Sejak kecil, Ariya Raditya sudah mengikat Arumi Devita Ningrum dengan sebuah janji.
“Kamu harus jadi pengantinku.”
Janji yang terdengar polos saat kanak-kanak itu berubah menjadi luka saat dewasa. Hasutan, salah paham, dan pengkhianatan membuat mereka saling membenci, hingga Ariya memilih menikahi perempuan lain.
Namun takdir tidak pernah lupa pada janji lama. Sebuah kecelakaan membuat Ariya lumpuh. Calon pengantinnya kabur di hari pernikahan.
Dan Arumi… dipaksa menggantikan posisi yang seharusnya bukan miliknya. Menikahi pria yang dulu ia cintai. Menjadi istri dari lelaki yang kini membencinya.
Terikat oleh janji masa kecil yang kembali ditagih dengan kejam. Apakah ini akhir dari luka… atau awal dari cinta yang lebih menyakitkan?
Penasaran? Yuk ikuti cerita Ramanda dan jangan lupa berikan dukungannya ya terimakasih 🙏🏻.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ZIARAH DAN AWAL YANG BARU.
Setelah bayangan kendaraan polisi yang membawa Rusdi dan Rina menghilang di balik tikungan jalan, suasana di depan gedung pengadilan perlahan mulai mereda. Ferdiansyah memanggil Yuda ke dekatnya, raut wajahnya masih menunjukkan kewaspadaan tingkat tinggi.
"Yuda, jangan biarkan pengawalmu lengah. Rusdi bukan orang sembarangan. Meskipun dia di balik jeruji, jaringannya di luar negeri bisa saja bergerak secara liar," bisik Ferdiansyah dengan nada serius.
"Saya mengerti, Tuan Besar. Tim siber dan pengamanan lapangan sudah saya siagakan dalam radius satu kilometer dari setiap anggota keluarga," jawab Yuda dengan tegas.
Ferdiansyah mengangguk puas, lalu ia melangkah menghampiri Erwin yang berdiri tak jauh dari sana. Ia menepuk bahu sahabat sekaligus besannya itu dengan hangat. "Selamat, Win. Akhirnya kau terlepas dari belenggu wanita serakah itu. Sekarang fokuslah pada kesehatanmu."
Erwin menghela napas panjang, matanya berkaca-kaca menatap Arumi yang berdiri di samping Ariya. "Terima kasih, Ferdi. Ariya. Arum, maafkan Papa. Karena kelemahan Papa, kalian berdua harus menanggung penderitaan ini sendirian selama bertahun-tahun."
Arumi langsung menghambur ke pelukan ayahnya, tangisnya pecah seketika. "Papa tidak boleh berkata begitu. Yang penting sekarang Papa harus tetap melakukan perawatan. Arum tidak mau kehilangan Papa lagi."
Erwin mengelus kepala putrinya dengan penuh kasih sayang. "Papa janji, Nak. Papa akan menuruti keinginanmu untuk sembuh total. Papa ingin melihatmu bahagia bersama Ariya."
Ferdiansyah kemudian mengambil alih situasi. "Ariya, bawa Arumi pulang sekarang. Dia butuh istirahat setelah hari yang panjang ini. Papa yang akan mengantar Ayah mertuamu kembali ke rumah sakit untuk observasi lanjutan. Jangan khawatir, Arum, Papa sendiri yang akan mengawasi ayahmu."
Iringan mobil pun mulai bergerak meninggalkan area pengadilan. Sesuai instruksi, mobil Ferdiansyah dikawal oleh tim khusus yang kekuatannya setara dengan Yuda, sementara Yuda sendiri tetap berada di balik kemudi mobil yang membawa Ariya dan Arumi. Di persimpangan jalan besar, kedua iringan itu berpisah arah.
Di dalam mobil, Arumi tidak melepaskan genggamannya pada lengan Ariya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu bidang suaminya, mencari kekuatan dari sana. Tiba-tiba, ia mendongak dan menatap mata Ariya dengan tatapan yang sangat sendu.
"Ar, bisakah kita mampir sebentar? Aku ingin ke makam Mama," pinta Arumi dengan suara lirih.
Ariya menatap Arumi dengan lembut, lalu mengangguk kecil. "Tentu, Sayang. Yuda, tolong arahkan mobil ke pemakaman umum Menteng."
"Baik, Tuan Muda," sahut Yuda singkat sambil memutar kemudi.
Sesampainya di kompleks pemakaman, mereka berjalan menuju sebuah makam yang terletak di bawah pohon kamboja besar. Kondisi makam itu tampak memprihatinkan. Rumput liar tumbuh subur menutupi nisan marmernya, menandakan bahwa tempat itu sudah sangat lama tidak dikunjungi oleh tangan-tangan yang mencintainya.
Arumi jatuh berlutut di samping makam, jemarinya yang gemetar mulai mencabuti rumput liar satu per satu. "Mama, maafkan Rumi. Maaf karena baru datang lagi setelah sekian lama.Rumi terlalu sibuk dengan kesakitan Rumi sendiri sampai lupa jalan pulang ke sini."
Ariya segera ikut berjongkok di sampingnya. Tanpa peduli jas mahalnya kotor terkena tanah, ia membantu Arumi membersihkan makam ibu mertuanya. "Biarkan aku membantumu, Rumi. Kita akan buat rumah Mama cantik kembali."
Tak lama kemudian, Yuda datang membawa sekantong bunga mawar segar dan sebotol air mawar yang baru saja ia beli dari penjual di depan gerbang. Ariya menerimanya dan menyerahkan bunga itu kepada Arumi.
Setelah makam terlihat bersih, mereka menaburkan bunga secara merata di atas gundukan tanah tersebut. Ariya memimpin doa dengan khusyuk, memohon tempat terbaik di sisi-Nya untuk almarhumah ibu mertuanya. Arumi merasa sebuah beban besar di hatinya perlahan menguap bersama angin yang berhembus di pemakaman itu.
"Terima kasih sudah membawaku ke sini, Ar," bisik Arumi saat mereka berjalan kembali ke mobil.
Ariya merangkul pundak istrinya erat. "Ini baru permulaan, Sayang. Mulai sekarang, kita akan sering ke sini bersama-sama."
Yuda kembali mengemudikan mobilnya mengarah ke Mansionnya Ferdiansyah. Sesampainya di mansion, suasana ceria langsung menyambut mereka. Heni dan Nenek sudah berdiri di pintu depan, wajah mereka berseri-seri seolah baru saja memenangkan lotre besar.
"Ayo masuk, Arum sayang! Mama sudah dengar beritanya dari Papa. Syukurlah keadilan akhirnya berpihak pada kita," seru Heni sambil memeluk menantunya dengan hangat.
Nenek ikut menimpali sambil menggandeng tangan Arumi menuju ruang makan. "Nenek sudah masakkan makanan kesukaanmu. Kamu harus makan yang banyak supaya wajahmu tidak pucat lagi."
Suasana makan malam itu terasa sangat berbeda. Tidak ada lagi ketegangan atau rahasia yang menghimpit. Ariya terus memperhatikan Arumi, ia merasa senang melihat rona merah mulai kembali di pipi istrinya.
"Besok, aku ingin mulai bertugas lagi di rumah sakit, Ar," ujar Arumi di tengah suapannya.
Ariya terhenti sejenak, lalu ia tersenyum jahil sambil menaik-turunkan alisnya. "Boleh saja. Tapi ingat, syarat utama dari Papa masih berlaku. Aku akan mendampingimu terus seperti perangko. Tidak ada ruang bagi orang jahat untuk mendekatimu lagi."
Heni dan Nenek tertawa serempak mendengar godaan Ariya. "Lihatlah suamimu itu, Arum. Dulu dinginnya seperti es di kutub, sekarang malah jadi sangat posesif," goda Heni.
Arumi menunduk malu, namun ia tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya. "Asal Arya tidak mengganggu konsentrasiku saat memeriksa pasien saja."
"Mana mungkin aku mengganggu? Aku kan asisten pribadimu yang paling tampan," sahut Ariya sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat Arumi mencubit lengannya dengan gemas.
Setelah makan malam, Ariya mengajak Arumi duduk di balkon kamar mereka. Langit malam Jakarta terlihat bertabur bintang, memberikan kesan romantis yang sudah lama tidak mereka rasakan.
"Rumi, apakah ingatanmu sudah kembali sepenuhnya?" tanya Ariya dengan nada bicara yang berubah serius.
Arumi menatap langit, lalu menggeleng pelan. "Masih ada bagian yang hilang, terutama saat-saat terakhir sebelum kecelakaan itu. Tapi anehnya, aku merasa tidak butuh ingatan lama itu lagi Ar, yang penting sekarang. Aku ingin merajut kenangan baru bersamamu"
Ariya tertegun, ia meraih tangan Arumi dan mengecupnya dengan sangat dalam. "Terima kasih sudah memberiku kesempatan kedua, meski aku hampir menghancurkan hidupmu dulu. Aku berjanji, setiap detik ke depannya hanya akan ada kebahagiaan untukmu."
Arumi menyandarkan kepalanya di dada Ariya, mendengarkan detak jantung suaminya yang berirama tenang. "Kita lalui semuanya bersama ya. Apapun yang direncanakan jaringan Rusdi di luar sana, aku tidak takut selama ada kamu."
"Tentu Sayang, tapi ngomong-ngomong kapan kamu akan memanggilku Mas Lagi, rasanya aku mulai rindu dengan panggilan itu." kata Ariya tampak penuh harap.
Arumi pun tersenyum lembut, "Mas Arya," panggil Arumi dengan suara yang sedikit berbisik tapi terdengar jelas oleh Ariya yang terlihat sangat senang.
"Terimakasih Rumi,"
Ariya mengeratkan pelukannya, menatap tajam ke arah kegelapan malam. Ia tahu badai mungkin belum sepenuhnya berlalu, namun selama Arumi berada dalam jangkauan tangannya, ia tidak akan membiarkan satu helai rambut pun dari istrinya jatuh tersakiti. Cinta yang dulu sempat hilang kini mulai bersemi kembali, lebih kuat dan lebih kokoh dari sebelumnya.