NovelToon NovelToon
Terjerat Sumpah Tuan Muda

Terjerat Sumpah Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Murni
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: Hazard111

Nala Aristha hanyalah "putri yang tidak diinginkan" di keluarga Aristha. Selama bertahun-tahun, ia hidup di bawah bayang-bayang kakaknya yang sempurna, Bella.

Ketika keluarga Aristha terancam bangkrut, satu-satunya jalan keluar adalah memenuhi janji pernikahan tua dengan keluarga Adhitama. Namun, calon mempelai prianya, Raga Adhitama, dirumorkan sebagai pria cacat yang kejam, memiliki wajah hancur akibat kecelakaan, dan temperamen yang mengerikan.

Bella menolak keras dan mengancam bunuh diri. Demi menyelamatkan nama baik keluarga, Nala dipaksa menjadi "mempelai pengganti". Ia melangkah ke altar dengan hati mati, bersiap menghadapi neraka.

Namun, di balik pintu kamar pengantin yang tertutup rapat, Nala menemukan kebenaran yang mengejutkan. Raga Adhitama bukanlah monster seperti rumor yang beredar. Dia adalah pria dengan sejuta rahasia gelap, yang membutuhkan seorang istri hanya sebagai tameng.

"Jadilah istriku yang patuh di depan dunia, Nala. Dan aku akan memberikan seluruh dunia in

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Di Balik Topeng Perak

​Suara roda kursi itu bergesekan pelan dengan karpet tebal, menciptakan bunyi desing halus yang terdengar seperti ancaman di telinga Nala. Setiap inci roda itu berputar, jarak di antara mereka semakin menipis, mengikis oksigen di ruangan besar yang terasa dingin itu.

​Nala terpojok. Punggungnya menempel erat pada dinding berlapis wallpaper beludru hitam. Tidak ada jalan keluar. Pintu terkunci di sebelah kirinya, jendela besar di kanannya, dan di depannyasang predator sedang mendekat dengan santai.

​Raga Adhitama menghentikan kursi rodanya tepat satu meter di depan Nala. Jarak yang cukup dekat hingga Nala bisa mencium aroma tubuh pria itu campuran wangi sandalwood (kayu cendana), tembakau mahal, dan aroma hujan yang tajam. Aroma yang maskulin, memabukkan, namun berbahaya.

​Lampu kamar yang temaram menciptakan bayangan panjang di wajah Raga. Topeng perak yang menutupi separuh wajah kirinya memantulkan kilatan cahaya dari perapian, membuatnya tampak seperti makhluk mitologi yang baru bangkit dari kegelapan.

​"Kenapa diam?" suara Raga memecah keheningan. Nadanya rendah, bergetar di dada, seolah ia sedang berbicara pada hewan buruan yang sudah tidak berdaya. "Bukankah kau tadi begitu berani di altar? Kau bahkan berani memasangkan cincin di jariku tanpa gemetar."

​Nala menelan ludah, tenggorokannya terasa kering seperti padang pasir. Ia mencoba mengatur napasnya yang memburu.

​"Sa-saya..." Nala mencoba bersuara, tapi suaranya pecah.

​Raga menyeringai tipis. Seringaian itu hanya terlihat di separuh wajah kanannya yang sempurna, menciptakan ekspresi yang ganjil dan mengerikan.

​"Mendekat," perintah Raga.

​Kaki Nala terasa seperti dipaku ke lantai. Ia tidak bergerak. Insting bertahannya berteriak untuk lari, tapi akal sehatnya mengingatkan bahwa lari dari pria ini sama saja dengan bunuh diri.

​"Aku tidak suka mengulang perintah, Istriku," suara Raga menajam, dingin dan tajam seperti silet.

​Dengan sisa keberanian yang ia kumpulkan dari remah-remah jiwanya, Nala memaksakan kakinya melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Hingga ujung gaun pengantinnya menyentuh pijakan kaki kursi roda Raga.

​Raga mendongak. Meski ia duduk dan Nala berdiri, Nala merasa dirinyalah yang kerdil di sini. Sorot mata Raga yang hitam pekat itu seolah menelanjanginya, menguliti setiap rahasia yang ia simpan.

​Tangan Raga terulur perlahan. Nala memejamkan mata, takut pria itu akan memukulnya. Bella bilang pria ini suka menyiksa. Bella bilang pria ini monster.

​Namun, tidak ada pukulan yang mendarat.

​Sebaliknya, Nala merasakan sentuhan dingin di pipinya. Jari-jari Raga yang panjang dan kasar menyentuh rahangnya, lalu merambat naik ke pipi. Sentuhan itu tidak lembut, tapi juga tidak menyakitkan. Itu adalah sentuhan seseorang yang sedang memeriksa barang dagangan.

​"Wajah ini..." gumam Raga pelan. Ibu jarinya mengusap pipi Nala dengan tekanan yang cukup kuat, seolah ingin menghapus lapisan bedak tebal yang menempel di sana. "Terlalu tebal. Seperti topeng."

​Nala membuka matanya. Jarak wajah mereka begitu dekat sekarang. Ia bisa melihat pori-pori kulit Raga di sisi kanannya yang mulus. Ia bisa melihat bulu mata pria itu yang panjang dan lentik, sesuatu yang terlalu indah untuk dimiliki seorang pria yang disebut iblis.

​"Katakan padaku," bisik Raga, matanya mengunci mata Nala. "Siapa namamu?"

​Jantung Nala berhenti berdetak sesaat. Pertanyaan itu lagi.

​"Be-Bella..." jawab Nala lirih, berbohong. "Saya Bella Aristha."

​Cengkeraman Raga di rahangnya mengeras tiba-tiba, membuat Nala meringis kesakitan.

​"Bohong."

​Satu kata itu diucapkan dengan nada datar, tanpa emosi, tapi efeknya seperti ledakan bom di telinga Nala.

​Raga melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat wajah Nala terhempas ke samping. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi roda, menatap Nala dengan tatapan mencemooh.

​"Kau pikir aku bodoh?" kekeh Raga sinis. "Kau pikir karena aku cacat dan jarang keluar rumah, aku tidak tahu seperti apa rupa tunanganku sendiri?"

​Raga merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah ponsel tipis. Ia menggeser layarnya, lalu melemparkan ponsel itu ke pangkuan Nala.

​Nala menangkapnya dengan kikuk. Di layar ponsel itu, terpampang sebuah foto dari akun sosial media. Foto Bella yang sedang berpesta di sebuah klub malam di Paris, tertawa lepas sambil memegang gelas koktail. Wajahnya berseri-seri, penuh keangkuhan dan kepercayaan diri.

​Nala menatap foto itu, lalu menatap Raga.

​"Wanita di foto itu memiliki mata serakah," ucap Raga dingin. "Mata yang menginginkan dunia berlutut di kakinya. Tapi kau..."

​Raga mencondongkan tubuhnya lagi, menunjuk mata Nala dengan telunjuknya.

​"Matamu adalah mata orang mati. Mata seseorang yang sudah menyerah pada hidup. Mata seorang budak."

​Nala terdiam. Ia tidak bisa membantah. Analisis pria itu terlalu tepat, menusuk langsung ke ulu hatinya.

​"Jadi," lanjut Raga, suaranya berubah menjadi geraman rendah. "Siapa kau sebenarnya? Apakah kau pelayan yang disuruh menyamar? Atau anak pungut yang dikorbankan?"

​Air mata Nala akhirnya menetes, melunturkan maskara di pipinya, menciptakan jalur hitam yang kontras dengan bedak putihnya. Permainan sudah berakhir. Ia ketahuan. Malam ini ia akan mati, atau diusir dan dipermalukan.

​Nala menjatuhkan dirinya berlutut di lantai. Gaun pengantinnya yang mewah mengembang di sekelilingnya seperti kelopak bunga layu. Ia tidak berani menatap Raga. Ia menunduk dalam-dalam, menatap karpet abu-abu.

​"Nama saya Nala..." isaknya pelan. "Nala Aristha. Saya... saya adik tiri Bella."

​Hening.

​Hanya suara hujan yang menderu di luar jendela yang mengisi kekosongan di antara mereka. Nala menunggu teriakan marah. Ia menunggu Raga memanggil penjaga untuk menyeretnya keluar.

​Tapi yang terdengar justru suara tawa.

​Tawa itu kering, serak, dan penuh ironi. Raga tertawa seolah baru saja mendengar lelucon paling lucu di dunia.

​"Adik tiri," ulang Raga di sela tawanya. "Anak haram Bramantyo yang tidak pernah dipublikasikan? Ah, luar biasa. Bramantyo tua itu benar-benar pebisnis ulung. Dia menjual barang cacat untuk membayar hutangnya pada orang cacat. Impas, bukan?"

​Nala mengangkat wajahnya, terkejut. "Tuan... tidak marah?"

​Raga berhenti tertawa. Wajahnya kembali dingin dan keras seperti batu karang.

​"Marah?" Raga menatap Nala dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Untuk apa aku membuang energiku untuk marah pada sampah seperti keluargamu? Aku justru bersyukur."

​"Bersyukur?"

​"Bella Aristha adalah wanita bising yang menyebalkan. Jika dia ada di sini, telingaku pasti sudah tuli mendengar keluhannya tentang rumah ini," ujar Raga tajam. "Tapi kau... kau diam. Kau penurut. Dan kau punya bau ketakutan yang menyenangkan."

​Raga tiba-tiba menggerakkan tangannya ke arah wajahnya sendiri. Jari-jarinya menyentuh pinggiran topeng peraknya.

​"Kau takut padaku, Nala?"

​Nala mengangguk jujur. "Ya."

​"Bagus. Rasa takut membuat orang patuh."

​Klik.

​Terdengar bunyi logam kecil terbuka. Raga melepas pengait topeng di belakang kepalanya.

​Nala menahan napas. Ia ingin memalingkan wajah, tapi rasa penasaran memaku pandangannya.

​Perlahan, Raga menurunkan topeng perak itu dari wajahnya.

​Nala bersiap melihat sesuatu yang mengerikan. Sesuatu yang akan membuatnya menjerit dan mimpi buruk.

​Topeng itu terlepas sepenuhnya, diletakkan Raga di atas meja nakas.

​Nala terpaku. Matanya membelalak, menyapu wajah kiri suaminya.

​Itu memang luka bakar. Luka parut yang cukup luas menjalar dari pelipis kiri, melewati mata, hingga ke tulang pipi dan sedikit ke rahang. Kulit di area itu tertarik, bergelombang, berwarna kemerahan dan tidak rata. Alis kirinya hilang sebagian.

​Tapi... itu tidak seburuk cerita horor Bella.

​Mata kirinya tidak buta. Mata itu masih utuh, berwarna hitam pekat sama seperti mata kanannya, hanya saja kelopak matanya sedikit turun karena jaringan parut di sekitarnya.

​Di mata Nala, wajah itu tidak terlihat seperti monster. Wajah itu terlihat seperti... medan perang. Wajah seorang prajurit yang selamat dari neraka. Ada kesedihan yang mendalam di balik guratan luka itu, kesedihan yang terukir permanen di dagingnya.

​"Kenapa tidak menjerit?" tanya Raga tajam, memecah lamunan Nala. "Biasanya wanita akan muntah atau pingsan melihat ini."

​Nala mengerjap, lalu tanpa sadar menjawab dengan kejujuran yang polos. "Saya pernah melihat yang lebih buruk, Tuan."

​Alis kanan Raga terangkat. "Oh ya? Apa yang lebih buruk dari wajah hancur ini?"

​"Hati manusia," jawab Nala lirih. "Wajah Tuan hanya luka fisik. Tapi hati keluarga saya... hati mereka busuk dan bernanah. Itu jauh lebih mengerikan."

​Raga tertegun. Ia tidak menyangka jawaban filosofis itu akan keluar dari mulut gadis kecil yang gemetar di hadapannya. Ia menatap Nala dengan minat baru. Gadis ini... berbeda.

​Raga memajukan kursi rodanya lagi, kali ini sampai lututnya menyentuh lutut Nala yang masih berlutut di lantai. Ia mencengkeram dagu Nala lagi, kali ini tanpa rasa sakit, tapi penuh dominasi. Ia memaksa Nala menatap langsung ke luka di wajahnya.

​"Dengar baik-baik, Nala Aristha," ucap Raga, suaranya berat dan serius. "Mulai malam ini, kau adalah milikku. Aku tidak peduli kau anak haram atau putri raja. Kau sudah menandatangani kontrak di altar. Kau sudah memakai cincinku. Tubuhmu, nyawamu, kesetiaanmu... semuanya milikku."

​"Saya mengerti," bisik Nala.

​"Aku akan memberimu perlindungan," lanjut Raga. "Keluargamu tidak akan bisa menyentuhmu lagi. Tidak ada yang bisa menghinamu lagi. Sebagai gantinya, kau harus menjadi istri yang sempurna di depan umum. Kau akan menjadi mataku, kakiku, dan tamengku."

​"Tapi ingat..." Raga mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Napas hangatnya menerpa wajah Nala. "Jangan pernah mencoba mencari tahu masa laluku. Jangan pernah mencoba menyembuhkanku. Dan jangan pernah... jatuh cinta padaku. Karena aku tidak punya hati untuk membalasnya."

​"Saya berjanji, Tuan," ucap Nala mantap.

​Raga melepaskan dagu Nala, lalu menyandarkan punggungnya lagi. Ia tampak puas.

​"Bagus. Sekarang, berdiri. Bersihkan wajah badut itu. Kau terlihat konyol."

​Nala buru-buru bangkit berdiri meski kakinya kesemutan. "Baik, Tuan."

​"Dan satu lagi," Raga menunjuk ke arah sofa panjang di ujung ruangan. "Malam ini kau tidur di sana. Jangan berani-berani naik ke ranjangku. Aku tidak suka berbagi tempat tidur."

​Nala mengangguk cepat. Ia justru lega. Tidur di sofa jauh lebih baik daripada harus tidur satu ranjang dengan pria yang auranya begitu mengintimidasi ini.

​"Terima kasih, Tuan."

​Nala bergegas menuju kamar mandi, membawa serta tas kecilnya. Saat ia menutup pintu kamar mandi dan menguncinya, tubuhnya langsung merosot ke lantai keramik yang dingin.

​Ia menekan dadanya yang bergemuruh. Ia selamat. Ia masih hidup.

​Raga Adhitama tahu siapa dia, dan pria itu tidak membunuhnya. Pria itu menerimanya.

​Di balik cermin wastafel, Nala menghapus sisa makeup tebal itu dengan air dingin. Wajah aslinya mulai terlihat. Wajah yang lelah, pucat, namun memiliki mata yang menyala dengan tekad baru.

​Sementara itu, di dalam kamar tidur, Raga duduk diam di kursi rodanya menatap pintu kamar mandi yang tertutup.

​Ia menyentuh bekas luka di wajah kirinya. Sudah lama sekali tidak ada orang yang berani menatap wajahnya selama itu tanpa rasa jijik. Gadis itu... Nala... tatapannya tadi bukan jijik. Tatapan itu adalah tatapan seseorang yang memahami rasa sakit.

​Raga mengambil kembali topeng peraknya dari meja, memainkannya di tangan.

​"Nala Aristha," gumamnya pada kegelapan. "Mari kita lihat, seberapa kuat kau bertahan di sarang iblis ini."

​Raga memutar kursi rodanya menuju sisi tempat tidur. Dengan kekuatan lengan yang luar biasa, ia mengangkat tubuhnya sendiri dari kursi roda ke atas kasur. Kakinya yang tak bertenaga diseret dengan susah payah. Itu adalah pemandangan yang menyedihkan, dan itulah sebabnya ia membenci ada orang lain di kamarnya. Ia benci terlihat lemah.

​Malam itu, di tengah hujan badai yang tak kunjung reda, dua orang asing yang terbuang oleh dunia mulai berbagi atap yang sama. Terikat oleh sumpah palsu, namun disatukan oleh nasib yang sama-sama retak.

1
ren_iren
bagus ceritanya 🤗
Almahara Ara
keren bgt cerita nya... ga bertele tele... best thor
Risma Hye Chan
kalimatnya sngat indah perpaduan mkna kiasan dan sesungguhnya ak suka baca novel yg sprti ini kalimat ny tidak membosankan mksih kak
Bunga
lanjut Thor
ceritanya bagu😍
Hazard: bagus mbak bunga🤭
total 1 replies
Ayu Rahayu
lajuttt kak .Hem suka bgettt crityaa😢
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjut thor
𝐈𝐬𝐭𝐲
Luar biasa
Bunga
semangat Thor
Bunga
salam kenal thor😍
Hazard: salam kenal🙏
total 1 replies
moon
karyanya menarik, suka dengan cerita yang taak bertele-tele
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!