NovelToon NovelToon
PENYESALAN SANG PENGUASA

PENYESALAN SANG PENGUASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Kaya Raya
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Sinopsis: Penyesalan Sang Penguasa

Aku terbangun di masa mudaku yang miskin tepat setelah Seeula pergi selamanya dalam penyesalan. Berbekal memori masa depan, aku bertekad membangun kembali kekaisaran bisnisku dari titik nol. Bukan sekadar harta, tujuanku adalah menjadi pria paling layak untuk melindungi istri yang dulu kusia-siakan. Sebelum menjemput cintaku, aku harus memenangkan perang bisnis yang kejam dan menghancurkan para musuh lama. Perjalanan penebusan dosaku dimulai sekarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Fragmen Perpisahan yang Menghujam Sukma

Menunggu kematian adalah satu-satunya momen di mana harta triliunan rupiah terasa seperti tumpukan kertas tanpa harga di depan mataku. Saat aku berdiri di samping ranjang rumah sakit di kehidupan pertamaku, aku melihat Seeula yang sudah sangat kurus. Tubuhnya yang dulu bugar kini hanya tinggal tulang yang dibalut kulit pucat. Aku memegang jemarinya yang sangat kasar, hasil dari puluhan tahun mengurus rumah tangga sendirian karena aku terlalu sibuk mengejar takhta dunia.

Penyesalan itu datang bukan seperti badai, tapi seperti tetesan air yang perlahan melubangi batu karang di dadaku.

"Mas, jangan menangis," bisik Seeula dengan sisa tenaga yang membuat suaraku tertahan di tenggorokan.

Aku ingin berteriak meminta maaf karena telah menjadi pria paling dingin di semesta ini, tapi bibirku kaku. Aku teringat bagaimana aku sering pulang malam dan hanya memberinya tatapan tajam jika dia bertanya apakah aku sudah makan. Aku ingat bagaimana aku mengabaikan hari ulang tahunnya demi pertemuan bisnis yang sebenarnya tidak akan membawaku ke surga. Seeula tetap bertahan, tetap mencintaiku dengan cara yang tidak masuk akal, seolah-olah aku adalah permata meskipun kenyataannya aku hanyalah sampah yang berlapis emas.

Matanya yang mulai meredup itu masih menatapku dengan binar kasih sayang yang sama seperti saat kami pertama kali bertemu.

"Terima kasih sudah membiarkanku menjadi istrimu selama ini," lirihnya dengan senyum yang terlihat sangat damai namun menghancurkan seluruh harga diriku sebagai pria.

Kalimat itu adalah belati paling tajam yang pernah menghujam sukmaku. Dia berterima kasih kepadaku, pria yang memberikan luka setiap hari, pria yang lebih sering memberikan punggung daripada pelukan. Aku meremas tangannya, mencoba memindahkan seluruh nyawaku ke dalam tubuhnya agar dia tetap bernapas satu menit saja lebih lama. Aku ingin dia tahu bahwa di balik dinding es ini, aku sebenarnya sangat mencintainya, namun egoku terlalu besar untuk sekadar mengucapkannya.

Detak jantungnya di monitor itu melambat, seirama dengan kehancuran duniaku yang selama ini kubangun dengan keringat dan kelicikan.

"Seeula, jangan pergi, aku mohon," pintaku dengan suara yang pecah berkeping-keping di udara.

Namun, genggaman tangannya perlahan melemah. Senyum itu tetap tertinggal di bibirnya yang kering, seolah dia ingin meyakinkanku bahwa dia pergi tanpa membawa dendam sedikit pun. Saat garis di monitor itu menjadi datar, aku menyadari bahwa aku baru saja kehilangan satu-satunya harta yang benar-benar berharga. Aku memiliki gedung pencakar langit, aku memiliki pulau pribadi, tapi aku tidak memiliki siapa pun untuk diajak berbagi kebahagiaan itu lagi.

Kilas balik itu mendadak terputus saat aku melihat sosok Seeula di kehidupan sekarang sedang berjalan sendirian di bawah lampu jalan yang temaram.

Aku tersentak, napasku memburu seolah baru saja berlari dari kejaran maut. Rasa sakit di dadaku masih terasa nyata, perih yang sama dengan saat aku melihatnya menutup mata untuk selamanya. Di kehidupan ini, dia masih bernapas, dia masih sehat, dan dia belum mengenal kekejamanku. Aku mengepalkan tangan, merasakan aliran darah yang hangat di tubuh mudaku ini. Aku tidak akan membiarkan fragmen perpisahan itu terjadi lagi, apa pun harganya.

Aku melangkah turun dari mobil, mengabaikan protokol keamanan atau harga diri yang selalu kujaga.

"Seeula!" seruku dengan suara yang penuh dengan kerinduan yang sudah kupendam selama puluhan tahun.

Langkah gadis itu terhenti seketika. Dia membalikkan badan, menatapku dengan ekspresi bingung sekaligus terkejut karena melihat pria yang baru saja mengacaukan pesta ibunya kini berdiri di depannya dengan tatapan mata yang sangat emosional. Aku berjalan mendekat, setiap langkahku adalah janji untuk menebus setiap tetes air mata yang pernah dia tumpahkan di masa lalu.

Seeula memiringkan kepalanya, menatapku dengan rasa ingin tahu yang sangat besar.

"Yansya? Kenapa kau ada di sini malam-malam begini?" tanya Seeula dengan nada yang terdengar sangat polos dan tulus.

Aku berhenti tepat di depannya, cukup dekat hingga aku bisa melihat pantulan diriku di matanya yang indah. Aku ingin langsung memeluknya dan memohon maaf, tapi aku sadar bahwa bagi Seeula saat ini, aku hanyalah orang asing yang misterius. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan badai emosi di dalam kepalaku agar tidak menakutinya.

"Aku hanya ingin memastikan bahwa kau baik-baik saja setelah kejadian tadi," jawabku dengan suara yang jauh lebih lembut dari biasanya.

Seeula tersenyum kecil, sebuah senyuman yang jauh lebih hidup daripada senyum terakhirnya di ranjang rumah sakit itu. Hatiku rasanya ingin meledak karena bahagia sekaligus sedih di saat yang bersamaan. Aku menyadari bahwa perjalanan ini masih panjang, dan rintangan terbesar bukan lagi Darwin atau ibunya, melainkan bagaimana cara membuat Seeula mencintaiku tanpa ada bayang-bayang luka yang pernah kupahat sendiri.

Namun, saat aku baru saja akan menawarkan diri untuk mengantarnya pulang, Seeula tiba-tiba menoleh ke arah kegelapan gang di samping kami dengan raut wajah yang mendadak ketakutan.

"Yansya, ada seseorang yang mengikutiku sejak tadi," bisik Seeula sambil meraih lengan jasku dengan sangat erat.

Aku langsung memasang posisi waspada, menajamkan indra pendengaranku untuk mencari tahu siapa yang berani mengganggu momen berhargaku dengan ratuku. Kegelapan di gang itu seolah mulai bergerak. Aku melihat siluet seorang pria yang mencoba bersembunyi di balik bayangan tembok. Aku menarik Seeula ke belakang punggungku, memastikan tubuhnya terlindungi sepenuhnya oleh badanku yang kini jauh lebih tegap.

"Keluar sekarang atau aku akan memastikan kau tidak bisa berjalan lagi besok pagi," ancamku dengan nada suara yang rendah namun sarat akan otoritas.

Pria itu melangkah keluar perlahan sambil memegang sebilah pisau lipat. Dia adalah salah satu anak buah Darwin yang tadi siang sempat kusingkirkan di dekat tempat pelelangan. Rupanya mereka tidak kapok mencari masalah denganku. Wajahnya terlihat penuh dengan dendam karena merasa dipermalukan di depan teman-temannya.

"Berikan tasmu dan serahkan gadis itu, atau kau akan menyusul guci palsumu itu ke liang lahat," gertak pria itu sambil mengayunkan pisaunya dengan sembrono.

Aku hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang biasanya membuat lawan bisnisku merasa tidak nyaman. Aku tidak merasa terancam sedikit pun. Pengalamanku menghadapi berbagai pengkhianatan dan situasi berbahaya di kehidupan sebelumnya telah membentuk mentalku menjadi baja. Aku memberikan instruksi pelan kepada Seeula agar dia mundur beberapa langkah dan tetap tenang.

"Seeula, jangan lepaskan pandanganmu dariku," pesanku dengan penuh keyakinan.

Pria itu menerjang maju dengan serangan yang sangat amatir. Aku dengan mudah menghindar ke samping, lalu menangkap pergelangan tangannya dengan cengkeraman yang sangat kuat. Aku memutar lengannya hingga terdengar bunyi retakan yang cukup jelas. Dia menjerit kesakitan dan pisaunya jatuh berdentang di atas aspal. Tanpa membuang waktu, aku menghantamkan lututku tepat ke arah perutnya hingga dia tersungkur tak berdaya.

Aku menatapnya dengan pandangan dingin, seolah sedang melihat serangga pengganggu yang tidak sengaja terinjak.

"Sampaikan pada tuanmu, jika dia berani mendekati gadis ini lagi, aku akan meratakan seluruh hartanya dengan tanah dalam semalam," ucapku dengan suara yang begitu tenang namun mematikan.

Bajingan itu segera bangkit dan lari terbirit-birit masuk ke dalam kegelapan gang tanpa menoleh lagi. Aku menarik napas panjang, merapikan kembali setelan jasku yang sedikit berantakan. Aku menoleh ke arah Seeula yang masih berdiri terpaku dengan mata yang membulat sempurna. Dia tampak sangat terkejut melihat sisi lain dariku yang baru saja dia saksikan.

"Kau baik-baik saja?" tanyaku sambil mendekat dan memeriksa apakah ada luka di tangannya.

Seeula mengangguk pelan, jemarinya masih sedikit gemetar saat menyentuh lenganku. Dia menatapku seolah sedang melihat pahlawan yang turun dari langit, namun juga penuh dengan keraguan. Dia mungkin merasa bahwa aku adalah pria yang penuh dengan rahasia berbahaya.

"Bagaimana kau bisa melakukan itu dengan begitu tenang?" tanya Seeula dengan suara yang masih terdengar sedikit goyah.

Aku tidak menjawab pertanyaannya secara langsung. Aku hanya menatap matanya dalam-dalam, mencoba meyakinkannya bahwa dia adalah prioritas utamaku di dunia ini. Aku menggenggam tangannya dengan lembut, memberikan kehangatan yang selama ini selalu terlambat kuberikan di kehidupan lamaku.

"Akan kujelaskan semuanya saat kau sudah siap. Sekarang, biarkan aku mengantarmu pulang sampai ke depan pintu rumahmu," tawarku dengan nada bicara yang tidak menerima penolakan.

Kami berjalan beriringan di bawah sinar lampu jalan yang redup. Seeula tidak lagi memprotes kehadiranku. Dia justru berjalan sangat dekat di sampingku, sesekali melirik ke arah profil wajahku dengan penuh tanda tanya. Aku merasa waktu seolah berjalan sangat lambat, memberikan kesempatan bagiku untuk menikmati setiap detik kehadirannya yang masih sangat nyata.

Sesampainya di depan pagar rumah megahnya, Seeula melepaskan genggaman tanganku dengan enggan. Dia berdiri di sana, menatapku cukup lama sebelum akhirnya membuka mulut.

"Terima kasih untuk malam ini, Yansya. Aku merasa... aku merasa mengenalmu sejak lama, meskipun kita baru bertemu beberapa hari ini," aku Seeula dengan tulus.

Dadaku berdesir mendengar pengakuannya. Aku ingin sekali mengatakan bahwa kami memang sudah ditakdirkan bersama sejak dulu, namun aku hanya bisa memberikan anggukan kecil. Aku memperhatikan Seeula masuk ke dalam rumahnya hingga pintu tertutup rapat. Aku kembali ke mobilku dengan perasaan yang campur aduk.

Rencanaku berjalan lancar, namun aku tahu bahwa tantangan yang sesungguhnya baru saja dimulai saat aku melihat sebuah pesan masuk di ponselku.

"Ayahku ingin bertemu denganmu besok pagi pukul sepuluh. Jangan terlambat jika kau masih ingin melihat Seeula tersenyum," bacaku dari layar ponsel yang dikirim oleh Adrian.

1
ZasNov
Semangat Yansya, kalahkan mereka semua.. 💪😎
ZasNov
Semoga kali ini Yansya bisa benar2 melindungi Seeula..
ZasNov
Ga bisa nolak tuh kalau udah diancam begitu..
ZasNov
Madam Widowati udah kayak dijatuhkan dari gedung tinggi.. 🤭
ZasNov
Wah keren Yansya, dia datang menyerang dengan senjata rahasia yang tidak terduga.. 😂👍
ZasNov
Madam Widowati salah target ternyata 😂
ZasNov
Ayo tunjukan siapa dirimu Yansya, beri Madam Widowati pelajaran & selamatkan Seeula..
ZasNov
Nah lho, keadaan beneran berbalik. Bukan Pak Hermawan & Adrian lagi yang mengancam Yansya, sekarang Yansya yang menekan Pak Hermawan.. 😎👍
ZasNov
Ga nyangka banget kan Pak Hermawan, kalau Yansya punya kartu As yang bisa membalikan keadaan.. 😆
ZasNov
Mantap Yansya.. bisa tetap tenang, malah makin bersemangat menunjukkan taringnya.. 😎👍
Pipit Jambu
iya
ZasNov
Tuh kan, mulai banyak orang memanfaatkan nama Seeula untuk menekan Yansya.. 😖
ZasNov
Aduh, bagusnya Seeula sllu dalam perlindungan Yansya. Karena Darwin udah tau kelemahan Yansya itu Seeula..
ZasNov
Nyesel kan.. Udah telat. Kalau dikasih kesempatan kedua, jangan disia2in lagi ya
ZasNov
Selain penasaran sama rencana Yansya selanjutnya, kepo juga sama cara dia deketin Seeula.. 😄
ZasNov
Tanpa basa-basi langsung ditolak.. 😆👍
ZasNov
Hadeuh, Yansya.. Kamu bisa sukses juga berkat doa & usaha istrimu juga. Giliran ga diurusin, kamu juga bakalan berantakan..
Seeula
dari rawrrr ke aongg aonggg aongg🤣
Seeula
tamu2 tak diundang 😏
Seeula
gak gak ini mh kaya preman minta2 uang buncit gini mh😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!