Shaira Aluna Maheswari bertemu Raven Adhikara Pratama di masa remaja, saat hidup belum sepenuhnya rapi dan perasaan masih mudah tumbuh tanpa alasan. Hubungan mereka tidak pernah berjalan lurus. Datang, pergi, lalu kembali di waktu yang selalu terasa salah.
Setiap pertemuan selalu meninggalkan rasa, setiap perpisahan menyisakan luka yang belum benar-benar sembuh.
Di antara pertemanan, cinta yang tumbuh diam-diam, dan jarak yang memaksa mereka berpisah, Shaira belajar bahwa tidak semua kisah harus berakhir bersama. Beberapa hanya perlu dikenang sebagai bagian terbaik yang pernah singgah.
Best Part adalah cerita tentang cinta yang tidak selalu memiliki akhir bahagia, namun cukup berarti untuk dikenang seumur hidup.
—Inspired by a true story. Some feelings never really leave, they just become stories.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiadilkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35 - Perasaan yang Tidak Pergi
..."Beberapa orang datang bukan untuk menetap, tapi untuk mengajarkan bagaimana rasanya dicintai dengan benar."...
Happy Reading!
...----------------...
Rumah Shaira sore itu terasa lebih sepi dari biasanya.
Jam dinding di ruang tamu berdetak pelan, terlalu jelas terdengar karena tidak ada suara lain yang mengimbangi. Mama dan papanya sedang keluar kota, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, Shaira benar-benar sendirian di rumah.
Ia duduk di tepi tempat tidur, ponselnya berada di genggaman. Layar chat dengan Nara terbuka cukup lama sebelum akhirnya ia mengetik.
"Nar, lo bisa ke rumah nggak?"
Titik tiga sempat muncul, lalu hilang. Muncul lagi.
"Kenapa?"
Shaira menggigit bibir bawahnya sebentar sebelum mengetik lagi.
"Temenin gue bentar. Rumah kosong."
Balasan Nara datang cepat.
"Otw."
...----------------...
Sekitar lima menit kemudian, bel rumah berbunyi.
Shaira yang sejak tadi hanya duduk bersandar di kepala ranjang langsung bangkit. Ia berjalan agak cepat ke pintu, lalu menarik napas sebentar sebelum membukanya.
Nara berdiri di depan, masih dengan tas selempangnya, rambutnya sedikit berantakan karena angin.
“Lo kenapa?” tanya Nara cepat. Alisnya langsung ketarik naik. Ia bahkan belum sepenuhnya masuk rumah.
Shaira menggeleng.
Nara menyipitkan mata. “Jangan bilang lo manggil gue cuma buat nontonin lo bengong.”
Shaira menggeleng cepat, memaksakan senyum kecil.
“Masuk dulu aja.”
Nara masuk tanpa banyak bicara. Ia sudah terlalu hafal cara membaca ekspresi Shaira yang selalu mencoba terlihat baik-baik saja.
Mereka berjalan menuju kamar Shaira.
Seperti biasa, kamar itu rapi. Buku-buku tersusun di rak, meja belajar bersih, dan boneka kecil di sudut tempat tidur masih berada di posisi yang sama. Tapi suasananya terasa berbeda—lebih sunyi, lebih kosong.
Shaira duduk di kasurnya, menyilangkan kaki, lalu menepuk sisi tempat tidur sebagai isyarat agar Nara duduk di sampingnya.
Nara meletakkan tasnya di lantai dengan pelan, seolah tidak ingin menimbulkan suara yang bisa mengganggu ketenangan kamar. Setelah itu, ia duduk menghadap Shaira, memperhatikannya cukup lama. Nara menatap Shaira lama. Lalu mendesah pelan.
“Gue mau nanya… tapi jangan marah ya.”
Shaira mengangkat alis.
“Kenapa sih lo masih bisa sayang Raven segininya?”
Nara buru-buru menambahkan, “Ini bukan interogasi. Ini riset. Gue lagi penelitian tentang kenapa perempuan cantik dan waras bisa tetap jatuh ke orang yang sama dua kali.”
Shaira menatapnya datar. “Serius.”
“Oke, oke. Serius.”
Shaira tidak langsung menjawab.
Tangannya yang tadi memainkan selimut perlahan berhenti. Ia menunduk, menatap lipatan kain di pangkuannya, lalu mengusapnya pelan dengan ujung jari, seperti mencari keberanian dari gerakan kecil itu.
Nara melanjutkan, suaranya mulai terdengar lebih emosional.
“Maksud gue… Sha, lo udah pernah kecewa sama dia dari kelas satu SMA. Dia pergi. Lo berusaha lupain. Terus dia datang lagi di kelas tiga… dan lo nerima dia lagi.”
Nara memiringkan tubuhnya sedikit agar bisa melihat wajah Shaira lebih jelas. Alisnya berkerut tipis.
“Sekarang dia pergi lagi. Tapi perasaan lo masih ada. Bahkan lo masih niat ngasih kado ulang tahun buat dia.”
Ia menggeleng pelan, menghembuskan napas panjang.
“Gue tuh beneran penasaran… kok bisa sih, Sha?”
Sunyi jatuh di kamar itu.
Suara kipas angin berputar pelan di langit-langit, menciptakan hembusan angin yang membuat beberapa helai rambut Shaira terlepas dari ikatannya dan menyentuh pipinya.
Shaira menunduk lebih dalam. Jarinya saling bertaut, lalu terlepas lagi. Ia tampak seperti sedang menyusun potongan perasaan yang sulit dijelaskan.
“Gue juga… kadang bingung,” katanya akhirnya, hampir seperti berbisik.
Nara tidak memotong. Ia hanya menunggu, matanya tetap menatap Shaira dengan sabar.
Shaira menarik napas panjang. Bahunya naik turun pelan sebelum ia melanjutkan.
“Kalau orang nanya kenapa gue masih sayang dia… gue nggak pernah punya jawaban yang kelihatan masuk akal.”
Ia tersenyum tipis. Senyum yang lebih mirip usaha untuk tetap tenang daripada benar-benar merasa tenang.
“Raven itu bukan orang paling sempurna yang pernah gue kenal. Bahkan mungkin… dia orang yang paling sering bikin gue kecewa karena pergi seenaknya ninggalin gue.”
Nara menunduk sebentar, jemarinya menggenggam ujung bajunya sendiri, menahan dorongan untuk langsung menyela.
“Tapi…” Shaira berhenti sebentar, menelan ludah, “di antara semua laki-laki yang pernah datang ke hidup gue… dia satu-satunya yang bikin gue ngerasa tenang tanpa harus berusaha jadi siapa-siapa.”
Tangannya kini menggenggam ujung bantal di sampingnya, meremas kainnya pelan.
“Kalau sama dia, gue nggak pernah takut dibilang lebay. Nggak takut dibilang terlalu sensitif. Dia ngerti hal-hal kecil tentang gue… bahkan yang gue sendiri kadang nggak sadar.”
Suara Shaira makin pelan, nyaris tenggelam dalam hening kamar.
“Dia tuh… kayak rumah, Nar.”
Suara Shaira hampir seperti napas. Bahunya turun pelan, seolah kata itu akhirnya menemukan tempat untuk keluar setelah lama disimpan.
Nara langsung mendesah panjang. “Gue benci analogi itu,” gumamnya. “Soalnya gue ngerti.”
Shaira menatap lantai kamar, pandangannya kosong tapi hangat oleh kenangan yang masih tinggal.
“Bukan rumah yang selalu sempurna,” lanjutnya, “tapi rumah yang selalu bikin gue ngerasa boleh pulang… seberapa pun berantakannya gue.”
Matanya mulai berkaca. Ia cepat-cepat mengedipkan mata, lalu mengusap sudut matanya dengan punggung tangan.
“Waktu dia pergi pertama kali… gue sedih, iya. Tapi jujur… yang gue rinduin bukan cuma dia.”
Ia tertawa kecil. Getir.
“Gue kangen perasaan waktu gue ada di dekat dia.”
Nara menggigit bibirnya pelan. Tangannya bergerak refleks, hampir menyentuh Shaira, tapi ia menahannya, memberi ruang Shaira menyelesaikan ceritanya.
“Dan waktu dia balik lagi…” lanjut Shaira, suaranya lebih pelan, “gue bukan nerima dia karena gue udah lupa sakitnya. Gue nerima dia karena… ternyata perasaan nyaman itu nggak pernah benar-benar hilang.”
Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan, suaranya mulai bergetar tipis.
“Gue ngerasa nggak perlu khawatir apa pun kalau sama dia… gue bahagia, Nar.”
Ia menunduk. Jemarinya mencengkeram selimut lebih kuat.
“Bahkan rasa bahagia itu… sering kali lebih besar dari luka yang dia kasih.”
Shaira tersenyum pahit.
“Kadang gue ngerasa bodoh.”
Nara langsung menggeleng cepat, alisnya berkerut.
“Lo nggak bodoh, Sha,” katanya pelan, hampir refleks.
Beberapa detik mereka sama-sama diam.
“Terus sekarang?” tanya Nara akhirnya, suaranya jauh lebih lembut.
Shaira bersandar ke dinding. Kepalanya sedikit terangkat, menatap langit-langit kamar seolah mencari jawaban di sana.
“Sekarang rasanya beda.”
Ia berpikir sebentar.
“Sekarang gue tahu… dia bukan tempat gue pulang lagi.”
Kalimat itu keluar pelan, tapi tegas. Seperti kesimpulan yang lahir dari proses panjang.
“Tapi… bukan berarti gue harus pura-pura nggak pernah merasa rumah di sana.”
Tangannya bertumpu di kasur. Jemarinya meremas seprai pelan.
“Gue masih sayang dia… bukan karena gue berharap dia balik. Tapi karena dia pernah jadi bagian dari versi diri gue yang paling jujur.”
Shaira menarik napas kecil sebelum melanjutkan.
“Kadang, mencintai seseorang itu bukan soal mempertahankan dia di hidup kita… tapi tentang menghargai bahwa dia pernah ada di perjalanan kita.”
Kamar kembali sunyi.
Nara perlahan mendekat. Bahunya menyentuh bahu Shaira, lalu ia menyandarkan kepalanya di sana. Tangannya menyusup, menggenggam tangan sahabatnya itu erat.
“Lo tau nggak sih…” gumamnya pelan, “cara lo sayang sama orang tuh indah banget… tapi juga nyakitin.”
Shaira tertawa kecil. Napasnya sedikit bergetar.
“Iya. Gue juga kadang capek.”
Nara mengusap punggung tangan Shaira pelan dengan ibu jarinya, gerakan kecil yang hangat.
“Lo nggak takut perasaan itu bakal bikin lo susah move on?”
Shaira menggeleng pelan.
“Move on bukan berarti harus berhenti sayang, Nar.”
Shaira menatap lurus ke depan. Sorot matanya lebih tenang dari sebelumnya.
“Kadang move on itu cuma berarti… belajar jalan terus, meskipun masih bawa perasaan itu di dalam hati.”
Nara menarik napas panjang, lalu menggenggam tangan Shaira lebih erat.
“Lo kuat, Sha.”
Shaira menghela napas panjang, bahunya turun pelan, lalu tersenyum lebih tulus.
“Bukan kuat… cuma belajar nerima.”
Nara mengangguk pelan. “Yaudah. Asal jangan sampai lo parkir lama-lama di tempat yang udah nggak buka.”
Mereka tetap duduk berdampingan. Tidak ada yang berbicara lagi.
Dari luar kamar, suara malam mulai terdengar pelan—suara kendaraan jauh, suara angin yang menyentuh jendela, dan detak jam yang berjalan lambat.
Dan anehnya, keheningan itu tidak terasa kosong. Karena kadang, ditemani saja sudah cukup.
...----------------...
Cahaya jingga dari jendela perlahan memudar, digantikan lampu kamar yang menyalakan warna kuning hangat di seluruh ruangan. Warna kuning hangatnya membuat ruangan terasa lebih hidup, meskipun di luar rumah suasana tetap sunyi.
Shaira dan Nara masih duduk di tempat yang sama. Posisi mereka sudah sedikit berubah—Nara kini bersandar santai di kepala ranjang, sementara Shaira duduk di sampingnya dengan kaki diluruskan ke depan. Ujung jemarinya memainkan lipatan selimut tanpa sadar.
Keheningan di antara mereka bukan lagi canggung. Lebih seperti ruang istirahat setelah mengeluarkan banyak hal dari hati.
Tiba-tiba Nara melirik jam di dinding.
“Sha.”
“Hm?”
“Gue nginep ya.”
Nara berkata sambil merebahkan tubuhnya sedikit ke belakang, nada suaranya santai, tapi matanya tetap mengamati reaksi Shaira.
Shaira menoleh cepat. Ada sedikit keterkejutan di wajahnya, tapi sorot matanya langsung melembut.
“Serius?”
Nara mengangkat bahu santai. “Iya. Kalau lo nangis tengah malam kan serem kalau sendirian. Gue nggak mau nanti lo kerasukan kenangan.”
Shaira tertawa kecil. “Lo tuh…”
Nara menyela, “Protektif. Sebutannya protektif.”
Nara langsung meraih ponselnya. “Gue izin nyokap dulu.”
Shaira mengangguk sambil memperhatikan Nara yang sibuk mengetik pesan, bibirnya bergerak kecil seolah membaca ulang kalimat yang ia kirim. Beberapa detik kemudian, Nara mengangkat ponselnya dengan ekspresi puas.
“Aman. Disuruh jaga lo malah,” katanya sambil terkekeh.
Shaira tertawa pelan. Suara tawanya terdengar lebih ringan dibanding beberapa jam lalu.
Ia berdiri, berjalan ke lemari, lalu membuka pintunya. Tangannya menyibak beberapa gantungan baju sebelum akhirnya mengambil piyama cadangan.
“Nih, lo pakai ini aja.”
Nara menerima pakaian itu sambil mengangguk. “Thanks.”
Saat Nara masuk ke kamar mandi, Shaira berdiri beberapa detik di tengah kamar, menatap ruangan yang terasa berbeda malam itu. Rumah yang tadi terasa terlalu sepi, sekarang tidak lagi menekan.
Ia duduk kembali di kasur, menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Bahunya turun, seperti beban yang sejak tadi ia tahan akhirnya dilepaskan sedikit demi sedikit.
Pintu kamar mandi terbuka. Nara keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk, beberapa helai rambutnya masih basah dan menempel di pipi.
Melihat Shaira yang duduk diam menatap lantai, Nara mendekat tanpa banyak bicara, lalu duduk bersila di sampingnya.
“Lagi mikir apa?” tanyanya santai.
Shaira menggeleng pelan. “Nggak tau… cuma ngerasa… lebih lega aja.”
Nara mengangguk, lalu menyenggol bahu Shaira pelan.
“Bagus. Berarti curhatan lo tadi nggak sia-sia.”
Shaira menoleh, menatap sahabatnya itu beberapa detik sebelum tersenyum.
“Thanks ya, Nar.”
Nara langsung meringis dramatis. “Ih apaan sih, formal banget.”
“Tetep makasih.”
Nara hanya menggeleng sambil tersenyum tipis.
Malam semakin larut. Mereka akhirnya naik ke kasur, menyalakan lampu tidur kecil di sudut ruangan. Cahaya redupnya membuat bayangan lembut jatuh di dinding kamar.
Nara berbaring menghadap langit-langit, satu tangan diletakkan di bawah kepala. Sementara Shaira memeluk bantal di sampingnya, dagunya sedikit tenggelam di permukaan kain.
“Sha,” panggil Nara pelan.
“Ya?”
“Kalau nanti lo sedih lagi… bilang ya. Jangan dipendem sendiri.”
Shaira menatap langit-langit kamar. Bola matanya bergerak pelan, seperti mencerna kalimat itu.
“Iya.”
“Gue nggak janji bakal kasih solusi,” lanjut Nara setengah mengantuk. “Tapi gue bisa bawain martabak.”
Beberapa detik hening.
“Dan kalau suatu hari lo udah bener-bener siap buat bahagia lagi,” lanjut Nara, suaranya mulai terdengar berat karena kantuk, “gue mau jadi orang pertama yang tahu.”
Shaira menoleh sedikit, menatap Nara yang matanya sudah setengah terpejam.
“Iya, Nar,” jawabnya pelan.
Tak lama, napas Nara mulai terdengar teratur. Dadanya naik turun stabil, tanda ia sudah tertidur.
Shaira memperhatikannya beberapa detik, memastikan sahabatnya itu benar-benar pulas. Ujung bibirnya terangkat tipis.
Ia menarik selimut hingga menutupi bahunya, lalu memejamkan mata.
Malam itu, pikirannya tidak lagi dipenuhi pertanyaan yang berisik. Tidak juga dipenuhi kenangan yang menyesakkan.
Hanya ada rasa lelah… yang akhirnya diizinkan untuk beristirahat.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Shaira tidak merasa sendirian menghadapi sunyi. Di sampingnya, napas Nara terdengar teratur—sederhana, tapi cukup untuk mengingatkan bahwa ia tidak harus menghadapi semuanya sendirian.
Karena kadang, sembuh bukan tentang melupakan siapa yang pernah tinggal di hati.
Kadang, sembuh hanya tentang menyadari… masih ada orang yang memilih tinggal.
...----------------...
Shaira — hanya perlu melanjutkan hidup dengan sisa cintaku.
hai kak aku mampir lagi...🤗
Senyum" sndiri ak baca nya🙏😍
iya ga si..?
Ngerti brrti ya🙏😍
Cm.. ini masih awal, masih blm kenal lama, Shaira wajar kn bilng takut..🙏
Aku sndiri aja takut🙏😌
Raven?..
masih bingung plih yg mna😭
Dari awal Alden komunikasi sm Shaira, spertinya tipe cwok soft spoken?🙏❤
Btw, Cieee doi akhirnya muncull😌
tapi sangat cukup nyesek buatku,
serius.. bener" nyesek in dada..?
kenapa ya😭
huaa sakit ini dada😭
serius sumpah😭
ak nangis.. hha.. nyesek😭
Ngebayangin shaira pegang fto nya, trus bilng gitu..🙏😭
Doi baru shaira masih mistery/Slight/