Javi, center dari grup LUMINOUS, jatuh dari balkon kosan Aruna saat mencoba kabur dari kejaran fans. Bukannya kabur lagi, Javi malah bangun dengan ingatan yang kosong melompong kecuali satu hal yaitu dia merasa dirinya adalah orang penting yang harus dilayani.
Aruna yang panik dan tidak mau urusan dengan polisi, akhirnya berbohong. Ia mengatakan bahwa Javi adalah sepupunya dari desa yang sedang menumpang hidup untuk jadi asisten pribadinya. Amnesia bagi Javi mungkin membingungkan, tapi bagi Aruna, ini adalah kesempatan emas punya asisten gratis untuk mengerjakan tugas kuliahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PELUNASAN HUTANG DAN DEBUT ASISTEN
Meskipun saldo semesterannya sudah hijau royo-royo, nurani mahasiswi DKV-nya merasa terbebani. Baginya, menerima uang sebanyak itu dari Javier sang idola yang bahkan untuk mandi saja harus sembunyi-sembunyi terasa seperti melakukan tindak pidana korupsi perasaan.
Pagi itu, dengan tekad bulat sekeras batu kali, Aruna memutuskan untuk menemui Javier di basecamp Luminous. Tentu saja, ia harus melewati prosedur keamanan yang lebih ketat daripada pemeriksaan bandara internasional.
Aruna berhasil menyelinap masuk berkat bantuan Rian, member Luminous yang paling pengertian dan paling hobi makan gorengan. Di dalam ruang latihan yang kedap suara, Javier sedang duduk di atas bola yoga, mengenakan kaos tanpa lengan yang memperlihatkan otot bisepnya yang sedang istirahat, sambil tetap memakai kacamata renang biru di dahi.
"Javi, kita perlu bicara soal sinkronisasi anggaran," buka Aruna tanpa basa-basi, meletakkan sebuah catatan kecil di depan Javier.
Javier menoleh, matanya berbinar.
"Majikan! Apakah Anda datang untuk memberikan update sistem atau ingin melakukan prosedur pelukan pagi?"
"Bukan! Ini soal uang semesteran dan uang kosan yang kamu bayar,"
Aruna menunjuk catatan itu.
"Aku bakal balikin semuanya. Aku bakal kerja part-time di toko bangunan atau jadi desainer spanduk pecel lele, pokoknya aku cicil sampai lunas. Aku nggak mau hubungan kita berasa kayak transaksi sponsor."
Javier terdiam. Ia turun dari bola yoga dengan gerakan yang sangat dramatis, lalu melangkah mendekati Aruna hingga jarak mereka hanya tersisa satu tarikan napas.
"Aruna," suara Javier merendah, mode Ice Prince-nya aktif.
"Sistem saya tidak mengenal istilah hutang dari orang yang menjadi pusat operasional saya. Uang itu hanyalah investasi agar aset paling berharga saya yaitu otak kreatif Anda tidak mengalami shutdown karena stres."
"Nggak bisa, Javi! Aku punya harga diri!" seru Aruna.
"Pokoknya aku harus kerja buat bayar itu."
Javier memiringkan kepalanya, berpikir sejenak hingga kacamata renangnya meluncur turun menutupi hidung.
"Baiklah. Jika Anda bersikeras ingin melakukan prosedur pelunasan melalui tenaga kerja... saya punya tawaran kontrak baru. Jadilah asisten pribadi saya."
"Apa?! Kamu udah punya Manajer Han!"
"Manajer Han mengurus Javier sebagai produk. Saya butuh asisten yang mengurus Javier sebagai... manusia. Atau sebagai Ujang. Tugas Anda simpel hanya memastikan saya tidak salah pakai kaos kaki, mendengarkan keluhan prosesor saya saat lelah, dan yang paling penting... memastikan tidak ada wanita lain yang mencoba masuk ke dalam radius sinkronisasi saya."
Masalahnya, untuk menjadi asisten Javier, mereka harus melewati bos terakhir yaitu Manajer Han. Pria itu sedang duduk di ruang kerjanya, menatap tumpukan laporan media, saat Javier menyeret Aruna masuk.
"Manajer Han,"
Javier memulai dengan pose hormat yang sangat kaku.
"Saya ingin mengajukan permohonan penambahan unit personel. Saya membutuhkan Aruna sebagai Personal Creative & Emotional Support Assistant."
Manajer Han melepas kacamatanya, menatap mereka berdua dengan tatapan
"Kalian-lagi-kalian-lagi!! Aruna bagaimana kamu bisa masuk ke sini?".
"Javier, kamu tahu kan aturannya? Mendekatkan Aruna ke kamu saat media lagi sensitif itu sangat tidak..., kamu bisa membahayakan kariermu dan hidup Aruna."
"Justru itu, Pak Han!" sela Aruna, yang tiba-tiba mendapat ide konyol.
"Kalau saya jadi asisten resmi, orang-orang nggak akan curiga kalau kita jalan bareng. Saya bakal pake baju asisten yang kegedean, bawa-bawa tas kamera, dan pake masker. Saya bakal terlihat seperti staf agensi yang stres dan kurang tidur. Penyamaran sempurna!"
Javier mengangguk mantap.
"Benar! Aruna akan menjadi unit yang tidak terlihat. Dan sebagai kompensasi, dia akan membayar hutang biaya kuliahnya melalui gaji asisten ini. Ini adalah efisiensi anggaran, Manajer Han!"
Manajer Han memijat dahinya.
"Kalian berdua benar-benar sudah korslet. Tapi... dipikir-pikir, daripada Javier nekat manjat pipa air lagi tiap malam cuma buat ketemu kamu, mending kamu saya taruh di bawah pengawasan saya."
"Jadi Bapak setuju?" tanya Aruna tak percaya.
"Setuju. Tapi dengan satu syarat, Di depan publik, kalian adalah staf dan artis. Tidak ada tatap-tatapan baper, tidak ada pegangan tangan, dan Javier... JANGAN BERANI-BERANI PAKE KACAMATA RENANG SAAT BEKERJA!"
Setelah Manajer Han keluar ruangan untuk menyiapkan ID card sementara, suasana ruang latihan yang tadinya tegang mendadak berubah menjadi sunyi yang mendebarkan. Javier tidak membuang waktu; ia menarik tangan Aruna, membawanya ke sudut ruangan di balik tumpukan speaker besar yang tidak terjangkau oleh sudut pandang CCTV.
Javier menyudutkan Aruna di tembok, namun kali ini gerakannya sangat lembut, hampir seperti ia takut Aruna akan pecah jika ia terlalu kasar. Kedua tangannya mengunci posisi Aruna, bertumpu pada dinding di sisi kepala gadis itu.
"Selamat bergabung di tim, asistenku," bisik Javier.
Suaranya kini tidak lagi robotik suaranya rendah, serak, dan penuh dengan getaran yang membuat lutut Aruna terasa lemas.
Ia merapikan kerah baju Aruna yang sedikit berantakan dengan jari-jarinya yang panjang dan lentur. Sentuhan itu disengaja dan lambat dan sangat terasa di kulit leher Aruna.
"Mulai sekarang, Anda punya akses 24 jam ke sistem saya. Tidak ada rahasia, tidak ada dinding penghalang."
Aruna menelan ludah, wajahnya memanas hingga ke telinga. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai ia yakin Javier bisa mendengarnya melalui kaos tipis yang ia kenakan.
"Ini cuma buat bayar hutang ya, Javi. Jangan mikir macem-macem. Aku bakal jadi asisten yang profesional."
Javier tersenyum tipis, senyum yang sangat intim dan hanya ditujukan untuk Aruna. Ia menunduk, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Aruna hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Aroma parfum sandalwood yang mahal bercampur dengan aroma maskulin yang khas mulai memabukkan kesadaran Aruna.
"Berapa lama waktu yang Anda butuhkan untuk melunasi hutang itu? Sepuluh tahun? Dua puluh tahun?" tanya Javier sambil menatap bibir Aruna dengan pandangan yang lapar namun penuh kasih.
"Mungkin tiga tahun kalau gajinya oke," jawab Aruna asal, mencoba mempertahankan sisa-sisa logikanya yang mulai menguap.
"Kalau begitu, saya akan memastikan gajinya sangat kecil agar Anda harus bekerja untuk saya selamanya," gumam Javier.
Tiba-tiba, Javier meraih tangan Aruna dan mengecup telapak tangannya dengan lembut, lalu ia menarik tangan itu dan menempelkannya ke pipinya sendiri, membiarkan Aruna merasakan kulit wajahnya yang halus namun hangat. Matanya terpejam sejenak, seolah-olah sentuhan tangan Aruna adalah satu-satunya obat penenang bagi jiwanya yang lelah.
"Terima kasih sudah mau tetap berada di radar saya, Aruna," bisik Javier lagi, kali ini ia mendekatkan bibirnya ke telinga Aruna, membiarkan hembusan napasnya menggelitik saraf pendengaran gadis itu.
"Tanpa asisten seperti Anda, Javier LUMINOUS hanyalah sebuah simulasi yang tidak punya jiwa. Panggung itu terasa sangat dingin tanpa bayangan Anda di belakangnya."
Javier kemudian menatap mata Aruna lagi, tangannya perlahan berpindah ke pinggang Aruna, menariknya sedikit lebih dekat hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka. Ia mengecup dahi Aruna dengan sangat lama, lalu turun ke kelopak mata gadis itu, seolah sedang memuja setiap jengkal wajah Aruna.
"Javi..." Aruna berbisik lirih, jemarinya kini tanpa sadar meremas kaos Javier di bagian pinggang.
"Diamlah, Majikan," potong Javier lembut.
Ia menyatukan kening mereka, membiarkan keheningan itu berbicara tentang perasaan yang selama ini tersembunyi di balik kata-kata konyol.
"Biarkan sistem saya melakukan sinkronisasi perasaan ini sekali saja sebelum kita kembali ke dunia nyata yang berisik di luar sana."
Aruna tertegun. Di balik tingkah konyol kacamata renang dan obsesi lele yang tak masuk akal, Javier adalah pria yang sangat rapuh di bawah tekanan ketenaran. Dan saat itu, di sudut gelap ruang latihan, Aruna sadar bahwa tugasnya bukan sekadar membawa tas atau mengatur jadwal, tapi menjadi tempat Javier pulang menjadi satu-satunya rumah bagi sang idola yang selama ini tersesat dalam gemerlap dunia.
"Ayo, Unit 01," ajak Aruna sambil tersenyum manis.
"Latihan vokalnya sudah mau mulai. Jangan sampai prosesor kamu lemot di depan pelatih."
Javier kembali memakai kacamata renangnya dengan semangat.
"Sistem siap beroperasi! Target hari ini: Menyanyi dengan nada tinggi agar Majikan bangga!"
Aruna hanya bisa geleng-geleng kepala. Hidupnya mungkin baru saja berubah dari mahasiswi DKV menjadi pengasuh idola internasional, tapi ia tahu, ini adalah satu-satunya cara agar sinkronisasi hati mereka tetap terjaga tanpa harus takut pada lampu flash media.