NovelToon NovelToon
Penjara Cinta

Penjara Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Dark Romance
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Patriciaaaa

​"Kamu aman di sini, Aura. Dunia luar itu jahat, hanya saya yang tidak akan pernah menyakitimu."

​Kalimat itu adalah mantra sekaligus kutukan bagi Aura. Di usia 21 tahun, Arfan seharusnya menjadi pelindung, tapi baginya, Arfan adalah bayangan yang menelan kebebasannya. Setiap langkah Aura diawasi, setiap napasnya harus berizin.

​Aura terjebak di antara dua pilihan, mencintai pria yang rela mati demi menjaganya, atau membenci pria yang perlahan membunuh jiwanya dalam sangkar emas bernama kasih sayang.

​Ketika rahasia di balik sikap posesif Arfan mulai terkuak, sanggupkah Aura melarikan diri? Atau justru ia akan selamanya terkunci dalam Penjara Cinta yang ia bangun sendiri?

​"Sebab bagiku, kehilanganmu adalah satu-satunya dosa yang tidak bisa kumaafkan." — Arfan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patriciaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 - Bunda Masuk Rumah Sakit

Sesampainya di lobi instalasi gawat darurat (IGD), Arfan langsung menggendong Bunda masuk dengan langkah seribu, sementara Aura berlari di sampingnya dengan napas tersengal dan wajah yang basah oleh air mata. Begitu brankar rumah sakit membawa Bunda masuk ke ruang tindakan, langkah mereka terhenti di depan pintu besi yang tertutup rapat.

Suasana mendadak hening, hanya menyisakan suara isak tangis Aura yang menggema di koridor rumah sakit yang dingin.

Arfan berdiri mematung, napasnya masih memburu hebat, kemejanya berantakan dan peluh membasahi dahinya. Ia menoleh ke arah Aura yang tampak sangat rapuh, lalu perlahan ia mendekat. Aura yang menyadari kehadiran Arfan langsung mundur selangkah, memeluk dirinya sendiri.

"Ra..." suara Arfan melembut, jauh berbeda dari bentakannya di rumah tadi. Ia mencoba meraih pundak Aura, namun urung. "Maafkan Kakak. Tadi Kakak benar-benar panik. Kakak nggak bermaksud membentak kamu di rumah tadi. Kakak cuma... Kakak nggak mau kehilangan Bunda."

Aura mendongak, matanya yang sembab menatap Arfan dengan kilat ketidaksukaan yang nyata. "Tenang, Ra. Tarik napas kamu. Bunda sudah ditangani dokter, semua akan baik-baik saja," lanjut Arfan dengan nada menenangkan.

Aura menghapus air matanya dengan kasar, bibirnya bergetar saat menjawab dengan nada ketus. "Nggak usah sok peduli soal perasaanku, Kak. Tugas Kakak cuma bawa Bunda ke sini, kan? Udah selesai."

Arfan tertegun, seolah baru saja ditampar oleh kata-kata dingin gadis itu. "Ra, aku melakukan ini karena—"

"Karena Kakak ingin aku merasa berutang budi lagi?" potong Aura tajam. Ia menatap lurus ke mata Arfan tanpa rasa takut. "Jangan pikir karena Kakak bantu Bunda hari ini, aku bakal lupa sama apa yang Kakak lakuin selama ini. Kalau saja Kak Bima ada, aku nggak akan pernah mau menginjakkan kaki di mobil Kakak!"

Arfan terdiam seribu bahasa. Ada rasa perih yang nyata di hatinya mendengar penolakan Aura yang begitu keras, padahal ia baru saja berjuang mati-matian menyelamatkan nyawa Bunda. Namun, ia tidak membalas. Ia hanya menunduk, membiarkan kemarahan Aura meluap di antara mereka.

"Sekarang lebih baik Kakak pergi," desis Aura lagi, berpaling dari Arfan dan kembali menatap pintu IGD yang tertutup. "Aku nggak mau Kak Bima lihat Kakak di sini kalau dia datang nanti."

Arfan tidak beranjak. Meskipun kata-kata Aura begitu tajam dan ketus, ia tetap berdiri di sana, membiarkan dirinya menjadi sasaran kemarahan gadis itu. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding rumah sakit yang dingin, menunduk dalam, seolah sedang merenungi segala kekacauan yang telah ia buat.

"Ra," panggilnya lirih, suaranya terdengar sangat tulus hingga Aura sempat tertegun sejenak. "Kakak minta maaf. Kakak minta maaf untuk semuanya."

Aura hanya diam, namun ia tidak lagi membuang muka.

"Kakak minta maaf karena sudah egois melarang kamu ke London. Kakak minta maaf karena sudah mencoba mengatur hidupmu sejauh ini," lanjut Arfan. Ia mendongak, menatap Aura dengan mata yang tampak sangat lelah. "Kakak sadar, cara Kakak salah. Kakak terlalu takut kehilangan kamu sampai Kakak lupa kalau Kakak justru menyakitimu."

Aura tetap diam, namun jemarinya yang saling bertaut mulai sedikit melonggar. Ia baru pertama kali melihat Arfan sesedih dan serapuh ini.

"Tentang keberadaanku di sini..." Arfan menjeda kalimatnya, menarik napas panjang. "Tolong, izinkan Kakak tetap di sini. Setidaknya sampai dokter keluar dan bilang kondisi Bunda stabil. Kakak nggak akan mengganggumu, Kakak nggak akan bicara apa pun lagi kalau itu yang kamu mau. Tapi jangan suruh Kakak pergi sekarang, Ra. Kakak benar-benar nggak tenang kalau harus ninggalin kamu dan Bunda dalam keadaan seperti ini."

Aura menatap lantai koridor yang putih bersih. Di satu sisi, ia masih merasa benci dan sesak karena obsesi Arfan. Namun, di sisi lain, ia tidak bisa memungkiri bahwa saat ini ia benar-benar sendirian. Bima masih belum bisa dihubungi, dan berada di rumah sakit yang luas ini sendirian sambil menunggu kabar kritis Bunda adalah hal yang sangat menakutkan baginya.

"Terserah Kakak," jawab Aura pada akhirnya, suaranya tetap dingin meski tak sekeras tadi. "Tapi kalau Kak Bima datang, aku nggak bisa jamin apa yang akan terjadi."

Arfan mengangguk pelan, seulas senyum getir muncul di wajahnya. "Nggak apa-apa. Kakak siap tanggung risikonya."

Arfan kemudian berjalan menuju kursi tunggu yang agak jauh dari posisi Aura, memberikan ruang agar gadis itu tidak merasa tertekan. Ia duduk di sana, menyembunyikan wajah di balik kedua telapak tangannya, tampak sangat terpuruk.

Aura menatap Arfan dengan sorot mata yang jauh lebih tajam kali ini. Permintaan maaf Arfan soal London tidak lantas membuat dinding pertahanannya runtuh. Baginya, permintaan maaf itu bisa saja hanya strategi lain untuk melunakkan hatinya di saat ia sedang rapuh.

"Jangan atur aku lagi, Kak," suara Aura terdengar datar namun penuh penekanan. "Terserah Kakak mau minta maaf atau mau mengizinkanku ke London sekarang, tapi satu hal yang harus Kakak tanamkan di kepala Kakak..."

Aura melangkah mendekat, memastikan Arfan mendengar setiap katanya dengan jelas.

"Aku nggak punya perasaan apa pun sama Kak Arfan. Sama sekali nggak ada. Dan tolong... jangan pernah suka sama aku. Rasa suka Kakak itu bukan anugerah buatku, tapi beban yang bikin aku sesak setiap hari."

Arfan tertegun. Kata-kata itu terasa lebih menyakitkan daripada bentakan Bima atau tamparan fisik mana pun. Ia melihat kejujuran yang pahit di mata Aura, bahwa tidak ada ruang sedikit pun untuknya di hati gadis itu, selain sebagai sosok yang ditakuti dan dihindari.

"Ra, aku—"

"Cukup, Kak," potong Aura cepat. "Kalau Kakak memang tulus mau bantu Bunda, silakan duduk di sana dan diam. Tapi jangan pernah berharap perasaan aku bakal berubah hanya karena kejadian hari ini."

Arfan terdiam, hanya bisa mengangguk pelan dengan wajah yang semakin pucat. Ia terduduk di kursi tunggu dengan bahu yang merosot, tampak seperti pria yang baru saja kehilangan segala harapannya.

Tepat saat suasana mencekam itu menyelimuti mereka, Bima muncul dari belokan koridor dengan napas yang memburu. Matanya yang merah menyapu seluruh ruangan, dan seketika kilat amarah menyambar saat ia melihat Arfan berada di sana.

"Aura!" panggil Bima dengan suara yang menggelegar di koridor rumah sakit. "Bunda gimana?!"

Bima berlari menghampiri Aura, namun matanya tetap tertuju pada Arfan yang duduk tak jauh dari sana. Bima mencengkeram bahu Aura, memeriksa kondisi adiknya, lalu beralih menunjuk ke arah Arfan dengan tangan gemetar karena emosi.

"Kenapa bajingan ini bisa ada di sini, Ra?! Kenapa dia yang ada di sini saat gue nggak bisa dihubungi?!"

Aura tidak menjawab satu pun cecaran pertanyaan Bima. Ia tidak sanggup menjelaskan bagaimana Arfan bisa tiba-tiba muncul di ruang tamu, atau bagaimana Arfan membentaknya agar ia membuang egonya demi nyawa Bunda.

Aura langsung menghambur ke pelukan Bima. Ia membenamkan wajahnya di dada bidang kakaknya, menangis sejadi-jadinya sampai bahunya terguncang hebat.

"Bunda, Kak... Bunda di dalam..." isak Aura dengan suara yang nyaris hilang. "Bunda tadi pingsan di lantai... aku takut banget, Kak. Bunda..."

Mendengar tangisan adiknya yang begitu hancur, amarah Bima kepada Arfan yang tadinya sudah di ubun-ubun mendadak tersendat. Ia merasakan tubuh adiknya yang gemetar hebat karena trauma. Rasa bersalah yang teramat besar menghantam dada Bima, ia merasa gagal karena di saat paling kritis, ia justru sibuk dengan rasa irinya dan mematikan ponsel.

Bima membalas pelukan Aura dengan sangat erat, mengusap kepala adiknya sambil mencium puncak kepalanya berkali-kali. "Maafin gue, Ra... Maafin gue telat. Gue di sini sekarang. Bunda pasti kuat, Bunda nggak bakal ninggalin kita."

Mata Bima kembali melirik tajam ke arah Arfan yang masih duduk mematung di kursi tunggu. Arfan melihat pemandangan itu dengan tatapan kosong. Ia melihat betapa Aura sangat bergantung pada Bima, betapa Aura merasa aman hanya dalam dekapan kakaknya, sesuatu yang tidak akan pernah bisa Arfan dapatkan, meskipun ia sudah menyelamatkan nyawa Bunda sore ini.

Arfan berdiri, ingin mengatakan sesuatu, tapi kata-kata Aura tadi masih terngiang jelas di telinganya "Aku nggak punya perasaan apa pun... jangan pernah suka sama aku."

Bima melepaskan pelukan Aura sedikit, ia menangkup wajah adiknya yang basah oleh air mata. "Lo duduk dulu ya? Gue mau nanya dokter," ucap Bima dengan nada yang diusahakan setenang mungkin, meski hatinya masih panas melihat Arfan yang masih berani menampakkan batang hidungnya di sana.

"Jangan berantem, Kak... Aura capek," bisik Aura lirih, seolah tahu apa yang ada di pikiran Bima.

Bima hanya terdiam, ia menuntun Aura duduk di kursi yang paling jauh dari Arfan, lalu ia berjalan menuju pintu IGD, melewati Arfan dengan bahu yang sengaja menabrak pria itu sebagai peringatan bahwa kehadirannya sama sekali tidak diinginkan.

Bersambung.....

1
Mawar
😍
Mawar
up terusss
Cahaya_Mentari
akhirnya😍
Mawar
lah kenapa tiba tiba Arfan berubah, bukannya kemarin dukung Aura ke London?
Cahaya_Mentari
Next Chapter😍
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
falea sezi
mawar ma arfan uda nganu ya Thor hmm. tidur bareng gt
My Name Cia: emmm, engga yaa🤭
total 1 replies
Mawar
Kok kayaknya Bima cemburu ya
Cahaya_Mentari
Alah, Arfan caper itu sama Bunda
Cahaya_Mentari
jadi keinget hy adik berkerudung putih, gtu ga sih🤭
Mawar
lanjut terusss
Mawar
baru awal udah di bikin penasaran
Cahaya_Mentari
kayaknya ceritanya bagus nih
Cahaya_Mentari
kok gtu banget sih Bima
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!