NovelToon NovelToon
JANJI CINTA SELAMANYA

JANJI CINTA SELAMANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Teen Angst / Romansa / Slice of Life / Konflik etika
Popularitas:690
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Vanya adalah putri kesayangan Hendra, seorang pria kaya yang memuja status sosial dan kasta di atas segalanya. Hidup Vanya terjepit dalam aturan emas ayahnya yang kaku, hingga sebuah tabrakan di pasar mengubah dunianya selamanya.

Arlan adalah pemuda liar, mandiri, dan hanya berbakti pada ibunya, Sujati. Sebagai seorang peternak dan penjual susu, Arlan dianggap "sampah" oleh Hendra. Namun, Arlan tidak pernah menundukkan kepala. Ia justru menantang dunia Vanya yang palsu dengan kejujuran dan cinta yang membara.

Saat cinta mulai tumbuh di antara perbedaan kasta, Hendra menyiapkan rencana keji untuk memisahkan mereka. Perpisahan tragis, pengorbanan nyawa, hingga munculnya Rayhan, seorang tentara gagah yang menjadi bagian dari cinta segitiga yang menyakitkan, akan menguji janji mereka.

Ini bukan sekadar cerita cinta biasa. Ini adalah tentang janji yang ditulis dengan air mata. Apakah Arlan dan Vanya bisa memenuhi Janji Cinta Selamanya mereka di tengah badai kasta dan rahasia masa lalu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: SISA NAFAS DI KOTA SIMLA

BAB 10: SISA NAFAS DI KOTA SIMLA

Pagi itu, Kota Simla tidak lagi melihat tenda biru di depan gerbang Hendra Kashyap. Trotoar itu kosong, menyisakan bercak darah kering yang samar dan bekas ban ambulans yang membawa Sujati semalam. Bagi warga yang melintas, mungkin mereka mengira Arlan sudah menyerah. Namun, bagi Vanya, kekosongan itu adalah lubang hitam yang siap menelan jiwanya.

Vanya berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Wajahnya pucat, matanya sembab, dan tangannya masih gemetar. Semalam, setelah konfrontasi di rumah sakit, Hendra menyeretnya pulang dan mengurungnya.

"Kau pikir dia pahlawan?" suara Hendra terngiang kembali di telinganya. "Pria itu mengambil uangku, Vanya. Dia menjual cintanya demi nyawa ibunya. Dia tidak lebih dari seorang tentara bayaran yang harga dirinya bisa dibeli."

Vanya menggeleng kuat. "Tidak... Arlan tidak seperti itu," bisiknya pada bayangannya sendiri. Ia tahu Arlan mengambil uang itu, tapi ia juga tahu itu adalah jebakan maut ayahnya. Arlan tidak punya pilihan.

Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka. Gita, adiknya, masuk dengan wajah cemas. Ia membawa nampan makanan yang tidak disentuh Vanya sejak pagi.

"Kak, kau harus makan," ucap Gita pelan. Ia mendekat, lalu berbisik, "Aku baru saja mendengar dari supir... Arlan tidak pergi dari Simla."

Mata Vanya seketika berbinar. Harapan yang tadi padam kini menyala kembali. "Dia masih di sini? Di mana dia, Gita?"

"Dia... dia pindah ke gudang tua di dekat stasiun. Dia bekerja sebagai kuli panggul di pasar malam hari, dan pagi hari dia menjaga ibunya di rumah sakit umum. Ayah sudah memerintahkan semua orang untuk tidak mempekerjakannya, tapi dia tetap bertahan."

Hati Vanya hancur sekaligus bangga. Arlan tidak lari. Dia tetap di Simla, bertarung dengan caranya sendiri, di bawah bayang-bayang kekuasaan Hendra yang kejam.

Malam harinya, Arlan berdiri di pasar induk Simla. Tubuhnya yang biasanya tegap kini tampak lelah. Bahunya yang penuh luka cambukan dipaksa untuk memikul karung-karung beras yang berat. Setiap langkah yang ia ambil membuat perban di punggungnya terasa panas, darah merembes tipis, namun Arlan tidak mengeluarkan suara sedikit pun.

"Heh, Penjual Susu! Cepat sedikit! Jangan jadi pemalas hanya karena kau habis dipukuli!" teriak salah satu mandor pasar yang merupakan kaki tangan Hendra.

Arlan tidak menjawab. Ia mengatur napasnya, keringat bercucuran membasahi wajahnya yang lebam. Di tangannya, ia memegang sisa uang receh hasil kerjanya hari ini. Uang dari Hendra sudah ia gunakan seluruhnya untuk deposit operasi ibunya, namun untuk obat-obatan lanjutan dan biaya harian, ia harus memeras keringatnya sendiri. Ia menolak menyentuh uang Hendra lebih dari yang diperlukan untuk nyawa ibunya.

Setelah jam kerjanya berakhir, Arlan berjalan kaki menuju rumah sakit. Di tengah jalan yang sepi dan berkabut, ia berhenti sejenak di bawah sebuah lampu jalan yang remang. Ia mengeluarkan selembar kain kecil dari sakunya—itu adalah sapu tangan milik Vanya yang tertinggal saat kecelakaan semalam.

Arlan menghirup aroma parfum Vanya yang masih tertinggal di kain itu. "Maafkan aku, Vanya... aku harus terlihat seperti pengecut di depan matamu sekarang. Tapi aku tidak bisa meninggalkanmu. Tidak sebelum aku bisa berdiri tegak di depan ayahmu tanpa selembar cek darinya."

Di kediaman Kashyap, Hendra sedang mengadakan pertemuan kecil dengan beberapa relasinya. Mereka membicarakan tentang ekspansi bisnis properti di wilayah pinggiran Simla—tepat di atas tanah tempat rumah Arlan dulu berdiri.

"Kita akan membangun hotel mewah di sana," ucap Hendra sambil menyesap cerutunya. "Area itu terlalu indah untuk dihuni oleh sapi dan penjual susu."

Vanya, yang mendengarkan dari balik tirai ruang tengah, merasa kemarahannya memuncak. Ayahnya tidak hanya menghancurkan hidup Arlan, tapi juga ingin menghapus seluruh jejak sejarah pria itu dari Simla.

Vanya menyelinap ke arah dapur. Ia melihat Santi, ibunya, sedang termenung menatap jendela.

"Ibu... tolong bantu aku," bisik Vanya.

Santi menoleh, matanya berkaca-kaca. Sebagai seorang istri, dia takut pada Hendra. Tapi sebagai seorang ibu, dia tidak tega melihat putrinya menderita. "Apa yang bisa Ibu lakukan, Nak?"

"Aku harus bertemu Arlan. Hanya sebentar. Aku ingin memberikan obat ini padanya, dan aku ingin tahu keadaan Ibu Sujati. Jika aku tidak pergi sekarang, aku akan gila, Ibu."

Santi ragu sejenak, ia melihat ke arah ruang tamu di mana suara tawa Hendra terdengar angkuh. "Pergilah lewat pintu gudang. Ibu akan mengalihkan perhatian penjaga dengan meminta mereka memindahkan pot bunga di depan. Tapi kau harus kembali sebelum jam dua belas, Vanya. Jika tidak, kita berdua akan tamat."

Vanya berlari menembus dinginnya malam Simla. Ia tidak peduli pada angin yang menusuk kulitnya. Ia menuju rumah sakit umum, tempat para pasien kelas bawah dirawat.

Di koridor rumah sakit yang remang dan berbau karbol, ia melihat sosok itu. Arlan sedang duduk di lantai depan ruang ICU, kepalanya bersandar pada dinding, matanya terpejam karena kelelahan yang luar biasa. Kemejanya kotor, dan ia tampak begitu rapuh.

Vanya mendekat perlahan, air matanya jatuh tanpa suara. Ia berlutut di depan Arlan.

Arlan membuka matanya perlahan. Ia mengira itu hanya mimpi, sampai ia merasakan sentuhan tangan Vanya yang hangat di pipinya.

"Vanya? Kenapa kau di sini?" Arlan segera duduk tegak, mencoba menyembunyikan luka-lukanya. "Kau berbahaya jika berada di sini. Ayahmu..."

"Persetan dengan Ayah!" potong Vanya, ia langsung memeluk Arlan dengan erat. "Kenapa kau tidak memberitahuku bahwa kau masih di sini? Kenapa kau membiarkan aku mengira kau pergi?"

Arlan terdiam, tangannya ragu untuk membalas pelukan itu karena ia merasa tubuhnya kotor oleh debu pasar. "Aku tidak ingin kau melihatku seperti ini, Vanya. Aku sekarang bukan siapa-siapa. Aku hanya kuli panggul yang tidak punya tempat tinggal."

Vanya melepaskan pelukannya, menatap mata Arlan dengan tajam. "Kau adalah Arlan-ku. Tidak peduli kau penjual susu atau kuli panggul, kau adalah pria paling terhormat yang aku kenal. Kau menyelamatkan ibumu, Arlan. Itu bukan sebuah kehinaan."

Vanya mengeluarkan bungkusan makanan dan obat-obatan dari tasnya. Ia mulai mengobati luka di tangan Arlan yang lecet karena memanggul karung. Di tengah sunyinya rumah sakit Simla, ada sebuah keintiman yang menyakitkan namun indah.

"Dengar, Arlan," ucap Vanya serius. "Ayah akan meresmikan pembangunan hotel di atas tanahmu. Kita harus melakukan sesuatu. Kita tidak bisa membiarkan dia menang begitu saja."

Arlan memegang tangan Vanya. Matanya yang tadi lelah kini kembali menyala. "Dia mungkin bisa membangun hotel di atas tanahku, Vanya. Tapi dia tidak tahu... bahwa di bawah tanah itu, aku sudah menanam benih perlawanan yang tidak akan pernah bisa dia cabut."

Tanpa mereka sadari, dari ujung lorong, seorang perawat yang dibayar oleh Gani sedang memperhatikan mereka. Ia segera mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.

"Tuan Gani... Nona Vanya ada di sini. Bersama si penjual susu itu."

1
falea sezi
mending bawa pergi jauh deh arlan
falea sezi
ksian bgt arlan knp semua novel mu isinya sedih teros kapan bahagia nya q baca semua nya tp isinya menderita trs jd g mood baca pdhl mau ksih hadiah jd males
falea sezi
menyimakkk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!