Fandi, seorang mahasiswa jurusan bisnis, memiliki kemampuan yang tak biasa—dia bisa melihat hantu. Sejak kecil, dia sudah terbiasa dengan penampakan makhluk-makhluk gaib: rambut acak-acakan, lidah panjang, melayang, atau bahkan melompat-lompat. Namun, meskipun terbiasa, dia memiliki ketakutan yang dalam.
BENAR! DIA TAKUT.
Karena itu, dia mulai menutup matanya dan berusaha mengabaikan keberadaan mereka.
Untungnya mereka dengan cepat mengabaikannya dan memperlakukannya seperti manusia biasa lainnya.
Namun, kehidupan Fandi berubah drastis setelah ayahnya mengumumkan bahwa keluarga mereka mengalami kegagalan panen dan berbagai masalah keuangan lainnya. Keadaan ekonomi keluarga menurun drastis, dan Fandi terpaksa pindah ke kos-kosan yang lebih murah setelah kontrak kos sebelumnya habis.
Di sinilah kehidupannya mulai berubah.
Tanpa sepengetahuan Fandi, kos yang dia pilih ternyata dihuni oleh berbagai hantu—hantu yang tidak hanya menakutkan, tetapi juga sangat konyol dan aneh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DancingCorn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16 : Dua Penjaga
Fandi melangkah perlahan di belakang Blue, kucing oren yang memimpin mereka menyusuri lorong gelap. Sesekali, dia melirik ke arah Raka dan Arief yang masih terlihat canggung setelah insiden sebelumnya. Suasana terasa berat, seperti udara dingin yang merayap masuk tanpa diundang.
“Fan,” bisik Raka, mencoba mencairkan suasana, “lo yakin kita nggak salah jalan? Gue udah kayak jalan di game horror level terakhir ini.”
Arief menyenggol Raka sambil terkikik kecil. “Gue rasa kita harusnya bawa popcorn. Kalau ada jumpscare, minimal kita bisa sambil makan.”
Fandi mendengus kecil, tapi tidak menoleh. “Kalau kalian masih pada becanda, itu tandanya kalian belum cukup takut. Tunggu aja, nanti kalian bakal kangen suasana kos.”
Blue tiba-tiba berhenti dan menoleh sekilas, matanya yang biru tajam bersinar samar di kegelapan. Raka dan Arief langsung terdiam, tidak berani melanjutkan lelucon mereka.
Namun, di balik bayangan, seorang gadis muda berusaha menahan napas saat mengintai mereka. Alya, anak Kang Roy, sedang mengutuk rasa penasarannya. Awalnya, dia hanya ingin tahu apa yang terjadi saat mendengar keributan di kos-kosan belakang rumah. Tapi semakin lama dia mengikuti, semakin dia merasa bahwa ini adalah ide buruk.
Ketika mereka akhirnya tiba di ujung lorong, Blue berhenti di depan sebuah pintu besar yang samar-samar bersinar biru pucat. Tiba-tiba, Alya tanpa sengaja menginjak ranting yang patah. Suara kecil itu memecah keheningan.
Jelas mereka tadi berada di lorong kamar kos, bagaimana bisa ada ranting.
“Siapa di sana?” Fandi segera menoleh ke arah asal suara. Raka dan Arief juga bersiaga, meski jantung mereka berdegup kencang.
Dari balik bayang-bayang, Alya muncul dengan wajah takut-takut. “Eh... Ini gue mas. Gue cuma penasaran. Kalian ngapain sih jalan sampai ke tempat kayak gini?” Dan sejak kapan ada tempat semacam ini di dekat rumahnya!!
Raka menghela napas lega. “Ya ampun, Alya. Lo ngikutin kita? Ini bukan urusan anak kecil, tahu!”
“Gue bukan anak kecil!” protes Alya, meski suaranya sedikit bergetar. Dia sudah duduk dikelas dua SMA. Meskipun dia memang lebih kecil dari kakak yang menyewa kos rumahnya, dia masih bisa dianggap remaja.
Fandi memutar bola matanya. “Denger, Alya, ini bukan tempat buat main-main. Balik sana sebelum—”
Suara gemuruh tiba-tiba terdengar, memotong ucapan Fandi. Tanah di bawah mereka bergetar, dan dari balik pintu besar itu muncul dua sosok raksasa. Makhluk itu tingginya jauh lebih besar dari rumah, tubuh mereka menyerupai manusia tapi dengan kulit kasar seperti batu dan mata menyala merah.
“Penjaga gerbang…” bisik Blue, suaranya kini serius.
Raka dan Arief langsung mundur selangkah, wajah mereka pucat pasi, mereka bersembunyi dibelakang Fandi. Bahkan Alya mendekat dan ikut bersembunyi. “Fan, itu... itu apaan?!”
Fandi yang dijadikan tameng: .....
Lebih baik dia melempar mereka menjadi makanan agar dia bisa masuk dengan leluasa.
Fandi mengangkat tangan untuk menenangkan mereka, meski jantungnya juga berdegup kencang. Dia menatap kedua makhluk itu yang kini menunduk menatap mereka, suara mereka menggema keras.
“SIAPA YANG BERANI MENDATANGI GERBANG BARAT?” tanya salah satu penjaga dengan suara berat, seperti batu yang bergesekan.
Blue melangkah maju dengan angkuh, lalu mengeong pelan sebelum berbicara dalam bahasa yang aneh dan tidak dimengerti oleh Fandi maupun yang lainnya. Kedua penjaga itu memperhatikan Blue, lalu mengangguk pelan, meski wajah mereka tetap tampak tidak ramah.
“Blue ngomong apa?” bisik Arief, mencoba menyembunyikan rasa takutnya.
"Meminta izin agar kita bisa masuk," jawab Fandi dengan tenang sambil memperhatikan Blue, berusaha menenangkan mereka.
Raka melihat Fandi dengan heran. "Kok lo ngerti, Fan?" Tapi Fandi hanya diam, fokus pada situasi didepannya.
Alya yang baru saja melihat penjaga itu, gemetar ketakutan, bersembunyi di belakang Raka. “Aku nggak mau ikut lagi... ini serem banget.”
Salah satu penjaga menatap Alya tajam, dia sepertinya mendengar kata-kata Alya. Dia kemudian berkata, “MANUSIA KECIL ITU TIDAK DIIJINKAN MASUK. DIA TIDAK MEMILIKI TUJUAN.” suaranya seperti guntur yang menggema di dalam dada.
Alya langsung memandang Fandi dengan panik. “Kak Fandi, tolong dong! Jangan biarin gue ditinggal!”
Fandi : ....
Dasar cewek! Kenapa selalu berubah-ubah sih.
Fandi menghela nafas, berusaha tetap tenang meski kekhawatirannya semakin besar. “Mereka bisa antar lo keluar, yakin mau tetep ikut gue?” tanyanya, masih bingung dengan keputusan Alya.
Alya terdiam, gelisah. Daripada diantar oleh dua raksasa hitam kembali ke asalnya, dia lebih memilih bersama kakak-kakak penyewa kos, setidaknya dia tahu bahwa mereka akan menjaganya. Setelah beberapa detik berpikir, dia mengangguk dengan kuat.
Fandi menghela napas, menatap Blue. "Kita bawa dia. Lo juga lihat kalau ni anak lebih takut sama mereka daripada lo."
Blue menoleh sekilas ke arah Alya, mendengus, lalu berbicara lagi dengan penjaga gerbang. Setelah beberapa saat, salah satu penjaga mengangguk dan memberi isyarat agar mereka lewat.
“Jangan membuat masalah, manusia,” gumam salah satu penjaga dengan suara rendah, seakan-akan suara itu berasal dari kedalaman bumi, sebelum mereka melangkah ke dalam pintu bercahaya biru itu. Langkah Fandi berhenti sejenak ketika mendengar suara itu, tapi segera melanjutkan seolah tidak terjadi apa-apa.
Ketika mereka semua melangkah masuk, Fandi berbisik kepada Alya. “Ini terakhir kalinya lo ikut-ikutan. Kalau nggak, gue serius nggak bakal tanggung jawab.” Lalu dia mengeluarkan sebuah kertas kecil dan memberikannya pada Alya. "Simpen, jangan sampai ilang. Kalau ini ilang, lo mungkin nggak bisa balik ke Ayah sama Ibu lo."
Alya segera mengambil jimat itu, mengangguk lemah, terlalu takut untuk menjawab. Tangan kecilnya menggenggam erat kertas itu, berharap itu bisa melindunginya.
—————
Setelah melewati gerbang, Raka, Arief, dan Alya dibuat takjub. Bahkan Mbak Lili dan Dek Anis merasa sangat terkesan dengan lingkungan baru ini. Tempat yang mereka masuki terlihat luar biasa modern, namun penduduknya masih ada yang mengenakan kebaya atau kemben, pakaian tradisional yang memberi nuansa khas dari dunia yang sangat berbeda.
Blue adalah yang terakhir melangkah masuk. Setelah melewati gerbang, Blue tiba-tiba berubah menjadi seorang gadis cantik dengan telinga dan ekor kucing, penampilannya yang begitu menawan membuat Raka, yang merupakan penggemar anime, hampir tidak bisa mengalihkan pandangannya.
Blue melirik tajam ke arah Raka, "Fan, awasi temen lo."
Fandi menjadi bingung, setelah melihat tatapan antara Arief dan Raka, akhirnya mengerti. Dengan cepat, dia menarik Raka dan berbisik, "Blue nggak suka diliatin. Terakhir kali, paman di desa gue kehilangan kedua matanya gara-gara liatin Blue."
Raka langsung menarik napas dingin, terkejut mendengar cerita itu. "Maaf." Dia mengangguk dengan cepat, lalu mengalihkan pandangannya, berusaha untuk tidak menatap Blue lagi.
"Oke, Blue, kita harus nemuin jejak temen gue." tanya Fandi dengan tenang. Berbeda dengan Raka dan yang lainnya yang terpesona oleh pemandangan dunia baru ini, Fandi sudah cukup sering melihat dunia gaib yang lebih megah dan menakjubkan.
Blue menggelengkan kepala. "Nggak semudah itu." Suaranya terdengar lebih serius. "Lagipula, lo juga udah jadi buronan di dunia ini, jadi pencarian kita bakal jauh lebih sulit."
Fandi hanya mengangguk. Blue memang sudah mengenalnya cukup lama dan mengetahui segala hal tentang dirinya, termasuk statusnya sebagai buronan yang kini tengah diburu di dunia gaib. Meskipun demikian, Blue tetap mau membantunya.
Raka, yang masih kebingungan, mengerutkan kening. "Buronan? Itu serius, Fan?" Dia mengedipkan mata berkali-kali, mencoba mencerna apa yang baru saja didengar. "Kenapa lo nggak bilang soal ini?"
Arief yang berdiri di sebelah Raka juga ikut bertanya. "Lah, kok lo bisa jadi buronan di dunia gaib, Emang apa yang udah Lo lakuin?"
Alya, yang sejak tadi masih tertegun, akhirnya berbicara, "Buronan? Mas Fandi sebenarnya siapa?" matanya sedikit takut, namun juga penasaran. Dia mulai merasa ada sesuatu yang lebih besar di balik kejadian ini.
Mbak Lili yang mendengarnya dari kejauhan tampak semakin penasaran. "Buronan dunia gaib? Waduh, coba aja Pak Kromo tau, pasti makin seru," gumamnya, sambil melirik Fandi dengan penuh tanda tanya.
Sementara itu, Dek Anis yang sedikit lebih dekat dengan Fandi menatapnya dengan mata berbinar, seolah baru saja mengetahui sesuatu yang mengagumkan. "Wow, Kak Fandi ternyata keren banget!" katanya dengan semangat. "Buronan di dunia gaib." Mata Dek Anis memiliki bintang-bintang penuh kekaguman.
Fandi terdiam, tidak bisa berkata-kata.
Apakah kalian salah mengartikan kata buronan.
Fandi merasa tidak berdaya dihatinya. Dia tidak menjawab mereka, Fandi hanya berkata, "Itu bukan hal baik. Jangan dipikirin untuk saat ini," jawabnya santai. "Lagipula hidup di dunia ini emang nggak sesimpel yang kalian kira."
Blue yang melihat mereka semua mulai bertanya-tanya hanya menghela napas, matanya menatap Fandi dengan ragu. "Udah deh, jangan banyak tanya dulu. Kita harus gerak cepat." Setelah itu, Blue memberikan topeng hitam yang dapat menyamarkan keberadaan mereka sebagai hantu.
"Topeng ini cuma sementara, jadi kita nggak bakal kelihatan seperti manusia," ujar Blue. "Kalau kita terus ngomongin ini, bisa-bisa kita jadi sasaran. Jadi ayo tenang dan segera pergi."
Fandi mengenakan topeng itu, dan segera memberi isyarat agar yang lainnya juga ikut. Semua pun mengenakan topeng serupa, dan mereka pun mulai melangkah dengan hati-hati. Raka, Arief, dan Alya tetap terheran-heran, sedangkan Mbak Lili dan Dek Anis semakin penasaran dengan apa yang akan mereka hadapi di dunia gaib ini.
Dengan langkah hati-hati, mereka melangkah ke tempat yang lebih dalam, menuju tempat yang lebih aman, namun tetap berusaha tidak mengundang perhatian.
maaf jika selama ini ada komen aku yg ga berkenan 🙏🙏🙏
cerita dr kak oThor bagus banget, cuma belom sempet buat baca kisah yg lain🙏🙏🙏 so sorry
eh mbak parti kmrn udh belom ya, sama.yg dia berubah punya sayap hitam 🤔...
Fandy dan yg lainnya msh jomblo, emang sengaja ga dibuatin jodohnya ya kak oThor?
kutunggu sll lanjutan ceritanya 😍🙏🙏
pemilik kos biasanya menyimpan rahasia yg tak terduga... apa iya Bu Asti bukan mnausia?
sosok ini berhubungan dg kehadiran dek Anis jg tayangga ...
siapakah sosok itu? apakah musuh Fandy dr dunia goib?
maaci kak oThor
normal nya liat Kunti ga sampai sedetik udh pingsan ato ga kabur duluan 😀 sereeemmm
tp Krn Arif gengnya Fandy jd beda
sehat-sehat ya kak,🤗
selama ini taunya Kunti itu mm perempuan, dan ada yg bilang ga punya muka...
selama ini jg taunya cuma Kunti bjau putih sama Kunti merah...