Lin Xuan, seorang pemuda dari keluarga cabang Klan Lin di Benua Azure yang memiliki "Akar Spiritual Cacat", selalu dihina dan ditindas. Saat sekarat karena dikhianati oleh tunangannya sendiri demi merebut harta peninggalan orang tuanya, darahnya tanpa sengaja membangkitkan Mutiara Kekacauan Primordial yang bersemayam di kalung usangnya. Mutiara ini tidak hanya memperbaiki akar spiritualnya, tetapi juga memberinya warisan teknik terlarang dari era sebelum alam semesta terbentuk. Inilah awal perjalanannya menentang Surga, membelah galaksi, dan menapaki jalan menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Puncak Pedang Patah dan Besi Karat Tanpa Nama
Angin berhembus kencang membawa aroma lumut dan kayu lapuk. Lin Xuan mendarat dengan mulus di atas tanah yang dipenuhi gulma setinggi lutut.
Di sekelilingnya, pemandangan Puncak Pedang Patah sungguh kontras dengan kemegahan Sekte Pedang Bintang. Jika puncak lain dipenuhi istana giok, air terjun spiritual, dan ratusan murid yang berlatih pedang, tempat ini lebih mirip kuburan yang ditinggalkan. Kuil utamanya telah runtuh separuh, pilar-pilarnya patah, dan hanya ada satu gubuk bambu reyot yang tampak masih bisa dihuni.
Feng Wuchen, lelaki tua bungkuk yang kini resmi menjadi gurunya, mendarat di samping Lin Xuan sambil terhuyung-huyung. Ia menenggak arak dari labu kotornya, lalu bersendawa keras. Bau alkohol murahan seketika menyengat udara.
"Nah, bocah," ucap Feng Wuchen dengan suara serak, menyeka mulutnya dengan lengan baju yang robek. "Selamat datang di Puncak Pedang Patah. Aturannya sederhana: pilih reruntuhan mana saja yang kau suka untuk tidur, jangan sentuh arakku, dan jika kau mati karena digigit ular beracun saat tidur, gali kuburanmu sendiri."
Lin Xuan menatap sekeliling dengan tenang. Tidak ada kekecewaan di matanya, justru sebuah kepuasan yang mendalam. Tempat ini sunyi, terisolasi, dan yang terpenting: tidak ada mata-mata atau formasi pengawas dari tetua sekte lain.
"Lingkungan yang sempurna," gumam Lin Xuan.
Ia menoleh ke arah gurunya. Dengan persepsi spiritual dari Tahap Pembentukan Fondasi tingkat 2 yang disembunyikan oleh Mutiara Kekacauan, Lin Xuan mencoba memindai tubuh Feng Wuchen.
Namun, saat indranya menyentuh tubuh lelaki tua itu, Lin Xuan mengerutkan kening. Dantian Feng Wuchen benar-benar hancur lebur, sama seperti kondisinya dulu. Tetapi yang membuat Lin Xuan terkejut adalah adanya sebuah Niat Pedang (Sword Intent) berwarna hitam pekat yang luar biasa ganas bersarang di dalam jantung Feng Wuchen. Niat pedang itu terus-menerus menggerogoti sisa-sisa energi kehidupannya.
"Menarik," suara Sang Demon Venerable menggema di benak Lin Xuan. "Orang tua ini tidak lumpuh karena cacat bawaan atau pertarungan biasa. Seseorang di Alam Nascent Soul (Jiwa Baru Lahir) menanamkan Kutukan Pedang ke dalam jantungnya puluhan tahun lalu. Arak yang dia minum itu bukan sekadar arak fana, melainkan Arak Sumsum Api untuk menekan rasa sakit dari kutukan tersebut. Jika tidak, dia sudah mati seratus kali lipat."
Lin Xuan menahan napas. Gurunya ini ternyata menyimpan dendam dan rahasia yang mengerikan.
Feng Wuchen tiba-tiba menoleh, mata merahnya yang setengah tertutup menatap lurus ke arah Lin Xuan. Entah karena kebetulan atau insting purba yang tersisa, tatapan itu seolah mampu menembus penyamaran aura Lin Xuan.
"Bocah, jangan terlalu banyak berpikir. Rasa penasaran membunuh kucing, dan di dunia kultivasi, rasa penasaran membunuh seluruh sembilan generasi keluargamu," kekeh Feng Wuchen. Ia merogoh sabuknya dan melemparkan sebuah token tembaga berkarat ke arah Lin Xuan.
Lin Xuan menangkapnya. Token itu sedingin es dan memancarkan aura kuno yang membuat pedang-pedang bergetar.
"Itu Kunci Makam Pedang Kuno," lanjut Feng Wuchen, berbalik menuju gubuk reyotnya. "Pintu masuknya ada di gua di belakang gunung. Kau memicu Resonansi Pedang hari ini, jadi pedang-pedang di bawah sana pasti sedang gelisah. Masuklah jika kau berani, tapi ingat... jika Niat Pedang di dalam sana merobek kewarasanmu, aku tidak akan turun untuk menyelamatkanmu. Selamat malam."
Pintu gubuk bambu dibanting tertutup. Tak lama kemudian, terdengar suara dengkuran keras yang diselingi batuk kering.
Lin Xuan memutar token tembaga itu di tangannya. Senyum tipis mengembang di bibirnya. "Terima kasih, Guru."
Tanpa membuang waktu, Lin Xuan melesat ke arah belakang gunung. Setelah melewati hutan pinus yang lebat dan tebing yang curam, ia menemukan sebuah gua raksasa. Pintu masuk gua itu ditutupi oleh dua daun pintu perunggu setinggi tiga puluh meter yang dipenuhi ukiran jutaan pedang patah.
Hawa pembunuhan yang purba dan tajam merembes keluar dari celah pintu, cukup kuat untuk membuat kulit kultivator tingkat Kondensasi Qi melepuh.
Lin Xuan menyuntikkan Qi-nya ke dalam token tembaga dan menempelkannya ke lubang di tengah pintu.
KRATAAAK!
Suara gemuruh logam purba bergesekan memecah kesunyian malam. Pintu perunggu raksasa itu terbuka perlahan, menghembuskan angin kencang yang membawa serpihan karat dan debu ribuan tahun.
Lin Xuan melangkah masuk. Begitu melewati ambang pintu, pemandangan di depannya berubah drastis. Ia tidak lagi berada di dalam gua, melainkan di sebuah dimensi saku (pocket dimension) yang sangat luas.
Langit di atasnya berwarna merah darah yang suram. Sejauh mata memandang, tanahnya berupa ngarai tandus yang dipenuhi dengan jutaan... tidak, mungkin puluhan juta pedang! Ada pedang yang menancap di tanah, ada yang patah menjadi dua, ada yang berkarat hancur, dan ada pula pedang raksasa sebesar bukit yang setengah terkubur di tebing.
Ini adalah kuburan massal bagi senjata-senjata yang telah gugur bersama tuannya di era purba.
Wusss! Zinggg!
Angin yang berhembus di tempat ini bukanlah udara biasa, melainkan pusaran Niat Pedang liar. Setiap hembusannya mampu memotong batu giok menjadi bubuk.
"Buka perlindungan Kekacauan-mu, bocah. Jika kau lengah, tubuh Tulang Besi-mu pun akan dicincang menjadi pasta daging oleh badai pedang ini," peringat Sang Demon Venerable.
Lin Xuan segera mengalirkan Qi Kekacauan abu-abunya ke seluruh permukaan kulit, membentuk perisai tipis. Ia mulai berjalan menyusuri ngarai. Niat Pedang liar yang menyentuh perisainya langsung teredam dan terserap oleh Mutiara Kekacauan.
Tujuannya jelas: mencari senjata. Pedang Kelas Fana tidak lagi bisa menampung kekuatannya. Ia butuh pedang Kelas Roh (Spirit Grade) atau bahkan lebih tinggi.
Saat Lin Xuan berjalan, ia melihat sebuah pedang hijau bercahaya yang menancap di atas batu giok. "Pedang Terbang Giok Hijau... senjata Kelas Roh Tingkat Rendah!" gumamnya. Ia mengulurkan tangan untuk mencabutnya.
Namun, saat jari-jarinya yang diselimuti Qi Kekacauan menyentuh gagang pedang itu, pedang hijau tersebut bergetar hebat, mengeluarkan suara rintihan ngeri, dan—PRANG!—hancur menjadi kepingan cahaya. Senjata Kelas Roh Tingkat Rendah sekalipun tidak sanggup menahan beratnya energi Kekacauan Primordial!
"Sampah. Jalan terus," ejek Sang Demon Venerable.
Lin Xuan terus berjalan ke dalam. Semakin dalam ia melangkah, tekanan Niat Pedang semakin mengerikan. Badai pedang di sekitarnya mulai bermanifestasi menjadi bayangan hantu para ahli pedang masa lalu yang menebas ke arahnya. Lin Xuan harus menggunakan tinjunya untuk menghancurkan ilusi-ilusi tersebut.
Tiga jam berlalu. Ia telah menghancurkan belasan pedang Kelas Roh Tingkat Menengah dan Tinggi hanya dengan menyentuhnya.
"Senior, apakah tidak ada satu pun pedang di makam jutaan pedang ini yang bisa kugunakan?" Lin Xuan mulai sedikit frustrasi, napasnya sedikit berat setelah menahan tekanan Makam Pedang selama berjam-jam.
"Tunggu," suara Sang Demon Venerable tiba-tiba menjadi sangat fokus. "Arah jam sepuluh. Sepuluh mil dari posisimu sekarang. Ada sesuatu yang 'berat'. Sangat berat hingga pusaran badai pedang di sekitarnya bahkan tidak berani mendekat."
Lin Xuan segera memutar arah dan melesat menggunakan Langkah Bintang Jatuh.
Tiba di lokasi yang ditunjuk, Lin Xuan tertegun. Di tengah-tengah sebuah kawah raksasa yang hangus, tidak ada pedang bercahaya indah atau artefak mistis. Yang ada hanyalah sebuah lempengan besi hitam berkarat setinggi tubuh manusia dewasa, tertancap dalam di tanah.
Bentuknya sama sekali tidak seperti pedang. Lebarnya sekitar dua telapak tangan, sangat tebal, dan tidak memiliki mata pisau (bilah) yang tajam sama sekali. Gagangnya tampak kasar tanpa ukiran pelindung. Benda itu lebih terlihat seperti penggaris besi raksasa yang belum selesai ditempa oleh pandai besi amatir.
Namun, di sekeliling lempengan besi berkarat itu, tercipta sebuah zona hampa udara absolut sejauh sepuluh meter. Tidak ada badai pedang yang berani masuk ke zona tersebut.
Mutiara Kekacauan di dalam Dantian Lin Xuan mulai berputar dengan sangat cepat, memancarkan rasa lapar yang luar biasa!
"Hah! Pantas saja benda ini tidak membusuk ditelan waktu," Sang Demon Venerable tertawa penuh kepuasan. "Bocah, tahukah kau benda apa itu? Itu adalah 'Besi Inti Bintang Jatuh' (Fallen Star Core Iron)! Materi kosmik yang gagal ditempa menjadi pedang dewata di era kuno karena tidak ada api fana yang bisa melelehkannya dengan sempurna."
"Senjata yang gagal ditempa?" Lin Xuan mengerutkan kening. "Lalu bagaimana aku menggunakannya?"
"Itu tidak memiliki bilah tajam karena Niat Pedang yang terkandung di dalamnya murni tentang KEHANCURAN (Destruction), bukan ketajaman. Kau tidak menebas musuhmu dengan ini, kau MENGHANCURKAN mereka beserta gunung-gunung di belakang mereka! Dan coba tebak api apa yang cukup kuat untuk perlahan-lahan membentuk ulang besi kosmik ini?"
Mata Lin Xuan berbinar. "Api Kekacauan Primordial."
Lin Xuan melangkah perlahan ke dalam kawah. Setiap langkahnya terasa seperti memikul gunung. Tekanan gravitasi di sekitar besi hitam itu seratus kali lipat lebih kuat dari gravitasi normal.
Ia berhenti di depan pedang tanpa nama itu, mengulurkan kedua tangannya, dan mencengkeram gagangnya yang kasar.
"AARGH!" Lin Xuan mengaum keras. Seluruh tenaga fisik dua puluh ribu kati dari Tulang Besi Kulit Giok dikerahkan hingga urat-urat di lehernya bermunculan. Qi Kekacauan abu-abu meledak keluar dari tubuhnya, mengalir deras ke dalam besi raksasa itu bagaikan naga yang mengamuk.
Besi raksasa itu memancarkan dengungan kuno yang menggetarkan seluruh Makam Pedang Kuno.
KRAAAK... BOOOM!
Lin Xuan berhasil mencabut pedang raksasa itu dari tanah!
Namun, bebannya sungguh gila. Pedang itu beratnya setidaknya seratus ribu kati! Kaki Lin Xuan langsung amblas hingga ke lutut menahan beban tersebut. Jika bukan karena fisik primordianya, lengannya pasti sudah putus ditarik gravitasi pedang itu.
"Senjata yang gila..." napas Lin Xuan terengah-engah, namun seringai gembira menghiasi wajahnya. Ia bisa merasakan bahwa besi raksasa ini menyerap Qi Kekacauannya dengan rakus tanpa ada tanda-tanda akan retak.
"Mulai hari ini, namamu adalah Pedang Pembelah Kekacauan (Chaos Cleaver Sword)!"
Lin Xuan memasukkan pedang raksasa itu ke dalam Cincin Penyimpanannya (meski ruang di dalam cincin itu nyaris hancur menahan fluktuasi dimensinya), dan berbalik menuju pintu keluar. Ujian sejati di Sekte Pedang Bintang baru saja dimulai. Dengan senjata baru di tangannya, ia siap membalikkan sekte ini dari bawah ke atas.
Namun, saat ia melangkah keluar dari gerbang perunggu Makam Pedang Kuno, sesosok bayangan berbaju putih telah berdiri menunggunya di bawah cahaya bulan purnama.
Itu adalah seorang gadis dengan pedang panjang di punggungnya. Wajah cantiknya sedingin bongkahan es, auranya memancarkan ketajaman yang menusuk tulang. Kultivasinya? Pembentukan Fondasi tingkat 5!
Gadis itu menatap Lin Xuan yang baru keluar dari daerah terlarang dengan pandangan setajam silet.
"Jadi kau orang gila baru yang memilih Puncak Pedang Patah," ucap gadis itu dingin. "Kudengar kau meremehkan seluruh Master Puncak hari ini. Aku, Murid Inti Puncak Bulan, Su Xue'er, datang untuk melihat apakah kesombonganmu sebanding dengan pedangmu."
Lin Xuan menepuk debu dari jubahnya, menatap gadis arogan itu dengan senyum tipis yang meremehkan. Baru saja mendapat senjata baru, ia tidak keberatan mencari karung pasir untuk mengujinya.
dan kalau bisa update nya jangan lama lama