Di dunia tempat kekuatan adalah hukum dan kelemahan adalah dosa, Qiu Liong hanyalah sampah sekte murid buangan dengan akar spiritual retak, bahan ejekan, dan simbol kegagalan.
Ia dihina, dipermalukan, bahkan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya.
Namun takdir berputar ketika ia menemukan Inti Kekosongan Tanpa Batas, warisan kuno dari dewa yang telah musnah. Kekuatan itu bukan sekadar energi… melainkan kemampuan untuk menembus hukum langit, menelan takdir, dan menciptakan ulang realitas.
Dari seorang pecundang yang diinjak-injak, Qiu Liong bangkit.
Ia akan merobek langit. Menghancurkan para dewa. Dan memahat namanya sebagai legenda yang tak akan pernah pudar.
Karena ketika dunia menertawakannya…
ia diam-diam sedang belajar menjadi tak terbatas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan Seorang Berbeda
Beberapa hari setelah duel di Aula Luar, sebuah surat tiba di tangan Qiu Liong.
Kertasnya sederhana. Tinta hitamnya sedikit pudar, seolah ditulis dengan tangan yang tak terbiasa memegang kuas halus.
Itu dari desanya.
Dari tempat yang pernah ia tinggalkan dengan kepala tertunduk dan hati penuh luka.
Ia membaca isinya perlahan.
Musim panen gagal. Bandit mulai berkeliaran di jalur perbukitan. Beberapa keluarga mempertimbangkan untuk pindah.
Di akhir surat, hanya satu kalimat sederhana.
“Jika kau bisa pulang sebentar, ibumu akan tenang.”
Tangannya sedikit menegang saat membaca kata itu.
Ibu.
Sudah lama ia tidak memikirkan rumahnya secara nyata. Sekte, latihan, duel, kekuatan semuanya menyita ruang dalam hidupnya.
Namun sekarang, jarak itu terasa lebih berat dari sebelumnya.
Ia menghadap Penatua Lin untuk meminta izin.
Penatua tua itu menatapnya lama, seolah bisa membaca sesuatu di balik wajah tenangnya.
“Kau kembali sebagai murid sekte,” kata Penatua Lin pelan. “Bukan sebagai anak desa yang dulu.”
Qiu Liong mengangguk. “Saya mengerti.”
“Dan kau siap menghadapi apa yang berubah?”
Pertanyaan itu membuatnya terdiam sesaat.
Ia tidak tahu apakah desa itu berubah.
Atau justru dirinya yang berubah terlalu jauh.
“Saya akan kembali,” jawabnya akhirnya.
Perjalanan menuju desa memakan waktu dua hari.
Jalur berbatu yang dulu terasa panjang kini dilalui dengan langkah ringan. Qi di dalam tubuhnya membuat lelah seakan menjauh, namun ia tetap menahan diri agar tidak memamerkan kekuatan yang tak perlu.
Saat atap-atap jerami mulai terlihat di balik bukit, dadanya terasa sesak.
Rumah-rumah itu kecil.
Sederhana.
Namun di sanalah ia belajar berjalan.
Belajar jatuh.
Belajar menerima ejekan pertama dalam hidupnya.
Beberapa penduduk yang melihatnya berhenti sejenak.
Mereka mengenal wajah itu.
Namun juga melihat sesuatu yang berbeda.
“Qiu Liong?” suara seorang lelaki tua terdengar ragu.
Ia menunduk hormat. “Ya, Paman.”
Bisik-bisik menyebar.
“Bukankah dia gagal masuk sekte dulu?”
“Katanya hampir mati di ujian…”
Tatapan itu tidak sepenuhnya meremehkan lagi.
Namun juga belum sepenuhnya percaya.
Ia berjalan menuju rumah kecil di ujung desa.
Pintu kayu itu masih sama.
Sedikit miring.
Sedikit rapuh.
Tangannya terangkat, mengetuk perlahan.
Pintu terbuka.
Seorang wanita paruh baya berdiri di sana.
Wajahnya menua lebih cepat dari yang ia ingat.
Namun mata itu
tetap sama.
“Liong…” suaranya bergetar.
Semua jarak yang ia bangun selama ini runtuh dalam satu detik.
Ia berlutut.
“Maafkan aku, Ibu.”
Wanita itu memeluknya tanpa ragu.
Tangisnya pecah pelan.
Qiu Liong memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya sejak mendapatkan kekuatan itu, ia merasakan sesuatu yang murni.
Hangat.
Tidak diserap.
Tidak dikendalikan.
Hanya… dirasakan.
Malam itu, ia duduk di luar rumah, memandang desa yang sunyi.
Ia bisa merasakan kehadiran bandit di perbukitan jauh jejak qi kasar yang tidak terlatih.
Masalah yang dulu terasa menakutkan kini tampak kecil di hadapannya.
Namun ia tidak merasa bangga.
Ia justru merasa jarak.
Desa ini masih sama.
Namun ia tidak lagi sepenuhnya bagian darinya.
Keesokan harinya, beberapa pemuda desa mendekatinya.
“Kami dengar kau jadi murid sekte sekarang,” kata salah satu dari mereka, nada kagum bercampur canggung.
Qiu Liong tersenyum tipis.
“Masih banyak yang harus kupelajari.”
Ia membantu memperbaiki pagar rusak.
Mengangkat karung gandum tanpa menunjukkan kelebihan.
Namun setiap gerakannya menunjukkan perbedaan.
Penduduk mulai memandangnya dengan cara baru.
Bukan lagi anak lemah yang selalu kalah berkelahi.
Melainkan seseorang yang berdiri tegak.
Namun saat malam tiba dan ia duduk sendirian di bawah langit desa yang sama, ia menyadari satu hal.
Kepulangannya bukan untuk tinggal.
Ia telah melangkah terlalu jauh di jalan yang berbeda.
Dan desa ini
adalah akar.
Bukan tujuan.
Ia menatap tangan yang kini mampu mengguncang aula sekte.
Tangan yang dulu gemetar memegang cangkul.
“Aku akan melindungi tempat ini,” bisiknya pelan.
Namun ia tahu
esok atau lusa,
ia harus kembali ke dunia yang lebih keras.
Kembali sebagai seseorang yang berbeda.
Bukan lagi pecundang.
Namun juga bukan lagi sepenuhnya anak desa.
Dan dalam perbedaan itu,
ia harus menemukan cara untuk tetap menjadi manusia.
jangan bikin kecewa ya🙏💪