NovelToon NovelToon
Duda Menyebalkan Itu Jodohku

Duda Menyebalkan Itu Jodohku

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Ibu Pengganti / Cinta setelah menikah
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Vania selebgram terkenal dengan cantik yang berasal dari keluarga kaya. Hidupnya bergelimang harta sedari dia kecil, meski begitu ia tidak pernah kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ketika usianya sudah cukup untuk menikah, dia bertemu dengan laki-laki idamannya. Dia baik dan penyayang, semua kehidupannya nyaris sempurna. Tapi kayaknya pepatah manusia tidak ada yang sempurna. Kehidupan sempurnanya berubah seratus delapan puluh derajat begitu kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Ia hidup sendirian, di saat dia berkabung sanak keluarganya malah sibuk mengurus harta benda dan menelantarkan dirinya. Kekasihnya yang menjadi harapan satu-satunya pergi meninggalkannya dan memilih bersama wanita lain. Hidupnya berada di ujung tanduk, ketika hidupnya berada di titik terendah. Takdir mempertemukannya dengan duda menyebalkan beranak satu. Demi kelangsungan hidupnya ia terpaksa menerima pinangan duda beranak satu itu. Lalu bagaimana kehidupan Vania selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34

Dengan langkah mantap, ia mendekati tim yang sudah menunggu di balik panggung. Sorot mata mereka penuh harapan, membuat jantung Vania berdebar semakin kencang. "Kamu sudah siap, Vania?" tanya salah satu koordinator dengan nada penuh semangat. Vania mengangguk, membalas dengan senyuman yang merekah di wajahnya yang bercahaya.

Seiring dengan musik yang mulai mengalun lembut, Vania mengambil posisi di belakang tirai panggung. Cahaya sorotan lampu panggung yang terang benderang, siap menyambut kehadirannya. Dia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan segala keberanian dan kepercayaan diri. Ini adalah momen yang telah lama ia nantikan, kesempatan untuk membuktikan diri di mata dunia fashion.

Saat tirai terbuka, Vania melangkah keluar dengan elegan. Sorotan lampu panggung mencerminkan kilauan pada pakaian yang ia kenakan, membuatnya tampak seperti bintang di langit malam. Langkahnya yang anggun seolah menghipnotis setiap mata yang memandang. Flash kamera dari para fotografer terdengar seperti tepukan yang memenuhi ruang, memberikan tambahan semangat pada langkahnya yang semakin percaya diri.

Setelah berakhirnya fashion show, Vania dengan cepat dibawa ke ruang makeup untuk persiapan pemotretan selanjutnya. Meski lelah, semangatnya tidak kendur, karena ia tahu ini adalah langkah besar dalam karirnya. Wajahnya yang sudah ditata ulang oleh tim makeup terlihat sempurna, siap untuk menghiasi halaman depan majalah Erisco. Setiap pose yang ia berikan penuh dengan keanggunan dan karisma, mengabadikan momen penting dalam karirnya sebagai model.

Vania menatap tak percaya saat tim acara mendekatinya, menyampaikan bahwa penampilan Fashion Show kali ini harus dilakukan berpasangan. Ia berdebar menunggu, siapa yang akan menjadi pasangannya. Dan ketika mereka menunjuk pria yang berdiri di sampingnya, matanya langsung terbelalak lebar. Ternyata, pasangannya adalah Farel, duda yang selalu membuatnya kesal.

"Harus dia? Tidak bisa diganti?" protes Vania dengan suara yang sedikit meninggi, seraya menunjuk ke arah Farel yang juga tampak terkejut dan tidak nyaman dengan situasi ini.

Farel, yang sudah terbiasa dengan sifat Vania yang langsung, hanya bisa menggaruk kepala, mencoba menenangkan situasi. "Hei, Vania, mari kita lakukan ini saja. Kita hanya perlu berjalan di atas panggung, bukan berpacaran," coba Farel meredakan suasana.

Namun Vania tampak belum bisa menerima. Ia melirik tajam ke arah Farel, kemudian kembali pada tim acara. "Saya serius, saya tidak bisa tampil maksimal jika harus berpasangan dengan dia," ucap Vania, mencoba menjelaskan posisinya.

Tim acara tampak bingung, saling pandang mencari solusi. Mereka tahu reputasi Vania sebagai model profesional, tapi juga mengerti harus menjaga keharmonisan di antara model. Salah satu dari mereka akhirnya menghela napas, "Baiklah, Vania. Kami akan mencoba mencari pengganti, tapi kamu harus siap jika tidak ada yang bisa menggantikan posisinya."

Vania mengangguk, lega tetapi masih dengan raut wajah yang tegang, sedangkan Farel hanya bisa tersenyum pahit, menyadari bahwa kerjasama ini memang tidak akan mudah.

Tim acara kembali pada Vania dan mengatakan bahwa pihak Erisco tidak bisa mengabulkan permintaan Vania untuk mengganti pasangan. " Maaf saya nggak bisa nerima penolakan ini, Saya harap kalian bisa profesional. Kalian dipasangkan seperti ini atas perintah dari pihak Erisco sendiri. Saya tinggal dulu, bersiaplah sebentar lagi kalian akan maju ke atas panggung."

Farel dan Vania saling mendengus kesal. Mau tidak mau keduanya harus menuruti perintah dari pihak brand. Vania sekilas melihat ke arah Farel, kemudian ia langsung membuang muka. Farel juga melakukan hal yang sama, dia mencuri-curi pandang ke arah Vania karena terpana dengan penampilannya yang cantik hari ini. Farel seketika menjadi salah tingkah sendiri.

"Sebentar lagi kita akan naik ke atas panggung," ujar Farel, mencoba meringankan suasana yang tegang.

"Lalu, apa yang akan Bapak lakukan?" tanya Vania dengan nada sinis yang tak terduga.

"Bapak? Usiaku masih tergolong muda, di angka tiga puluh. Pasti tak jauh beda dengan usiamu," Farel menjawab dengan nada yang mulai tersulut. "

Tapi Anda sudah punya anak, bukan? Jadi tidak masalah bagi saya untuk memanggil Anda Bapak, kan? Sungguh aneh kalau tidak," Vania mempertahankan sikapnya dengan kekeuh.

Farel menghela napas dalam-dalam, merasa letih dengan pertarungan kata-kata yang tidak kunjung usai. "Baiklah, terserah kamu saja. Saya tidak ingin membuang energi hanya untuk berdebat hal remeh ini."

Tim kemudian memanggil Vania dan Farel untuk maju ke atas panggung. Keduanya tampil memukau sebagai pasangan model. Para hadirin yang menyaksikan sangat terpesona dengan penampilan keduanya. Penampilan diatas panggung berlangsung singkat. Kemudian tim menyuruh mereka rehat sejenak sebelum melanjutkan kegiatan selanjutnya yaitu pemotretan dengan konsep yang sama.

Beberapa menit kemudian tim kembali memanggil Vania dan Farel, mereka sedang diberi arahan untuk pemotretan perdana mereka. Vania sudah biasa berpose di depan kamera untuk endorse, begitu juga dengan Farel. Tapi keduanya belum pernah melakukan pemotretan sebagai pasangan seperti ini.

"Sebisa mungkin kalian berpose layaknya pasangan sungguhan, untuk permulaan kita coba pose berpegangan tangan." Ujar fotografer.

Mendengar hal itu keduanya saling memandang lalu membuang wajah, tidak menyangka jika mereka akan dihadapkan dengan situasi ini.

' Kalau aja bukan demi karir aku, ogah banget berpasangan bahkan sampai harus berpose mesra sama bapak satu anak ini.'

' Kenapa jadi kayak gini si, duh meskipun Vania terlihat cantik sekarang tapi gak menutup fakta kalau dia itu nyebelin. Cila, nak apa si yang kamu lihat sampai-sampai minta ibu sambung kayak dia?"

Vania dan Farel kemudian diarahkan tim menuju ke studio pemotretan, berbagai alat sudah siap di sana. Mereka lalu berdiri di depan sebuah baground, sorot lampu dan kamera sudah siap memotret. Di depannya sang fotografer sedang mencontohkan pose yang harus mereka lakukan.

Vania menghela napasnya, pose pertama masih aman untuk Vania lakukan, meskipun tetap ia sangat enggan berpasangan dengan Farel.

"Oke mulai berpose ya!" Seru sang fotografer.

Vania menghela napasnya, tubuhnya diam. Ia benar-benar enggan untuk memulai. Farel melirik ke arah Vania yang masih saja diam, ia menarik napasnya lalu meraih tangan Vania untuk mulai melakukan pose.

"Untuk kali ini aja bersikap profesional, demi keberhasilan karir kita," bisik Farel pada Vania.

Vania menarik napas dalam-dalam, rasa terpaksa menyelimuti wajahnya saat ia harus mengikuti setiap perintah Farel, sesuai dengan instruksi yang diberikan fotografer. Setelah beberapa potret berhasil diabadikan, dengan segera keduanya pun berpisah. "Oke bagus, sekarang kalian istirahat dan ganti pakaian ya."

"Loh, masih ada lagi?" Farel tampak kebingungan.

Fotografer itu mengangguk serius. "Kalian tidak diberitahu oleh pihak Erisco? Khusus untuk kalian, ada empat pasang pakaian yang harus diabadikan hari ini. Ini baru sesi pertama, masih ada tiga sesi pemotretan lagi."

"Kami berdua pak?" Vania bertanya, mencari kepastian.

"Iyalah, kan sudah saya katakan tadi, empat pasang pakaian. Kalian berdua sedang berada di puncak karir, oleh karena itu Erisco dengan sengaja memilih kalian sebagai wajah untuk brand terbarunya," fotografer itu menjelaskan dengan nada yang lebih tegas. "Jadi, siapkan diri kalian, saya akan memotret model lain terlebih dahulu." Perasaan campur aduk mulai menyelimuti Vania, antara terkejut dan tertekan. Di satu sisi ia berada di puncak karir, namun di sisi lain, tuntutan pekerjaan ini seperti tidak pernah berakhir.

Beberapa menit menunggu akhirnya giliran Vania dan Farel kembali, seperti sebelumnya mereka diarahkan untuk melakukan pose yang fotografer inginkan. Vania terbelalak ketika melihat sang fotografer mencontohkan posisi yang harus dilakukan untuk pemotretan kali ini.

Pada sesi pemotretan selanju, ruangan yang cukup besar itu hanya diisi oleh suara klik kamera yang berulang. Vania, dengan rasa enggan, akhirnya menyetujui arahan fotografer untuk berpose setengah memeluk Farel. Dengan wajah yang agak tegang, dia berusaha menyembunyikan rasa tidak nyamannya. Farel, di sisi lain, mencoba tersenyum untuk menghidupkan suasana, namun dia bisa merasakan kekakuan dari Vania.

Setelah fotografer memberikan aba-aba terakhir dan flash kamera menyala untuk kesekian kalinya, keduanya dengan cepat melepaskan pelukan. Pada saat itulah, mata Farel tidak sengaja tertumbuk pada tanda lahir yang terletak di lengan atas Vania. Dia terbelalak, hampir tidak percaya. Tanda lahir itu sangat mirip dengan tanda lahir sahabatnya yang hilang bertahun-tahun yang lalu.

Farel, yang semula hanya ingin segera meninggalkan ruangan, kini terpaku. Hatinya berdebar, pikirannya melayang ke masa lalu, mengingat kenangan bersama sahabatnya itu. Vania, yang menyadari tatapan Farel yang aneh, menjadi bingung dan sedikit cemas.

"Kenapa bapak liatin saya kayak gitu?" tanya Vania dengan nada yang sedikit ketus, mencoba menutupi rasa tidak nyamannya.

Farel mengumpulkan keberaniannya, "Maaf, tapi... tanda lahir di lenganmu, itu... sangat familiar." Suaranya bergetar, mencoba tidak terdengar terlalu emosional.

Vania mengikuti pandangan Farel dan melihat ke lengan atasnya sendiri, seolah baru menyadari keberadaan tanda lahir tersebut. Dia menarik napas dalam, merasa situasi ini semakin aneh. Tanpa merespon kembali ucapan Farel, ia kemudian pergi meninggalkan Farel sendiri.

1
Wayan Suryani
sombong smg kamu ilcehjan lzgi
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
falea sezi
bodoh kn ada tuh fto dio. up aja lah bego
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!