempat kartu izin masuk dibagikan… setelah cambukan.

“Cepat! Menunduk!” teriak seorang bandit.

PLAK!

Cambuk berdesing. Seorang kakek roboh.

Chika berhenti di balik batu pasir. Matanya menyipit.

“Marvin… mereka nyiksa orang dulu baru kasih tiket.”

Marvin mengepalkan sarung tinju besinya. Logam berderit.

“Wilayah ini dikuasai orang yang salah.”

Selena membuka payung merahnya sedikit, menutupi wajah dari cahaya.

“…Boleh aku mulai dulu?”

Chika mengangguk.

“Formasi cepat. Aku tarik perhatian. Marvin, kamu hancurkan pusat. Selena… lindungi warga.”

Selena tersenyum miring.

“Dengan senang hati.”

SERANGAN PEMBUKA

Chika melompat keluar dari balik batu.

“HEI! BANDIT! TIKET MASUKNYA GRATIS HARI INI!”

Para bandit menoleh.

“Hah?! Tangkap dia!”

Chika mengayunkan Pedang Lumina.

CREEEZZZ!

Petir biru muda menyelimuti bilahnya.

“Lumina Step – Blue Flash!”

Tubuh Chika melesat zigzag seperti kilat, meninggalkan jejak cahaya.

Ia berputar di udara, menangkis tombak dengan Perisai Lumina.

CLANG! CLANG!

Chika mendarat dengan satu lutut, lalu meloncat lagi—

akrobatik salto ke belakang, menghindari panah yang melintas di pipinya.

“Woi! Jangan ngerusak rambutku!”

SELENA MASUK

Selena mengangkat jari. Setetes darah muncul, berubah menjadi benang merah tipis.

“Crimson Thread – Marionette.”

Benang darah menembus tanah, muncul di belakang dua bandit dan menarik kaki mereka.

“Eh?!”

BRUK!

Mereka jatuh menabrak tiang tenda.

Selena berjalan santai, matanya melirik ke arah Marvin.

“…Jangan kalah cepat, pahlawan.”

Marvin sudah bergerak.

MARVIN MENGHANCURKAN PUSAT

Ia melompat ke tengah kamp.

“Iron Knuckle – Sand Breaker!”

KABOOOM!

Pukulan ke tanah menciptakan gelombang pasir, melempar bandit ke udara seperti boneka kain.

Tenda pusat runtuh setengah.

“BERHENTI!” teriak salah satu pemimpin barat.

“Bunuh mereka!”

Lima bandit naik motor gurun berduri.

VRRRRRR!

KOMBO EPIC

Chika berlari ke arah motor.

“Marvin! Lempar aku!”

Marvin meraih pinggang zirah Chika dan melemparnya seperti peluru.

“HYAAAAA!”

Chika berputar di udara.

“Lumina Slash – Sky Arc!”

Tebasan berbentuk bulan sabit memotong ujung motor.

CRASH!

Selena mengangkat payungnya, lalu menutupnya cepat.

“Blood Spear – Scarlet Lance.”

Sebuah tombak darah terbentuk dan melesat menembus pasir, menjatuhkan dua pengendara.

Sambil bertarung, Selena sempat melirik Marvin yang sedang menahan serangan tiga bandit sekaligus.

“…Keren juga dia.”

Marvin memutar tubuh, menghantam bandit ke tenda.

“Iron Knuckle – Twin Crusher!”

DUAARR!

PEMBEBASAN WARGA

Chika berlari ke warga yang terikat.

“Pegang ini!”

Ia melempar perisai ke udara, memantulkannya ke tiang—

memotong tali dengan sisi energi.

“Cepat pergi ke utara! Ikuti bayangan batu!”

Warga berlari. Ada yang menangis, ada yang bersujud.

“Terima kasih… terima kasih…”

Selena berdiri di depan mereka, benang darah membentuk dinding tipis.

“Lewat sini. Jangan lihat ke belakang.”

AKHIR PERTEMPURAN

Sisa bandit tumbang satu per satu. Debu pasir turun perlahan.

Tinggal dua pemimpin barat, gemetar, di depan tenda utama.

Marvin berdiri di hadapan mereka.

“Wilayah ini bukan milik kalian.”

Ia meraih kerah mereka berdua dan melempar masuk ke dalam tenda.

“Duduk. Jangan bergerak.”

Chika berdiri di sampingnya, napas terengah.

“Berarti… kartu izin?”

Selena mengambil dua kartu dari meja.

“Kita dapat bonus.”

Chika mengangkat jempol.

“Desa barat… aman!”

Selena menatap Marvin, lalu berpaling cepat.

“…Kau tidak terluka?”

Marvin menggeleng.

“Tidak. Dan… terima kasih.”

Angin gurun bertiup lagi.

Tenda-tenda roboh, warga telah pergi, dan tiga sosok berdiri di tengah pasir—

satu dengan pedang bercahaya,

satu dengan benang darah yang masih berkilau,

dan satu dengan sarung tinju baja penuh debu.

Perjalanan ke Nayla…

baru saja dimulai.

...----------------...

Di dalam tenda pemimpin bandit, udara terasa pengap dan berbau pasir panas. Obor kecil di sudut tenda berkeredip, bayangannya menari di dinding kain yang penuh tambalan.

Di pojok tenda, dua pemimpin bandit berdiri kaku…

tanpa zirah, tanpa senjata—

terjebak di antara deretan kaktus berduri besar yang ditata melingkar seperti pagar hidup. Setiap duri berkilat kehijauan, seolah menunggu sedikit saja tubuh mereka bergerak.

Di sisi lain tenda…

Selena duduk bersila sambil memegang payungnya.

Marvin berdiri bersandar di tiang tenda, melipat tangan.

Keduanya menatap satu pemandangan absurd.

Chika.

Dengan wajah polos dan senyum cerah…

memegang sapu lidi.

Marvin berdeham.

“Non… nona Selena… kau yakin… dia bisa menginterogasi?”

Selena menatap Chika yang sedang menggeser kaktus pakai sapu.

“…Aku tidak tahu. Tapi… kadang-kadang, otaknya encer di saat paling aneh.”

INTEROGASI ALA CHIKA

Chika berdiri di depan dua pemimpin bandit.

“Hai, dua bandit~” katanya ceria.

“Aku boleh nanya nggak?”

Salah satu bandit menyeringai sinis.

“Cih… jangan harap kau dapat jawaban dari kami. Kau pikir siapa—”

SKRRT…

Chika mendorong kaktus dengan sapu lidi.

Duri mendekat ke perut mereka.

“EH?!”

Chika memiringkan kepala.

“Hehe… jawab dulu ya. Santai kok.”

Bandit kedua menggeram.

“Kau pikir ancaman receh begitu bikin kami takut?!”

Chika tersenyum…

senyum yang terlalu polos untuk situasi seperti ini.

“Oh. Oke.”

SKRRRTTT…

Ia mendorong lagi.

Kaktus makin rapat.

“A—AWAS! JANGAN DEKATKAN ITU!”

Chika menepuk sapunya ke tanah.

“Nama gadis kecil elf bernama Nayla… di mana?”

Bandit pertama meludah ke pasir.

“Ha! Kau peduli bocah itu? Dia sekarang… mainan pemimpin besar kami.”

Selena mendongak.

“…Mainan?”

Bandit itu tertawa.

“Setiap parade, dia dibawa seperti hewan peliharaan. Supaya rakyat tahu siapa yang berkuasa.”

Ruangan mendadak sunyi.

Chika menunduk sedikit.

“…Oh.”

Ia menatap mereka lagi.

Masih dengan senyum.

“…Kalian jahat, ya.”

Bandit kedua menyeringai.

“Dan kau bodoh. Pedangmu itu terlalu bagus buat orang sepertimu.”

CHIKA MULAI MARAH

Chika menarik Pedang Lumina sedikit dari sarungnya.

CIIING…

Cahaya biru muda memantul di mata bandit.

“E-eh?!”

Chika melangkah maju satu langkah.

“Kalau aku tusuk… perut kalian bocor nggak ya?”

Selena langsung berdiri.

“Chika?!”

Marvin ikut menegakkan tubuh.

“…Jangan keterlaluan.”

Namun Chika sudah mengangkat pedangnya, ujung bilah berhenti hanya beberapa jari dari perut bandit.

“Kalian suka nyiksa orang…”

“Sekarang giliran kalian jawab baik-baik.”

Bandit pertama mulai panik.

“Tunggu! Tunggu! Jangan bunuh kami!”

Bandit kedua berteriak:

“Dia… dia di desa besar! Di pusat kota! Besok parade besar! Pemimpin besar Triani sendiri yang mengurung Nayla!”

Chika berhenti.

“…Triani?”

“Iya! Dia selalu membawa gadis itu ke atas kereta parade! Seperti… seperti pameran!”

MARVIN MELEDAK

Udara berubah berat.

Marvin melangkah maju perlahan.

Satu langkah.

Dua langkah.

Sarung tinju besinya mengeluarkan bunyi krek… krek…

“Kau bilang…”

“Dia diperlakukan seperti hewan?”

Bandit menelan ludah.

“I… iya…”

Marvin berdiri tepat di depan mereka.

Tanpa berkata lagi…

Ia mendorong kaktus itu dengan kedua tangan besinya.

“AAAAAAAA—!!”

Duri menekan tubuh mereka dari segala arah.

Teriakan mereka teredam oleh kain tenda.

Selena memalingkan wajah.

Chika menggigit bibirnya.

Beberapa detik kemudian…

sunyi.

Marvin berdiri tegak, napas berat.

“Tenda ini… sudah tidak perlu diisi lagi.”

Ia berbalik.

“Besok.”

“Kita ke parade.”

Chika mengangguk pelan.

“…Kita jemput Nayla.”

Selena membuka payungnya sedikit.

Dan untuk pertama kalinya, senyumnya hilang.

“Dan kalau Triani menyentuh dia…”

Benang darah muncul di ujung jarinya.

“…aku tidak akan bertanya dua kali.”

Api obor bergoyang tertiup angin gurun malam.

Di luar tenda…

pasir berdesir pelan.

Parade esok hari…

akan berubah menjadi medan perang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!