SEASON 1 ; BAB ; 41 TAMAT
SINOPSIS SEASON 2
Tujuh tahun telah berlalu sejak perayaan ulang tahun ke-5 Yayasan Aulia & Hidayat. Kedamaian dan kesuksesan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Putri dan Rizky. PT Adinata Berkah Lestari kini menjadi raksasa bisnis yang dihormati secara global, dan yayasan mereka telah menumbuhkan ribuan anak menjadi generasi yang tangguh. Rara kini berusia 19 tahun dan sedang menempuh pendidikan tinggi di bidang kedokteran, sementara Arka (11 tahun) dan Bara (9 tahun) tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan penuh kasih.
Namun, kedamaian yang rapuh itu mulai retak ketika serangkaian insiden misterius terjadi. Mulai dari sabotase kecil di operasi perusahaan, ancaman anonim terhadap yayasan, hingga hilangnya beberapa dokumen penting hukum. Putri, dengan naluri hukum dan kehati-hatiannya, mulai menyadari bahwa ada kekuatan yang tidak terlihat sedang bergerak di balik layar—kekuatan yang tidak ingin melihat keluarga Adinata terus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hairil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: KEPUTUSAN YANG MENGUBAH SEGALANYA
Hening yang panjang menyelimuti ruang tamu rumah Adinata yang megah itu. Lampu-lampu kristal memancarkan cahaya hangat, namun tidak mampu menghangatkan suasana yang terasa sedingin es di antara Putri dan Rizky. Putri berdiri mematung di ambang pintu, jantungnya berdegup kencang, beradu cepat antara rasa takut dan keinginan untuk jujur.
Dia menatap Rizky yang duduk di sofa, menatapnya dengan tatapan penuh tanya, khawatir, dan sedikit kekecewaan karena Putri tampak menyembunyikan sesuatu. Putri tahu, dia tidak bisa lagi berbohong. Tidak pada pria yang sudah menyelamatkan nyawa adiknya, tidak pada pria yang diam-diam melakukan kebaikan di balik bayang-bayang kekejaman keluarganya, dan tidak pada pria yang kini dia cintai, meski rasanya begitu menyakitkan karena dendam yang masih membeku di hatinya.
Putri menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh keberaniannya. Latar belakangnya sebagai mahasiswa hukum yang terbiasa menghadapi situasi kritis membantunya menenangkan pikiran, meski perasaannya sedang berkecamuk hebat.
"Rizky," ucap Putri pelan, suaranya sedikit bergetar. Dia melangkah maju, lalu berlutut di hadapan Rizky di lantai yang dingin. "Aku minta maaf. Aku sudah berbohong padamu. Dan aku punya banyak rahasia yang selama ini aku sembunyikan. Rahasia yang besar."
Rizky terkejut melihat istrinya berlutut. Dia segera membungkuk dan memegang bahu Putri. "Putri, jangan seperti ini. Bangunlah. Bicaralah padaku. Apa yang terjadi? Kenapa kamu terlihat begitu ketakutan?"
Putri menggeleng, tidak mau bangun sebelum dia mengeluarkan semuanya. "Tolong biarkan aku seperti ini sebentar. Aku perlu memberanikan diri. Rizky... apa yang kamu lihat tadi di ponselku bukan pesan dari perawat. Itu pesan dari seseorang yang mengancamku."
Mata Rizky membelalak, wajahnya berubah pucat. "Mengancammu? Siapa? Apa yang dia mau?"
"Dia bernama Pak Darmawan," jawab Putri perlahan, memperhatikan reaksi Rizky. Nama itu tampak familier bagi Rizky, dan Putri bisa melihat kilatan kewaspadaan di mata suaminya. "Dia adalah rival ayahmu, kan? Anggota dewan yang selama ini bersaing ketat dengan Pak Hidayat."
Rizky mengangguk kaku. "Iya. Ayah sering berbicara tentang dia dengan nada marah. Dia orang yang berbahaya. Tapi... kenapa dia menghubungimu? Apa hubungannya denganmu?"
Putri menelan ludah, lalu mulai menceritakan semuanya. Mulai dari pertemuan pertamanya dengan Pak Darmawan di taman kota, ancaman terhadap nyawa Rara, perintah untuk memasang alat penyadap di ruang kerja Pak Hidayat, hingga permintaan terbarunya yang mustahil: mencuri dokumen dari brankas pribadi Pak Hidayat dalam waktu tiga hari.
Putri juga tidak lupa menceritakan tentang bukti yang dia temukan—kaset rekaman yang membuktikan keterlibatan Pak Hidayat dalam kematian orang tuanya, serta niat balas dendam yang dia bawa sejak awal memasuki rumah Adinata.
Air mata Putri jatuh membasahi pipinya sepanjang cerita itu. Dia tidak berani menatap mata Rizky, takut melihat kebencian atau kekecewaan di sana. Dia siap untuk dimarahi, siap untuk diusir, atau bahkan siap untuk diserahkan kepada Pak Hidayat sebagai pengkhianat.
"Rizky, aku tahu aku jahat," isak Putri di akhir ceritanya. "Aku datang ke sini dengan niat menghancurkan ayahmu. Aku memanfaatkan kebaikanmu. Tapi saat aku melihat kamu berjuang untuk Rara, saat aku tahu kamu diam-diam membantu anak-anak korban kekerasan... aku merasa hancur. Aku tidak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah. Dan sekarang, Pak Darmawan mengancam akan menyakiti Rara kalau aku tidak mencuri dokumen itu. Aku buntu, Rizky. Aku benar-benar buntu."
Putri menunduk dalam, menunggu hukuman yang akan dijatuhkan Rizky. Namun, yang dia rasakan bukanlah pukulan atau hardikan, melainkan sebuah pelukan hangat dan erat. Rizky menarik tubuh Putri ke dalam pelukannya, membiarkan kepala istrinya bersandar di dadanya yang kokoh.
"Putri..." suara Rizky terdengar parau, penuh emosi. "Kamu tidak jahat. Kamu hanya wanita yang terluka yang berusaha melindungi adiknya dan mencari keadilan untuk orang tuamu. Aku mengerti. Aku benar-benar mengerti."
Putri mengangkat kepalanya, terkejut. Dia melihat mata Rizky yang basah, bukan karena marah, tapi karena rasa sedih dan empati. "Kamu... kamu tidak marah? Kamu tidak membenciku karena aku ingin menghancurkan ayahmu?"
Rizky menghela napas panjang, lalu mengusap air mata di pipi Putri dengan ibu jarinya yang lembut. "Aku marah, Putri. Tapi bukan marah padamu. Aku marah pada ayahku. Aku marah pada dunia yang kejam ini."
Rizky terdiam sejenak, seolah sedang bergumul dengan rahasia besar yang sudah lama dia pendam sendiri. "Putri, ada sesuatu yang harus kamu tahu juga. Sesuatu yang belum pernah aku ceritakan pada siapa pun."
Putri menatapnya lekat-lekat, menunggu.
"Aku tahu," ucap Rizky pelan, namun tegas. "Aku tahu bahwa ayahku bukan orang baik. Aku tahu dia terlibat dalam hal-hal ilegal dan kekerasan. Dan... aku bahkan curiga dia terlibat dalam kematian orang tuamu."
Putri ternganga, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. "Apa? Kamu tahu? Sejak kapan?"
"Sejak aku SMA," jawab Rizky, matanya menatap jauh ke depan, seolah melihat kembali masa-masa kelam itu. "Suatu malam, aku tidak sengaja mendengar percakapan ayah dengan seseorang lewat telepon. Dia berbicara tentang 'menyingkirkan hambatan' dan 'mengambil alih bisnis kayu'. Saat aku tahu besoknya orang tuamu meninggal dalam 'kecelakaan', aku langsung menghubungkannya. Tapi saat itu aku masih kecil, Putri. Aku takut. Aku tidak punya bukti. Dan ayah... dia tetap ayahku. Aku bingung dan ketakutan. Jadi aku diam. Aku memendamnya sendirian selama bertahun-tahun."
Rizky menatap kembali ke arah Putri dengan tatapan penuh penyesalan. "Aku malu, Putri. Aku malu karena aku pengecut. Aku tahu kejahatan itu terjadi, tapi aku tidak berani menghentikannya. Itulah sebabnya aku mulai membantu anak-anak korban kekerasan. Itu adalah caraku menebus dosa, caraku melawan ayahku secara diam-diam tanpa harus menghadapinya secara langsung."
Putri tertegun. Selama ini dia mengira dia sendirian dalam perjuangannya, sendirian dalam kebenciannya pada Pak Hidayat. Ternyata, pria yang dicintainya juga merasakan hal yang sama, juga menyimpan luka dan penyesalan yang sama.
"Jadi..." Putri mencoba mencerna informasi itu, "Kamu tidak membenci aku karena ingin membongkar kejahatan ayahmu?"
Rizky menggeleng tegas. "Tidak, Putri. Justru aku mengagumimu. Kamu punya keberanian yang tidak aku miliki. Kamu berjuang untuk kebenaran, sementara aku hanya bersembunyi. Tapi sekarang... sekarang kamu tidak sendirian lagi. Kita hadapi ini bersama-sama."
Mendengar kata-kata itu, beban di pundak Putri terasa jauh lebih ringan. Untuk pertama kalinya sejak kematian orang tuanya, Putri merasa tidak sendirian. Dia memiliki sekutu, dia memiliki pasangan yang memahaminya sepenuhnya.
"Tapi Rizky," ucap Putri, kembali menyadari situasi genting mereka. "Pak Darmawan memberiku waktu tiga hari untuk mencuri dokumen dari brankas ayahmu. Kalau tidak, dia akan menyakiti Rara. Kita harus melakukan sesuatu. Tapi bagaimana caranya? Bahkan kamu bilang kamu tidak tahu kode brankas itu."
Rizky mengerutkan kening, berpikir keras. "Brankas itu memang sangat terjaga. Ayah sangat rahasia soal itu. Tapi... aku ingat sesuatu. Dulu, saat aku masih kecil, aku pernah melihat ayah menulis kode itu di sebuah kertas kecil dan menyelipkannya di dalam buku harian pribadinya. Dia pikir tidak ada yang tahu, tapi aku tidak sengaja melihatnya saat aku sedang mencari buku di ruang kerjanya. Walaupun itu sudah lama, mungkin dia belum mengubahnya. Ayah tipe orang yang jarang mengubah kebiasaan atau kode-kode pentingnya."
"Mana buku harian itu?" tanya Putri cepat, matanya berbinar penuh harap.
"Ayah menyimpannya di laci meja kerjanya, di bagian paling belakang, di bawah tumpukan dokumen hukum lama," jawab Rizky. "Tapi itu berbahaya, Putri. Ayah jarang meninggalkan ruang kerja, dan laci itu selalu dikunci. Bahkan aku tidak berani menyentuhnya."
"Kita tidak punya pilihan, Rizky," ucap Putri tegas, naluri hukumnya mulai bekerja menyusun strategi. "Kalau kita ingin menyelamatkan Rara dan menghentikan permainan gila Pak Darmawan dan ayahmu, kita harus mengambil risiko. Kita harus mendapatkan dokumen itu. Tapi bukan untuk diberikan pada Pak Darmawan. Kita akan menggunakannya sebagai bukti untuk mengungkap segalanya ke pihak berwenang. Kita bisa menghentikan mereka berdua sekaligus."
Rizky menatap istrinya, melihat tekad yang membara di mata Putri. Dia tahu Putri benar. Ini adalah kesempatan mereka untuk mengubah segalanya.
"Baiklah," kata Rizky akhirnya, mengangguk mantap. "Besok, ayah akan menghadiri pertemuan dengan mitra bisnis di luar kota. Dia biasanya pergi dari pagi sampai sore. Itu waktu yang cukup bagi kita. Kita akan masuk ke ruang kerja, mencari buku harian itu, mendapatkan kodenya, dan mengambil dokumen yang diminta Pak Darmawan—dan juga semua bukti lain yang bisa kita temukan."
"Tapi bagaimana kalau ada penjaga atau Bang Rio?" tanya Putri waspada.
"Bang Rio ikut menemani ayah," jawab Rizky. "Dan penjaga lainnya biasanya berjaga di halaman depan dan pintu utama. Kalau kita berhati-hati, kita bisa masuk dan keluar tanpa ketahuan."
Malam itu, Putri dan Rizky menghabiskan waktu berjam-jam merencanakan setiap detail. Putri merasa lega luar biasa bisa berbagi beban ini dengan Rizky. Mereka berdua menyadari bahwa hubungan mereka telah melampaui sekadar perjodohan atau rasa suka. Mereka kini adalah rekan seperjuangan, terikat oleh kebenaran dan kasih sayang yang diuji oleh bahaya.
Keesokan harinya, seperti yang dikatakan Rizky, Pak Hidayat memang bersiap untuk pergi. Putri dan Rizky berpura-pura sibuk dengan kegiatan masing-masing, mengamati sampai mobil Pak Hidayat dan rombongannya benar-benar keluar dari gerbang rumah Adinata.
Setelah memastikan jalan aman, mereka berdua berjalan menuju ruang kerja Pak Hidayat. Pintu ruangan itu terkunci, tapi Rizky memiliki kunci cadangan yang dia buat diam-diam bertahun-tahun lalu, sebuah tindakan pencegahan yang kini ternyata sangat berguna.
Pintu terbuka pelan tanpa suara. Mereka masuk dan segera mengunci pintu kembali dari dalam. Ruangan itu terasa sunyi dan mencekam, seolah masih menyimpan aura otoritas Pak Hidayat yang kuat.
"Cepat, Rizky. Laci itu di mana?" bisik Putri.
Rizky menunjuk laci di sebelah kiri meja kerja besar itu. "Di sana."
Mereka berdua mendekati meja itu dengan hati-hati. Rizky mencoba membuka laci itu, tapi terkunci.
"Kuncinya biasanya ayah bawa, tapi kadang dia menyelipkannya di balik pot bunga di atas meja," bisik Rizky. Dia memeriksa pot bunga di pojok meja, dan benar saja, ada sebuah kunci kecil terselip di sana.
Rizky memasukkan kunci itu ke dalam lubang kunci laci. Klik. Laci terbuka.
Jantung mereka berdua berdegup kencang. Rizky mulai mengeluarkan tumpukan dokumen-dokumen tua di dalamnya, memindahkannya dengan hati-hati. Di bagian paling belakang, ada sebuah buku bersampul kulit tebal yang sudah agak usang. Itu dia! Buku harian Pak Hidayat.
Rizky membuka buku itu dengan hati-hati. Halaman-halamannya penuh dengan catatan bisnis dan catatan pribadi. Rizky membolak-balik halaman, mencari kertas kecil yang dia ingat dulu pernah dilihatnya.
"Di sini!" bisik Rizky. Di antara halaman 50 dan 51, terselip secarik kertas kecil yang sudah menguning. Terdapat deretan angka tertulis di sana: 19-07-88.
"19-07-88," baca Putri pelan. "Tanggal apa itu?"
"Itu tanggal ulang tahun ibuku, yang sudah meninggal saat aku masih kecil," jawab Rizky. "Ayah memang sering menggunakan tanggal-tanggal penting sebagai kode."
Mereka berdua menoleh ke arah sudut ruangan, di mana sebuah brankas besi besar tertanam di dinding, tersembunyi di balik lukisan pemandangan. Rizky menyingkap lukisan itu, memperlihatkan brankas tua namun kokoh dengan tombol putar angka.
"Ini dia," ucap Rizky. Dia menarik napas panjang, lalu mulai memutar tombol brankas sesuai dengan angka yang mereka temukan.
Putri menahan napasnya, tangannya mengepal erat di samping tubuhnya. Detik-detik ini menentukan segalanya. Nasib Rara, nasib mereka berdua, dan keadilan untuk orang tuanya ada di tangan mereka sekarang.
Rizky memutar tombol ke angka 19, lalu ke 07, dan terakhir ke 88.
Hening sejenak.
KLAK.
Suara mekanisme brankas terbuka terdengar sangat jelas di ruangan yang sunyi itu. Pintu brankas sedikit terbuka.
Putri dan Rizky saling bertatapan, mata mereka berbinar harap dan takut. Mereka berhasil membukanya!
Rizky perlahan menarik pegangan pintu brankas dan membukanya lebar-lebar. Di dalamnya, terdapat tumpukan dokumen-dokumen penting, sertifikat tanah, dan beberapa amplop cokelat tebal.
"Cari dokumen kesepakatan bisnis tiga tahun lalu yang diminta Pak Darmawan," perintah Putri, matanya memindai isi brankas dengan cepat. "Dan ambil semua dokumen lain yang terlihat mencurigakan atau bisa jadi bukti kejahatan. Kita fotokopi semuanya."
Rizky mengangguk, dan mereka mulai bekerja dengan cepat namun hati-hati. Putri menemukan sebuah amplop bertuliskan "Kesepakatan Pribadi - 2020"—itu pasti yang dimaksud Pak Darmawan. Dia mengambilnya, lalu juga mengambil beberapa dokumen lain yang berisi transaksi keuangan mencurigakan dan daftar nama yang tidak jelas.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari koridor luar, mendekati ruang kerja.
Putri dan Rizky terhenti seketika. Wajah mereka pucat pasi.
"Siapa yang ada di luar?!" bisik Rizky panik. "Ayah seharusnya belum pulang!"
Langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu ruang kerja. Lalu, terdengar suara seseorang mencoba memutar kenop pintu. Terkunci.
"Pak Rizky? Bu Putri? Kalian ada di dalam?" suara itu terdengar familiar.
Itu suara Bang Rio!