NovelToon NovelToon
Hidup Kedua Sang Istri Teraniaya

Hidup Kedua Sang Istri Teraniaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Time Travel / Sci-Fi
Popularitas:15.7k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

"Kau pikir aku masih wanita lemah yang dulu?"

Dara Alvarino, dokter bedah kelompok mafia paling ditakuti mati ditikam dari belakang oleh sahabatnya sendiri. Saat membuka mata, ia terbangun dalam tubuh Kiara Adisaputra, istri lemah yang sedang hamil tiga bulan, dipukuli suaminya sendiri karena dituduh selingkuh.

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipinya. "Pelacur! Ngaku saja kalau anak itu bukan anakku!"

Arkan Adisaputra, suaminya berdiri dengan mata penuh kebencian. Di belakangnya, Lenna si adik angkat tersenyum tipis, pura-pura cemas. "Kak Arkan, jangan kasar... Kak Kiara kan sedang hamil..."

Dara yang sekarang Kiara menatap tajam. Tubuh ini lemah, tapi jiwanya adalah predator yang pernah membedah tubuh manusia tanpa berkedip.

"Kau mau bukti?" Kiara berdiri, mengusap darah di sudut bibirnya. "Aku akan tunjukkan siapa yang sebenarnya berbohong di rumah ini."

Pembalasan dimulai. Kali ini, ia tidak akan mati sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 - HARI PENGUNGKAPAN

Jumat sore Klinik Dr. Wijaya.

Dara duduk di ruang tunggu dengan tangan tergenggam erat di pangkuan. Di sebelahnya, Arkan tegang, tidak bicara sejak mereka berangkat dari rumah. Di seberang, Nyonya Devi dan Lenna. Nyonya Devi dengan wajah keras penuh keyakinan, Lenna dengan ekspresi khawatir yang sempurna.

Akting... Semua akting.

"Nyonya Kiara, Tuan Arkan, Nyonya Devi silakan masuk," panggil perawat.

Mereka berempat masuk ke ruang konsultasi Dr. Wijaya. Dokter itu duduk di belakang meja, amplop cokelat tertutup di hadapannya.

"Silakan duduk." Dr. Wijaya menatap mereka semua. "Sebelum saya buka hasil ini, saya ingin mengingatkan bahwa hasil tes DNA adalah ilmu pasti. Tidak bisa dibantah, tidak bisa dipalsukan. Jadi apapun hasilnya, saya harap keluarga Adisaputra bisa menerima dengan kepala dingin."

Nyonya Devi mengangguk kaku. "Tentu Dokter, kami keluarga yang rasional."

Rasional? Dara hampir mendengus. Tidak ada yang rasional dari cara mereka memperlakukan Kiara selama ini.

Dr. Wijaya membuka amplop, mengeluarkan kertas hasil tes. Matanya membaca sekilas, lalu menatap Kiara dengan tatapan yang berbicara banyak.

"Hasil tes DNA menunjukkan..." dia berhenti sebentar, membangun ketegangan, "... probabilitas paternitas sembilan puluh sembilan koma sembilan persen. Artinya Tuan Arkan Adisaputra adalah ayah biologis dari janin yang dikandung Nyonya Kiara."

Hening...

Hening yang sangat panjang.

Nyonya Devi terlihat seperti ditampar. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara keluar. Arkan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Lenna wajahnya pucat, tangan gemetar di pangkuan.

"Tidak mungkin..." bisik Nyonya Devi akhirnya. "Pasti ada kesalahan..."

"Tidak ada kesalahan, Nyonya Devi." Dr. Wijaya menatapnya tegas. "Kami melakukan tes dua kali dengan sampel berbeda, hasilnya sama. Anak yang dikandung Nyonya Kiara adalah cucu Nyonya secara biologis."

Dara tidak bicara. Dia hanya duduk dengan punggung tegak, menatap mereka semua dengan tatapan dingin.

Lihat... Lihat kalian semua yang menuduhku pelacur, lihat siapa yang benar.

"Tapi... tapi Arkan bilang mereka tidak pernah..." Nyonya Devi melirik anaknya.

Arkan mengangkat wajahnya, mata merah, penuh penyesalan. "Aku... aku salah ingat, Ma. Ternyata aku... malam itu aku pulang mabuk... dan aku..."

Dia tidak melanjutkan, tapi semua orang mengerti.

"Jadi selama ini..." Nyonya Devi menatap Kiara, "...kamu tidak berbohong?"

"Sejak awal aku tidak pernah berbohong, Bu." Suara Dara tenang, tapi ada ketajaman di sana. "Yang berbohong adalah orang-orang yang menuduhku tanpa bukti."

"Kiara, aku..." Arkan mencoba bicara.

"Jangan." Dara mengangkat tangannya. "Jangan minta maaf sekarang, maafmu tidak mengembalikan rasa sakit yang aku alami. Tidak menghapus luka di tubuhku, tidak menghilangkan trauma yang akan kubawa seumur hidup."

Arkan terdiam, dia tidak bisa membantah.

"Kak Kiara..." Lenna bersuara lembut, mata berkaca-kaca. "Aku... aku turut senang hasilnya seperti ini. Berarti tidak ada kesalahpahaman lagi..."

"Kesalahpahaman?" Dara menatapnya tajam. "Kamu mau bilang semua yang terjadi padaku cuma kesalahpahaman?"

"Bukan begitu, Kak. Maksudku..."

"Aku tahu maksudmu, Lenna." Dara berdiri, melangkah mendekat ke Lenna, membuat gadis itu terdesak di kursinya. "Kamu tidak senang hasilnya seperti ini karena rencanamu gagal. Rencana untuk menyingkirkanku dan mengambil posisiku."

"Aku tidak pernah..."

"Jangan bohong!" Dara mengeluarkan ponselnya, memutar rekaman suara Lenna dan Rio di apartemen, membicarakan rencana mereka.

Semua orang terdiam mendengar rekaman itu.

Suara Lenna yang mengeluh Kiara "susah mati". Suara Rio yang menyuruh menambah dosis ramuan, suara mereka membicarakan bagaimana cara mendapat harta keluarga Adisaputra.

Wajah Lenna berubah putih pucat.

"Dari mana... dari mana kamu dapat itu..." bisiknya.

"Dari apartemen Rio. Ada kamera tersembunyi di sana, merekam setiap kali kamu datang dengan dalih pengajian." Dara tersenyum dingin. "Mau dengar yang lain? Ada banyak rekaman, termasuk saat kamu bilang pada Rio, kamu akan menikah dengan Arkan setelah berhasil menyingkirkanku."

Nyonya Devi terlihat seperti akan pingsan. "Lenna... apa ini benar..."

"Tante, aku bisa jelaskan..."

"Jelaskan apa?" Dara mengeluarkan foto-foto dari tas, foto Lenna dengan Rio, foto rumah Maya yang kumuh, surat-surat dari Maya yang memohon bantuan. "Jelaskan kenapa kamu berbohong tentang masa lalumu? Kenapa kamu bilang kamu anak yatim piatu, padahal ibumu baru meninggal tiga tahun lalu? Kenapa kamu membiarkan ibumu sendiri mati dalam kesakitan tanpa pengobatan yang cukup?"

Lenna mundur, matanya membelalak. "Bagaimana kamu tahu tentang..."

"Aku tahu banyak hal, Lenna. Lebih banyak dari yang kamu kira."

Dara meletakkan semua foto dan surat di meja Dr. Wijaya, bukti yang tidak bisa dibantah.

"Ini foto ibumu, Maya. Ini surat-surat darinya yang memohon bantuanmu. Ini tagihan rumah sakit yang tidak pernah kamu bayar penuh. Dan ini..." Dara menunjuk foto terakhir, "...foto pemakaman ibumu. Kamu tidak datang, bahkan tidak kirim bunga."

Lenna jatuh terduduk di kursi, air mata mulai mengalir.

"Aku... aku tidak punya uang cukup waktu itu..."

"Bohong!" Dara melempar bukti transfer bank. "Ini catatan transfermu ke Rio. Setiap bulan kamu kirim lima juta untuk Rio, untuk apartemen, untuk gaya hidup kalian. Tapi untuk ibumu yang sekarat? Kamu cuma kirim sejuta sebulan sekali. Tidak cukup bahkan untuk beli obat pereda nyerinya."

Nyonya Devi menatap Lenna dengan tatapan yang berubah dari kasih sayang jadi jijik.

"Lenna... kamu... kamu benar-benar melakukan semua ini?"

Lenna menangis, tangisan yang dulu selalu berhasil memanipulasi semua orang. Tapi kali ini...

Tidak ada yang tersentuh.

Karena mereka semua sudah melihat buktinya.

"Tante... aku bisa jelaskan... aku waktu itu masih muda... aku bingung... aku..."

"Kamu sudah cukup tua untuk tahu bahwa membiarkan ibu sendiri mati adalah dosa besar." Dr. Wijaya bicara, suaranya dingin. "Dan kamu cukup pintar untuk memanipulasi keluarga Adisaputra selama bertahun-tahun."

Arkan menatap Lenna, dengan tatapan yang penuh kekecewaan. "Len... selama ini... semua yang kamu katakan tentang Kiara... itu semua bohong?"

Lenna tidak menjawab, hanya menangis.

"JAWAB AKU!" Arkan berteriak. Untuk pertama kalinya dia berteriak pada Lenna, bukan pada Kiara.

"Iya..." bisik Lenna. "Iya, aku bohong... aku iri pada dia... aku cinta padamu, Kak Arkan... sejak kecil aku cinta padamu... aku pikir aku yang harusnya jadi istrimu..."

"Tapi aku sudah menikah dengan Kiara!"

"Tapi kamu tidak cinta padanya! Kamu cinta padaku! Kamu selalu bilang aku yang kamu sayang!"

"Sebagai adik! ADIK!" Arkan menarik rambutnya sendiri, frustrasi. "Bagaimana bisa kamu salah paham sejauh ini?!"

"Karena kamu selalu ada untukku... kamu selalu membela aku... kamu selalu percaya padaku..." Lenna menatapnya dengan mata penuh obsesi. "Kamu harusnya jadi milikku..."

Dara merasakan mual melihat obsesi itu... obsesi yang sama seperti Salma pada kekuasaan, pada keabadian. Obsesi yang membuat seseorang kehilangan kemanusiaan.

"Arkan," kata Dara pelan. "Ini salahmu juga, kamu yang membiarkan dia berpikir seperti ini. Kamu yang memberikan harapan palsu dengan selalu membelanya, selalu mempercayainya lebih dari istrimu sendiri."

Arkan menatap Kiara penuh penyesalan, penuh rasa bersalah.

"Aku tahu, aku tahu aku salah dan aku akan memperbaikinya."

"Tidak perlu." Dara berbalik ke pintu. "Yang perlu kamu lakukan sekarang, singkirkan dia dari rumah kita selamanya."

Dia keluar dari ruangan, meninggalkan mereka semua dalam kehancuran yang mereka buat sendiri.

Di koridor, Regan menunggunya... tersenyum bangga.

"Kakak hebat."

"Belum selesai, ini baru babak pertama."

"Babak kedua?"

"Membuat Lenna membayar semua dosanya. Bukan cuma diusir, tapi dihancurkan total."

Dara tersenyum... senyum yang dingin, penuh amarah yang belum terpuaskan.

Pembalasan baru saja dimulai.

1
asih
saya ikut tegang bacanya
Dewi Sri
ceritanya bagus tp masih sepi koment, semangat kak author
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
pilihan yang sulit tapi aq yakin dara pintar dan cerdas pasti ada jalan keluar nya tanpa harus membunuh keduanya
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
wow
Dew666
👍👍👍👍
asih
pilihan yg sangat sulit,harus pintar bermain licik Dara
Ma Em
Dara kamu wanita cerdas mantan dokter mafia , kalahkan Viktor juga Rendra dgn siasat licikmu Dara jgn sampai mau di perbudak lagi sama Rendra juga Viktor mereka pasti punya titik lemahnya .
Dew666
🌹🌹🌹🌹
Wulan Sari
ceritanya dari bab perbab semakin menarik dan selalu buat penasaran semoga cerita di akhir akan bahagia, trimakasih Thor semangat buat karya lain salam sukses selalu ya cip 👍❤️🙂🙏
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
🏡s⃝ᴿ . Incha
kira ada cakaran rambut atau apa kek
Erchapram: Puasa Kak, mode kalem. Pembalasam intelektual bukan kek preman 🤣🤣🤣
total 1 replies
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto: sama2 👌👍
total 2 replies
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
vj'z tri
Lo , w end 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 penipu yg tertipu
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
coba km hidup baik-baik len nasib km g bakalan sprti ini
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
lenna bilang cinta sama arka sekarang bilang cinta sama rio, jd sebenarnya yg mn nih lenna, wah pemain juga si lenna
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
lenna trlalu jahat sampe sampe nggak sadar kl dya di jahatin🤣🤭
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
author kapan penyelidikan calon istri regan di mulai? hehehe...
lupita namanya siapa ya
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉: lupita itu lupa thor aq plesetin🤭🤣
total 2 replies
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
tarik satu nafas... dan cuma satu kata wow 🤭
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
semoga lancar ya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!