Kirana Yudhoyono, aktris kelas bawah yang hampir kehilangan segalanya, tak sengaja menyelamatkan seorang anak trauma bernama Kael dari insiden berbahaya di sebuah gudang bar. Tindakannya menarik perhatian ayah Kael—Bryan Santoso, CEO SantoPrime yang dingin dan berkuasa. Terpesona oleh kedekatan Kirana dengan putranya, Bryan menawarkan balas budi yang tak masuk akal: pernikahan kontrak.
"Aku menyelamatkan putramu bukan untuk menikahimu, Tuan Bryan!"
"Tapi Kael membutuhkanmu, dan aku... hanya menerima hubungan dengan pernikahan sebagai syaratnya."
*saya baru mencoba untuk menulis genre seperti ini, semoga anda sekalian menyukainya ☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demene156, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Mantan Kotoran
"Tolong pegang ini sebentar. Aku mau berterima kasih pada Tuan Muda kecilmu!" kata Kirana riang sambil menyodorkan wadah pendingin yang masih terasa dingin kepada gadis pemalu itu.
Di dalamnya tersimpan tiga botol jus kiriman Kael—si kecil manis yang selalu berhasil meluluhkan hatinya.
Gadis itu mengangguk kaku dan menerimanya dengan kedua tangan.
Sementara itu, Kirana segera mengeluarkan ponsel dari saku kostumnya. Jarinya bergerak cepat di atas layar, mengirim pesan untuk memberi tahu Kael bahwa hadiahnya sudah sampai dengan selamat.
Meski kru produksi tampak sibuk mengurus lampu, kabel, dan kamera, perhatian mereka sebenarnya tidak benar-benar tertuju pada pekerjaan.
Tatapan mereka sesekali melirik ke arah Kirana, penasaran dengan kiriman ketiga untuk aktris pendatang baru itu. Setelah mawar ribuan tangkai dan berlian mewah, apa lagi berikutnya?
"Pada akhirnya cuma tiga botol… jus?" gumam seorang kru yang berdiri cukup dekat hingga bisa mengintip isi wadah.
Mereka yang melihat itu merasa heran, terutama saat memperhatikan ekspresi Kirana.
Ia terlihat jauh lebih senang menerima hadiah sederhana itu dibanding dua hadiah sebelumnya yang bernilai fantastis.
Saat menerima mawar, ia tampak gelisah. Saat melihat berlian, ia bahkan tidak terlihat terlalu terkejut.
Namun sekarang, hanya karena tiga botol jus berwarna merah, kuning, dan hijau—persis lampu lalu lintas—ia memasang ekspresi paling bahagia yang mereka lihat hari ini.
Ia bahkan mengetik pesan dengan wajah berseri.
"Benar juga. Ternyata uang tidak lagi berpengaruh pada kecantikan sekelas dia. Yang penting itu hati," bisik seorang penata rias.
"Betul! Bukankah gadis pengantar tadi bilang jusnya dibuat sendiri? Manis sekali usahanya!" timpal yang lain kagum.
"Aku taruhan, orang yang kirim jus itu bakal menangin hatinya!"
"Belum tentu. Bisa saja dia juga yang kirim berlian. Mau bikin kejutan bertahap," sanggah kru pria lain.
"Lho, kenapa tidak ada yang dukung pengirim bunga? Mawar sebanyak itu romantis sekali!"
Tanpa sadar, taruhan kecil pun terjadi di antara mereka tentang siapa pria yang berhasil membuat Kirana tersenyum sebahagia itu.
Nama pengusaha kaya dan aktor terkenal mulai berseliweran dalam bisik spekulasi.
Keributan itu baru mereda saat asisten sutradara berteriak memanggil semua kru kembali ke posisi.
Waktu istirahat hampir habis.
Perhatian pada hadiah misterius pun buyar, digantikan kesibukan set yang kembali hidup oleh teriakan arahan.
Setelah memastikan pesannya terkirim, Kirana mengambil kembali wadah pendingin dari tangan gadis itu dan tersenyum ramah hingga si gadis sedikit tersipu.
"Ada lagi yang ingin disampaikan?" tanya Kirana lembut.
Gadis itu berkedip, seolah baru tersadar.
"Oh, ah… tidak ada. Kalau begitu saya pamit dulu, Mbak Kirana," ucapnya sopan sambil membungkuk.
Kirana mengangguk dan mengucapkan terima kasih sekali lagi.
Begitu gadis itu pergi, Kirana langsung membawa wadah tersebut ke ruang istirahat pribadinya.
Ia sudah tidak sabar menikmati jus buatan tangan kecil Kael.
Sesampainya di ruangan yang lebih sejuk, ia membuka wadah itu. Botol pertama yang diambilnya adalah jus semangka.
Begitu cairan merah itu mengalir di tenggorokan, sensasi segar langsung menyebar ke seluruh tubuh.
Namun rasa haus akibat syuting di bawah lampu panas belum sepenuhnya hilang. Apalagi kostum yang dikenakannya terasa gerah.
Karena merasa satu botol belum cukup, ia membuka botol kedua—jus kacang hijau.
Rasanya autentik dan mengenyangkan.
Tanpa berhenti, jus jeruk kuning cerah pun ia minum, meski kali ini tidak sampai habis karena perutnya mulai terasa penuh.
Saat itu, Kirana merasa energinya pulih sepenuhnya. Mood-nya membaik drastis, seolah semua beban kerja terangkat.
Beberapa menit kemudian, ia kembali ke set dengan semangat baru.
Pada saat yang sama, di kediaman mewah keluarga Santoso, Bryan berada di rumah. Ia sengaja mengambil cuti untuk menemani putranya, Kael, yang belakangan tampak lebih ceria sejak mengenal Kirana.
Bryan duduk di ruang kerja ketika ponselnya berbunyi.
Notifikasi menunjukkan pesan baru dari Kirana.
Ia membukanya, dan sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis yang jarang terlihat.
[Sayang, terima kasih untuk jusnya! Enak banget! Sarangheyo!]
Bryan menatap layar itu cukup lama.
Kata "Sarangheyo" dan panggilan "Sayang"—meskipun ia tahu ditujukan untuk anaknya—tetap membuat hatinya berdesir aneh.
Ia lalu memberi isyarat pada Kael yang sejak tadi berdiri di dekat jendela, menatap gerbang seolah menunggu seseorang.
"Kael, kemari."
Kael tidak merespons. Tatapannya tetap terpaku ke luar.
Bryan menghela napas pelan, memaklumi kesulitan komunikasi putranya.
"Ini pesan dari Tante Kirana untukmu."
Reaksi Kael langsung berubah. Ia berlari seperti roket menuju Bryan.
Ia meloncat berusaha meraih ponsel itu, tetapi Bryan dengan tenang mengangkat tangannya lebih tinggi.
"Papa tunjukkan kalau kau memanggil Papa dengan jelas," ujarnya mencoba bernegosiasi.
Wajah Kael langsung penuh protes. Ia tetap menolak bicara.
Sebagai gantinya, ia memanjat tubuh Bryan, bahkan naik ke sofa demi menambah tinggi badan. Tetap saja tidak berhasil.
Melihat usaha keras itu, Bryan tersenyum tipis.
Saat wajah Kael mulai memerah dan hampir menangis frustrasi, Bryan akhirnya menyerah dan memberikan ponsel itu.
Melihat putranya membaca pesan dengan mata berbinar, ekspresi Bryan melembut.
Senyum itu hangat—berbeda dari senyum dingin yang biasa ia tunjukkan di dunia bisnis.
Mungkin karena hanya sedikit hal di dunia ini yang bisa menyentuh sisi lembutnya, Tuhan mengirim Kael untuk mengisi hari-harinya yang dulu terasa kosong.
Kael sebenarnya anak yang sangat pintar. Ia baru enam bulan ketika mulai menunjukkan tanda-tanda bisa berbicara.
Namun sejak kecelakaan traumatis itu, Kael tidak pernah bersuara lagi.
Ia menutup diri dari dunia.
Bryan menatap putranya dengan rasa bersalah mendalam.
'Ketika aku sadar dan ingin menebus semuanya, seolah sudah terlambat,' batinnya.
Ia sering bertanya-tanya apakah hari itu akan tiba—hari ketika ia bisa mendengar putranya memanggilnya "Papa" lagi.
Kael menatap layar lama sekali. Jemarinya menyentuh teks seolah ada kata yang tidak ia pahami.
Ia lalu mendekati Bryan dan menunjuk kata "Sarangheyo" dengan jari kelingkingnya, menatap ayahnya penuh tanya.
"Itu cuma kata biasa. Tidak ada arti penting," jawab Bryan datar, berusaha menutupi rasa cemburunya.
Tiba-tiba Arion, yang baru datang dan mendengar percakapan itu, melompat mendekat dengan gaya dramatis. Ia membentuk simbol hati dengan kedua tangan.
"Puff! Bang, jangan menyesatkan anak kecil! Kael, dengar ya. 'Sarangheyo' itu artinya 'Aku mencintaimu' dalam bahasa Korea. Tante Kirana bilang dia sangat mencintaimu!"
Kael langsung menatap ayahnya dengan ekspresi jijik dan kecewa karena merasa dibohongi.
Dengan wajah angkuh yang sangat mirip Bryan, ia berbalik lalu berlari ke dapur untuk melanjutkan memeras buah—seolah ingin mengirim lebih banyak jus lagi.
"Kamu tidak bekerja?" tanya Bryan tajam.
Arion santai saja. Ia menarik kursi dan duduk tepat di depan kakaknya dengan wajah berbinar.
"Bos, aku punya laporan penting. Berita besar dari lokasi syuting!"
Bryan tidak menanggapi. Ekspresinya jelas mengatakan: kalau tidak penting, enyah.
Arion melambaikan tangan antusias. "Bang, tahu tidak? Hari ini para penggemar rahasia Kirana mengirim banyak hadiah ke lokasi!"
"Jus dari Kael sudah kutahu," jawab Bryan tenang.
Arion tersenyum penuh arti.
"Aku tahu. Tapi sebelum itu ada dua orang lain yang kirim hadiah mewah. Satu kirim mawar merah ribuan tangkai sampai memenuhi set. Satu lagi kirim berlian besar yang harganya pasti gila."
Suasana ruangan langsung berubah.
Wajah Bryan yang sudah dingin menjadi lebih dingin lagi, seperti langit cerah mendadak berubah badai.
Aura tekanannya membuat Arion sedikit menciut.
"Sudah tahu siapa mereka?" tanya Bryan pelan, nada suaranya cukup untuk membuat orang merinding.
Arion mengetuk meja sambil berpikir.
"Itulah masalahnya, Bang. Bahkan dengan jaringan gosip dan intelku, aku tidak menemukan identitas mereka. Rapi sekali penyamarannya."
"Mungkin kita harus menunggu langkah berikutnya," tambahnya.
Namun jelas Bryan tidak berniat menunggu.
Ia mengambil ponsel dan langsung menelepon.
"Raze. Selidiki dua pengirim hadiah di lokasi syuting MNC hari ini. Aku mau identitas mereka secepatnya ada di mejaku."
Arion membelalakkan mata.
"Bang, kamu sampai mengerahkan Raze dan tim intelijen khusus cuma buat urusan begini? Ini kan masalah cinta!"
Jaringan gosip Arion memang luas, tetapi tetap tidak sebanding dengan tim intelijen kakaknya yang biasa menangani spionase korporasi.
"Bang, aku sudah bilang. Masa lalu Kirana itu tidak sederhana. Banyak pria mengincarnya. Percaya sekarang? Mungkin sekalian suruh Raze selidiki latar belakangnya juga. Siapa tahu ada rahasia gelap," ujar Arion serius.
"Itu tidak perlu," potong Bryan singkat.
Ia punya prinsip sendiri.
Setiap orang berhak menyimpan masa lalu yang tidak ingin dibuka. Seprotektif apa pun dirinya, ia tidak akan menyentuh hal yang belum ingin diungkapkan Kirana.
"Kalau dia ingin bercerita, dia akan mengatakannya sendiri padaku," tegas Bryan.
Beberapa jam kemudian, tanpa terasa waktu berlalu dengan cepat. Matahari mulai terbenam di ufuk barat, dan proses syuting hari ini akhirnya selesai tepat pada pukul enam sore.
Adegan utama hari ini memang lebih banyak menampilkan pemeran utama pria dan wanita. Tidak banyak adegan yang melibatkan Kirana, tetapi dia tetap harus berada di lokasi sepanjang waktu, berperan sebagai 'vas bunga' cantik di latar belakang hampir seharian.
Menjadi pemeran pendukung yang hanya menonjolkan kecantikan fisik ternyata juga sangat melelahkan. Kirana merasa lehernya hampir patah karena harus menyangga kostum kepala yang berat selama berjam-jam.
Belum lagi AC studio yang sangat dingin mulai membuatnya merasa merinding.
Setelah berganti pakaian ke baju santai dan menghapus riasan wajahnya yang tebal, dia mengenakan masker kain hitam. Dia bersiap untuk memesan taksi online menuju ke stasiun untuk naik KRL.
Pada saat itu, Kirana belum menjadi aktris terkenal, jadi tidak ada orang yang mengenalinya di jalanan. Naik KRL adalah pilihan paling praktis baginya untuk menghemat waktu, ditambah lagi dia tidak perlu berurusan dengan kemacetan lalu lintas Jakarta yang legendaris, terutama di jam sibuk orang pulang kantor seperti sekarang.
Dia sudah berjalan keluar dari kompleks studio MNC dan hendak menekan tombol pesan di aplikasi taksi online, sampai sebuah mobil Maserati hitam yang sangat mengkilap berhenti tepat di sampingnya.
Jendela mobil mewah itu diturunkan secara perlahan, menampakkan wajah Aditya Pratama yang tersenyum padanya dengan gaya sok akrab. "Kirana, kebetulan sekali! Mari, biar aku antar kamu pulang!"
Kirana terpaku sejenak.
'Mantan pacar… Kenapa harus muncul mantan pacar lagi di saat aku lelah begini? Tidak bisakah mereka membiarkan aku menikmati kedamaian dan ketenangan barang sejenak? Apalagi si bajingan ini! Kenapa dia masih berani menampakkan wajah setelah apa yang dia lakukan bersama si pelakor itu!' batin Kirana.
Rasa lelahnya seolah bertambah berkali-kali lipat hanya dengan melihat wajah Aditya, mantan terburuk dalam sejarah hidupnya.
"Tidak perlu," jawab Kirana dingin. Dia langsung memalingkan wajah dan berjalan cepat menuju jalan utama, berharap pria itu segera pergi.
Dia benar-benar enggan melihat wajah yang menurutnya menjijikkan itu.
Namun, Aditya menolak untuk menyerah. Dia menjalankan mobilnya perlahan mengikuti langkah Kirana.
"Kirana, kumohon jangan begini. Bisakah kita bicara sebentar? Hanya sebentar saja."
Kirana mendengus mencibir di balik maskernya.
"Apa yang perlu dibicarakan? Tidak ada hal yang tersisa di antara kita. Bagaimana kalau ada wartawan yang mengambil foto kamu dan aku di sini? Itu akan menjadi skandal buruk untukku. Apa kau juga berniat menghancurkan karierku yang baru saja dimulai ini? Aku lelah, Aditya. Biarkan aku sendirian, pergilah! Melihat wajahmu hanya membuatku merasa mual!"
Aditya mengerutkan kening. Dia merasa sedikit tidak terbiasa dengan kata-kata tajam dan sikap dingin Kirana. Dahulu, Kirana adalah gadis yang sangat lembut, selalu mendengarkan dan melakukan semua yang dia katakan tanpa membantah.
"Kirana, bukan itu maksudku. Aku benar-benar punya sesuatu yang sangat penting untuk kubicarakan denganmu! Ini menyangkut masa depanmu," ujar Aditya dengan nada mendesak.
Kirana melirik ke sekeliling. Dia mulai merasa khawatir jika mereka terus beradu argumen di pinggir jalan seperti ini, seseorang pasti akan memotret mereka. Mobil Maserati milik Aditya terlalu mencolok untuk area ini.
Setelah memastikan tidak ada kru film atau wartawan yang mengenali mereka, Kirana akhirnya mengalah demi keamanan privasinya. Dia dengan cepat membuka pintu penumpang dan masuk ke dalam mobil.
"Hanya bicara, setelah itu kau harus pergi."
Setengah jam kemudian, mereka sampai di sebuah ruangan VIP di sebuah restoran kelas atas. Aditya sengaja memilih tempat yang sangat tertutup agar pembicaraan mereka tidak terganggu.
Aditya memanggil pelayan dan memesan beberapa hidangan tanpa bertanya pada Kirana. Sebagian besar adalah makanan yang dulu merupakan favorit Kirana.
"Kirana, aku sudah lama tidak bertemu denganmu, jadi aku tidak tahu apakah seleramu sudah berubah atau tidak. Bagaimana kabarmu selama bertahun-tahun tinggal di luar negeri sendirian?" tanya Aditya dengan nada sok peduli.
"Dulu aku sering mengirimimu uang ke rekening lamamu, tetapi kau mengembalikannya semua. Dan akhirnya kau malah mengganti nomor rekening bankmu agar aku tidak bisa melacakmu lagi…" lanjutnya dengan nada kecewa.
Kirana menghela napas panjang. Dia benar-benar merasa muak. Hari ini dia sudah menghadapi dua kiriman hadiah mantan di lokasi syuting yang berulah, dan sekarang dia terjebak dengan Aditya.
"Hentikan basa-basinya. Katakan saja apa yang ingin kau katakan," potong Kirana ketus.
Dia tidak menyentuh makanan di depannya sama sekali. Dia justru sibuk dengan ponselnya, mengirim pesan singkat kepada Kael, memberi tahu bahwa dia akan pulang sedikit terlambat malam ini.
Melihat sikap dingin Kirana, Aditya akhirnya mengeluarkan sebuah amplop dan menyerahkannya. Di dalamnya terdapat sebuah cek yang sudah tertulis nominal fantastis.
Dari sudut matanya, Kirana melirik sekilas angka di cek tersebut. Sembilan belas setengah miliar rupiah.
Angka yang akan membuat siapa pun bertekuk lutut, tetapi bagi Kirana, itu hanya terlihat seperti penghinaan. Dia menyipitkan matanya.
"Apa maksud semua ini, Aditya?"
Tatapan Aditya menjadi tegas, seolah-olah dia sedang memberikan perintah bisnis.
"Kirana, jangan lakukan sesuatu yang akan kau sesali di kemudian hari. Dunia hiburan itu keras dan kotor."
Kirana meletakkan ponselnya ke meja dengan kasar dan menatap Aditya dengan senyum palsu yang mematikan.
"Oh? Begitu ya? Kalau begitu beri tahu aku, apa yang telah kulakukan hingga membuat Tuan Muda Aditya yang terhormat ini merasa perlu memberiku uang sebanyak ini?"
"Katakan padaku, bagaimana sebenarnya kau bisa mendapatkan peran di film besar itu?" tanya Aditya tiba-tiba dengan penekanan yang kuat, seolah-olah dia menuduh Kirana melakukan cara yang tidak halal.
"Menurutmu bagaimana aku mendapatkannya?" Kirana menyilangkan tangannya di depan dada, bersandar santai di kursi dengan gaya yang sangat elegan namun menantang.
Sepertinya kesabaran Aditya sudah habis. Dia membanting tangannya ke meja hingga gelas di atasnya bergetar.
"Kirana! Kau lebih tahu dariku apa yang akan dihadapi gadis cantik tapi tidak punya latar belakang kuat sepertimu di industri ini! Kenapa kau begitu keras kepala ingin terjun ke dunia yang penuh lumpur ini?"
"Heh, gadis sepertiku…" Kirana tersenyum tipis, tapi matanya memancarkan api kemarahan. "Memangnya identitas macam apa yang sedang kau pakai sekarang, Tuan Muda Aditya, sampai berani bicara seperti itu padaku? Apakah kau merasa dirimu adalah penyelamatku?"
Seandainya ini terjadi lima tahun lalu, Kirana mungkin akan menangis histeris mendengar kata-kata menyakitkan ini. Namun sekarang, dia sudah berbeda.
Dulu, Aditya berulang kali melarangnya masuk ke dunia hiburan karena alasan martabat keluarga. Namun, ketika menyangkut Aruna, Aditya justru memberikan dukungan penuh dan fasilitas mewah.
Bahkan sekarang, pria ini masih berani mengkritik caranya hidup.
'Memang siapa kau? Bahkan Hendrawan Yudhoyono, pria tua yang pernah aku anggap ayah itu saja sudah tidak punya hak mengaturku sejak dia membuangku ke luar negeri. Lalu kau? Kau hanyalah mantan kekasih bajingan yang mengkhianati aku lima tahun lalu hanya karena godaan pelakor murah semacam adikku sendiri!' batin Kirana dengan tatapan yang sangat tajam.
"Kirana, dengarkan aku. Meskipun kita sudah putus, aku selalu menganggapmu sebagai adik perempuanku sendiri. Aku hanya ingin membantumu agar tidak terjerumus lebih dalam," Ujar Aditya.
"Tidak bisakah kau sedikit lebih lunak dan menurut padaku? Ambil uang ini, batalkan kontrakmu dengan Starlight dan proyek drama ini, dan tinggalkan industri hiburan selamanya! Hiduplah dengan tenang di luar kota," nasihat Aditya dengan wajah sok bijak.
"Heh, membantu aku?" Mata Kirana yang tadinya terlihat malas tiba-tiba menjadi sangat dingin dan menusuk.
"Sekarang setelah kupikir-pikir, aku memang butuh bantuan dari Tuan Muda Aditya Pratama yang super kaya ini! Kuharap kau bisa membantuku satu hal saja," Ujar Kirana.
"Bantu aku mengatakan yang sebenarnya kepada keluarga Yudhoyono, dan bersaksilah di depan hukum bahwa Aruna menyuap orang untuk menghancurkan hidupku malam itu. Maukah kau membantuku dalam hal ini?" Tanya Kirana.
Wajah Aditya mendadak pucat pasi. Dia tergagap sejenak.
"Kirana, aku… kau tahu itu mustahil. Jika aku melakukan itu, semuanya akan berakhir untuk Aruna… Kariernya, reputasinya, semuanya akan hancur. Lagipula, paling tidak tindakannya saat itu hanya bisa dianggap sebagai percobaan," Ujar Aditya.
"Kaulah yang sebenarnya melakukan kesalahan dengan masuk ke kamar yang salah dan tidur dengan pria asing…" tambahnya.
Kirana tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat getir dan menyakitkan. Dia sudah menduga jawaban menjijikkan itu akan keluar dari mulut pria ini.
Meskipun dia sudah menduga, hatinya tetap berdenyut nyeri. Dia mencibir dengan keras,
"Jadi menurutmu, kalian berdua tidak melakukan kesalahan apa pun? Jadi itu salahku kalau Aruna membuatku mabuk dengan obat-obatan?"
"Salahku kalau aku dibius sampai tidak berdaya? Salahku kalau aku diperkosa pria asing? Salahku kalau aku harus hamil anak dari orang yang tidak kukenal dan akhirnya anak itu tidak bisa melihat dunia ini karena aku mengalami kecelakaan tragis?!"
"Apa semua itu menurutmu adalah salahku, Aditya?!"
Aditya mengerutkan kening, tampak merasa terpojok.
"Kirana, aku tidak bermaksud berkata seperti itu! Aruna dan aku sudah berkali-kali meminta maaf padamu secara batin atas masalah itu," Ujar Aditya.
"Kami juga telah berusaha menebusnya selama bertahun-tahun ini dengan doa dan dukungan finansial yang kau tolak. Mengapa kau tidak bisa melupakannya saja dan memulai hidup baru yang bersih?" Tegas Aditya.
Kirana mengambil tasnya dan berdiri dengan gerakan cepat. Dia sudah tidak tahan lagi berada di ruangan yang sama dengan pria ini.
"Heh, kau memintaku untuk melupakannya begitu saja? Begini saja, jika nanti Aruna-mu yang tercinta diperkosa orang lain dan hamil anak haram, lalu kau bisa tetap tersenyum menjabat tangan pelakunya dan dengan senang hati menjadi suami yang dikhianati, baru saat itu kau berhak datang padaku dan memintaku untuk memaafkan!"
Wajah Aditya langsung berubah merah padam karena tersinggung.
"Kirana! Bagaimana bisa kau mengatakan hal sekejam itu tentang Aruna!"
Kirana tertawa dengan sinis betapa berbedanya sikap yang diberikan oleh pria menjijikkan, bermuka dua yang ada dihadapannya itu.
"Hah, aku baru sekadar membicarakannya saja dan hatimu sudah sesakit itu? Kau tidak akan pernah tahu betapa hancurnya jiwaku kecuali hal itu benar-benar terjadi padamu, kan?" Tegas Kirana.
"Jangan pernah bermimpi aku akan memaafkan kalian berdua! Aku tidak senaif itu lagi!" Kirana langsung berbalik dan melangkah keluar dari restoran dengan perasaan sangat kesal.
Begitu sampai di luar dan menghirup udara malam, Kirana menggerutu dengan suara yang bisa didengar oleh Aditya.
"Sungguh sial! Kenapa hari ini aku merasa sial sekali? Padahal aku tidak kejatuhan kotoran burung," ujar Kirana.
"Tapi kenapa rasanya seperti baru saja menginjak kotoran anjing yang sangat bau ya?" Ujar Kirana sebelum pergi dari ruangan tersebut.
Kirana merasa bodoh karena tadi sempat meladeni pembicaraan Aditya. Hal itu membuatnya merasa sangat muak sampai-sampai nafsu makannya hilang total.
Satu-satunya hal yang dia inginkan sekarang adalah segera kembali ke kediaman Santoso dan memeluk Kael, 'si kelinci kecil' kesayangannya, untuk menyembuhkan jiwanya yang sudah terkotori oleh pertemuan tadi.
Awalnya dia ingin naik KRL untuk menghindari macet, tetapi karena suasana hatinya sedang buruk, dia lebih memilih untuk memesan taksi online langsung menuju kediaman Bryan Santoso.
Dia butuh ruang pribadi untuk menenangkan diri.
Meskipun harus terjebak kemacetan parah Jakarta selama hampir dua jam, itu masih lebih baik daripada berdesakan di kereta saat kondisi mentalnya sedang lelah.
Setelah waktu terasa berjalan lambat di tengah lautan kendaraan, akhirnya taksi berhenti di depan gerbang mewah kediaman keluarga Santoso.
Begitu gerbang terbuka dan Kirana turun, dia melihat sosok kecil seperti kelinci putih lembut berlari ke arahnya dari beranda.
Tampaknya Kael sudah lama menunggu di dekat jendela.
Melihat Kael, rasa lelah dan kesal Kirana seolah menguap. Dia segera berlutut, memeluk bocah itu erat, lalu mencium pipinya berkali-kali seperti biasa.
"Sayang, kamu sudah makan? Tante tadi kirim pesan supaya kamu jangan menunggu dan harus makan duluan. Sudah makan, kan?"
Kael menatapnya dengan mata bulat, lalu mengangguk pelan.
"Anak pintar!" Kirana mencium dahinya lagi sebagai hadiah.
"Kamu main dulu sebentar di ruang tengah, ya. Tante mau ke atas ganti baju dan mandi. Badan Tante rasanya lengket sekali."
Kael kembali mengangguk patuh. Mereka berjalan masuk sambil bergandengan tangan—pemandangan yang terasa hangat dan harmonis.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata mengamati dari lantai dua.
Berdiri di dekat jendela ruang kerja, Bryan memandang ke bawah dengan perasaan melankolis. Dia sendiri tak pernah menyangka bisa menjadi pria yang begitu pencemburu.
Dia bahkan mulai iri pada putranya sendiri.
Melihat betapa Kirana memperlakukan Kael dengan kasih sayang tulus, sesuatu terasa bergejolak di dadanya.
"Begitu Kirana pulang, hal pertama yang dia lakukan adalah mencium Kael berkali-kali. Sedangkan padaku?" gumamnya lirih.
Mungkin Kirana bahkan belum menyadari kehadirannya di atas sini. Bryan hanya bisa memandangi wanita itu dari kejauhan dengan perasaan sulit dijelaskan.
Di kamar tamu mewah, hal pertama yang Kirana lakukan setelah menutup pintu adalah melepas bra-nya.
Benda itu terasa menyiksa setelah seharian menempel di tubuh dalam panas dan keringat.
"Rasanya benar-benar menyiksa harus memakai benda ini seharian di cuaca panas. Beban sekali," gumamnya.
Masih mengenakan pakaian lengkap, kedua tangannya meraih ke belakang, membuka kait bra dengan cekatan dari balik baju, lalu menariknya keluar lewat lubang lengan.
Namun tepat saat bra itu baru setengah keluar dan tangannya masih tersangkut di dalam baju—
Pintu di belakangnya berderit terbuka tanpa ketukan.
"Kirana…"
Suara berat Bryan terdengar.
Bryan membeku. Tangannya masih memegang gagang pintu. Ekspresi terkejut jelas terpancar di wajahnya yang biasanya kaku.
Dia melihat situasi yang sangat canggung di dalam ruangan.
Kirana pun membeku.
Bra-nya setengah menjuntai dari balik pakaian. Dia tak bisa menariknya keluar cepat, juga tak mungkin memakainya kembali seketika.
Ini jelas situasi paling memalukan yang pernah dia alami di rumah orang lain.
Bryan, dengan pengamatan tajamnya, tentu langsung memahami keadaan itu. Alisnya terangkat sedikit. Namun sebagai pria dengan kendali diri luar biasa, dia tak memperlama pandangan.
Dia berdeham pelan dan mengalihkan mata.
"Maaf… pintunya tadi sedikit terbuka. Aku pikir kau sudah siap. Aku tidak bermaksud…" katanya kaku sambil mundur.
"Tak apa-apa! Salahku juga lupa mengunci pintu!" seru Kirana cepat.
Dia akhirnya berhasil menarik bra itu keluar dan buru-buru menyembunyikannya di bawah bantal. Wajahnya sudah merah padam, tapi dia berusaha bersikap seolah tak terjadi apa-apa.
Sambil menenangkan diri, dia mengibas-ngibaskan tangan ke wajahnya.
"Huft, hari ini panas sekali, ya? Kalian para pria memang tidak akan pernah mengerti repotnya urusan perempuan seperti ini."
"Ngomong-ngomong, apa kau butuh sesuatu, Bryan?"
Bryan berdiri di ambang pintu yang kini hanya terbuka sedikit.
"Kenapa kamu pulang selarut ini? Apa ada janji kencan setelah syuting?" tanyanya santai, meski sebenarnya sangat ingin tahu.
"Kencan macam apa! Aku justru bertemu orang yang benar-benar menyebalkan di jalan. Dia bahkan mengolok-olokku dengan cara yang sangat rendahan," gerutu Kirana.
Mendengar itu bukan kencan, beban di dada Bryan terasa sedikit terangkat.
"Begitu ya. Aku sudah menyiapkan makanan untukmu di meja. Mandilah dulu dengan air hangat, setelah itu turun untuk makan."
"Ah, sebenarnya aku bisa menyiapkan makananku sendiri… kau tidak perlu repot," ujar Kirana agak sungkan.
"Hanya menambah satu porsi. Tidak merepotkan."
"Um… baiklah kalau begitu. Terima kasih."
Begitu Bryan benar-benar pergi dan pintu tertutup, Kirana langsung berlari memutar kunci dua kali.
Klik!
"Bodoh! Benar-benar bodoh!"
Dia memukul dahinya sendiri.
Satu-satunya saat dia lupa bahwa dia sedang tidak berada di rumahnya sendiri, justru dia melakukan kesalahan memalukan di depan bos besarnya.
'Aku harus lebih berhati-hati mulai sekarang. Jangan sampai kejadian memalukan ini terulang lagi,' batinnya.
Setelah mandi dan makan malam lezat, Kirana berbaring nyaman di tempat tidur besar. Dia membuka laptop dan menelusuri berita online untuk memantau situasi industri hiburan.
Di dekatnya, Kael duduk di karpet, fokus membaca ensiklopedia tebal yang hampir sebesar lengannya.
Beberapa judul berita muncul di layar:
"Aruna Yudhoyono mengungkapkan rasa cintanya kepada pacarnya yang tampan dan kaya di depan publik. Aktor peraih Piala Citra, Raka Pramudya, tampak tak bisa menyembunyikan kecemburuannya."
"Aruna Yudhoyono memuji Kirana sebagai perpaduan sempurna antara kecantikan dan bakat dalam wawancara terbaru."
"Kirana Yudhoyono dinobatkan sebagai wanita tercantik nomor satu di industri hiburan oleh netizen."
"Laura Diah memukau dalam balutan gaun tradisional di pembukaan film ."
"Hari pertama syuting , Aditya Pratama mengunjungi Aruna Yudhoyono dengan penuh perhatian."
"Mengungkap jumlah pengagum kaya aktris pendatang baru Kirana. Tumpukan mawar merah memenuhi lokasi syuting di hari pertama."
Awalnya semua terlihat biasa saja.
Namun perlahan judul-judul itu berubah nada.
"Kirana — simpanan rahasia konglomerat?"
"Siapa sebenarnya orang kuat di balik karier kilat Kirana?"
"Kirana dan deretan pria misterius di balik layar."
"Gaya hidup pribadi Kirana yang diduga berantakan di masa lalu."
Kirana menghela napas panjang.
Dia sebenarnya sudah mempersiapkan mental sejak di studio tadi bahwa hal seperti ini akan terjadi. Persaingan di industri hiburan memang kejam.
Bahkan tanpa insiden dengan Yono Barsa sekalipun, cepat atau lambat pasti ada pihak yang mencoba merusak citranya dengan gosip murahan.
Media online seperti ini sangat lihai memainkan kata ambigu tanpa bukti kuat. Jika diulang terus, orang awam bisa saja mempercayainya sebagai kebenaran.
"Butuh bantuan membereskan berita sampah itu?"
Suara Bryan tiba-tiba terdengar.
Dia sudah masuk lagi—kali ini mengetuk dulu.
Kirana duduk tegak dengan laptop di pangkuan. Dia menatap Bryan sambil tersenyum kecil.
"Bos Besar Bryan, apakah Anda sedang menawarkan diri menyelesaikan masalah sepele aktris kecil seperti saya?"
"Memangnya tidak boleh?"
Bryan berjalan mendekat membawa nampan berisi dua cangkir susu hangat.
"Ini untukmu dan Kael. Susumu rendah lemak, sesuai diet aktris."
"Terima kasih!" Kirana menerimanya. Aromanya menenangkan.
"Terima kasih atas tawarannya, Bryan. Tapi kurasa belum perlu. Aku percaya waktu dan karya akan membuktikan segalanya lebih baik daripada klarifikasi paksa."
"Aku percaya padamu sepenuhnya," ujar Bryan pelan namun tulus.
Ucapan singkat itu membuat Kirana tertegun. Dadanya terasa hangat. Tanpa sadar dia menyentuh dahinya.
"Bryan, ada yang pernah bilang kalau kamu sebenarnya sangat hebat dalam gombal?"
"Gombal?" Bryan mengernyit.
Sepertinya pria kaku ini benar-benar tidak akrab dengan istilah gaul.
"Maksudku… kamu tahu cara membuat perempuan merasa tersentuh," jelas Kirana dengan wajah sedikit memerah.
Ada kilatan jenaka di mata Bryan.
"Terima kasih atas pujiannya. Jadi, apakah itu berarti kata-kata dan tindakanku berhasil membuatmu senang malam ini?"
Seketika suasana kamar berubah hangat—dan sedikit terlalu intim.
Kirana langsung tersipu.
'Hati-hati bicaramu, Kirana! Percakapan ini mulai berbahaya bagi kesehatan jantungmu!' batinnya panik.
Untungnya Bryan tahu kapan harus menekan dan kapan harus mundur.
"Baiklah, aku kembali ke ruang kerja untuk memeriksa beberapa dokumen. Kalian berdua istirahatlah. Selamat malam, Kirana."
"Selamat malam, Bryan~"
Nada suaranya terdengar lega sekaligus sedikit enggan.
Bryan melirik Kael. Meski bocah itu diam, ekspresinya seolah berkata: 'Papa cepat pergi saja. Jangan ganggu waktuku bersama Tante Kirana!'
Bryan hanya tersenyum tipis, lalu keluar.
Bersambung…